
Kenzo, Alin dan Jonathan kembali ke villa setelah seharian berada di acara pernikahan Glen yang meriah. Jonathan langsung menuju ke kamarnya di lantai 2, sementara itu Kenzo dan Alin langsung menuju ke kamar mereka untuk bersih-bersih dan melepas lelah. Setelah tubuh keduanya kembali segar, mereka memilih menikmati sisa sore di teras ditemani oleh secangkir teh bunga dan beberapa cemilan. Alin duduk dipangkuan Kenzo dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang itu. Udara sore yang berhembus perlahan menerpa wajah keduanya dalam balutan terpaan sinar jingga sang mentari yang bersiap berganti dengan sang bulan. Akhirnya rutinitas ini bisa mereka lakukan lagi, walau dengan suasana dan lingkungan yang berbeda.
Sementara, tuan Xu dan istrinya tengah penasaran siapakah gadis yang bersama dengan Kenzo ketika di acara pernikahan tadi. Mereka menerka-nerka gadis seperti apa yang membuat Kenzo luluh dan menolak pertunangan dengan Tania Ou. Apakah sosok Alin di masa lalu telah hilang dan kini tergantikan oleh gadis lain? Sayang mereka tidak melihat seperti apa wajah gadis bergaun biru itu. Pasangan yang tengah menikmati sisa sore itu di ruang keluarga dikejutan dengan kedatangan Tania yang tersenyum manis ke arah mereka. Tampak pula dia membawa paperback berisi makanan favorit pasangan suami istri itu.
“Eh nak Tania, sendirian aja?” tanya nyonya Xu.
“Iya tante, ini Tania bawain makanan kesukaan Tante sama Om, nanti dimakan ya!” jawab Tania sambil meletakan paperback berisi makanan itu di meja.
“Kok repot-repot sih nak, oh iya ada apa? Tumben main kesini?” tanya tuan Xu.
“Hehehe nggak ada apa-apa sih Om, Cuma kangen sama Tante aja dan juga di rumah bosan mama sama papa pergi, jadi main kesini deh,” kata Tania dengan sopan.
“Hahahaha iya-iya kalau begitu Om tinggal dulu ya, ngobrol sana sama Tante mu itu,” kata tuan Xu yang beranjak menuju ruang kerjanya.
Nyonya Xu mengajak Tania ke gazebo di taman belakang, mereka mengobrol banyak hal dan terlihat sekali jika nyonya Xu sangat menyukai Tania. Hingga pembicaraan itu merembet ke Kenzo, mulai dari masa kecil Kenzo, hingga Alin juga ikut diceritakan. Tania sangat penasaran dengan sosok Alin yang telah ‘meninggal’ itu, yang membuat Kenzo mengalami depresi berat sepeninggalnya. Akhirnya nyonya Xu mengajak Tania untuk masuk ke kamar lama Kenzo dan membuka album masa kecil Kenzo yang penuh dengan foto dirinya dan Alin. Tania sedikit terpana dengan keimutan Alin, jika dia dewasa maka dia akan sangat cantik. Hingga tak terasa waktu hingga masuk makan malam, nyonya Xu memaksa Tania untuk makan malam dan menginap di kediaman keluarga Xu. Tania pun sangat senang, diapun ikut makan malam bersama dengan orangtua Kenzo.
Villa pribadi Jonathan.
Mereka bertiga juga tengah makan malam dengan khidmat walau disertai drama kemesraan Alin dan Kenzo yang membuat Jonathan meradang. Hingga tercetuslah ide agar Jonathan menikah dengan Nana Lin, mulut Alin mengucapkan ide itu tanpa beban. Sampai-sampai Jonathan tersedak, langsung meminum air putihnya dengan cepat. Kakak beradik itu kini tengah menatap Alin yang seolah biasa saja sambil memakan makanan yang masih tersisa di piringnya.
“Aku tak salah dengarkan?” tanya Jonathan.
“Mau Alin jadwalkan pertemuan dengan dokter THT?” Alin bertanya balik.
“Wuih mirip banget sama gaya bicaranya kak Jo, hahahaha,” kata Kenzo.
“Loh emang ada masalah kak? Malah kakak udah kenal lama, tau semua sifat-sifatnya, masalah cinta bisa dipikir belakangan, kakak akan terbiasa dengan kehadiran kak Nana dan aku yakin cinta akan hadir dengan sendirinya, semua itu hanya menunggu waktunya, dari pada kakak dijodohkan sama seseorang yang kakak saja tiak mengenalnya dengan baik, belum tau baik-buruknya dan jarang gadis dari kalangan orang kaya yang setangguh dan seterampil kak Nana pandai masak lagi,” jelas Alin panjang lebar.
Jonathan termangu mendengar ucapan adik iparnya, semua yang dikatakan Alin ada benarnya. Apalagi setelah dirinya memperingatkan ayahnya untuk tidak menjodohkan Kenzo, kini malah dirinya yang menjadi sasaran perjodohan orang tuanya. Saran dari Alin sedikit membantu untuk mengatasi hal ini, Jonathan sampai kuwalahan dengan teror telpon dari sang ibu untuk datang entah makan siang atau makan malam dengan teman ibunya. Jonathan tau jika dalam makan siang atau makan malam itu, ibunya pasti akan mengenalkan dirinya pada putri-putri teman ibunya itu. Dia harus berbohong setiap kali ibunya menghubunginya, dia dibuat pusing oleh orangtuanya akhir-akhir ini. Lagipula Nana Lin juga akan segera sembuh dan kembali, ah nantilah jika Nana sudah benar-benar sembuh saja bilangnya.
Setelah makan malam, Jonathan memutuskan untuk pergi ke markas besarnya, sementara Kenzo dan Alin segera beranjak ke kamar mereka. Duduk sejenak di teras i temani rembulan yang terlihat hanya sebagian tetapi cahayanya sudah cukup menerangi malam itu. Kemudian Kenzo berbaring dipangkuan sang istri, dia ingin bermanja-manja sebelum dirinya aktif kembali di kemiliteran. Alin menatap lurus ke depan ke arah taman di bawah yang elok tertimpa sinar putih sang rembulan sebagian. Kenzo hanya mengamati mata istrinya yang hitam sehitam malam namun jernih, mata itu masih sama dengan mata yang dia lihat sepuluh tahun yang lalu. Dia menatap istrinya sangat lama, mengamati kegiatan sang istri yang hanya melamun entah memikirkan apa, mungkin dia rindu dengan ayah dan ibunya. Kenzo meraih tangan Alin dan mengenggamnya, menyalurkan kehangatan di tengah kegundahan hati sang istri. Alin kini menatap suaminya dan tersenyum, tiba-tiba dia mengecup cepat bibir suaminya. Tentu saja Kenzo tidak akan membiarkan hal itu selesai lebih cepat, dia menarik tengkuk Alin dan memperdalam ciumannya. Mereka berciuman agak lama hingga keduanya hampir kehabisan nafas barulah mereka berhenti. Kenzo menatap istrinya dengan mata berkabut, nafas memburu dan mulai berat.
“Sayang, bolehkah? Aku menginginkan mu,” kata Kenzo dengan nafas memburu.
“Tapi pelan-pelan,” jawab Alin dengan malu-malu.
Maka malam itu, di bawah sinar rembulan, mereka memadu kasih kembali. Sangat manis, suara-suara nakal memenuhi udara di teras lantai 3. Beradu dengan suara semilir angin berhembus dan berbagai hewan malam seolah ikut menyemangati kegiatan panas itu. Hingga malam berada di penghujung, barulah Kenzo terbaring kelelahan di samping istrinya begitu juga Alin yang langsung tertidur karena kelelahan. Kenzo mengecup kening istrinya dengan senyuman kemudian mengeratkan peluakannya dan jatuh tertidur menyusul istrinya ke alam mimpi. Sementara itu Jonathan pulang saat dini hari, wajahnya sangat lelah dan kantung hitam melekat di bawah matanya. Dia langsung menuju ke kamarnya dan langsung tertidur, karena di pagi hari dia punya jadwal meeting penting dengan koleganya. Malam berlalu dengan damai dan tenang menghantarkan setiap manusia ke alam mimpi, kecuali mereka-mereka yang memutuskan bermimpi di siang hari.
Pagi hari menyapa dengan begitu cepat, para pelayan serta koki di villa Jonathan telah beraktivitas sedari matahari belum menampakkan diri. Mempersiapkan segala sesuatu untuk para majikan mereka yang masih tertidur. Ketika waktu sarapan hampir tiba, kepala pelayan mendatangai kamar tuannya satu persatu, imulai dari kamar Jonathan. Kepala pelayan membangunkan Jonathan dengan lembut dan disambut lengguhan tanda Jonathan akan bangun. Sementara itu di kamar Kenzo dan Alin, kepala pelayan hanya membangunkan mereka dari luar kamar. Kenzo menyahuti panggilan kepala pelayan yang telah berusia setengah abad itu. Kenzo beranjak membangunkan istrinya yang tampaknya tidak terusik dengan seruan kepala pelayan. Alin sangat kelelahan akibat aktivitas panas tadi malam, dengan enggan membuka matanya. Kenzo mencubit pelan pipi istrinya yang mencembung karena cemberut.
“Ayo bangun sayang udah siang, nanti keburu digrebek kak Jo,” canda Kenzo sambil menarik istrinya.
“Biarin, aku masih ngantuk, capek, ini semua juga ulah mu yang ganas semalam, ish badanku sakit semua,” rajuk Alin.
“Hahahaha maaf sayang, ya udah kamu lanjutkan tidurnya aku akan sarapan bersama kakak di bawah, nanti kalo udah bangun lagi aku ambilin makanan,” kata Kenzo sambil menyelimuti kembali tubuh polos istrinya.
Kenzo segera menuju ke kamar mandi, gemericik air memenuhi ruangan. Segarnya air membuat Kenzo sedikit lebih bertenaga, setelah ritual mandinya selesai dia segera masuk ke ruang ganti untuk berpakain. Kemudian dia segera turun ke bawah dimana kakaknya telah menunggunya dengan wajah kesal. Di tengah-tengah sarapan, Jonathan meminta Kenzo untuk ikut dengannya ke perusahaan. Dia ingin adiknya memasuki dunia bisnis juga dan mengenal beberapa kolega atau teman bisnis Jonathan, dulu memang Kenzo sempat kuliah jurusan bisnis hingga dia memutuskan untuk masuk ke militer. Awalnya Kenzo mau menolak tetapi perintah kakaknya tidak bisa diganggu gugat, Kenzo hanya bisa patuh sambil menghela nafasnya. Setelah sarapan selesai, Kenzo kembali ke kamar untuk menukar pakaiannya dan berpamitan dengan Alin.
Bersambung.