
Jonathan mendapat undangan dari pemimpin mafia di Jepang
bernama tuan Yikimura untuk menikmati laut Okinawa dengan kapal pesiar. Dia
mengajak seluruh keluarganya untuk ikut menikmati suasana laut. Selain undangan
pesta, Jonathan dan kenzo memiliki sesuatu yang akan mereka bahas dengan tuan
Yikimura sementara para gadis menikmati pesta. Mereka berangkat pukul 08.30,
dijemput oleh anak buah tuan Yikimura sehingga keamanan terjamin. Alin
mengenakan gaun pesta panjang berwarna biru muda yang tampak elegan dan anggun,
akan tetapi tampilan Alin menjadi tambah seksi karena perutnya yang membesar.
Kenzo sebenarnya sedikit khawatir dan overprotektif melihat tampilan istrinya
yang sangat seksi dan menawan. Rambut panjangnya sengaja digerai dan dia hanya
memakai make up natural. Kalung dengan lionton berbentuk kepingan salju
berwarna biru selalu bertengger di lehernya serta cincin berlian yang
permatanya juga berwarna biru semakin menambah kesan seperti wanita kalangan
atas yang terhormat. Ketika keluar dari hotel, Alin mengenakan mantel bulu
panjang karena memang sedang musim dingin.
Kenzo tak henti-hentinya menatap sang istri dengan tatapan
ragu sekaligus terpesona. Jakunnya naik turun melihat keseksian istrinya yang
tengah mengandung. Dia menahan sekuat tenaga hasrat yang muncul ketika menatap
istrinya. Hais mau bagaimana lagi, mereka akan menghadiri acara formal tentu
saja Kenzo harus menahannya. Siapa suruh istriya begitu cantik dan mempesona,
hal ini menjadi sulit walau hanya berjalan di sebelah Alin. Kenzo berusaha
megalihkan perhatiannya dengan memikirkan hal lain.
Sesampainya mereka di kapal pesiar, mereka segera membaur
dengan tamu-tamu yang lain. Kenzo tidak melepaskan genggaman tangannya kepada
sang istri, dia juga menatap galak ke arah pria-pria yang menatap terpesona ke
arah istrinya. Jonathan dan Nana menemui pemimpin mafia tersebut dan
berbincang-bincang hangat. Acara segera dimulai karena semua tamu undangan
telah hadir, pemimpin mafia itu beserta istrinya menyampaikan sepatah dua patah
kata untuk sambutan dilanjutkan dengan perkenalan putra mereka yang baru saja
pulang dari menimba ilmu di Inggris. Putra mereka sangat tampan dengan kulit
putih dan mata sipit khas orang Jepang, namanya Akeno, sekilas dia menatap ke
arah Alin yang tengah berbicara dengan Kenzo. Ada rasa suka di mata pria tampan
itu, dia berniat meminta gadis itu kepada orang tuanya, dia tidak mengetahui
jika Alin sedang hamil karena tertutup mantel panjang. Ya Kenzo melarang
istrinya melepaskan mantelnya, lihatlah walau mantelnya tidak di lepas, masih
banyak laki-laki yang meliriknya.
Selepas acara sambutan dan ramah tamah, para tamu undangan
dipersilahkan untuk menikmati pesta dan juga pemandangan laut Okinawa. Alin
menuju ke meja-meja panjang berisi makanan, matanya berbinar melihat banyaknya
makanan yang tertata rapi. Dia meminta suaminya untuk mengambilkan ini itu dan
memakan semuanya dengan lahap. Setelah kenyang, dia segera menarik tangan Kenzo
untuk ke pinggir kapal menikmati suasana dan hembusan angin dingin di laut
Okinawa. Alin tak henti-hentinya tesenyum senang memandang jauh, Kenzo hanya
menatap istrinya dengan lekat.
“Hallo nona cantik, maukah kamu berdansa denganku?” ucap
seorang laki-laki kepada Alin.
Kenzo seketika menjadi dingin dan menatap pria itu dengan
tatapan permusuhan. “Apa tuan tidak melihat jika dia sudah punya pasangan?”
“Oh benarkah? Bukankah kalian hanya pasangan pesta saja,
jadi wajar saja aku meminta dia berdansa denganku, atau kita tukaran pasangan
saja,” kata pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Akeno, putra tuan
Yikimura.
“Saya tidak mengizinkan,” ucap Kenzo dingin.
“Kau berani menolak permintaanku? Kau tau siapa aku?” tanya
Akeno mulai marah.
“Siapapun anda, anda tidak layak menyentuh bahkan seujung
kuku tubuhnya, jadi anda cari saja wanita lain, dia milik saya!” ucap Kenzo
dengan penuh intimidasi.
“Tidak! Aku hanya menginginkan dia, cepat serahkan dia
padaku!” teriak Akeno sambil berusaha menarik tangan Alin yang ketakutan.
Kenzo menahan tangan Akeno dan menangkisnya hingga Akeno
terjatuh ke belakang. Peristiwa itu membuat seisi kapal melongok penasaran.
Mereka menjai pusat perhatian sekarang. Jonathan segera berlari mendekati
adiknya dan melihat apa yang terjadi, disusul oleh tuan Yikimura.
“Ada apa ini?” tanya Jonathan.
“Dia memaksa Alin untuk berdansa dengannya, aku marah dan
menangkis tangannya yang akan menarik Alin,” kata Kenzo.
“Apa? Benarkah itu Akeno?” tanya tuan Yikimura.
“Ya, aku menginginkan wanita itu untuk menjadi pasangan
Kesabaran Kenzo habis, dia segera memukul wajah Akeno dengan
keras hingga hidung Akeno patah. “Jaga ucapan mu, dia itu istriku dan kau mau
apa? Sebelum kamu bisa menyentuh istriku, akan aku pastikan jika kau tak akan
pernah punya keturunan di masa depan.”
“Dasar anak tak tau malu, seharusnya kamu bertanya dulu! Dia
adalah istri tuan Kenzo dan sedang hamil, bisa-bisanya kau berkata seperti itu
dan memiliki niat jahat, cepat minta maaf! Atau aku patahkan kaki mu,” ucap
tuan Yikimura sambil menampar putranya.
“A-aku minta maaf,” ucap Akeno dan langsung berlari menuju
ke kamarnya karena malu.
“Tuan Kenzo saya sangat menyesal dengan kejadian ini, saya
berharap tuan Kenzo berkenan memaafkan putraku yang kurang ajar itu,” kata tuan
Yikimura.
“Hmm, baiklah, saya berharap hal ini tidak akan terjadi lagi
di masa depan,” kata Kenzo dingin.
“Baik tuan Kenzo akan saya pastikan hal ini tidak akan
tejadi,” ucap tan Yikimura.
Kenzo merapatkan mantel istrinya dan membawanya ke dalam
kamar yang telah disediakan. Kaki Alin sakit karea terlalu lama berdiri, dia
juga kekenyangan dan mengantuk. Kenzo tidak tega jika Alin harus mengikuti
seluruh acara malam itu, akhirnya setelah pamit dengan tuan Yikimura dan
Jonathan, Kenzo dan Alin memilih istirahat. Alin berbaring nyaman di ranjang
sementara Kenzo memijat kaki Alin dengan lembut.
“Suamiku, perutku rasanya mau meledak, lihat dia semakin
besar karena ada 2 bayi sekaligus karena aku makan banyak tadi, apa mereka
tidak terdesak oleh semua makanan yang masuk tadi?” tanya Alin sambil mengelus
perutnya.
Kenzo tertawa renyah mendengar perkataan istrinya. “Tentu
saja tidak, mereka punya tempat khusus jadi mereka akan aman.”
“Ah syukurlah.”
Di tempat lain,
setelah Akeno mendapatkan pengobatan untuk lukanya, dia segera di marahi
habis-habisan oleh ayahnya. Hatinya menjadi kesal dan bersungut-sungut.
Kepalanya seperti akan mau pecah saja
mendengar omelan ayahnya. Akeno menjadi dendam dan juga semakin berhasrat untuk
memiliki Alin. Pikirannya dipenuhi ide-ide kotor untuk merebut Alin dan juga
mencelakai Kenzo. Dia sangat membenci wajah dingin dan arogan dari suami Alin
itu, dia selama ini tidak pernah mengalami kejadian yang mempermalukan dirinya
dan juga tidak pernah ada orang yang berani bersikap seperti itu. Akeno
berjalan menuju ke bagian depan kapal pesiar yang agak sepi, dia merenung
ditimpa hembusan angin dingin laut Okinawa. Tiba-tiba ada yang menepuk
pundaknya dengan pelan dan Akenopun menoleh untuk melihat siapa yang
menganggunya. Terlihatlah wanita cantik dengan mata sipit dan kulit putih
tengah tersenyum ke arah Akeno.
“Aku tahu kamu sedang marah karena kejadian tadi kan?” tanya
wanita itu.
“Bukan urusan mu! Pergi!” kata Akeno dengan ketus, apapula
wanita ini datang-datang menambah kesalnya saja.
“Hey tuan muda jangan emosi dong, masa sama wanita cantik
kasar gitu, dengarkan aku selesai berbicara dulu dong,” kata wanita itu itu
genit.
“Apa mau mu? Cepat katakan! Aku tidak punya waktu jika untuk
mendengar celotehan mu yang nggak berguna itu,” kata Akeno.
“Aku punya rencana untuk membalas perlakuan mereka pada mu
tadi,” kata wanita itu.
Akeno menatap wanita itu dengan tatapan terkejut. “Kenapa
kamu mau membantuku?”
“Karena aku membanci Alin, dia telah merebut cintaku, aku
ingin memisahkan dia dari Kenzo sehingga aku bisa bersamanya.”
“Baiklah, kita berada di kubu yang sama, kalau begitu mari
kita lanjutkan pembicaraan ini di kamarku saja,” kata Akeno sambil berjalan
masuk yang kemudian diikuti oleh wanita itu.
Entah rencana busuk apalagi yang akan mereka lakukan untuk
Alin dan Kenzo. Akeno sangat antusias karena mendapat partner yang bisa
membantunya, dia juga sangat cantik, Akeno adalah pria yang menyukai
kecantikan. Maka akan ada bayaran yang diminta Akeno menjalankan semua rencana
itu.
Bersambung.