The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 43



Jonathan mendapat undangan dari pemimpin mafia di Jepang


bernama tuan Yikimura untuk menikmati laut Okinawa dengan kapal pesiar. Dia


mengajak seluruh keluarganya untuk ikut menikmati suasana laut. Selain undangan


pesta, Jonathan dan kenzo memiliki sesuatu yang akan mereka bahas dengan tuan


Yikimura sementara para gadis menikmati pesta. Mereka berangkat pukul 08.30,


dijemput oleh anak buah tuan Yikimura sehingga keamanan terjamin. Alin


mengenakan gaun pesta panjang berwarna biru muda yang tampak elegan dan anggun,


akan tetapi tampilan Alin menjadi tambah seksi karena perutnya yang membesar.


Kenzo sebenarnya sedikit khawatir dan overprotektif melihat tampilan istrinya


yang sangat seksi dan menawan. Rambut panjangnya sengaja digerai dan dia hanya


memakai make up natural. Kalung dengan lionton berbentuk kepingan salju


berwarna biru selalu bertengger di lehernya serta cincin berlian yang


permatanya juga berwarna biru semakin menambah kesan seperti wanita kalangan


atas yang terhormat. Ketika keluar dari hotel, Alin mengenakan mantel bulu


panjang karena memang sedang musim dingin.


Kenzo tak henti-hentinya menatap sang istri dengan tatapan


ragu sekaligus terpesona. Jakunnya naik turun melihat keseksian istrinya yang


tengah mengandung. Dia menahan sekuat tenaga hasrat yang muncul ketika menatap


istrinya. Hais mau bagaimana lagi, mereka akan menghadiri acara formal tentu


saja Kenzo harus menahannya. Siapa suruh istriya begitu cantik dan mempesona,


hal ini menjadi sulit walau hanya berjalan di sebelah Alin. Kenzo berusaha


megalihkan perhatiannya dengan memikirkan hal lain.


Sesampainya mereka di kapal pesiar, mereka segera membaur


dengan tamu-tamu yang lain. Kenzo tidak melepaskan genggaman tangannya kepada


sang istri, dia juga menatap galak ke arah pria-pria yang menatap terpesona ke


arah istrinya. Jonathan dan Nana menemui pemimpin mafia tersebut dan


berbincang-bincang hangat. Acara segera dimulai karena semua tamu undangan


telah hadir, pemimpin mafia itu beserta istrinya menyampaikan sepatah dua patah


kata untuk sambutan dilanjutkan dengan perkenalan putra mereka yang baru saja


pulang dari menimba ilmu di Inggris. Putra mereka sangat tampan dengan kulit


putih dan mata sipit khas orang Jepang, namanya Akeno, sekilas dia menatap ke


arah Alin yang tengah berbicara dengan Kenzo. Ada rasa suka di mata pria tampan


itu, dia berniat meminta gadis itu kepada orang tuanya, dia tidak mengetahui


jika Alin sedang hamil karena tertutup mantel panjang. Ya Kenzo melarang


istrinya melepaskan mantelnya, lihatlah walau mantelnya tidak di lepas, masih


banyak laki-laki yang meliriknya.


Selepas acara sambutan dan ramah tamah, para tamu undangan


dipersilahkan untuk menikmati pesta dan juga pemandangan laut Okinawa. Alin


menuju ke meja-meja panjang berisi makanan, matanya berbinar melihat banyaknya


makanan yang tertata rapi. Dia meminta suaminya untuk mengambilkan ini itu dan


memakan semuanya dengan lahap. Setelah kenyang, dia segera menarik tangan Kenzo


untuk ke pinggir kapal menikmati suasana dan hembusan angin dingin di laut


Okinawa. Alin tak henti-hentinya tesenyum senang memandang jauh, Kenzo hanya


menatap istrinya dengan lekat.


“Hallo nona cantik, maukah kamu berdansa denganku?” ucap


seorang laki-laki kepada Alin.


Kenzo seketika menjadi dingin dan menatap pria itu dengan


tatapan permusuhan. “Apa tuan tidak melihat jika dia sudah punya pasangan?”


“Oh benarkah? Bukankah kalian hanya pasangan pesta saja,


jadi wajar saja aku meminta dia berdansa denganku, atau kita tukaran pasangan


saja,” kata pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Akeno, putra tuan


Yikimura.


“Saya tidak mengizinkan,” ucap Kenzo dingin.


“Kau berani menolak permintaanku? Kau tau siapa aku?” tanya


Akeno mulai marah.


“Siapapun anda, anda tidak layak menyentuh bahkan seujung


kuku tubuhnya, jadi anda cari saja wanita lain, dia milik saya!” ucap Kenzo


dengan penuh intimidasi.


“Tidak! Aku hanya menginginkan dia, cepat serahkan dia


padaku!” teriak Akeno sambil berusaha menarik tangan Alin yang ketakutan.


Kenzo menahan tangan Akeno dan menangkisnya hingga Akeno


terjatuh ke belakang. Peristiwa itu membuat seisi kapal melongok penasaran.


Mereka menjai pusat perhatian sekarang. Jonathan segera berlari mendekati


adiknya dan melihat apa yang terjadi, disusul oleh tuan Yikimura.


“Ada apa ini?” tanya Jonathan.


“Dia memaksa Alin untuk berdansa dengannya, aku marah dan


menangkis tangannya yang akan menarik Alin,” kata Kenzo.


“Apa? Benarkah itu Akeno?” tanya tuan Yikimura.


“Ya, aku menginginkan wanita itu untuk menjadi pasangan


Kesabaran Kenzo habis, dia segera memukul wajah Akeno dengan


keras hingga hidung Akeno patah. “Jaga ucapan mu, dia itu istriku dan kau mau


apa? Sebelum kamu bisa menyentuh istriku, akan aku pastikan jika kau tak akan


pernah punya keturunan di masa depan.”


“Dasar anak tak tau malu, seharusnya kamu bertanya dulu! Dia


adalah istri tuan Kenzo dan sedang hamil, bisa-bisanya kau berkata seperti itu


dan memiliki niat jahat, cepat minta maaf! Atau aku patahkan kaki mu,” ucap


tuan Yikimura sambil menampar putranya.


“A-aku minta maaf,” ucap Akeno dan langsung berlari menuju


ke kamarnya karena malu.


“Tuan Kenzo saya sangat menyesal dengan kejadian ini, saya


berharap tuan Kenzo berkenan memaafkan putraku yang kurang ajar itu,” kata tuan


Yikimura.


“Hmm, baiklah, saya berharap hal ini tidak akan terjadi lagi


di masa depan,” kata Kenzo dingin.


“Baik tuan Kenzo akan saya pastikan hal ini tidak akan


tejadi,” ucap tan Yikimura.


Kenzo merapatkan mantel istrinya dan membawanya ke dalam


kamar yang telah disediakan. Kaki Alin sakit karea terlalu lama berdiri, dia


juga kekenyangan dan mengantuk. Kenzo tidak tega jika Alin harus mengikuti


seluruh acara malam itu, akhirnya setelah pamit dengan tuan Yikimura dan


Jonathan, Kenzo dan Alin memilih istirahat. Alin berbaring nyaman di ranjang


sementara Kenzo memijat kaki Alin dengan lembut.


“Suamiku, perutku rasanya mau meledak, lihat dia semakin


besar karena ada 2 bayi sekaligus karena aku makan banyak tadi, apa mereka


tidak terdesak oleh semua makanan yang masuk tadi?” tanya Alin sambil mengelus


perutnya.


Kenzo tertawa renyah mendengar perkataan istrinya. “Tentu


saja tidak, mereka punya tempat khusus jadi mereka akan aman.”


“Ah syukurlah.”


 Di tempat lain,


setelah Akeno mendapatkan pengobatan untuk lukanya, dia segera di marahi


habis-habisan oleh ayahnya. Hatinya menjadi kesal dan bersungut-sungut.


Kepalanya seperti akan mau pecah  saja


mendengar omelan ayahnya. Akeno menjadi dendam dan juga semakin berhasrat untuk


memiliki Alin. Pikirannya dipenuhi ide-ide kotor untuk merebut Alin dan juga


mencelakai Kenzo. Dia sangat membenci wajah dingin dan arogan dari suami Alin


itu, dia selama ini tidak pernah mengalami kejadian yang mempermalukan dirinya


dan juga tidak pernah ada orang yang berani bersikap seperti itu. Akeno


berjalan menuju ke bagian depan kapal pesiar yang agak sepi, dia merenung


ditimpa hembusan angin dingin laut Okinawa. Tiba-tiba ada yang menepuk


pundaknya dengan pelan dan Akenopun menoleh untuk melihat siapa yang


menganggunya. Terlihatlah wanita cantik dengan mata sipit dan kulit putih


tengah tersenyum ke arah Akeno.


“Aku tahu kamu sedang marah karena kejadian tadi kan?” tanya


wanita itu.


“Bukan urusan mu! Pergi!” kata Akeno dengan ketus, apapula


wanita ini datang-datang menambah kesalnya saja.


“Hey tuan muda jangan emosi dong, masa sama wanita cantik


kasar gitu, dengarkan aku selesai berbicara dulu dong,” kata wanita itu itu


genit.


“Apa mau mu? Cepat katakan! Aku tidak punya waktu jika untuk


mendengar celotehan mu yang nggak berguna itu,” kata Akeno.


“Aku punya rencana untuk membalas perlakuan mereka pada mu


tadi,” kata wanita itu.


Akeno menatap wanita itu dengan tatapan terkejut. “Kenapa


kamu mau membantuku?”


“Karena aku membanci Alin, dia telah merebut cintaku, aku


ingin memisahkan dia dari Kenzo sehingga aku bisa bersamanya.”


“Baiklah, kita berada di kubu yang sama, kalau begitu mari


kita lanjutkan pembicaraan ini di kamarku saja,” kata Akeno sambil berjalan


masuk yang kemudian diikuti oleh wanita itu.


Entah rencana busuk apalagi yang akan mereka lakukan untuk


Alin dan Kenzo. Akeno sangat antusias karena mendapat partner yang bisa


membantunya, dia juga sangat cantik, Akeno adalah pria yang menyukai


kecantikan. Maka akan ada bayaran yang diminta Akeno menjalankan semua rencana


itu.


Bersambung.