The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 45



Alin terbang ketika dia mendengar seseorang tengah


berbicara. Alangkah terkejutnya dia ketika menyadari apa yang terjadi


dengannya. Kedua tangannya terikat serta tubuh yang terbungkus baju tidur tipis


hampir transparan. Apalagi ketika melihat 2 orang di depannya yan sangat


diakenal. Mereka adalah Tania Ou dan tuan muda Akano, Alin menyadari apa yang


akan terjadi. Dia mulai menangis dan berusaha melepaskan ikatan di tangannya.


Akibatnya, pergelangan tangannya terluka akibat bergesekan dengan tali yang


kasar. Dua orang di depannya semakin antusias dan senang melihat reaksi panik


dan takut dari Alin.


“Hahahaha lihatlah tuan Akano, dia sangat tidak sabar sekali


ingin segera anda puaskan,” kata Tania sambil tersenyum nakal.


“Hmm kau benar, lihatlah tubuh seksinya apalagi perutnya


yang menggembung itu,” kata Akeno sambil menjilat bibirnya.


“Rasa-rasanya aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya,”


sambung Akeno.


“Kalau begitu tunggu apalagi?” tanya Tania.


“Hey kau harus abadikan momen istimewaku malam ini, kau  sudah siapkan kameranya?” tanya Akeno.


“Tentu saja,” balas Tania sambil tertawa.


Alin yang mendengar pembicaraan dua orang itu menjadi


semakin panik. Gerakannya untuk melepaskan diri semakin brutal, kulit


dipergelangan tangannya sampai robek. Darah segar mengalir membasahi lengannya,


tetapi gerakan Alin tidak berhenti. Akeno beranjak mencengkram kedua tangan


Alin dan membuatnya berhenti. Bukannya berhenti, Alin semakin takut dan


kemudian meringkuk menyembunyikan wajahnya.


“Tenang sayang,” kata Akeno dengan suara genit.


“P-pergi, jangan sentuh aku! Pergi kamu bajingan!” teriak


Alin.


Plak.


Akeno menampar keras pipi Alin hingga memar dan sudut


bibirnya berdarah. Alin semakin gemetar, dia berteriak kalap dan berusaha


menyingkirkan tangan Akeno dari tangannya. Alin benar-benar jijik walau hanya


menatap wajah pria Jepang itu. Kenapa harus dirinya lagi yang menerima kejadian


pahit seperti ini? Kenapa selalu dirinya? Sampai kapan hal seperti ini harus


berlanjut? Alin memikirkan calon anaknya, dia takut bayi-bayinya kenapa-napa. Akeno


semakin semangat melihat respon dari Alin, tangan kurusnya mulai menggerayangi


tubuh Alin yang hanya tertutupi selembar kain tipis dan pakaian dalam. Alin


berusaha menangkis tangan mesum itu, tetapi apalah daya, tangannya masih


terikat dan tidak leluasa untuk bergerak. Tania duduk di belakang kamera dengan


santai sambil menonton pertunjukan.


Ketika Akeno berusaha mencium bibir Alin dari arah belakang


terdengar suara pintu berebam keras karena di dobrak. Akeno dan Tania terkejut


dan beringsut berdiri untuk melihat siapa yang berani menyela. Seketika wajah


mereka menjadi pias ketika melihat sesosok pria dengan wajah dingin namun


tatapan matanya mematikan, seakan menikam sampai ke jantung. Dia adalah Kenzo


yang berhasil menemukan tempat itu setelah banyak usaha yang dia kerahkan dan


hampir putus asa.


Tangan Kenzo menggenggam potongan baja berukuran panjang 1.5


meter. Demi menatap potongan baja yang sedang dimainkan Kenzo, Akeno melotot


ngeri dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Saat ini Kenzo seperti orang


lain, bahkan Alin yang melihat suaminya datang juga ikut takut dengan


tatapannya. Kemarahan terlihat jelas di mata tajam itu, wajahnya yang tanpa


ekspresi, dingin namun menyimpan sejuta kebengisan dan kemurkaan.Alin bisa


merasakannya, apalagi kedua orang yang telah menculik dirinya. Mereka jatuh


terduduk dengan kaki gemetar, Kenzo menghampiri istrinya, melepaskan mantel


panjangnya dan memakaikannya kepada Alin. Dia juga melepaskan tali yang


menjerat tangan istrinya, menatap dalam diam tangan putih itu yang sebagian


tertutup darah dan pergelangan tangan Alin yang robek. Dia kemudian membantu


istrinya bangkit, menarik tangannya dan menyerahkan Alin kepada kakaknya di


luar ruangan. Semua itu Kenzo lakukan tanpa bersuara ataupun berbicara


sedikitpun, sepertinya kesabarannya telah habis.


Setelah Alin aman bersama Jonathan di luar ruangan, Kenzo


kembali masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya. Alin hanya menatap punggung


suaminya dengan tatapan nanar. Sedetik kemudian terdengar jeritan keras dari


dengan erat, gemetar, Jonathan berusaha menenangkan adik iparnya. Beberapa


menit kemudian, Kenzo keluar sambil mengelap tanganya dengan sapu tangan


kemudian membuangnya.


Alin berlari memeluk suaminya dan Kenzo pun membalas pelukan


Alin dengan erat. Kenzo mengusap air mata yang masih mengalir di pipi istrinya,


menenangkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Jonathan mengajak adik dan adik


iparnya untk segera meninggalkan tempat itu. Kenzo sambil tertawa mengatakan


sesuatu yang membuat Jonathan mengangguk puas. Dia menggendong Alin untuk


keluar dari tempat itu, menghindari Alin mendengar suara-suara lanjutan,


sementara beberapa penjaga masih harus berjaga di depan pintu dan bertugas mengambil


kamera di pagi harinya. Alin mengalungkan tangannya ke leher Kenzo dan


membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Tertidur karena kelelahan.


Di villa nyonya Xu dan Nana masih menunggu dengan cemas.


Ketika melihat mobil Jonathan mendekat, mereka segera menyambutnya dengan


rentetan pertanyaan. Jonathan sampai kuwalahan menghadapi keduanya.


“Alin selamat, lihat dia tertidur di gendongan Kenzo, sudah jangan


berisik nanti malah membangunkan Alin,” kata Jonathan menunjuk Kenzo yang baru


saja keluar dari mobil dengan Alin berada di gendongannya.


Kenzo tidak menaggapi pertanyaan ibunya, dia langsung saja


masuk menuju kamarnya dan meminta tolong kepada kakaknya untuk memanggil


dokter. Setelah berada di kamar, Kenzo segera mengganti pakaian Alin dengan


piyamatebal dan bersih, dia juga membersihkan sisa darah di lengan istrinya.


Alin tidak terganggu sama sekali dengan aktivitas yang dilakukan suaminya. Dia


terlalu lelah dan sangat mengantuk. Tak berapa lama dokter datang dan segera


memeriksa kondisi Alin dan memperban pergelangan tangannya yang kini


membengkak. Setelah selesai dokter tersebut membereskan alat-alatnya dan pergi.


Kenzo membenarkan selimut Alin dan menemaninya sebentar lalu keluar.


Jonathan tengah duduk di sebuah ruangan yang hanya ada


dirinya dan juga ayahnya. Tak lama berselang, Kenzo memasuki ruangan dan duduk


di sebelah kakaknya. Wajahnya masih dingin dan terlihat marah, dia


menghembuskan nafas dengan kasar. Mereka bertiga masih terdiam, tenggelam dalam


lamunan masing-masing. Sang ayah melirik putra keduanya itu, dia adalah


putranya yang paling keras kepala dan juga cuek,berbeda dengan Jonathan yang


walaupun dia memiliki sisi kejam, tetapi dia menyembunyikannya.


“Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang menyakiti


istriku, siapapun itu akan aku pastikan hidup mereka hancur sehancur-hancurnya,


aku bersumpah!” kata Kenzo dengan sorot kebencian.


“Tenangkan diri mu dulu nak! Ayah tidak akan menghalangi


niat mu dan apapun yang akan kamu lakukan selagi itu masih di batas wajar,


tetapi redakan dahulu amarah mu, ingat ajaranku tenang di setiap situasi, itu adalah


sifat sejati seorang tentara,” kata ayahnya.


“Hukuman kali ini baru permulaan dan juga peringatan


pertama, tetapi aku tidak akan berhenti ayah, sebelum mereka menderita


berkali-kali lipat, sebelum itu terjadi ak tidak akan pernah puas, aku akan melakukannya


dengan perlahan, mulai dari harga diri mereka dan seterusnya,” kata Kenzo lagi.


“Baiklah-baiklah aku tahu sangat marah sekarang, seperti


kata ayah tenangkan diri mu dulu baru pikirkan rencana ke depan, kakak akan


selalu mendukung mu,” kata Jonathan sambil menepuk pelan pundak adiknya.


“Kau mau minum?” tanya Jonathan.


Kenzo hanya mengangkat gelasnya yang telah berisi minuman


beralkohol. Malam itu para pria keluarga Xu saling menguatkan dan juga saling


mendukung. Apapun yang akan dilakukan oleh Kenzo, ayah dan kakaknya akan selalu


mendukung dan membantu. Kejadian kali ini membuat keluarga Xu sangat marah, ini


sudah keterlaluan. Mulai sekarang mereka harus membalas, tunjukkan pada dunia


jika keluarga Xu tidak dapat diganggu.


Mereka bertiga baru kembali ke kamar masing-masing setelah


jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kenzo dalam keadaan mabuk langsung


berbaring di samping istrinya dan memeluknya. Membisikkan jika dia akan lebih


menjaga istrinya di masa depan, memastikan tidak akan ada satu orang pun yang


mampu menyakiti istrinya.


Bersambung.