
Alin terbang ketika dia mendengar seseorang tengah
berbicara. Alangkah terkejutnya dia ketika menyadari apa yang terjadi
dengannya. Kedua tangannya terikat serta tubuh yang terbungkus baju tidur tipis
hampir transparan. Apalagi ketika melihat 2 orang di depannya yan sangat
diakenal. Mereka adalah Tania Ou dan tuan muda Akano, Alin menyadari apa yang
akan terjadi. Dia mulai menangis dan berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Akibatnya, pergelangan tangannya terluka akibat bergesekan dengan tali yang
kasar. Dua orang di depannya semakin antusias dan senang melihat reaksi panik
dan takut dari Alin.
“Hahahaha lihatlah tuan Akano, dia sangat tidak sabar sekali
ingin segera anda puaskan,” kata Tania sambil tersenyum nakal.
“Hmm kau benar, lihatlah tubuh seksinya apalagi perutnya
yang menggembung itu,” kata Akeno sambil menjilat bibirnya.
“Rasa-rasanya aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya,”
sambung Akeno.
“Kalau begitu tunggu apalagi?” tanya Tania.
“Hey kau harus abadikan momen istimewaku malam ini, kau sudah siapkan kameranya?” tanya Akeno.
“Tentu saja,” balas Tania sambil tertawa.
Alin yang mendengar pembicaraan dua orang itu menjadi
semakin panik. Gerakannya untuk melepaskan diri semakin brutal, kulit
dipergelangan tangannya sampai robek. Darah segar mengalir membasahi lengannya,
tetapi gerakan Alin tidak berhenti. Akeno beranjak mencengkram kedua tangan
Alin dan membuatnya berhenti. Bukannya berhenti, Alin semakin takut dan
kemudian meringkuk menyembunyikan wajahnya.
“Tenang sayang,” kata Akeno dengan suara genit.
“P-pergi, jangan sentuh aku! Pergi kamu bajingan!” teriak
Alin.
Plak.
Akeno menampar keras pipi Alin hingga memar dan sudut
bibirnya berdarah. Alin semakin gemetar, dia berteriak kalap dan berusaha
menyingkirkan tangan Akeno dari tangannya. Alin benar-benar jijik walau hanya
menatap wajah pria Jepang itu. Kenapa harus dirinya lagi yang menerima kejadian
pahit seperti ini? Kenapa selalu dirinya? Sampai kapan hal seperti ini harus
berlanjut? Alin memikirkan calon anaknya, dia takut bayi-bayinya kenapa-napa. Akeno
semakin semangat melihat respon dari Alin, tangan kurusnya mulai menggerayangi
tubuh Alin yang hanya tertutupi selembar kain tipis dan pakaian dalam. Alin
berusaha menangkis tangan mesum itu, tetapi apalah daya, tangannya masih
terikat dan tidak leluasa untuk bergerak. Tania duduk di belakang kamera dengan
santai sambil menonton pertunjukan.
Ketika Akeno berusaha mencium bibir Alin dari arah belakang
terdengar suara pintu berebam keras karena di dobrak. Akeno dan Tania terkejut
dan beringsut berdiri untuk melihat siapa yang berani menyela. Seketika wajah
mereka menjadi pias ketika melihat sesosok pria dengan wajah dingin namun
tatapan matanya mematikan, seakan menikam sampai ke jantung. Dia adalah Kenzo
yang berhasil menemukan tempat itu setelah banyak usaha yang dia kerahkan dan
hampir putus asa.
Tangan Kenzo menggenggam potongan baja berukuran panjang 1.5
meter. Demi menatap potongan baja yang sedang dimainkan Kenzo, Akeno melotot
ngeri dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Saat ini Kenzo seperti orang
lain, bahkan Alin yang melihat suaminya datang juga ikut takut dengan
tatapannya. Kemarahan terlihat jelas di mata tajam itu, wajahnya yang tanpa
ekspresi, dingin namun menyimpan sejuta kebengisan dan kemurkaan.Alin bisa
merasakannya, apalagi kedua orang yang telah menculik dirinya. Mereka jatuh
terduduk dengan kaki gemetar, Kenzo menghampiri istrinya, melepaskan mantel
panjangnya dan memakaikannya kepada Alin. Dia juga melepaskan tali yang
menjerat tangan istrinya, menatap dalam diam tangan putih itu yang sebagian
tertutup darah dan pergelangan tangan Alin yang robek. Dia kemudian membantu
istrinya bangkit, menarik tangannya dan menyerahkan Alin kepada kakaknya di
luar ruangan. Semua itu Kenzo lakukan tanpa bersuara ataupun berbicara
sedikitpun, sepertinya kesabarannya telah habis.
Setelah Alin aman bersama Jonathan di luar ruangan, Kenzo
kembali masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya. Alin hanya menatap punggung
suaminya dengan tatapan nanar. Sedetik kemudian terdengar jeritan keras dari
dengan erat, gemetar, Jonathan berusaha menenangkan adik iparnya. Beberapa
menit kemudian, Kenzo keluar sambil mengelap tanganya dengan sapu tangan
kemudian membuangnya.
Alin berlari memeluk suaminya dan Kenzo pun membalas pelukan
Alin dengan erat. Kenzo mengusap air mata yang masih mengalir di pipi istrinya,
menenangkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Jonathan mengajak adik dan adik
iparnya untk segera meninggalkan tempat itu. Kenzo sambil tertawa mengatakan
sesuatu yang membuat Jonathan mengangguk puas. Dia menggendong Alin untuk
keluar dari tempat itu, menghindari Alin mendengar suara-suara lanjutan,
sementara beberapa penjaga masih harus berjaga di depan pintu dan bertugas mengambil
kamera di pagi harinya. Alin mengalungkan tangannya ke leher Kenzo dan
membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Tertidur karena kelelahan.
Di villa nyonya Xu dan Nana masih menunggu dengan cemas.
Ketika melihat mobil Jonathan mendekat, mereka segera menyambutnya dengan
rentetan pertanyaan. Jonathan sampai kuwalahan menghadapi keduanya.
“Alin selamat, lihat dia tertidur di gendongan Kenzo, sudah jangan
berisik nanti malah membangunkan Alin,” kata Jonathan menunjuk Kenzo yang baru
saja keluar dari mobil dengan Alin berada di gendongannya.
Kenzo tidak menaggapi pertanyaan ibunya, dia langsung saja
masuk menuju kamarnya dan meminta tolong kepada kakaknya untuk memanggil
dokter. Setelah berada di kamar, Kenzo segera mengganti pakaian Alin dengan
piyamatebal dan bersih, dia juga membersihkan sisa darah di lengan istrinya.
Alin tidak terganggu sama sekali dengan aktivitas yang dilakukan suaminya. Dia
terlalu lelah dan sangat mengantuk. Tak berapa lama dokter datang dan segera
memeriksa kondisi Alin dan memperban pergelangan tangannya yang kini
membengkak. Setelah selesai dokter tersebut membereskan alat-alatnya dan pergi.
Kenzo membenarkan selimut Alin dan menemaninya sebentar lalu keluar.
Jonathan tengah duduk di sebuah ruangan yang hanya ada
dirinya dan juga ayahnya. Tak lama berselang, Kenzo memasuki ruangan dan duduk
di sebelah kakaknya. Wajahnya masih dingin dan terlihat marah, dia
menghembuskan nafas dengan kasar. Mereka bertiga masih terdiam, tenggelam dalam
lamunan masing-masing. Sang ayah melirik putra keduanya itu, dia adalah
putranya yang paling keras kepala dan juga cuek,berbeda dengan Jonathan yang
walaupun dia memiliki sisi kejam, tetapi dia menyembunyikannya.
“Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang menyakiti
istriku, siapapun itu akan aku pastikan hidup mereka hancur sehancur-hancurnya,
aku bersumpah!” kata Kenzo dengan sorot kebencian.
“Tenangkan diri mu dulu nak! Ayah tidak akan menghalangi
niat mu dan apapun yang akan kamu lakukan selagi itu masih di batas wajar,
tetapi redakan dahulu amarah mu, ingat ajaranku tenang di setiap situasi, itu adalah
sifat sejati seorang tentara,” kata ayahnya.
“Hukuman kali ini baru permulaan dan juga peringatan
pertama, tetapi aku tidak akan berhenti ayah, sebelum mereka menderita
berkali-kali lipat, sebelum itu terjadi ak tidak akan pernah puas, aku akan melakukannya
dengan perlahan, mulai dari harga diri mereka dan seterusnya,” kata Kenzo lagi.
“Baiklah-baiklah aku tahu sangat marah sekarang, seperti
kata ayah tenangkan diri mu dulu baru pikirkan rencana ke depan, kakak akan
selalu mendukung mu,” kata Jonathan sambil menepuk pelan pundak adiknya.
“Kau mau minum?” tanya Jonathan.
Kenzo hanya mengangkat gelasnya yang telah berisi minuman
beralkohol. Malam itu para pria keluarga Xu saling menguatkan dan juga saling
mendukung. Apapun yang akan dilakukan oleh Kenzo, ayah dan kakaknya akan selalu
mendukung dan membantu. Kejadian kali ini membuat keluarga Xu sangat marah, ini
sudah keterlaluan. Mulai sekarang mereka harus membalas, tunjukkan pada dunia
jika keluarga Xu tidak dapat diganggu.
Mereka bertiga baru kembali ke kamar masing-masing setelah
jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kenzo dalam keadaan mabuk langsung
berbaring di samping istrinya dan memeluknya. Membisikkan jika dia akan lebih
menjaga istrinya di masa depan, memastikan tidak akan ada satu orang pun yang
mampu menyakiti istrinya.
Bersambung.