The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 28



Tuan Xu memaksa Kenzo untuk mengadakan pesta pernikahan dan mengumumkan status Alin sebagai menantu di keluarga Xu. Akan tetapi Kenzo tidak setuju, waktunya belum tepat. Kenzo sangat takut akan keselamatan istrinya apalagi dia sedang mengandung. Kenzo ingin memastikan keamanan dari Alin dan juga calon bayinya, masih ada satu orang yang patut dia waspadai. Walaupun orang ini adalah kakeknya Alin tetapi besar kemungkinan jika Alin kembali dia akan lebih menderita dan pasti akan dipaksa untuk menikah dengan orang lain. Tetapi ayahnya tidak menyetujuinya, Kenzo harus mengumumkan pernikahannya dengan Alin justru agar istri dan calon anaknya aman.


“Ayah ingin kalian mengadakan resepsi, ini untuk kebaikan kalian, coba pikirkan, jika kamu memperkenalkan Alin kepada publik tetapi sudah ada anak di antara kalian, ayah takut akan terjadi gosip yang tidak enak, apalagi


kamu adalah seorang tentara, ayah ingin yang terbaik untuk kalian, jika kamu tidak tenang dan tidak bisa senantiasa menjaga istri mu karena tugas mu sebagai seorang tentara, ada ayah dan ibu mu yang akan menjaganya, ada kakak mu juga, banyak orang yang akan menjaganya, apalagi yang kamu takutkan?” tanya sang ayah.


“Entahlah ayah, aku hanya terlalu takut jika Alin menghilang lagi, sudah cukup ayah, setiap kali Alin berada dalam bahaya, aku sangat takut dan juga gelisah, ayah pasti paham apa yang aku rasakan, “ kata Kenzo dengan lesu.


“Ibu tahu nak, tetapi rasa takut yang berlebihan sangatlah tidak baik, pikirkan juga istri mu, mau sampai kapan kamu mengurungnya tanpa pernah melihat dunia luar, tanpa berinteraksi dengan orang-orang dan mempunyai teman, jika kamu ingin seperti itu, apa bedanya kamu dengan kakeknya Alin?” tanya ibunya sambil menatap lembut wajah putranya.


“Tapi...” ucap Kenzo.


“Tidak ada tapi-tapian resepsi pernikahan mu akan tetap diadakan dan juga itu akan dilakukan bersama dengan pernikahan kakak mu, satu bulan dari sekarang mulailah bersiap-siap terlebih lagi diri mu, Jonathan!” kata sang ayah dengan tegas.


“Ini demi kebaikan kalian, ayah dan ibu hanya ingin melihat kalian bahagia nak, kami sudah tua, berita kehamilan Alin membuat kami sangat bahagia, akhirnya penantian ibu akan kehadiran menantu dan cucu sudah terwujud, rasanya seperti ibu bisa pergi tanpa penyesalan,” kata sang ibu dengan raut bahagia berbinar.


“Ibu apa yang ibu katakan? Jangan pernah mengungkit kata-kata sial itu bu!,” sergah Kenzo.


“Jika ini memang yang kalian inginkan, aku hanya bisa menuruti,” sambung Kenzo lagi


“Baiklah ibu akan mulai untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk resepsi kalian berdua dan Alin jaga kesehatannya ya nak, sekarang bukan cuma ada diri mu tetapi ada juga seseorang yang juga harus kamu jaga,”


“I-iya bu,” kata Alin.


Hari itu segala kesalahpahaman dan juga kebohongan telah terselesaikan dan terbongkar. Memang tidak ada yang bertahan lama ketika kita menyimpan bangkai. Hri-hari berjalan sebagimana mestinya, sama seperti hari-hari biasanya. Tuan dan nyonya Xu kembali ke rumah mereka, sementara kini Kenzo bisa bekerja dengan hati yang tenang dan lega. Bagaimanapun meyembunyikan sesuatu dari orangtuanya sangatlah membuatnya dilingkupi rasa bersalah dan takut. Jonathan kembali ke kesibukannya sebagai presdir merangkap pemimpin mafia. Sedangkan Alin hanya menghabiskan kebanyakan waktu dengan tidur. Para pelayan disana tidak membiarkan nona muda mereka berkeliaran alau hanya ke taman. Alin dijaga ketat seperti sebongkah berlian langka, terkadang sebal dan juga jengkel dengan tingkah para pelayan itu. Semenjak Alin hamil, semua orang berubah menjadi sangat posesif. Apalagi suaminya itu, dia tidak akan membiarkan istri kecilnya itu jauh selangkah saja dari sisinya. Ibu mertuanya juga sering berkunjung dengan banyak makanan bergizi bagi ibu hamil. Alin semakin dimanjakan oleh semua orang disekitarnya. Walau agak berlebihan sih, tetapi Alin cukup senang, setidaknya dia merasakan kembali suasana keluarga utuh.


****


bingkisan berisi kue yang akan dia berikan kepada nyonya Xu. Dengan senyum mengembang, dia berjalan perlahan mendekati pasangan yang telah berusia lebih dari setengah abad itu. Dia adalah Tania Ou, beberapa minggu ini dia terlihat sering mengunjungi pasangan suami istri itu. Kalian pasti sudah bisa menebaknya, ya, dia hanya ingn mengambil hati pasangan itu. Dia masih memiliki harapan besar untuk bisa menikah dengan Kenzo. Siapa yang tidak akan tertarik dengan ketampanan kapten militer itu yang terkenal dikalangan para gadis elit.


Apalagi senyuman ‘pelit’ yang menambah pesona Kenzo, membuat Tania Ou bekerja keras untuk mendapatkannya. Gadis sombong itu rela berpura-pura menjadi gadis ramah dan lembut hanya untuk misi masa depannya. Tetapi itu tidak akan pernah berhasil, karena kini pasangan suami istri itu telah mengetahui jika putra bungsu mereka telah berkeluarga dan akan segera memiliki anak. Untuk apa mereka menerima gadis luar lagi, itu malah akan membuat Kenzo mengamuk dan marah kepada mereka berdua selamanya.


 Meski begitu, tuan dan nyonya Xu tetap menerima kehadiran Tania dengan ramah. Akan tetapi, mereka belum akan memberi tahu perihal pesta pernikahan Kenzo sebelum waktunya tiba. Bagaimanapun keamanan Alin adalah yang utama. Seperti biasa Tania berada di kediaman Xu sampai sore hari. Pembicaraan mereka hanya seputar Kenzo. Sebenarnya nyonya Xu sangat kasihan dengan Tania yang sangat berharap bisa menikah dengan Kenzo. Tetapi takdir tak membiarkan mereka bersama dan tidak akan pernah ada kesempatan untuk bersama. Entah bagaimana jainya jika nanti Tania mendengar tentang pernikahan Kenzo dan Alin. Nyonya Xu berharap jika nanti Tania tidak melakukan hal buruk kepada Alin. Nyonya Xu tahu jika Tania adalah seorang gadis yang nekat, bahkan dia tahu jika Tania hanya berpura-pura bersikap baik dan ramah. Sebagai seorang ibu dan juga pengalamannya berpuluh tahun nyonya Xu sedikit tahu tentang watak seseorang hanya melihat dari wajahnya.


Wajah penuh kepalsuan itu tidak akan pernah bisa membohongi orang tua dengan pengalaman berpuluh-puluh tahun. Akan tetapi pasangan suami istri itu hanya bisa menerima dengan tangan terbuka. Selama gadis itu tidak bertindak membahayakan ataupun merugikan, mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Setelah Tania pulang, tuan Xu beranjak menuju ruang kerjanya, sementara nyonya Xu pergi ke kamar tidur untuk istirahat menunggu


aktu makan malam. Pembicaraan bersama Tania memang menguras tenaganya yang memang telah rapuh termakan usia. Dia  juga tersenyum-senyum sendiri tatkala dia membayangkan calon cucunya yang berada di kandungan Alin. Nyonya Xu juga memikirkan hal apa saja yang telah menantunya itu alami. Ingatanya kembali terbayang ke belasan tahun yang lalu, ketika seorang bocah kecil berlari memeluk kakinya. Di belakangnya


terlihat laki-laki berkaos warna hijau tengah mengejarnya dengan piring berisi makanan.


“Alin nggak mau makan!” teriak bocah cilik pemilik wajah menggemaskan itu.


“Nggak boleh gitu sayang, kamu kan baru saja sembuh dari demam, habis makan minum obat dan tidur siang nak, aduh lepasin kaki tante Xu!” ucap laki-laki yang adalah ayahnya bocah cilik itu.


Bocah tersebut menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Nggak mau, aku mau makan disuapin mama.”


Laki-laki itu tampak frustasi menghadapi gadis kecilnya itu. Akan tetapi wajahnya juga berubah agak sendu, menahan keras rasa sedih. Nyonya Xu mengusap pelan kepala bocah itu, ajaibnya bocah yang dipanggil Alin itu mendongak menatapnya dengan penuh kasih sayang. Tatapan itu penuh pengharapan akan perasaan anak kepada seorang ibu. Tatapan itu membuat nyonya Xu trenyuh, gadis kecil itu telah kehilangan mamanya sejak lama. Hingga akhirnya dia mengenal kata ‘mama’ dan mulai merindukan sosok itu. Ditambah pengaruh teman-temannya di TK yang menanyakan dimana ibunya, Alin tengah mencari sosok yang hanya dia tahu dari cerita dan selembar foto usang. Nyonya Xu meraih piring tersebut dan menyuapi gadis kecil itu dengan sabar. Alin sangat senang dan makan dengan lahap, ayahnya menghela nafas dengan lega. Hingga sesosok bocah laki-laki tampan yang mendekati ibunya dan berdiri di sebelah Alin. Membuka mulutnya.


“Aku juga mau disuapin sama ibu, Alin bolehkan aku makan makanan mu juga?” tanya bocah itu yang ternyata adalah Kenzo kecil.


Alin hanya mengangguk sambil mengunyah makanan yang berada di mulutnya.


Bersambung.