
Hari ini adalah hari imana Nana Lin pulang ke villa Jonathan. Setelah sebelumnya dibujuk oleh Jonathan dan mengutarakn niatnya untuk menikahi Nana. Dia sempat ragu, bagaimanapun mereka belum pernah dekat apalagi menjalin perasaan cinta. Ya walaupun sebenarnya dia menyukai Jonathan, tetapi Jonathan sendiri tidak pernah mengutarakan ketertarikan apapun kepada Nana. Setelah perdebatan yang sangat lama, akhirnya Nana bersedia untuk pulang ke villa dan juga menikah dengan Nana.
“Aku akan berusaha belajar mencintai mu, cinta bisa hadir kapan saja Nana, aku hanya menginginkan diri mu menunggu, apa kamu sanggup?” hanya itu yang selalu terngiang di telinga Nana sepanjang perjalananya kembali ke negara asal Jonathan.
Nana hari itu juga mendapat kabar mengenai kehamilan Alin. Dia sangat senang dan bahagia dengan kehamilan Alin. Apalagi Kenzo dan Alin akan mengadakan resepsi pernikahan dan mengumumkan pernikahannya. Itu memang yang ditunggu-tunggu oleh Alin selama ini. Walaupun menyembunyikan pernikahannya adalah untuk kebaikannya, tetapi jauh di lubuk hatinya Alin menginginkan dirinya dikenal berstatus telah menikah. Dengan pengumuman pernikahannya, secara tidak langsung Alin akan terbebas dari kekangan persembunyian, ada banyak orang yang menjaganya sekarang.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Nana Lin sampai di villa pribadi Jonathan. Terlihat di depan pintu telah menunggu seorang gadis cantik dengan dress selutut berwarna biru muda. Rambut panjangnya tergerai di tiup angin menambah kesan cantik di dirinya. Nana segera mengenali siapa gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Alin yang kini tengah tersenyum lebar menyambut calon kakak iparnya.
“Kak Nana!” pekiknya.
“Hallo lagi adik manis,” balas Nana sambil menepuk pelan kepala Alin.
Alin menarik Nana untuk masuk ke dalam dengan antusias, sementara Jonathan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik iparnya. Jonathan juga ikut masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamarnya untuk mandi. Sementara itu Nana dan Alin kini tengah duduk di ruang keluarga membicarakan banyak hal. Para pelayan menyiapkan susu untuk Alin dan jus alpukat untuk Nana, tak lupa cemilan serta buah-buahan untuk para nona muda mereka. Alin membombardir Nana dengan banyak pertanyaan. Nana tampak kuwalahan menjawab pertanyaan Alin satu-persatu.
Sesekali pembicaraan mereka terhenti karena Alin yang merasakan mual-mual dan langsung berlari menuju wastafel terdekat. Membuat Nana khawatir dengan kondisi Alin. Akan tetapi memang dasarnya Alin yang bandel, dia tidak mau istirahat dan masih bertanya ini itu kepada Nana. Karena suntuk berada di ruang keluarga, Alin menarik Nana menuju ke balkon kamarnya di lantai 3. Para pelayan memindahkan semua camilan beserta buah yang telah dikupas dan dicuci bersih ke balkon kamar Alin.
Angin segar dan pemandangan yang indah, membuat suasana lebih nyaman. Alin tidak membiarkan Nana untuk pergi dari sisinya. Nana telah berkorban dengan hidupnya ketika dia berusaha menyelamatkan Alin ketika di culik Hans. Rasa bersalah terus menguasai hatinya tatkala mengetahui Nana terbaring koma dan tidak tahu kapan akan tersadar. Tetapi kecemasannya kini telah luntur dugantikan rasa syukur bisa melihat wajah cantik yang dewasa itu. Senyumnya masih sama, suaranya juga masih sama, kerinduan selama ini telah pupus dengan kehadirannya. Menyempurnakan kebahagiaan yang menghampiri Alin bertubi-tubi. Akankah kebahagiaan ini terus bertahan untuk menggantikan penderitaan yang Alin alami selama ini? Entahlah hanya tuhan yang tahu takdir apa yang telah dipersiapkan untuk Alin.
Percakapan itu terjadi sangat lama hingga Jonathan menarik Nana menuju kamar untuk istrirahat. Alin pun hanya melepaskan calon kakak iparnya dengan berat hati. Maklum saja, Alin hanya punya Nana sebagai teman baiknya, selain para pelayan dan penjaga villa itu. Setelah Nana kembali ke kamar yang telah disediakan, Alin beranjak untuk mandi menghilangkan gerah setelah itu tidur siang. Mau bagaimana lagi, dia ingin melakukan sesuatu pasti para pelayan itu akan melarangnya. Mau jalan-jalan pasti hanya dibolehkan sampai taman saja selebihnya sangat dilarang. Ya hidup seperti itu pasti sangat membosankan. Tubuhnya juga seringkali lemah, sering mual dan muntah dan terkadang tidak nafsu makan.
Alin yang sebelumnya belum pernah merasakan bagaimana dimanja sangat bahagia. Jonathan yang telah dia anggap seperti kakak kandungnya telah membuatnya bak seorang putri. Perlahan Alin bisa melupakan trauma masa lalu yang pernah dia alami. Hari-harinya diisi dengan limpahan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Kasih sayang yang diberikan oleh orangtua Kenzo membuat Alin kembali teringat dengan kasih sayang dan perhatian sang ayah dahulu. Walau hanya sebentar, tetapi apa yang dilakukan ayahnya cukup meninggalkan kesan mendalam di hati Alin. Tak jarang dia juga merindukan sosok kakeknya. Alin berharap jika kakeknya itu bisa berubah dan bisa lebih mencintai orang-orang di sekitarnya.
Memang sebenci-bencinya seorang anak ataupun cucu, tetapi tak akan pernah kaya ikatan itu langsung putus dan hilang di hati. Pepatah mengatakan ‘darah lebih kental daripada air’ nggak akan pernah ada yang bisa menggantikan sosok orangtua maupun sosok keluarga sebaik apapun orang lain mencintai kita. Begitu juga Alin, dia sangat menghargai dan dia bahagia orang-orang di sekitarnya mencintai dan menyayangi dirinya. Akan tetapi perasaan sayang seorang cucu kepada kakeknya tidak akan berubah sejahat apapun dia memperlakukan Alin. Namun di satu sisi Alin juga takut untuk menemui kakeknya.
Sementara itu.
Sesosok laki-laki jangkung tengah duduk di balkon mansionnya. Laki-laki yang telah berusia hampir 70 tahun itu tengah menatap menembus cakrawala. Menerawang sesuatu di mata tuanya. Tatapan itu penuh rasa bersalah dan juga kesedihan yang mendalam. Di tangannya tergenggam selembar foto yang menampilkan seorang laki-laki bersama seorang wanita cantik yang menggendong seorang bayi yang menggemaskan. Laki-laki itu adalah kakek Gu, bayang-bayang kekejaman masa lalunya berputar-putar di ingatannya. Dia masih ingat, ketika dia melihat dengan tatapan dingin dan acuh kepada seorang wanita yang tengah tersengal-sengal seusai anak buahnya menyuntikkan sesuatu di infusnya.
“Dendam ini terbalaskan satu persatu, tenang saja aku tidak akan membunuh anak mu, tetapi jangan harap dia bisa hidup bahagia,” itu adalah satu kalimat yang dia ucapkan sebelum pergi dari ruangan wanita itu.
Sekelebat rasa bersalah dan juga takut, menggerayangi hatinya. Dia berpikir apakah tindakannya tidak keterlaluan, tetapi dendam yang dulu terpatri kuat di hatina telah menggelapkan pikirannya. Dia mengorbankan banyak hal untuk dendamnya itu, mengorbankan orang-orang yang sangat dia cintai. Tetapi apakah itu impas sekarang? Bukan malah hatinya tenang tetapi malah semuanya seakan berantakan. Akan tetapi mengingat kembaliperistia berdarah yang mempengaruhi hidupnya, dimana dia kehilangan istri tercintanya. Perasaan marah dan juga dendam kembali bangkit.
Dia berjanji dengan dirinya sendiri, untuk menemukan Alin dan membuatnya menjadi alat balas dendam. Seorang kakek yang telah di butakan oleh dendam dan hasrat membunuh sehingga merelakan kehidupan cucunya. Memang tidak ada cara lain, dia juga bersyukur Alin tidak jadi menikah dengan Hans, sehingga rencananya bisa dilaksanakan dengan lebih mudah. Masalahnya sekarang, dia harus segera menemukan dimana cucunya sekarang berada. Sudah cukup lama dia menyelidiki keberadaan cucunya itu, tetapi nihil. Orang misterius itu masih melindunginnya, kakek Gu sedikit frustasi karenannya.
Bersambung.