The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 31



Pukul 06.00 waktu setempat, keluarga Xu


bergerak menuju tempat resepsi yang diadakan di sebuah resort dengan tema


terbuka. Kedua pasangan pengantin akan bersiap di resort itu.  Kondisi Alin yang segar bugar telah siap


untuk menjalani rangkaian acara hari ini. Alin menyiapkan mentalnya untuk


menhadai tamu-tamu yang berasal dari kalangan atas. Alin dan Nana berada di


satu ruangan ketika dirias. Make up artist disediakan untuk kedua mempelai


perempuan dan juga gaun pengantin yang mewah berwarna putih. Beberapa waktu


kemudian kedua pasangan pengantin telah siap, para tamu undangan juga telah


berdatangan.


Acara pernikahan pun dimulai, para pengantin


laki-laki telah berada di altar pernikahan menunggu pasangan masing-masing.


Karena Alin dan juga Nana adalah anak yaytim piatu, tuan Xu mewakili ayah


mereka untuk mengantar Alin dan Nana ke altar pernikahan. Tuan Xu menggandeng


keduanya dan telah berada di gerbang menuju altar pernikahan. Tuan Xu menarik


nafas dan menggenggam erat, berusaha menenangkan kedua menantunya yang


berkaca-kaca. Seharusnya moment ini mereka jalani dengan ayah masing-masing,


tetapi takdir telah menjempu ayah mereka terlebih dahulu.


“Sudah siap sayang?” tanya tuan Xu kepada


keduanya.


Alin dan Nana mengangguk dengan mantap,


menahan genangan air mata yang bersiap untuk meluncur keluar. Mereka bertiga


berjalan diiringi para bridesmaid di belakang dan 2 pasang bridesmaid kecil


sambil menaburkan kelopak bunga mawar putih. Gaun pengantin keduanya menggesek


tanah dan berkilauan tertimpa sinar matahari lembut. Para tamu undangan berdiri


menyambut kedua pengantin perempuan itu. Beberapa melongok penasaran dengan


wajah para menantu keluarga Xu dan merekapun terpesona dengan kecantikan


keduanya walau tertutup tudung pernikahan yang agak transparan. Kenzo dan juga


Jonathan tak henti-hentinya menatap pengantin masing-masing dengan senyum


mengembang.  Ketika sudah sampai ke


hadapan mempelai laki-laki tuan Xu menyerahkan kedua menantunya ke tangan


putra-putranya.


“Jaga mereka baik-baik, ayah tidak pernah


mengajarkan kepada kalian untuk memperlakukan perempuan dengan buruk,” ucap


ayahnya sesaat setelah menyerahkan keua menantunya.


Kenzo dan Jonathan mengangguk sebagai jawaban


perkataan ayahnya. Singkat cerita acara utama pernikahan telah selesai. Kenzo


dan Jonathan meneyematkan cincin emas bertahtakan berlian ke jari manis


pasangan masing-masing. Nyonya Xu tak kuasa menahan tangis haru, akhirnya


putra-putranya kini telah menikah dan juga akan ada hadirnya cucunya pertama.


Semua kebahagiaan itu meluap di hati wanita yang telah berusia lebih dari


setengah abad itu. Sang suami menggenggam erat tangan istrinya, dia juga


bahagia atas pernikahan kedua putranya.


Kemudian kedua pasangan pengantin itu


digiring menuju ruangan rias untuk mengganti busana dan istirahat setelah acara


ucapan selamat selesai. Alin sedikit kelelahan karena terlalu lama berdiri.


Acara inti pernikahan sendiri memakan waktu hampir seharian ditambah pesta


pernikahan  yang akan dilakukan di malam


hari, tentu saja menguras banyak tenaga. Apalagi keadaan Alin yang tengah hamil


muda. Sepertinya para nyonya dari kalangan keluarga terhormat dan kaya raya,


menerima dengan baik kedua menantu keluarga Xu, lagian siapa juga yang berani


tidak suka dengan pilihan para tuan muda keluarga Xu itu.


Tetapi ketika baru saja duduk, mereka


dikejutkan dengan keramaian di depan gerbang mansion. Para penjaga dan anak


buah Jonathan tengah berusaha menahan seorang laki-laki tua yang diikuti anak


buah yang terbilang banyak juga. Laki-laki itu adalah kakek Gu, dia berteriak


memanggil nama cucunya. Alin yang mendengar suara kakeknya langsung pias dan


tubuhnya bergetar. Kenzo yang melihat istrinya ketakutan segera memeluknya. Air


mata telah menggenang di pelupuk mata Alin. Dia tidak menyangka jika kakeknya


akan kemari, dia takut jika kakeknya akan membawanya kembali ke mansion dan


menyakiti suaminya serta keluarga barunya. Alin menggeleng histeris, traumanya


kambuh, tatapannya mulai kosong dengan air mata yang terus mengalir. Tangannya


dingin mengenggam erat lengan suaminya. Nafasnya semakin tersengal dan tubuhnya


semakin bergetar. Jonathan mengkoordinir anak buahnya untuk melindungi


keselamatan adik iparnya.


Sementara itu kakek Gu masih berteriak-teriak


memanggil nama Alin. Dia masih santai dan belum menampakkan tanda-tanda untuk


menyerang. Beruntung para tamu undangan sudah pulang semua dan akan kembali


lagi ketika malam hari untuk menghadiri pesta. Tuan Xu  menghampiri kakek Gu yang tengah berdiri


dengan angkuh. Tuan Xu mengetahui hubungan menantunya dengan laki-laki tua itu,


darah dengan Alin.


“Heh, serahkan cucuku! Putra mu tidak pantas


menikahinya, dia tidak layak untuk menjadi pendamping cucuku!” kata kakek Gu


dengan nada tinggi.


“Maafkan saya tuan, tetapi mereka berdua


telah berada di satu ikatan pernikahan, lagipula mereka saling mencintai,”


ucapp tuan Xu dengan tenang, tidak terprovokasi.


“Persetan dengan cinta, pokoknya aku tidak


akan pernah setuju dengan pernikahan ini, cepat serahkan cucuku!” teriak kakek


Gu.


“Saya tidak bisa menyerahkan Alin begitu saja


tanpa persetujuan darinya, bukankah cucu anda telah lama kabur dari mansion


anda tuan Gu? Saya tahu perlakukan anda terhadap Alin dan membuatnya memiliki


trauma mendalam serta kehidupan yang tertekan, bukankah seharusnya anda sebagai


kakeknya, memberikan sedikit kebahagiaan untuknya?” tanya tuan Xu.


“Omong kosong, siapa kamu? Sehingga berhak


mempertanyakan perlakuanku terhadap cucuku?” balas kakek Gu dengan sengit.


“Saya adalah ayah mertuanya, lagipula ayahnya


dulu menitipkan Alin kepada saya dan sekarang dia ada di bawah perlindungan


saya, jadi saya berhak mempertanyakan perihal kehidupan yang pernah dijalani


oleh putriku,” kata tuan Xu tidak mau kalah.


“Oh putra busukku itu menitipkan anaknya kepada


mu? Lucu sekali selama 10 tahun aku merawatnya dan sekarang seenaknya kamu


menahan cucuku karena perkataan pria busuk itu?” kata kakek Gu dengan mata


memicing.


“Tolong jangan ganggu aku lagi!” teriak Alin


yang tiba-tiba muncul mengaggetkan semua orang.


“Tolong jangan pernah mencariku lagi, aku


sudah punya keluarga yang benar-benar menyayangiku di sini, asalkan kakekku


tahu, ayahku bukan pria busuk, dia adalah cinta pertamaku, berapa kali aku


bilang jangan hina ayahku! Kamu bahkan lebih buruk dari pada bajingan,


sepertinya umur tua mu tidak akan menyadarkan mu akan kematian yang semakin


mendekat, aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama suami ku, jadi


tolong jangan pernah menganggu kehidupan ku lagi, utang budi karena telah


merawatku akan aku balas ketika kakek berubah menjadi baik,” kata Alin dengan


nafas tersengal-sengal.


Kkake Gu tertegun mendengar perkataan


cucunya, sebegitu besarnya rasa benci yang ditujukan Alin kepada kakeknya. Dia


terdiam sesaat dan juga hatinya terasa ngilu dan juga sakit, cucunya sendiri


menaruh rasa benci dan kecewa yang amat besar untuknya. Semua perbuatannya baik


dari masa lalu hingga sekarang telah berkali-kali menyakiti Alin. Tetapi rasa


itu hanya sesaat, hatinya kembali buta. Dia menatap tajam cucunya yang menangis


dan menatap benci ke arahnya. Seringai muncul di bibirnya, dia tidak peduli


dengan penderitaan cucunya, persetan dengan semua itu. Semua rasa bencinya


harus terlaksana dan hanya Alinlah yang bisa menjadi alat utama rencananya.


“Aku tidak peduli dengan ocehan mu cucuku,


ayo pulang denganku sekarang juga!” teriak kakek Gu.


Kakek Gu mendekat ke arah Alin, sementara


Alin yang melihat kakeknya mendekat segera mundur. Kakek Gu di cegat oleh


selusin anak buah Jonathan. Alin terlihat syok dengan kenekatan kakeknya. Dia


tidak akan melepaskan dirinya, kejahatan telah menggelapkan akal sehatnya.


Tiba-tiba Alin merintih kesakitan sambil memegang perutnya, Kenzo yang baru


saja tiba segera menangkap tubuh istrinya yang limbung ke belakang. Wajahnya


pucat dan bibirnya terus mengerang. Kenzo panik dan segera membopong istrinya


ke dalam resort untuk ditangani dokternya. Sementara itu Jonathan mengerahkan


anak buahnya untuk menyerang dan mengusir kakek Gu beserta anak buahnya.


Terjadilah pertarungan besar anatara kubu Jonathan dengan kubu kakek Gu.


Tentu saja kakek Gu langsung kalah dan banyak


dari anak buahnya mati. Kakek Gu segera masuk ke mobil bersama asistennya


melihat kondisi yang tidak kondusif lagi. Dia menderita kekalahan dan juga


tubuhnya terkena tembakan peluru di bagian pundaknya. Jonathan yang hanya


meyaksikan pertarungan itu menyeringai, mengejek ke arah kakek Gu dengan wajah


angkuh. Kakek Gu segera bergegas pergi dengan rahang mengeras menahan malu.


Terus terang saja, dia baru kali ini melihat pemimpim mafia tersohor dan paling


di takuti di negaranya bahkan mungkin di Asia. Pemimpin yang masih begitu muda


bahkan dia sekarang adalah kakak ipar dari cucunya. Sungguh mengejutkan.


Bersambung.