
Pukul 06.00 waktu setempat, keluarga Xu
bergerak menuju tempat resepsi yang diadakan di sebuah resort dengan tema
terbuka. Kedua pasangan pengantin akan bersiap di resort itu. Kondisi Alin yang segar bugar telah siap
untuk menjalani rangkaian acara hari ini. Alin menyiapkan mentalnya untuk
menhadai tamu-tamu yang berasal dari kalangan atas. Alin dan Nana berada di
satu ruangan ketika dirias. Make up artist disediakan untuk kedua mempelai
perempuan dan juga gaun pengantin yang mewah berwarna putih. Beberapa waktu
kemudian kedua pasangan pengantin telah siap, para tamu undangan juga telah
berdatangan.
Acara pernikahan pun dimulai, para pengantin
laki-laki telah berada di altar pernikahan menunggu pasangan masing-masing.
Karena Alin dan juga Nana adalah anak yaytim piatu, tuan Xu mewakili ayah
mereka untuk mengantar Alin dan Nana ke altar pernikahan. Tuan Xu menggandeng
keduanya dan telah berada di gerbang menuju altar pernikahan. Tuan Xu menarik
nafas dan menggenggam erat, berusaha menenangkan kedua menantunya yang
berkaca-kaca. Seharusnya moment ini mereka jalani dengan ayah masing-masing,
tetapi takdir telah menjempu ayah mereka terlebih dahulu.
“Sudah siap sayang?” tanya tuan Xu kepada
keduanya.
Alin dan Nana mengangguk dengan mantap,
menahan genangan air mata yang bersiap untuk meluncur keluar. Mereka bertiga
berjalan diiringi para bridesmaid di belakang dan 2 pasang bridesmaid kecil
sambil menaburkan kelopak bunga mawar putih. Gaun pengantin keduanya menggesek
tanah dan berkilauan tertimpa sinar matahari lembut. Para tamu undangan berdiri
menyambut kedua pengantin perempuan itu. Beberapa melongok penasaran dengan
wajah para menantu keluarga Xu dan merekapun terpesona dengan kecantikan
keduanya walau tertutup tudung pernikahan yang agak transparan. Kenzo dan juga
Jonathan tak henti-hentinya menatap pengantin masing-masing dengan senyum
mengembang. Ketika sudah sampai ke
hadapan mempelai laki-laki tuan Xu menyerahkan kedua menantunya ke tangan
putra-putranya.
“Jaga mereka baik-baik, ayah tidak pernah
mengajarkan kepada kalian untuk memperlakukan perempuan dengan buruk,” ucap
ayahnya sesaat setelah menyerahkan keua menantunya.
Kenzo dan Jonathan mengangguk sebagai jawaban
perkataan ayahnya. Singkat cerita acara utama pernikahan telah selesai. Kenzo
dan Jonathan meneyematkan cincin emas bertahtakan berlian ke jari manis
pasangan masing-masing. Nyonya Xu tak kuasa menahan tangis haru, akhirnya
putra-putranya kini telah menikah dan juga akan ada hadirnya cucunya pertama.
Semua kebahagiaan itu meluap di hati wanita yang telah berusia lebih dari
setengah abad itu. Sang suami menggenggam erat tangan istrinya, dia juga
bahagia atas pernikahan kedua putranya.
Kemudian kedua pasangan pengantin itu
digiring menuju ruangan rias untuk mengganti busana dan istirahat setelah acara
ucapan selamat selesai. Alin sedikit kelelahan karena terlalu lama berdiri.
Acara inti pernikahan sendiri memakan waktu hampir seharian ditambah pesta
pernikahan yang akan dilakukan di malam
hari, tentu saja menguras banyak tenaga. Apalagi keadaan Alin yang tengah hamil
muda. Sepertinya para nyonya dari kalangan keluarga terhormat dan kaya raya,
menerima dengan baik kedua menantu keluarga Xu, lagian siapa juga yang berani
tidak suka dengan pilihan para tuan muda keluarga Xu itu.
Tetapi ketika baru saja duduk, mereka
dikejutkan dengan keramaian di depan gerbang mansion. Para penjaga dan anak
buah Jonathan tengah berusaha menahan seorang laki-laki tua yang diikuti anak
buah yang terbilang banyak juga. Laki-laki itu adalah kakek Gu, dia berteriak
memanggil nama cucunya. Alin yang mendengar suara kakeknya langsung pias dan
tubuhnya bergetar. Kenzo yang melihat istrinya ketakutan segera memeluknya. Air
mata telah menggenang di pelupuk mata Alin. Dia tidak menyangka jika kakeknya
akan kemari, dia takut jika kakeknya akan membawanya kembali ke mansion dan
menyakiti suaminya serta keluarga barunya. Alin menggeleng histeris, traumanya
kambuh, tatapannya mulai kosong dengan air mata yang terus mengalir. Tangannya
dingin mengenggam erat lengan suaminya. Nafasnya semakin tersengal dan tubuhnya
semakin bergetar. Jonathan mengkoordinir anak buahnya untuk melindungi
keselamatan adik iparnya.
Sementara itu kakek Gu masih berteriak-teriak
memanggil nama Alin. Dia masih santai dan belum menampakkan tanda-tanda untuk
menyerang. Beruntung para tamu undangan sudah pulang semua dan akan kembali
lagi ketika malam hari untuk menghadiri pesta. Tuan Xu menghampiri kakek Gu yang tengah berdiri
dengan angkuh. Tuan Xu mengetahui hubungan menantunya dengan laki-laki tua itu,
darah dengan Alin.
“Heh, serahkan cucuku! Putra mu tidak pantas
menikahinya, dia tidak layak untuk menjadi pendamping cucuku!” kata kakek Gu
dengan nada tinggi.
“Maafkan saya tuan, tetapi mereka berdua
telah berada di satu ikatan pernikahan, lagipula mereka saling mencintai,”
ucapp tuan Xu dengan tenang, tidak terprovokasi.
“Persetan dengan cinta, pokoknya aku tidak
akan pernah setuju dengan pernikahan ini, cepat serahkan cucuku!” teriak kakek
Gu.
“Saya tidak bisa menyerahkan Alin begitu saja
tanpa persetujuan darinya, bukankah cucu anda telah lama kabur dari mansion
anda tuan Gu? Saya tahu perlakukan anda terhadap Alin dan membuatnya memiliki
trauma mendalam serta kehidupan yang tertekan, bukankah seharusnya anda sebagai
kakeknya, memberikan sedikit kebahagiaan untuknya?” tanya tuan Xu.
“Omong kosong, siapa kamu? Sehingga berhak
mempertanyakan perlakuanku terhadap cucuku?” balas kakek Gu dengan sengit.
“Saya adalah ayah mertuanya, lagipula ayahnya
dulu menitipkan Alin kepada saya dan sekarang dia ada di bawah perlindungan
saya, jadi saya berhak mempertanyakan perihal kehidupan yang pernah dijalani
oleh putriku,” kata tuan Xu tidak mau kalah.
“Oh putra busukku itu menitipkan anaknya kepada
mu? Lucu sekali selama 10 tahun aku merawatnya dan sekarang seenaknya kamu
menahan cucuku karena perkataan pria busuk itu?” kata kakek Gu dengan mata
memicing.
“Tolong jangan ganggu aku lagi!” teriak Alin
yang tiba-tiba muncul mengaggetkan semua orang.
“Tolong jangan pernah mencariku lagi, aku
sudah punya keluarga yang benar-benar menyayangiku di sini, asalkan kakekku
tahu, ayahku bukan pria busuk, dia adalah cinta pertamaku, berapa kali aku
bilang jangan hina ayahku! Kamu bahkan lebih buruk dari pada bajingan,
sepertinya umur tua mu tidak akan menyadarkan mu akan kematian yang semakin
mendekat, aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama suami ku, jadi
tolong jangan pernah menganggu kehidupan ku lagi, utang budi karena telah
merawatku akan aku balas ketika kakek berubah menjadi baik,” kata Alin dengan
nafas tersengal-sengal.
Kkake Gu tertegun mendengar perkataan
cucunya, sebegitu besarnya rasa benci yang ditujukan Alin kepada kakeknya. Dia
terdiam sesaat dan juga hatinya terasa ngilu dan juga sakit, cucunya sendiri
menaruh rasa benci dan kecewa yang amat besar untuknya. Semua perbuatannya baik
dari masa lalu hingga sekarang telah berkali-kali menyakiti Alin. Tetapi rasa
itu hanya sesaat, hatinya kembali buta. Dia menatap tajam cucunya yang menangis
dan menatap benci ke arahnya. Seringai muncul di bibirnya, dia tidak peduli
dengan penderitaan cucunya, persetan dengan semua itu. Semua rasa bencinya
harus terlaksana dan hanya Alinlah yang bisa menjadi alat utama rencananya.
“Aku tidak peduli dengan ocehan mu cucuku,
ayo pulang denganku sekarang juga!” teriak kakek Gu.
Kakek Gu mendekat ke arah Alin, sementara
Alin yang melihat kakeknya mendekat segera mundur. Kakek Gu di cegat oleh
selusin anak buah Jonathan. Alin terlihat syok dengan kenekatan kakeknya. Dia
tidak akan melepaskan dirinya, kejahatan telah menggelapkan akal sehatnya.
Tiba-tiba Alin merintih kesakitan sambil memegang perutnya, Kenzo yang baru
saja tiba segera menangkap tubuh istrinya yang limbung ke belakang. Wajahnya
pucat dan bibirnya terus mengerang. Kenzo panik dan segera membopong istrinya
ke dalam resort untuk ditangani dokternya. Sementara itu Jonathan mengerahkan
anak buahnya untuk menyerang dan mengusir kakek Gu beserta anak buahnya.
Terjadilah pertarungan besar anatara kubu Jonathan dengan kubu kakek Gu.
Tentu saja kakek Gu langsung kalah dan banyak
dari anak buahnya mati. Kakek Gu segera masuk ke mobil bersama asistennya
melihat kondisi yang tidak kondusif lagi. Dia menderita kekalahan dan juga
tubuhnya terkena tembakan peluru di bagian pundaknya. Jonathan yang hanya
meyaksikan pertarungan itu menyeringai, mengejek ke arah kakek Gu dengan wajah
angkuh. Kakek Gu segera bergegas pergi dengan rahang mengeras menahan malu.
Terus terang saja, dia baru kali ini melihat pemimpim mafia tersohor dan paling
di takuti di negaranya bahkan mungkin di Asia. Pemimpin yang masih begitu muda
bahkan dia sekarang adalah kakak ipar dari cucunya. Sungguh mengejutkan.
Bersambung.