The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
chapter 44



Keluarga Xu baru kembali dari pesta tuan Yikimura di pagi


hari. Setelah sarapan bersama, keluarga Xu pamit untuk kembali ke hotel. Tadi


sepanjang sarapan raut muka Kenzo menghitam karena kehadiran Akeno. Kenzo masih


mengingat ketika pria itu dengan kurang ajarnya mengganggu istrinya. Tanpa


lama-lama lagi, Kenzo segera menghabiskan sarapannya dan turun dari kapal


pesiar lebih dulu bersama istrinya. Jonathan beserta yang lain pun segera


menyusul Kenzo dan bergegas menuju ke hotel. Hari ini mereka akan chek out dari hotel dan pindah ke villa


bergaya Jepang tradisional yang lebih dulu ditempati oleh para pelayan dan


penjaga villa Jonathan.


Mata Alin berbinar melihat suasana dan pemandangan sekitar


yang putih bersih dengan langit birunya serta kontras dengan warna hitam dan


cokelat pepohonan yang merangas. Para pelayan dan penjaga menyambut kedatangan


kelurga Xu dengan hormat. Mereka membantu membawa barang-barang dan semua koper


ke dalam kamar masing-masing anggota keluarga Xu. Alin dan Kenzo segera


berganti dengan kimono simple yang


nyaman, hari ini mereka hanya akan berada di villa menikmati suasana dan


pemandian air panas. Untuk setiap kamar anggota keluarga Xu, sudah terdapat


kolam air panas pribadi jadi tidak bercampur dengan kolam air panas yang


digunakan para pelayan dan juga penjaga.


Alin dan Kenzo benar-benar menghabiskan waktu berdua saja


tanpa ayah ibunya dan tanpa Jonathan yang juga hanya bersama Nana sepanjang


hari. Makan siang di sajikan oleh pegawai villa dan diantarkan ke kamar, Alin


langsung berbinar melihat makanan-makanan khas Jepang yang pastinya menggugah


selera. Sementara Kenzo hanya makan sedikit karena memang dia tidak terlalu


lapar. Malah kebanyakan dia hanya memandang istrinya yang dengan senang memakan


makanan yang tersaji. Pemandangan yang sangat indah bahkan pemandangan di


sekitar villa tak sebanding dengan pemandangan yang berada di depannya. Seperti


biasa hanya Alin yang selalu mengisi hatinya Kenzo, begitu juga sebaliknya.


Cinta Kenzo tak akan pernah terbagi ataupun terganti, sejak dulu hatinya telah


menjadi milik Alin dan juga Alin, hatinya juga hanya milik suaminya saja.


“K-kenapa kamu memandangku begitu? Apa ada yang salah di


wajahku atau ada sesuatu yang menempel di gigiku?” tanya Alin setelah sadar


jika suaminya sejak tadi memandangnya.


“Tidak, tidak ada, aku hanya melihat bidadari sedang makan sushi dihadapanku, indah sekali,” kata


kenzo tak berkedip.


“B-bidadari apanya?”


“Kau itu bidadari di hidupku Alin, tidak ada satupun wanita


yang bisa menyamai kecantikan mu, bukan hanya kecantikan fisik mu tetapi juga


kecantikan hati mu, kau tidak ada duanya di dunia ini dan hanya akan ada satu


Alin selamanya, dia adalah Alin istrinya Kenzo, hanya milik Kenzo saja,” kata


Kenzo sambil menatap mata istrinya.


Alin menjadi salah tingkah mendengar perkataan suaminya.


Hatinya berdebar, entahlah sejak bersama Kenzo dia selalu saja berdebar dan


salah tingkah bahkan di pernikahan mereka yang memasuki usia 2,5 tahun. Tetapi


memang suaminya adalah pria yang selalu pandai merayunya dan Kenzo selalu


begitu jika bersama istrinya, tak akan berubah. Kenzo hanya mendorong gelas


berisi susu ke arah istrinya tana mengalihkan pandangannya. Alin segera


menghabiskan susu kehamilan yang selalu dibuatkan oleh Kenzo. Sehabis makan,


Alin ingin berkeliling di sekitaran villa, pemandangan disana sangat luar


biasa. Kenzo pun mengiyakan saja permintaan istrinya, dia memakaikan mantel


tebal dan menggandeng tangan Alin berjalan menuju ke luar.


Alin dengan riang berjalan-jalan menggoyang-goyangkan


tangannya seperti anak kecil. Kenzo hanya mengikuti setiap langkah istrinya dan


memastikan keselamatannya. Setelah lelah berkeliling, Alin dan Kenzo duduk di


sebuah bangku yang menghadap ke pegunungan. Pemandangan indah tersaji di depan


mereka, hamparan salju putih dan juga gunung-gunung menjulang membuat siapa


saja yang menatapnya tidak akan pernah merasa bosan. Kenzo memasukkan tangan


istrinya ke saku jaketnya, memastikan calon ibu itu tidak kedinginan. Tak jauh


dari mereka ada pohon persik yang berbunga, aneh sekali ada pohon di musim


dingin berbunga. Alin tertarik dan memerintahkan suaminya untuk memetik


beberapa tangkai untuk dia letakkan di vas bunga.


Kenzo pun menuruti permintaan sang istri, dengan segera dia


melangkah mendekati pohon persik itu yang jaraknya hanya 50 meter dari tematnya


memetik telingannya mendengar sesuatu. Ketika menoleh dia mendapati istrinya


menghilang, sontak saja dia membuang tangkai bunga itu dan berlari mencari


Alin. Dia berteriak kesana-kemari mencari keberadaan Alin yang entah berada di


mana. Kenzo menyesal kenapa tadi dia tidak membawa serta barang satu atau dua


penjaga bersamanya. Kini Alin menghilang dengan begitu cepat.


Kenzo segera berlari kembali ke villa dan meminta bantuan


kakaknya. Jonathan dan lainnya terlihat panik, Jonathan mulai menelfon


seseorang untuk membantu menemukan adik iparnya. Jika Alin diculik maka


penculik itu belum pergi jauh, Jonathan menyebar anak buahnya untuk segera


menelusuri dan mencari petunjuk. Kenzo benar-benar kalut, ingatannya kembali


berputar di peristiwa ketika ia menemukan Alin yang di culik Hans di ruang


bawah tanah. Ya tuhan, air matanya langsung luruh seketika, apakah Alin harus


menerima siksaan lagi? Belum cukupkah ya tuhan? Begitulah raungan batin di hati


Kenzo.


“Ini bukan saatnya untuk lemah Ken! Kenapa setiap kali


terjadi sesuatu kepada Alin kau hanya menangis dan putus asa, mana sikap


ketentaraan mu hah? Mana kapten Kenzo yang tidak mengenal kata sedih dan gagal?


Bangkit! Menangis tidak akan membuat mu menemukan Alin segera,” tegur kakaknya.


Kenzo mengusap air matanya dengan kasar dan berdiri. “Siapapun


yang menyakiti istriku tak akan pernah aku biarkan hidup! Dia harus mati


mengenaskan dihaapanku, aku bersumpah akan membuatnya mati perlahan dan


menerima penderitaan yang tak terkira.”


“Bagus, ayo berangkat!” ajak Jonathan sambil menepuk pundak


adiknya dan mereka berjalan beriringan.


Kenzo dan Jonathan kembali bergegas mencari Alin di setiap


sudut kota. Semua anak buah di kerahkan, berpencar berlari memeriksa


tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat si penculik. Tidak ada satu


tempatpun yang terlewatkan, dengan wajah dingin dan penuh kebengisan, Kenzo


malam itu ‘mengobrak-abrik’ kota itu. Jonathan juga meminta bantuan tuan


Yikimura untuk mencari keberadaan Alin. Kenzo meninju tiang besi setiap kali


dia tidak menemukan istrinya di setiap tempat yang dia kunjungi.


***


Sementara itu seorang wanita cantik sedang berbincang dengan


seorang pria, mereka mendiskusikan sesuatu yang buruk. Kemudian datang lagi


satu pria yang tersenyum puas. Kilatan nafsu tergambar jelas di wajahnya, dia


seperti tidak sabar akan sesuatu. Wanita itu menyeringai melihat ketidak


sabaran yang sangat gamblang dari pria itu. Wanita itu pernah ‘tidur’ dengan


pria itu dan merasakan bagaimana agresifnya si pria di atas ranjang. Wanita itu


sempat tidak bisa berdiri akibat ulah dari pria mesum itu, demi sebuah


kesepakatan, wanita tersebut menjual harga dirinya.


“Semua berjalan dengan lancar, kita bertiga bekerja sama dan


akansaling diuntungkan, kau bisa membawanya ke bos mu besok,” kata wanita itu.


“Kenapa harus besok?” tanya pria yang satunya.


“Hahaha tentu saja aku ingin bermain dengannya dulu, aku


punya sesuatu yang harus diselesaikan dengannya, jangan khawatir aku tidak akan


membunuhnya,” kata wanita itu.


“Terserah kau sajalah, yang terpenting kau serahkan dia


hidup-hidup atau bosku akan mengakhiri hidupku,” kata pria itu yang dibalas


anggukan santai wanita itu.


“Kalau begitu aku pergi dulu, selamat bersenang-senang dan


terima kasih untuk kesepakatan kita, aku akan untung besar.”


Sepeninggal pria itu, wanita itu dan pria yang satunya lagi


menuju ke sebuah kamar kecil yang di dalamnya ada seseorang. Tempat mereka


tersembunyi, tidak banyak yang tau tempat itu. Itu adalah bekas laboratorium di


bawah kaki bukit, akses masuknya melalui gua kecil. Tempat bersembunyi yang


sempurna. Wanita itu tersenyum dan mengguyur seseorang di ranjang dengan air


yang membuat orang itu terbangun kaget. Tangannya terikat dengan tali begitu


juga kakinya, mantelnya telah hilang dan telah berganti dengan gaun tidur


transparan yang menampilkan lekuk tubuhnya. Pria di sebelah wanita itu semakin


bernafsu melihatnya ditambah dengan guyuran air membuat tubuh orang itu semakin


terlihat seksi.


Bersambung.