
Keluarga Xu baru kembali dari pesta tuan Yikimura di pagi
hari. Setelah sarapan bersama, keluarga Xu pamit untuk kembali ke hotel. Tadi
sepanjang sarapan raut muka Kenzo menghitam karena kehadiran Akeno. Kenzo masih
mengingat ketika pria itu dengan kurang ajarnya mengganggu istrinya. Tanpa
lama-lama lagi, Kenzo segera menghabiskan sarapannya dan turun dari kapal
pesiar lebih dulu bersama istrinya. Jonathan beserta yang lain pun segera
menyusul Kenzo dan bergegas menuju ke hotel. Hari ini mereka akan chek out dari hotel dan pindah ke villa
bergaya Jepang tradisional yang lebih dulu ditempati oleh para pelayan dan
penjaga villa Jonathan.
Mata Alin berbinar melihat suasana dan pemandangan sekitar
yang putih bersih dengan langit birunya serta kontras dengan warna hitam dan
cokelat pepohonan yang merangas. Para pelayan dan penjaga menyambut kedatangan
kelurga Xu dengan hormat. Mereka membantu membawa barang-barang dan semua koper
ke dalam kamar masing-masing anggota keluarga Xu. Alin dan Kenzo segera
berganti dengan kimono simple yang
nyaman, hari ini mereka hanya akan berada di villa menikmati suasana dan
pemandian air panas. Untuk setiap kamar anggota keluarga Xu, sudah terdapat
kolam air panas pribadi jadi tidak bercampur dengan kolam air panas yang
digunakan para pelayan dan juga penjaga.
Alin dan Kenzo benar-benar menghabiskan waktu berdua saja
tanpa ayah ibunya dan tanpa Jonathan yang juga hanya bersama Nana sepanjang
hari. Makan siang di sajikan oleh pegawai villa dan diantarkan ke kamar, Alin
langsung berbinar melihat makanan-makanan khas Jepang yang pastinya menggugah
selera. Sementara Kenzo hanya makan sedikit karena memang dia tidak terlalu
lapar. Malah kebanyakan dia hanya memandang istrinya yang dengan senang memakan
makanan yang tersaji. Pemandangan yang sangat indah bahkan pemandangan di
sekitar villa tak sebanding dengan pemandangan yang berada di depannya. Seperti
biasa hanya Alin yang selalu mengisi hatinya Kenzo, begitu juga sebaliknya.
Cinta Kenzo tak akan pernah terbagi ataupun terganti, sejak dulu hatinya telah
menjadi milik Alin dan juga Alin, hatinya juga hanya milik suaminya saja.
“K-kenapa kamu memandangku begitu? Apa ada yang salah di
wajahku atau ada sesuatu yang menempel di gigiku?” tanya Alin setelah sadar
jika suaminya sejak tadi memandangnya.
“Tidak, tidak ada, aku hanya melihat bidadari sedang makan sushi dihadapanku, indah sekali,” kata
kenzo tak berkedip.
“B-bidadari apanya?”
“Kau itu bidadari di hidupku Alin, tidak ada satupun wanita
yang bisa menyamai kecantikan mu, bukan hanya kecantikan fisik mu tetapi juga
kecantikan hati mu, kau tidak ada duanya di dunia ini dan hanya akan ada satu
Alin selamanya, dia adalah Alin istrinya Kenzo, hanya milik Kenzo saja,” kata
Kenzo sambil menatap mata istrinya.
Alin menjadi salah tingkah mendengar perkataan suaminya.
Hatinya berdebar, entahlah sejak bersama Kenzo dia selalu saja berdebar dan
salah tingkah bahkan di pernikahan mereka yang memasuki usia 2,5 tahun. Tetapi
memang suaminya adalah pria yang selalu pandai merayunya dan Kenzo selalu
begitu jika bersama istrinya, tak akan berubah. Kenzo hanya mendorong gelas
berisi susu ke arah istrinya tana mengalihkan pandangannya. Alin segera
menghabiskan susu kehamilan yang selalu dibuatkan oleh Kenzo. Sehabis makan,
Alin ingin berkeliling di sekitaran villa, pemandangan disana sangat luar
biasa. Kenzo pun mengiyakan saja permintaan istrinya, dia memakaikan mantel
tebal dan menggandeng tangan Alin berjalan menuju ke luar.
Alin dengan riang berjalan-jalan menggoyang-goyangkan
tangannya seperti anak kecil. Kenzo hanya mengikuti setiap langkah istrinya dan
memastikan keselamatannya. Setelah lelah berkeliling, Alin dan Kenzo duduk di
sebuah bangku yang menghadap ke pegunungan. Pemandangan indah tersaji di depan
mereka, hamparan salju putih dan juga gunung-gunung menjulang membuat siapa
saja yang menatapnya tidak akan pernah merasa bosan. Kenzo memasukkan tangan
istrinya ke saku jaketnya, memastikan calon ibu itu tidak kedinginan. Tak jauh
dari mereka ada pohon persik yang berbunga, aneh sekali ada pohon di musim
dingin berbunga. Alin tertarik dan memerintahkan suaminya untuk memetik
beberapa tangkai untuk dia letakkan di vas bunga.
Kenzo pun menuruti permintaan sang istri, dengan segera dia
melangkah mendekati pohon persik itu yang jaraknya hanya 50 meter dari tematnya
memetik telingannya mendengar sesuatu. Ketika menoleh dia mendapati istrinya
menghilang, sontak saja dia membuang tangkai bunga itu dan berlari mencari
Alin. Dia berteriak kesana-kemari mencari keberadaan Alin yang entah berada di
mana. Kenzo menyesal kenapa tadi dia tidak membawa serta barang satu atau dua
penjaga bersamanya. Kini Alin menghilang dengan begitu cepat.
Kenzo segera berlari kembali ke villa dan meminta bantuan
kakaknya. Jonathan dan lainnya terlihat panik, Jonathan mulai menelfon
seseorang untuk membantu menemukan adik iparnya. Jika Alin diculik maka
penculik itu belum pergi jauh, Jonathan menyebar anak buahnya untuk segera
menelusuri dan mencari petunjuk. Kenzo benar-benar kalut, ingatannya kembali
berputar di peristiwa ketika ia menemukan Alin yang di culik Hans di ruang
bawah tanah. Ya tuhan, air matanya langsung luruh seketika, apakah Alin harus
menerima siksaan lagi? Belum cukupkah ya tuhan? Begitulah raungan batin di hati
Kenzo.
“Ini bukan saatnya untuk lemah Ken! Kenapa setiap kali
terjadi sesuatu kepada Alin kau hanya menangis dan putus asa, mana sikap
ketentaraan mu hah? Mana kapten Kenzo yang tidak mengenal kata sedih dan gagal?
Bangkit! Menangis tidak akan membuat mu menemukan Alin segera,” tegur kakaknya.
Kenzo mengusap air matanya dengan kasar dan berdiri. “Siapapun
yang menyakiti istriku tak akan pernah aku biarkan hidup! Dia harus mati
mengenaskan dihaapanku, aku bersumpah akan membuatnya mati perlahan dan
menerima penderitaan yang tak terkira.”
“Bagus, ayo berangkat!” ajak Jonathan sambil menepuk pundak
adiknya dan mereka berjalan beriringan.
Kenzo dan Jonathan kembali bergegas mencari Alin di setiap
sudut kota. Semua anak buah di kerahkan, berpencar berlari memeriksa
tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat si penculik. Tidak ada satu
tempatpun yang terlewatkan, dengan wajah dingin dan penuh kebengisan, Kenzo
malam itu ‘mengobrak-abrik’ kota itu. Jonathan juga meminta bantuan tuan
Yikimura untuk mencari keberadaan Alin. Kenzo meninju tiang besi setiap kali
dia tidak menemukan istrinya di setiap tempat yang dia kunjungi.
***
Sementara itu seorang wanita cantik sedang berbincang dengan
seorang pria, mereka mendiskusikan sesuatu yang buruk. Kemudian datang lagi
satu pria yang tersenyum puas. Kilatan nafsu tergambar jelas di wajahnya, dia
seperti tidak sabar akan sesuatu. Wanita itu menyeringai melihat ketidak
sabaran yang sangat gamblang dari pria itu. Wanita itu pernah ‘tidur’ dengan
pria itu dan merasakan bagaimana agresifnya si pria di atas ranjang. Wanita itu
sempat tidak bisa berdiri akibat ulah dari pria mesum itu, demi sebuah
kesepakatan, wanita tersebut menjual harga dirinya.
“Semua berjalan dengan lancar, kita bertiga bekerja sama dan
akansaling diuntungkan, kau bisa membawanya ke bos mu besok,” kata wanita itu.
“Kenapa harus besok?” tanya pria yang satunya.
“Hahaha tentu saja aku ingin bermain dengannya dulu, aku
punya sesuatu yang harus diselesaikan dengannya, jangan khawatir aku tidak akan
membunuhnya,” kata wanita itu.
“Terserah kau sajalah, yang terpenting kau serahkan dia
hidup-hidup atau bosku akan mengakhiri hidupku,” kata pria itu yang dibalas
anggukan santai wanita itu.
“Kalau begitu aku pergi dulu, selamat bersenang-senang dan
terima kasih untuk kesepakatan kita, aku akan untung besar.”
Sepeninggal pria itu, wanita itu dan pria yang satunya lagi
menuju ke sebuah kamar kecil yang di dalamnya ada seseorang. Tempat mereka
tersembunyi, tidak banyak yang tau tempat itu. Itu adalah bekas laboratorium di
bawah kaki bukit, akses masuknya melalui gua kecil. Tempat bersembunyi yang
sempurna. Wanita itu tersenyum dan mengguyur seseorang di ranjang dengan air
yang membuat orang itu terbangun kaget. Tangannya terikat dengan tali begitu
juga kakinya, mantelnya telah hilang dan telah berganti dengan gaun tidur
transparan yang menampilkan lekuk tubuhnya. Pria di sebelah wanita itu semakin
bernafsu melihatnya ditambah dengan guyuran air membuat tubuh orang itu semakin
terlihat seksi.
Bersambung.