
Keesokan paginya, Jepang mendapat berita besar yang langsung
tersebar ke selurh negeri. Sebuah video syur telah beredar di dunia maya bahkan
sempat ada di billboard kota-kota besar Jepang. Membuat heboh dan juga gempar,
para wartawan mulai memburu siapa sepasang kekasih yang terdapat di dalam video
itu. Tak mereka tak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui siapa mereka.Identitas
keduanya segera terungkap ke publik dan hanya soal waktu wartawan akan
mengerubungi mereka seperti laron. Mereka berdua adalah Akano dan Tania Ou,
pasangan itu kini masih tertidur kelelahan akibat aktivitas mereka semalam dan
belum mengetahui apa yang terjadi. Tuan Yikimura sangat murka dan memerintahkan
anak bahnya untuk mencari dan menyeret putranya. Berita pagi ini telah begitu
mencoreng nama baiknya, keluarga Yikimura adalah keluarga yang sangat dihormati
dan disegani di selurh Jepang. Namun kejadian memalukan yang putranya lakukan telah
menamparnya dengan keras. Kesabarannya habis, putra satu-satunya yang dia didik
malah berakhir seperti itu, dia berkali-kali menghantamkan tangannya ke meja,
untung saja mejanya terbuat dari kayu. Bayangkan jika itu kaca, pasti akan
langsung berhamburan ketika kepalan tangan itu mengenai mejanya.
Sebelum Akeno berhasil diseret ke rumah oleh ayahnya, Kenzo
dan Jonathan lebih dahulu berada di sana. Tatapan Kenzo benar-benar dingin dan
tajam, wajahnya tidak menunjukkan ekpresi apapun, datar. Bagitu juga dengan
Jonathan, adik kakak itu terlihat menakutkan di mata tuan Yikimura.
“Bukankah saya sudah memperingatkan anda untuk mendidik
putra anda dengan baik?” tanya Kenzo.
“Saya tidak mengerti apa yang anda ucapkan tuan Kenzo,”
sanggah tuan Yikimura, dia terlihat gugup.
“Jangan pura-pura bodoh tuan Yikimura, anda pastilah tau
alasan di balik berita pagi ini, ini adalah peringatan kedua dan terakhir,
putra anda telah menyentuh istri saya, maka bersiaplah dengan semua
konsekuensinya,” ucap Kenzo, mata elangnya seperti menembus sampai ke jantung.
Tuan Yikimura mencengkram pegangan kursinya.
“Anda pikirkanlah hukuman apa yang akan anda berikan kepada
Akeno atau anda ingin menyerahkannya padaku, maka dengan senang hati saya akan ‘mengajarinya’
sampai pintar, saking pintarnya kepalanya akan meledak dan bum, mati!” ucap
Kenzo lagi.
“M-maafkan putra saya tuan Kenzo, dia masih muda dan
tentulah pikirannya belum matang,” ucap tuan Yikimura dengan wajah pias.
“Oh, tapi bagiku dia sudah lebih dari cukup untuk mengerti
batasan dan juga tahu siapa saja yang tidak boleh dia singgung, tetapi saya
tidak peduli mau dia masih bayi ataupun sudah tua renta, jangan pikir anda bisa
membodohi saya, ingat tuan Yikimura! Anda sampai dititik ini karena bantuan
kakakku dan saya, tetapi jika anda ingin melawan saya dan keluarga saya untuk
putra mu, bersiap-siaplah! Saya tunggu,” kata Kenzo sambil jari telunjuknya mengacung
ke arah tuan Yikimura.
“Saya tidak akan pernah berani melawan anda dan kakak anda,
saya akan menghukum putra saya dan membuat tuan Kenzo merasa puas,” kata tuan
Yikimura sambil mengusap keringat di dahinya.
“Baiklah, saya anggap anda sudah mengerti, ini adalah
peringatan terakhir dari saya, jika hal ini sampai terulang kembali akan saya
pastikan keturunan anda lenyap dari muka bumi,” ancam Kenzo dengan serius, nada
bicaranya penuh tekanan dan intimidasi membat tuan Yikimura menelan ludahnya
dengan sulit.
“Baik tuan Kenzo, akan saya ingat perkataan anda baik-baik,”
kata tuan Yikimura dengan gemetar.
Jonathan hanya menonton adiknya yang sedang murka, menyimak
pembicaraan yang lebih di dominasi oleh adiknya. Di dalam hatinya, Jonathan
merasa bangga dengan Kenzo, melawan telak dan membuat orang-orang segan
dengannya. Alin beruntung mendapat suami seperti Kenzo, baik hati, penyayang,
sangat perhatian dan seorang tentara yang prestisius. Sosok Kenzo sangat
sempurna di mata Jonathan kecuali hatinya yang sebenarnya rapuh, lebih rapuh
dari hati seorang wanita, akan tetapi Kenzo sangat pandai menyembunyikan dan
juga mengendalikan perasaanya. Adik kecilnya telah tumbuh dewasa, sejak
kepergian Alin saat masih kecil, Jonathan lah yang selalu berada di sampingnya,
menemaninya, membuatnya memilih jalan masa depannya, melatih Kenzo di semua
bidang, dari bertarung, berbisnis, membangun koneksi, dan akhirnya mengantarkan
keganasannya di medan perang. Semua kriminal serta para gembong mafia
mengenalnya, banyak yang takut dan enggan berurusan dengan Kenzo.
Pembicaraan mereka selesai, Kenzo tanpa kata langsung pergi
disusul oleh kakaknya. Kenzo bergegas pulang ke villa, takut istrinya mencari
karena sejak pagi Kenzo sudah pergi dan benar saja, ketika sampai di halaman
villa, Alin telah menunggu di depan bersama ibu mertuanya. Alin tersenyum
menyambut kepulangan suaminya, dia telah mencarinya sejak pagi, bahkan ketika
dia bangun tidur suaminya itu telah pergi. Kenzo memeluk tubuh ramping
istrinya, memarahinya karena tidak baik berada di luar lama-lama. Lihatlah pipi,
hidung dan juga telinga Alin memerah, Kenzo segera menarik istrinya menuju ke
dalam. Para pelayan dan juga penjaga yang melihat adegan tersebut tersipu,
mereka iri dengan Alin yang selalu mendapat kasih sayang dari Kenzo.
***
Sementara itu, keluarga Ou yang mengetahui berita viral
tentang putri mereka, segera mengubungi Tania. Orang tua Tania merasa sangat
malu, video itu tersebar luas kemana-mana, bahkan di siarkan dalam berita.
Saham perusahaan keluarg Ou anjlok, para investor satu persatu mulai
membatalkan kontrak. Dalam sekejap bisnis mengalami krisis, telepon tak
henti-hentinya berdering, membuat pusing tuan Ou. Tania juga belum bisa
dihubungi, mereka sangat syok melihat adegan tidak pantas dari putrinya, bahkan
dia terlihat seperti wanita binal yang haus kepuasan dari lelaki, sangat
menjijikan. Dengan tubuh babak belur mereka berdua bahkan masih menikmati permainan
dengan agresif dan liar, tidak memedulikan sakit dan juga luka di tubuh mereka.
Ibu Tania tak henti-hentinya menangis, dia tidak menyangka
jika putri yang dia besarkan dan dia didik, malah sekarang terlihat seperti
pelacur. Hatinya sangat sakit ketika menyaksikan putrinya melakukan perbuatan
seperti itu dan tersebar di internet. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah
terlanjur terjadi, rasa marah, malu, kecewa, sedih, cemas bercampur menjadi
satu. Bahkan kesempatan untuk Tania bertunangan dengan putra dari seorang
pejabat sirna sudah. Pagi ini kepala keluarga calon tunangan Tania membatalkan
acara pertunangan dan merasa jijik dengan putri keluarga Ou. Musnah sudah
kesempatan Tania untuk menikah dengan laki-laki yang baik dan mapan seperti
kebanyakan gadis lainnya.
“Pa bagaimana ini?” tanya nyonya Ou kepada suaminya.
“Aku tidak tau lagi ma, aku pusing memikirkan nasib
perusahaan, saham kita anjlok, banyak investor yang membatalkan kontrak kerja
sama, karena ulah putri mu, kita akan bangkrut,” kata tuan Ou ketus sambil
memijat pelipisnya.
“Aku sangat kecewa dengannya, sudah aku bilangkan kalau
teman-temannya itu membawa pengaruh buruk bagi Tania, tetapi anak itu tidak mau
mendengarkan aku, lihat sekarang dia mempermalukan keluarga kita, bisnis kita
hancur, kehormatan keluarga Ou telah tercemar karena perbuatan menjijikannya,
aku tak berharap punya anak sepertinya,” sambung tuan Ou.
“Wala bagaimanapun dia adalah putri kita, dia adalah darah
daging mu,” ucap nyonya Ou berlinang air mata.
“Dengan kejadian seperti ini, dia sudah tidak aku anggap
anakku lagi, bagiku anakku telah mati, dia telah melukai hatiku, sangat dalam
hingga sulit rasanya aku bernafas, aku berpikir dosa apa yang aku lakukan di
masa lalu hingga tuhan memberiku anak seperti itu,” kata tuan Ou yang juga
menangis, perbuatan putrinya sempurna sudah melukainya, menghancurkan harga
dirinya sebagai seorang ayah.
Ayah mana yang tidak akan merasa kecewa melihat putrinya
seperti pelacur, hati orang tua mana yang tidak tersakiti melihat anak yag
mereka besarkan dengan didikan yang baik berakhir seperti itu. Tuan Ou menepuk
dadanya pelan, mengusir rasa sakit teramat sangat memikirkan putrinya. Air
matanya tak berhenti meneteskan air mata, begitu juga dengan nyonya Ou. Mereka sebenarnya pasangan yang baikhati
dan lemah lembut, selalu mengajarkan kebenaran kepada putri mereka. Namun satu
kejadian membuat hati mereka hancur berkeping-keping. Melihat kelakuan putri
mereka di layar ponsel dan membaca komentar yang sangat-sangat buruk, bahkan
tuan Ou membanting ponsel istrinya karena tidak tahan. Mereka berdua merasa
menjadi orang tua yang gagal mendidik anak.
Bersambung.