The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 47



Satu hari setelah peristiwa Alin diculik, Kenzo memutuskan


untuk kembali. Semua orang sibuk berkemas-kemas, setelah selesai mereka segera


berangkat menuju bandara. Sepanjang perjalanan Alin hanya terdiam dan melamun,


begitu juga dengan Kenzo. Tidak ada pembicaraan apapun di dalam pesawat. Hening,


Alin akhirnya jatuh tertidur, Kenzo dengan hati-hati memindahkan posisi kepala


Alin agar bersandar di pundaknya. Pergelangan tangan Alin masih di perban dan


terlihat membengkak, Kenzo menatapnya sekilas.


Setelah beberapa jam penerbangan, sampailah mereka di


bandara. Tiga mobil mewah berwarna hitam menyambut mereka, setelah semua barang


di turunkan dan disimpan di bagasi mobil, ketiga mobil itu segera melaju menuju


villa dan kediaman keluarga Xu. Semuanya pulang dan mengemban tugas kembali,


tak terkecuali para pelayan dan penjaga yang ikut berlibur ke Jepang, mereka


kembali ke pos masing-masing. Ketika sampai di villa, ada seorang laki-laki dan


perempuan setengah baya tengah menunggu, Kenzo menghela nafas dengan keras, dia


sangat mengenal siapa mereka. Awalnya Kenzo dan Jonathan ingin mengabaikan mereka,


namun kedua orang itu lebih dulu menahan lengan mereka.


“Ada apa?” tanya Kenzo dingin.


“Kami ingin membicarakan sesuatu dengan mu,” kata laki-laki


itu.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan, apa kau tidak lihat


istriku kelelahan?” tanya Kenzo tajam.


“Tapi kami harus bicara sekarang dengan kalian, ini


menyangkut Tania,” kata perempuan di sebelah laki-laki itu.


Ketika mendengar nama Tania, tangan Alin refleks mencengkram


lengan suaminya. “Jangan sebut wanita ****** itu, aku jijik mendengarnya! Enyahlah


kalian dari sini!.” Kata Kenzo keras.


“Aku mohon nak, biarkan kami bicara dengan mu,” kata


laki-laki yang ternyata adalah ayah Tania.


“Aku lelah, silahkan kalian pergi!” perintah Kenzo.


“Kami tidak akan pergi sebelum kamu mau bicara dengan kami


dan mendengarkan apa yang ingin kami bicarakan pada mu,” kata tuan Ou.


“Terserah!” ucap Kenzo sambil masuk ke dalam villa bersama


Alin yang masih termangu.


Kenzo membawa Alin menuju kamar mereka di lantai 3, dia juga


membantu istrinya mandi. Luka di pergelangan tanganya belum boleh terkena air,


Kenzo benar-benar merawat Alin dengan baik. Setelah selesai mandi dan


berpakaian, Alin segera tidur. Kenzo melirik ke bawah dan masih mendapati orang


tua Tania di sana. Mereka gigih sekali, tetapi bagi Kenzo itu memuakkan. Kegigihan


mereka tidak akan merubah apapun. Perbuatan putri mereka tidak akan pernah


dimaafkan, itu sudah di luar batas. Bahkan ayah dan ibunya Kenzo telah


mengutarakan kekecewaan mereka dan berniat memutus semua hubungan.


Hari telah sampai di penghujung sore, langit mulai menggelap


menyisakan semburat kemerahan cahaya matahari yang telah tenggelam. Angin


sepoi-sepoi berhembus menenangkan, Alin telah terbangun sejak 3 jam lalu dan


kini seperti biasa dia berada di bakon menatap keindahan tiada tara ciptaan


tuhan. Dia sesekali juga melihat ke bawah, dua orang tua Tania masih berdiri di


sana. Beruntung hari ini tidak hujan, kalau iya entahlah, dua orang tua itu


akan semakin menderita. Alin tahu kedua orang itu hatinya baik dan bersih


tetapi entah mereka mempunyai kesalahan apa di masa lalu sehingga tuhan memberi


mereka seorang putri yang berhati busuk dan licik. Alin semakin tidak tega


melihat mereka berdua, lihatlah keringat mengucur dari sela-sela rambut


keduanya, pasti sedang menahan lapar dan haus. Hatinya tersentuh, diapun


beranjak mendekati suaminya yang sedang fokus dengan laptopnya.


“Sayang, apa kamu tidak kasihan dengan orangtuayang masih


berdiri di bawah sana?” tanya Alin lembut.


“Tidak sayang, untuk apa aku kasihan?” ucap Kenzo sambil


menoleh ke arah Alin.


“Tetapi setidaknya kita dengarkan apa yang hendak mereka


bicarakan kan? Agar mereka segera pergi.”


“Aku sudah tau apa yang ingin mereka bicarakan dan itu


buruk, sudahlah kamu jangan pedulikan mereka, kamu harus banyak istirahat ya!”


perintah Kenzo.


“Hmm, baiklah.”


fokus dengan laptopnya. Alin bosan hanya di kamar terus sepanjang hari, bahkan


makan siang saja dia di kamar, tidak diperbolehkan keluar sama sekali oleh


suaminya. Jadilah dia sekarang menyelinap menuju dapur, Kenzo menyadari itu,


dia tahu istrinya itu diam-diam pergi. Maka diletakkan laptopnya di meja,


bergegas membuntuti istrinya diam-diam. Alin berjalan mengendap-endap, persis


seperti anak kucing yang mengintai mangsa, pelan-pelan menuju dapur. Sepanjang


lorong lantai 3 sampai di lantai bawah, Kenzo memperingatkan para pelayan yang


melihatnya mengikuti Alin untuk tidak memberitahu istrinya.


Sesampainya di dapur, Alin membuka isi kulkas dan menemukan


sepiring puding cokelat. Matanya berbinar melihatnya, dia segera mengambilnya


dan tak lupa mengambil sendok juga. Dia belum menyadari jika sedari tadi


suaminya menatapnya sambil tersenyum. Para koki di dapur juga tertawa kecil


melihat pasangan itu. Alin telah duduk di meja makan dan menikmati puding


dinginnya dengan lahap. Ketika Alin tengah menikmati pudingnya, Kenzo tiba-tiba


duduk di sebelah istrinya dan membuka mulutnya. Alin terkejut bukan main, untung


saja dia belum memasukkan puding ke mulutnya atau dia akan tersedak. Alin


menyuapi suaminya sambil mengomel dan mengerutu. Kebiasaan sekali, Kenzo selalu


membuat istrinya terkejut.


Tak berapa lama Jonathan dan Nana yang mendengar keributan


kecil di ruang makan keluar dari kamar mereka dan turun ke bawah. Mereka berdua


tengah melihat pasangan muda itu tengah berebut puding cokelat. Jonathan hanya


menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya. Nana tertawa melihat


Alin yang di jahili suaminya dan berakhir berebut makanan.


“Kalian ini umur berapa sih?” tanya Jonathan.


Seketika Alin dan Kenzo menghentikan kegiatan tarik-menarik


piring puding. Kemudian mereka berdua tertawa, Kenzo menggaruk belakang


kepalanya yang tidak gatal.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. Kedua orang


tua itu kini mulai berteriak,meminta bertemu dengan Kenzo. Sangat berisik,


Alinpun tidak berselera menghabiskan pudingnya. Jonathan dan Kenzo saling


pandang dan menghembuskan nafas dengan keras. Mereka berdua tengah mengontrol


kemarahan mereka. Menganggu saja, akhirnya Jonathan dan Kenzo berjalan keluar, diikuti


oelh Alin dan Nana. Di luar tampaklah kedua orangtua itu masih berteriak.


“Jika kalian berteriak sekali lagi, maka akan aku pastikan


kalian tidak akan pernah bisa berteriak lagi selamanya,” ancam Kenzo.


“Oh ya? Apa kamu berani? Aku ingin lihat, jangan lupa jika


diri mu adalah seorang tentara, jangan sampai tersebar berita seorang tentara


membunuh warga sipil,” kata tuan Ou sambil menyeringai.


“Oh sifat asli mu telah keluar, kenapa tidak dari tadi saja?


Oh dan aku tidak peduli dengan itu, jika itu menyangkut istriku aku tidak


peduli tentang reputasiku, jangan kira aku takut dengan ancaman mu itu,” kata


Kenzo dingin.


“Lihatlah istriku, orang tua yang yang sempat kamu kasihani


tadi, yang kamu kira mereka itu orang baik, lihatlah! Mereka menampilkan wujud


asli mereka, tidak heran mereka punya putri seperti itu,” sambung Kenzo.


Alin tidak menyangka jika mereka ternyata sama saja dengan putri


mereka, licik dan berpikiran sempit. Mereka berdua terlalu pandai meyembunyikan


karakter asli mereka. Siapa yang menyangka jika mereka adalah orang yang jahat.


Alin mundur satu langka, beringsut mendekati Nana dan memilih berdiri disamping


kakak iparnya itu.


“Sudah aku bilang, aku tidak akan pernah mau menuruti permintaan


kalian, aku tahu tujuan kalian ke sini,” kata Kenzo.


“Apa susahnya sih hanya menghadiri konferensi pers sebentar?


Berbicara sebentar lalu pulang,” kata tuan Ou ketus, perubahan sikap yang


sangat drastis bukan?


“Siapa kalian memerintahkan aku? Apa hak kalian? Dasar tidak


tahu diri, kesalahan putri kalian yang melakukannya dan sekarang meminta aku menyelesaikannya?


Cih, memangnya kalian siapa?” tanya Kenzo tajam.


“Aku tidak peduli!” kata tuan Ou.


“Aku lebih tidak peduli lagi! Terserah kalian mau apa lagi,


cepat pergi dari sini!” kata Kenzo dengan tajam.


Bersambung.