
Satu hari setelah peristiwa Alin diculik, Kenzo memutuskan
untuk kembali. Semua orang sibuk berkemas-kemas, setelah selesai mereka segera
berangkat menuju bandara. Sepanjang perjalanan Alin hanya terdiam dan melamun,
begitu juga dengan Kenzo. Tidak ada pembicaraan apapun di dalam pesawat. Hening,
Alin akhirnya jatuh tertidur, Kenzo dengan hati-hati memindahkan posisi kepala
Alin agar bersandar di pundaknya. Pergelangan tangan Alin masih di perban dan
terlihat membengkak, Kenzo menatapnya sekilas.
Setelah beberapa jam penerbangan, sampailah mereka di
bandara. Tiga mobil mewah berwarna hitam menyambut mereka, setelah semua barang
di turunkan dan disimpan di bagasi mobil, ketiga mobil itu segera melaju menuju
villa dan kediaman keluarga Xu. Semuanya pulang dan mengemban tugas kembali,
tak terkecuali para pelayan dan penjaga yang ikut berlibur ke Jepang, mereka
kembali ke pos masing-masing. Ketika sampai di villa, ada seorang laki-laki dan
perempuan setengah baya tengah menunggu, Kenzo menghela nafas dengan keras, dia
sangat mengenal siapa mereka. Awalnya Kenzo dan Jonathan ingin mengabaikan mereka,
namun kedua orang itu lebih dulu menahan lengan mereka.
“Ada apa?” tanya Kenzo dingin.
“Kami ingin membicarakan sesuatu dengan mu,” kata laki-laki
itu.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan, apa kau tidak lihat
istriku kelelahan?” tanya Kenzo tajam.
“Tapi kami harus bicara sekarang dengan kalian, ini
menyangkut Tania,” kata perempuan di sebelah laki-laki itu.
Ketika mendengar nama Tania, tangan Alin refleks mencengkram
lengan suaminya. “Jangan sebut wanita ****** itu, aku jijik mendengarnya! Enyahlah
kalian dari sini!.” Kata Kenzo keras.
“Aku mohon nak, biarkan kami bicara dengan mu,” kata
laki-laki yang ternyata adalah ayah Tania.
“Aku lelah, silahkan kalian pergi!” perintah Kenzo.
“Kami tidak akan pergi sebelum kamu mau bicara dengan kami
dan mendengarkan apa yang ingin kami bicarakan pada mu,” kata tuan Ou.
“Terserah!” ucap Kenzo sambil masuk ke dalam villa bersama
Alin yang masih termangu.
Kenzo membawa Alin menuju kamar mereka di lantai 3, dia juga
membantu istrinya mandi. Luka di pergelangan tanganya belum boleh terkena air,
Kenzo benar-benar merawat Alin dengan baik. Setelah selesai mandi dan
berpakaian, Alin segera tidur. Kenzo melirik ke bawah dan masih mendapati orang
tua Tania di sana. Mereka gigih sekali, tetapi bagi Kenzo itu memuakkan. Kegigihan
mereka tidak akan merubah apapun. Perbuatan putri mereka tidak akan pernah
dimaafkan, itu sudah di luar batas. Bahkan ayah dan ibunya Kenzo telah
mengutarakan kekecewaan mereka dan berniat memutus semua hubungan.
Hari telah sampai di penghujung sore, langit mulai menggelap
menyisakan semburat kemerahan cahaya matahari yang telah tenggelam. Angin
sepoi-sepoi berhembus menenangkan, Alin telah terbangun sejak 3 jam lalu dan
kini seperti biasa dia berada di bakon menatap keindahan tiada tara ciptaan
tuhan. Dia sesekali juga melihat ke bawah, dua orang tua Tania masih berdiri di
sana. Beruntung hari ini tidak hujan, kalau iya entahlah, dua orang tua itu
akan semakin menderita. Alin tahu kedua orang itu hatinya baik dan bersih
tetapi entah mereka mempunyai kesalahan apa di masa lalu sehingga tuhan memberi
mereka seorang putri yang berhati busuk dan licik. Alin semakin tidak tega
melihat mereka berdua, lihatlah keringat mengucur dari sela-sela rambut
keduanya, pasti sedang menahan lapar dan haus. Hatinya tersentuh, diapun
beranjak mendekati suaminya yang sedang fokus dengan laptopnya.
“Sayang, apa kamu tidak kasihan dengan orangtuayang masih
berdiri di bawah sana?” tanya Alin lembut.
“Tidak sayang, untuk apa aku kasihan?” ucap Kenzo sambil
menoleh ke arah Alin.
“Tetapi setidaknya kita dengarkan apa yang hendak mereka
bicarakan kan? Agar mereka segera pergi.”
“Aku sudah tau apa yang ingin mereka bicarakan dan itu
buruk, sudahlah kamu jangan pedulikan mereka, kamu harus banyak istirahat ya!”
perintah Kenzo.
“Hmm, baiklah.”
fokus dengan laptopnya. Alin bosan hanya di kamar terus sepanjang hari, bahkan
makan siang saja dia di kamar, tidak diperbolehkan keluar sama sekali oleh
suaminya. Jadilah dia sekarang menyelinap menuju dapur, Kenzo menyadari itu,
dia tahu istrinya itu diam-diam pergi. Maka diletakkan laptopnya di meja,
bergegas membuntuti istrinya diam-diam. Alin berjalan mengendap-endap, persis
seperti anak kucing yang mengintai mangsa, pelan-pelan menuju dapur. Sepanjang
lorong lantai 3 sampai di lantai bawah, Kenzo memperingatkan para pelayan yang
melihatnya mengikuti Alin untuk tidak memberitahu istrinya.
Sesampainya di dapur, Alin membuka isi kulkas dan menemukan
sepiring puding cokelat. Matanya berbinar melihatnya, dia segera mengambilnya
dan tak lupa mengambil sendok juga. Dia belum menyadari jika sedari tadi
suaminya menatapnya sambil tersenyum. Para koki di dapur juga tertawa kecil
melihat pasangan itu. Alin telah duduk di meja makan dan menikmati puding
dinginnya dengan lahap. Ketika Alin tengah menikmati pudingnya, Kenzo tiba-tiba
duduk di sebelah istrinya dan membuka mulutnya. Alin terkejut bukan main, untung
saja dia belum memasukkan puding ke mulutnya atau dia akan tersedak. Alin
menyuapi suaminya sambil mengomel dan mengerutu. Kebiasaan sekali, Kenzo selalu
membuat istrinya terkejut.
Tak berapa lama Jonathan dan Nana yang mendengar keributan
kecil di ruang makan keluar dari kamar mereka dan turun ke bawah. Mereka berdua
tengah melihat pasangan muda itu tengah berebut puding cokelat. Jonathan hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya. Nana tertawa melihat
Alin yang di jahili suaminya dan berakhir berebut makanan.
“Kalian ini umur berapa sih?” tanya Jonathan.
Seketika Alin dan Kenzo menghentikan kegiatan tarik-menarik
piring puding. Kemudian mereka berdua tertawa, Kenzo menggaruk belakang
kepalanya yang tidak gatal.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. Kedua orang
tua itu kini mulai berteriak,meminta bertemu dengan Kenzo. Sangat berisik,
Alinpun tidak berselera menghabiskan pudingnya. Jonathan dan Kenzo saling
pandang dan menghembuskan nafas dengan keras. Mereka berdua tengah mengontrol
kemarahan mereka. Menganggu saja, akhirnya Jonathan dan Kenzo berjalan keluar, diikuti
oelh Alin dan Nana. Di luar tampaklah kedua orangtua itu masih berteriak.
“Jika kalian berteriak sekali lagi, maka akan aku pastikan
kalian tidak akan pernah bisa berteriak lagi selamanya,” ancam Kenzo.
“Oh ya? Apa kamu berani? Aku ingin lihat, jangan lupa jika
diri mu adalah seorang tentara, jangan sampai tersebar berita seorang tentara
membunuh warga sipil,” kata tuan Ou sambil menyeringai.
“Oh sifat asli mu telah keluar, kenapa tidak dari tadi saja?
Oh dan aku tidak peduli dengan itu, jika itu menyangkut istriku aku tidak
peduli tentang reputasiku, jangan kira aku takut dengan ancaman mu itu,” kata
Kenzo dingin.
“Lihatlah istriku, orang tua yang yang sempat kamu kasihani
tadi, yang kamu kira mereka itu orang baik, lihatlah! Mereka menampilkan wujud
asli mereka, tidak heran mereka punya putri seperti itu,” sambung Kenzo.
Alin tidak menyangka jika mereka ternyata sama saja dengan putri
mereka, licik dan berpikiran sempit. Mereka berdua terlalu pandai meyembunyikan
karakter asli mereka. Siapa yang menyangka jika mereka adalah orang yang jahat.
Alin mundur satu langka, beringsut mendekati Nana dan memilih berdiri disamping
kakak iparnya itu.
“Sudah aku bilang, aku tidak akan pernah mau menuruti permintaan
kalian, aku tahu tujuan kalian ke sini,” kata Kenzo.
“Apa susahnya sih hanya menghadiri konferensi pers sebentar?
Berbicara sebentar lalu pulang,” kata tuan Ou ketus, perubahan sikap yang
sangat drastis bukan?
“Siapa kalian memerintahkan aku? Apa hak kalian? Dasar tidak
tahu diri, kesalahan putri kalian yang melakukannya dan sekarang meminta aku menyelesaikannya?
Cih, memangnya kalian siapa?” tanya Kenzo tajam.
“Aku tidak peduli!” kata tuan Ou.
“Aku lebih tidak peduli lagi! Terserah kalian mau apa lagi,
cepat pergi dari sini!” kata Kenzo dengan tajam.
Bersambung.