The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 32



Kenzo dengan tergopoh-gopoh membawa istrinya


ke kamar yang disiapkan untuk keduanya, sambil berteriak memanggil dokter.


Setelah membaringkan Alin, dokter datang tak berapa lama dan langsung memeriksa


keadaan Alin. Dokter juga terlihat agak panik dan memanggil susternya untuk


segera membawa obat-obatan yang dimaksud dari rumah sakit, sementara dia segera


memasang cairan infus untuk menjaga cairan di dalam tubuh Alin. Sementara dari


roknya terdapat bercak darah yang agak banyak. Kenzo yang baru menyadari hal itu


langsung ketakutan dan pucat. Dia langsung jatuh terduduk di samping ranjang.


Dokter memerintahkan pelayan untuk mengambil air hangat untuk membersihkan


darah dan baju ganti. Tak berapa lama, suster yang diantar salah satu anak buah


Jonathan kembali membawa obat-obatan yang dimaksud.


Beruntung dokter menangani Alin dengan cepat,


nyawa Alin dan juga janinnya yang baru berusia 6 minggu. Alin mengalami gejala


keguguran karena trauma dan tekanan batin yang kuat. Beruntung janin mampu


bertahan di situasi seperti itu. Semua orang bernafas lega mendengar kabar


kondisi Alin dan calon anaknya telah stabil. Kenzo yang semula pucat pasi dan


hanya terdiam kini malah menangis mendengar kondisi istrinya yang telah


membaik. Ibunya memeluk putranya dan menenangkannya. Semua orang maklum, baru


kali ini mereka melihat Kenzo menangis karena mengkhawatirkan seseorang. Ya


Kenzo selalu menjadi serang yang emosional jika menyangkut istrinya, dan siapa


sih yang nggak syok dan sedih mendengar istrinya hampir keguguran? Dan penyebabnya


adalah kakeknya sendiri.


Setelah semuanya tenang, sang ibu


memerintahkan Kenzo untuk mandi agar tubuhnya lebih segar setelah serangkaian


acara pernikahan. Masih ada acara pesta formal yang harus di hadiri dan mungkin


Alin hanya akan duduk saja mengingat tubuhnya yang masih lemah. Ya walaupun


hanya akan muncul sebentar, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk menghormati


tamu undangan. Semua orang kembali ke aktivitasnya masing-masing. Mempersiapkan


diri untuk acara selanjutnya. Pukul 19.00 waktu setempat Alin tersadar dari


pingsannya, satu jam lagi pesta di mulai. Dokter hanya menyarankan Alin untuk


menemui tamu maksimal 2 jam saja. Akan tetapi itu sudah lebih cukup, bahkan


nyonya Xu ingin agar Alin istirahat saja, tidak usah menemui tamu. Tetapi Alin


bersikeras bahwa dia baik-baik saja, dia berjanji dia hanya akan keluar


sebentar untuk menghormati tamu.


Akhirnya Alin dirias kembali dengan riasan


natural dan juga mengenakan gaun berlengan pendek berwarna biru malam, serasi


dengan setelan jas Kenzo. Mereka bak pangeran dan putri yang akan menghadiri


pesta kerajaan. Rambut panjang sepinggul milik Alin di urai dan bawahnya di curly oleh sang perias. Kalung berbentuk


kepingan salju dengan permata berwarna biru pemberian Kenzo tersemat di leher


jenjang dan putih milik Alin. Terakhir dia memakai highheels setinggi 5 cm saja karena Alin juga sedang hamil. Kenzo


yang baru masuk setelah memakai setelannya, terpaku. Dia menatap istrinya tanpa


berkedip, beberapa perias yang melihat Kenzo, tertawa kecil. Alin segera


menyadarkan suaminya yang menatap dirinya tanpa berkedip.


Kenzo menggandeng tangan Alin menuju ke


tempat pesta berlangsung. Jonathan dan Nana telah terlebih dahulu sampai.


Mereka berdua tengah berbincang dengan salah satu kolega bisnis Jonathan.


Ketika Kenzo dan Alin turun mereka menjadi pusat perhatian, semua orang menoleh


untuk melihat mereka. Pasangan itu sangat serasi dan juga Kenzo yang


menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Tetapi kemesraan mereka membuat


seseorang memegang gelasnya dengan sangat erat. Tatapannya sarat akan rasa


benci kepada Alin. Wajahnya cemberut menahan kesal, hingga dia di sadarkan oleh


ibunya. Jangan macam-macam! Ancam ibunya.


Wanita itu, siapa lagi kalo bukan Tania Ou.


Dia sebenarnya sangat enggan menghadiri pesta ini. Tetapi karena dipaksa oleh


kedua orangtuanya dia hanya menurut dengan wajah kesal. Apalagi sekarang dia


harus melihat Kenzo bersama dengan istrinya, membuatnya Tania ingin mencakar


telah hadir, tuan Xu memulai pesta dengan sambutan hangat untuk para tamunya.


Dilanjutkan dengan pengumuman penting perihal Alin.


“Saya ingin mengumumkan bahwa Kenzo dan Alin


sebenarnya telah menikah 1 tahun yang lalu, mereka menikah secara tertutup dan


tidak diketahui banyak orang karena suatu hal dan sekarang kami tengah menanti


kelahiran cucu pertama kami dari Kenzo dan juga Alin, mohon do’anya dan terima


kasih,” ucap tuan Xu mengakhiri sesi sambutannya.


“Cih, apa iya? Apa mungkin Alin hamil duluan


dan baru menikah sekarang,” ucap Tania dengan wajah sinis yang langsung


mendapat pelototan dari orangtuanya, bahkan orang-orang mengeryitkan kening


mendengar perkataan Tania yang begitu merendahkan dan bermaksud menyebar rumor.


“Maaf nona Tania, jika anda tidak mengetahui


perihal masalahnya, jangan sekali-kali menyebar rumor yang tidak benar,


hati-hati dengan mulut anda, itu bisa menjadi bumerang untuk anda, jika anda


punya dendam dengan saya, maka seranglah saya jangan istri saya, jika anda


tidak percaya boleh saja anda mencek ke kantor urusan sipil sekarang juga, atau


saya panggilkan petugasnya kemari? Agar rasa penasaran anda terpuaskan?” ucap


Kenzo dengan tatapan mata tajam.


“T-tidak usah,” jawab Tania dengan takut


karena tatapan tajam dari Kenzo, dia meremas gaunnya karena malu dan marah.


“Kalau begitu tutup mulut anda!” kata Kenzo


dengan nada keras.


Setelah kondisi berubah tenang kembali, acara


dilanjutkan dengan sambutan dari Jonathan, ini adalah kali pertama Jonathan


muncul di publik. Sebelumnya dia dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan


misnterius karena hanya beberapa orang saja yang pernah bertemu dan tau seperti


apa Jonathan. Kenzo tidak akan memberi sambutan apapun, dia tidak akan mau,


karena sebagian orang yang ada disana tidak dia kenal. Semua teman-teman


tentaranya sudah datang saat acara pernikahan mereka siang tadi. Jadi setelah


acara sambutan berakhir Kenzo berpamitan kepada seluruh tamu untuk membawa


istrinya ke kamar untuk istirahat. Dia menjelaskan jika kondisi Alin yang


kelelahan dan agak demam.


Kenzo mengantar istrinya ke kamar, Alin


memang mengalami demam walau nggak tinggi. Dokter telah kembali untuk memeriksa


keadaan Alin. Dokter hanya memberika paracetamol dengan dosis yang aman untuk


ibu hamil dan juga beberapa vitamin. Setelah selesai, dokter itu pamit kembali


ke kamarnya. Kenzo membantu istrinya mengganti gaunnya dengan piyama. Setelah


selesai, Kenzo beranjak ke kamar mandi, suara gemericik air terdengar di


telinga Alin. Dia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan


sosok suaminyayang hanya berbalut handuk di pinggang. Tubuh kekar itu tampak


sangat seksi, walau banyak bekas luka di sekujur tubuhnya tak mengurangi pesona


Kenzo yang setengah telanjang. Alin memalingkan wajahnya setelah ketahuan


dirinya menatap Kenzo dalam waktu yang lama.


Kenzo hanya terkekeh melihat tingkah konyol


istrinya. Setelah mengenakan piyama dan mengeringkan rambut, Kenzo beranjak


untuk berbaring di samping istrinya. Suara keramaian di lantai bawah


sayub-sayub masih terdengar. Tiba-tiba Alin memeluknya dengan erat dan


mengendus-endus leher suaminya. Menghirup aroma harum itu sampai puas, sejak


kehamilannya, Alin sangat suka dengan aroma suaminya. Ketika suaminya tidak di


rumah, dia akan memakai kemeja suaminya yang kebesaran di tubuh Alin. Aroma


Kenzo menjadi candu yang kuat bagi Alin. Kenzo berusaha keras menahan gelora di


tubuhnya karena ulah sang istri. Setelah Alin tertidur pulas, Kenzo barulah


agak tenang, dia memijit pelipisnya. Berusaha menahan hasrat, akhirnya dia


pergi ke kamar mandi dan bertemankan air dingin dan sabun.


Bersambung.