The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 37



Chapter 37


Kenzo kembali lagi ke ruangannya an menemukan istrinya telah


terlelap dengan ponsel masih menyala. Kenzo menonaktifkan ponsenya Alin


kemudian dia menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah selesai, dia


segera memakai pakaian dan ikut berbaring di samping istrinya setelah


sebelumnya mengunci ruangannya. Kenzo jatuh tertidur bersama sang istri dalam


pelukannya. Mereka berdua terlelap hingga Alin bangun ketika matahari


menampakkan diri. Hanya ada Alin di ruangan itu, Kenzo sudah tidak ada di


samping Alin. Dia merasakan tenggorokannya kering dan menuangkan air putih ke


gelas dan meminumnya. Karena tidak menemukan keberadaan suaminya, Alin


memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum keluar mencari Kenzo.


Alin telah memakai pakaiannya dan hendak mengeringkan rambut


panjangnya. Ketika itulah Kenzo baru kembali dari apel pagi dengan seragam


lengkapnya. Kenzo langsung meraih handuk yang sedang mengacak-acak rambut


istrinya. Hal itu membuat Alin sangat terkejut, dia tidak meyadari ada orang


masuk karena fokus mengeringkan rambutnya yang panjang dan tebal itu, bahkan


tangannya sampai pegal. Tetapi sekarang tidak karena Kenzo yang mengeringkan


rambutnya, di sana tidak ada hairdryer  jadi Kenzo mengeringkan rambut Alin dengan


handuk. Setelah lumayan kering, Kenzo mengambil vitamin rambut di laci dan


memakaikan itamin tersebut ke rambut Alin sambil menyisirnya. Kenzo sangat


telaten menyisir dan merapikan rambut istrinya, sungguh pemandangan yang


sanggup menggetarkan hati para jomblo.


“Kau sangat telaten sekali sayang, kalo kita punya anak


perempuan, dia akan sangat beruntung karena punya ayah yang pasti telaten


merawatnya,” kata Alin.


“Hahaha kau benar sekali sayang dan pasti dia akan secantik


diri mu, tetapi mau anak laki-laki atau peremuan, aku akan sangat menyayangi


anak kita tidak peduli jenis kelaminnya,” kata Kenzo.


“Iya-iya aku tahu, kamu adalah priaku yang sangat aku


cintai, jadi berjanjilah jika kamu tidak akan pernah meninggalkan aku selamanya,”


kata Alin.


“Iya sayang aku janji,” kata Kenzo sambil memeluk istrinya


dari dalam.


Tok,tok,tok.


Mereka berdua terkejut dan Alin segera melepaskan pelukan


suaminya. Kenzo pun mempersilahkan tamu untuk masuk dan menyembullah kepala


sersan Glen dari balik pintu. Dia pun masuk untuk memberikan laporan perihal


pekerjaan. Alin pun menunggu di kamar yang tadi malam dia tempati selama


suaminya berdiskusi dengan sersan Glen. Alin memutuskan untuk membuat susu


hangat sembari menunggu waktu sarapan tiba. Karena bosan, Alin mencari


ponselnya dan menonton drama China. Tak berapa lama, Kenzo masuk membawa


sarapan untuk istrinya.


“Kamu makanlah sarapan mu! Aku ada rapat dengan atasan,


jangan kemana-mana ya!” peritah Kenzo.


“Iya sayang,” jawab Alin.


“Gadis baik,” kata Kenzo sambil mencium kening istrinya


sebelum pergi.


Seharian itu, Alin berada di ruangan Kenzo dan menunggu


suaminya selesai. Dia sangat bosan karena tidak melakukan apapun dan tidak ada


hal yang menarik. Alin pun memutuskan untuk keluar dari ruangan dan menghirup


udara segar. Tampaklah beberapa tentara yang lalu lalang, benar-benar sibuk,


Alin hanya memperhatikan sekeliling. Beberapa tentara menyapanya dan Alin


membalas mereka dengan ramah dan murah senyum. Namun ada juga tentara wanita


yang menatap sinis ke arah Alin yang membuat dirinya tidak nyaman. Ketika Alin


akan masuk kembali ke ruangan suaminya, ada sekelompok tentara wanita yag


berjalan kearahnya. Sebelum Alin benar-benar masuk, salah satu dari mereka


mencekal lengan Alin dengan keras. Dia meringis kesakitan karena cengkraman itu


dan membuat lengannya memerah.


“Kenapa anda mencengkram lengan saya dengan keras?” tanya


Alin dengan ramah.


“Anda siapa? Kenapa anda hendak lancang masuk ke ruangan


kapten Kenzo?” tanya tentara wanita itu.


“Saya adalah istrinya kapten Kenzo, saya menunggu suami saya


selesai rapat, karena bosan saya keluar dan hendak masuk kembali,” kata Ali


sambil berusaha melepaskan cengkraman tentara tersebut.


“Anda istrinya? Nggak salah?” tanya salah satu dari mereka


dengan nada mengejek.


“Iya benar saya istrinya, sebelumnya maaf, tolong lepaskan


cengkraman anda dari lengan saya! Anda menyakiti saya,” kata Alin dengan nada


sopan itu.


“Saya tidak akan melepaskan anda, anda sangat mencurigakan,


jangan-jangan anda mata-mata dan hendak mencari dokumen rahasia militer?” tanya


tentara wanita tersebut.


“Mata-mata apa sih? Bukankah sudah saya katakan saya


istrinya kapten Kenzo, jika anda tidak percaya akan saya tunjukkan buktinya,”


kata Alin sambil melepaskan cengkraman dan hendak masuk.


Tetapi tentara wanita itu malah menarik rambut panjangnya


hingga tubuh Alin tersentak ke belakang. Alin mengeryit kesakitan dan kepalanya


terasa panas dan pusing. Akan tetapi tentara wanita itu tidak melepaskan


tarikan di rambut Alin.


“Sungguh ironis sekali, seorang tentara berani menyakiti


wanita hamil dan menuduhnya juga,” kata Alin dengan ekspresi marah.


“Anda hanya seorang penipu dan hamil apanya, perut anda saja


kecil, hamil dari mananya? Hahahaha,” kata tentara itu sambil tertawa keras dan


diikuti oleh rekan-rekannya.


“Saya sedari tadi sudah berusaha sopan terhadap anda, dari


tadi anda hanya menuduh saya dan malah tidak membiarkan saya menunjukkan bukti,


sekarang mau anda apa? Oh dan tolong lepaskan tangan anda dari rambut saya!”


perintah Alin.


Tentara wanita itu melepaskan cengkramannya di rambut Alin.


Tentara lainnya mulai berdatangan menonton apa yang terjadi tanpa membantu.


Hanya sedikit tentara yang mengenal siapa Alin, sehigga yang tidak mengenal


Alin, mereka seperti enggan melerai ataupun membantu. Tentara wanita itu masih


kekeh dengan argumen dan tuduhannya. Tidak memberi kesempatan Alin untuk masuk


ke dalam ruangan suaminya untuk mengambil buku nikah. Alin juga berharap jika


rapat suaminya segera selesai, dia mulai takut dengan kerumunan yang seperti menyudutkannya


dan membuatnya tertekan. Tangan-tangan teracung menyudutkanny dan lontaran


pertanyaan tududhan semakin menhujam ke arah Alin.


Wajah Alin telah memerah, perutnya kram dan sakit serta


kepalanya pusing. Ini situasi yang sangat sulit, Alin takut caln bayinya


kenapa-kenapa, dia berdo’a agar suaminya segera datang dan menolongnya. Tentara


wanita itu mulai mendorong bahunya hingga Alin semakin tersudut, dia hanya bisa


menunduk tak kuasa membela dirinya lagi. Hingga akhirnya dorongan keras dari


tentara itu mendorong Alin hingga jatuh ke belakang.


Bruk.


Alin memejamkan matanya bersiap menerima rasa sakit dan


dengan refleks dia memeluk perutnya. Insting seorang ibu. Tetapi setelah lama


menunggu dia tidak merasakan punggungya menambrak lantai keras. Malah sebaliknya


dia merasakan jika dia menabrak sesuatu yang kokoh dan bidang tetapi tidak


menyakitinya. Dia membuka matanya tatkala merasakan tangan kokoh meraih


pinggangnya dan membuatnya berdiri. Alin menoleh dan mendapati suaminya dengan


wajah merah padam dan ekspresi gelap. Ekpresi ini belum pernah Alin lihat sama


sekali, ekspresi marah dan dingin terpancar di wajahnya. Alin memalingkan wajanya


karena juga merasa takut. Tiba-tiba Alin merasakan perutnya sakit, dia menarik


ujung seragam suaminya untuk mengalihkan pandangan suaminya. Sekelompok tentara


wanita itu tertunduk takut, mereka merasakan aura membunuh yang kuat dan udara


di sekeliling mereka mendadak menjadi dingin.


Kenzo mengalihkan pandangannya tatkala merasakan istrinya


menarik ujug seragamnya. Dia mendapati Alin tengah mengeryit kesaitan dan


memegangi perutnya. Seketika ekspresinya berubah, dari semula marah kini


baralih menjadi ekspresi takut dan panik. Alin pun tak sadarkan diri, tubuhnya


yang akan terjatuh tertangkap oleh lengan kokoh suaminya. Kenzo segera


menggendong Alin menuju ke mobilnya meninggalkan kerumunan. Para tentara wanita


itu semakin pias ketakutan, karena dari perlakuan Kenzo sudah bisa di tebak. Jika


Alin benar adalah istri dari kapten Kenzo. Apalagi ketika kapten Kenzo berjalan


melewati mereka, mereka mendengar perkataan penuh ancaman dari kapten Kenzo.


“Ingat! Jika terjadi sesuatu pada istriku, kalian tidak akan


pernah aku lepaskan, tunggu saja!” ucap Kenzo dengan penuh tekanan.


Kenzo memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung


lalu lintas tidak terlalu ramai. Tak butuh waktu lama Kenzo telah sampai di


rumah sakit tempat kemarin Alin check-up kandungan untuk pertama kalinya. Dia segera menggendong Alin dan berlari menuju


lift untuk segera mencapai ruangan dokter Sofie. Beruntung dokter Sofie belum


pergi dari ruangannya. Dokter muda itu terkejut melihat Kenzo yang menggendong


Alin yang tak sadarkan diri. Dokter Sofie memerintahkan Kenzo untuk


membaringkan Alin di atas Zal dan dokter segera memeriksanya.


Bersambung.