The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 41



Janji Kenzo yang akan membawa Alin untuk liburan ke Jepang


akhirnya akan terlaksana. Sebelum mereka beragkat, Kenzo membawa Alin untuk check up rutin  ke dokter Sofie. Seperti


biasa Alin di USG untuk melihat perkembangan janin, dokter Sofie mengeryitkan


keningnya dan beberapa kali menggerakkan alat yang berada di perut Alin secara


memutar. Kenzo menyadari perubahan ekspresi di wajah dokter kandugan itu dan


ikut cemas.


“Ada apa?” tanya Kenzo.


“Ada yang aneh dengan detak jantungnya, tidak beraturan dan


seperti ada 2 jantung yang berdetak, tetapi aku tidak melihat janin yang lain,


sebentar aku ingin memastikan ini dulu,” kata dokter Sofie.


Wajah Kenzo langsung memucat dan gelisah, apakah calon


anaknya bermasalah dengan jantungnya? Dia menggenggam tangan istrinya dan


menunggu. Tak lama kemudian di layar terlihat 2 janin yang satu di depan dan


yang satu berada di belakang, seperti sedang melindungi. Kenzo menahan nafas


beberapa detik melihat 2 janin itu. Dokter Sofie lalu tersenyum kepada pasangan


suami istri itu dan menjelaskan. Alin dan Kenzo akan mempunyai anak kembar, hal


ini tidak disadari sejak awal karena posisi janin yang ke dua bersembunyi di


belakang janin pertama. Kenzo yang semula cemas kini bisa bernafas dengan lega


begitu juga dengan Alin. Setelah selesai USG, mereka berdua kosultasi kembali


apakah sudah diperbolehkan untuk perjalanan luar negeri? Dokter Sofie pun


mengizinkan, karena kondisi kedua janin sangat sehat serta kesehatan ibunya


juga telah membaik dan pulih.


Akhirnya selang 2 hari  sejak check up Kenzo


menyiapkan keberangkatan menuju Jepang bersama keluarga besarnya. Rencananya


mereka berdua ingin memberikan surprise untuk


keluarga mereka perihal bayi kembar mereka. Kenzo mulai packing semua barag-baragnya dan juga Alin ke dalam koper, Alin


hanya membantu melipat baju saja, selebihnya suaminya yang mengerjakan. Semenjak


Kenzo tahu dia akan punya bayi kembar, dia semakin overprotective kepada Alin. Kenzo melarang Alin melakukan ini itu


selain melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti menyiapkan baju,


menyiapkan keperluan Kenzo saat akan berangkat bekerja dan lainnya. Terkadang


Alin merasa jengah dengan sikap suaminya itu, tetapi mau dikata apa, peritah


suami memang harus dilaksanakan.


Tibalah waktu keberangkatan keluarga Xu berlibur ke negeri


sakura itu. Jonathan telah melakukan reservasi di hotel mewah yang berada di kota


Tokyo. Dia juga telah membooking satu villa dan pemandian air panas untuk


keluarganya. Alin sangat semangat dengan liburan kali ini, Kenzo memperingati


Alin untuk tidak berlari menuju mobil. Alin hanya membawa satu tas kecil berisi


make up, skin care, dan juga ponsel serta kartu-kartu penting. Semua koper dan


tas ransel di bawa oleh suaminya. Kenzo tidak membiarkan Alin menyentuh ataupun


membawa barang-barang yang sekiranya berat menurut Kenzo. Ayah dan ibu Kenzo


telah berada di bandara dan memasuki jet pribadi serta menunggu kedatangan para


putra dan menantu mereka.


Setelah semuanya siap, Jonathan mengendarai mobilya menuju


bandara. Ada 2 mobil lainnya yang mengikuti di belakang dan satu bus ukuran


sedang yang membawa para pelayan dan juga beberapa penjaga. Jonathan membawa


mereka untuk ikut liburan ke Jepang, semua pelayan bersorak gembira. Sesampainnya


di bandara, rombongan Jonathan dan rombongan pelayan berpisah, para pelayan dan


penjaga naik di pesawat yang berbeda dengan Jonathan dan keluarga. Petugas


bandara membantu membawa seluruh barang-bawaan keluarga Jonathan dan menatanya


di kabin jet pribadi. Alin dan Nana sudah heboh sendiri ketika bertemu dengan


ibu mertua mereka.


“Jangan lupa nanti pakai jaket tebal nak, di Jepang sedang


musim dingin,” kata ibu mertua mereka.


“Iya ma,” kata Alin dan Nana serempak.


“Ya sudah kalian istirahat dulu, perjalanan masih lama,


terutama kamu Alin,” kata ibu Xu.


“Baik ma, Alin mau duduk di sebelah Kenzo dulu ya ma,” kata


Alin sambil beranjak pergi.


Alin segera duduk di sebelah suaminya yang tengah


mengutak-atik laptopnya. Alin memilih duduk di dekat jendela sambil


memperhatikan Kenzo yang tengah serius, dia terihat jauh lebih tampan ketika


landas dan berada di ketinggian beberapa ribu meter di atas laut. Karena bosan


dan mengantuk, lambat laun Alin tertidur. Kepalanya jatuh ke pundak suaminya


dan rambut panjangnya menutupi wajah Alin. Kenzo mengalihkan pandangannya ke


arah sang istri lalu tersenyum. Dia membenarkan posisi Alin agar dia nyaman dan


membenarkan rambut istrinya kemudian Kenzo meminta selimut kepada pramugari.


Setelah memastikan istrinya nyaman, Kenzo melanjutkan kembali pekerjaannya.


Tak berbeda jauh dengan Jonathan dan Nana. Jonathan sibuk


berkutat dengan laptopnya sementara Nana tertidur di bahu kekar suaminya.


Jonathan menatap sang istri dengan lekat sebelum membenarkan posisi tidur Nana


agar nyaman. Dia juga menyelimuti istrinya agar tidak kedinginan, Jonathan


mengusap wajah sang istri dengan lembut. Ada rasa bersalah yang terpancar di


mata Jonathan ketika menatap wajah damai istrinya.


“Maafkan aku!” bisik Jonathan kemudian mencium kening Nana


lama sekali.


Semua interaksi itu disaksikan sendiri oleh orang tua


mereka. Nyonya Xu sangat bahagia melihat interaksi yang terjalin antara para


putranya dengan istri masing-masing. Kemudian dia memeluk lengan suaminya


sambil tersenyum senang. Apalagi ketika melihat Jonathan yang begitu perhatian


dengan Nana. Putra sulungnya yang memiliki sifat dingin dan cuek itu kini


tengah belajar bersikap hangat dan baik kepada istrinya. Bahkan Kenzo yang juga


sangat persis dengan kakaknya dalam hal sifat dingin dan cueknya bisa langsung


berubah karena kehadiran Alin.


“Lihat deh para putra kita yang terlihat begitu menyanyangi


istri-istri mereka, aku sangat bahagia melihatnya suamiku, akhirnya


putra-putraku bisa berubah dan menjadi lembut, ah rasanya lengkap sudah


kebahagiaan dan harapanku saat ini,” kata nyonya Xu.


“Kau benar sayang, aku dulu juga berubah karena diri mu, aku


yakin jika mereka akan hidup bahagia selamanya, aih putra-putraku telah dewasa


sekarang, padahal seperti baru kemarin aku menggendong mereka di lenganku,


sekarang malah mereka sudah punya istri dan aku akan segera menjadi kakek,


rasanya seperti semua bebanku telah terangkat dari pundakku,” kata tuan Xu


menaggapi istrinya.


“Ya kau benar suamiku, aku juga akan segera menjadi nenek,


aku sangat menantikan lahirnya cucu kita, entah itu laki-laki ataupun perempuan


aku akan tetap sangat menyayanginya,” kata nyonya Xu.


 Alin terbangun ketika


merasakan guncangan pelan di lengannya. Ternyata suaminya yang membangunkan


Alin, dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan


cahaya sekitar. Ternyata mereka telah sampai di bandara Interasional  Jepang, Kenzo mengambil jaket bulu yang tebal


dan hangat untuk istrinya sebelum keluar dari jet pribadi. Mereka semua segera


menuju ke hotel sementara para pelayan dikirim ke villa yang telah Joathan booking sebelumnya. Alin mendongak


menatap langit yang mendung dan serpiha salju yang turun, tangannya terulur


untuk menampung salju yang turun tersebut. Akan tetapi tangannya dengan cepat


merasakan dingin yang menusuk dan dengan cepat pula Alin membersihkan tangannya


dari salju dan memasukkan tangannya ke saku jaket agar hangat kembali. Kenzo


yang melihat hal itu tertawa dan megambil tangan Alin kemudian memasukkan


tangannya ke dalam saku jaket Kenzo sambil menggegamnya.


Tak berapa lama mereka sampai ke hotel dan langsung check in, mereka di antar menuju ke


kamar president suit masing-masing


untuk segera istirahat. Alin yang masih lelah dan mengalami jetlag segera membarigkan dirinya di


atas ranjang king size tanpa melepas


jaket dan sepatunya. Alin langsung jatuh tertidur dengan posisi terletang.


Kenzo yang baru masuk ke dalam kamar menggelengkan kepala melihat tingkah


istrinya. Dia bergerak mendekati Alin dan melepaskan jaket serta sepatu yang


masih melekat di kaki jenjang Alin. Kemudian Kenzo membenarkan posisi Alin


serta menyelimutinya. Setelah itu giliran dirinya yang melepas jaket serta


sepatu kemudian ikut berbaring di samping istrinya yang telah terlelap. Kenzo


mencari posisi ternyamannya, yaitu dengan memeluk istrinya dari belakang dan


menghirup aroma rambut serta menenggelamkan wajahnya di leher putih Alin.


Bersambung.