
Janji Kenzo yang akan membawa Alin untuk liburan ke Jepang
akhirnya akan terlaksana. Sebelum mereka beragkat, Kenzo membawa Alin untuk check up rutin ke dokter Sofie. Seperti
biasa Alin di USG untuk melihat perkembangan janin, dokter Sofie mengeryitkan
keningnya dan beberapa kali menggerakkan alat yang berada di perut Alin secara
memutar. Kenzo menyadari perubahan ekspresi di wajah dokter kandugan itu dan
ikut cemas.
“Ada apa?” tanya Kenzo.
“Ada yang aneh dengan detak jantungnya, tidak beraturan dan
seperti ada 2 jantung yang berdetak, tetapi aku tidak melihat janin yang lain,
sebentar aku ingin memastikan ini dulu,” kata dokter Sofie.
Wajah Kenzo langsung memucat dan gelisah, apakah calon
anaknya bermasalah dengan jantungnya? Dia menggenggam tangan istrinya dan
menunggu. Tak lama kemudian di layar terlihat 2 janin yang satu di depan dan
yang satu berada di belakang, seperti sedang melindungi. Kenzo menahan nafas
beberapa detik melihat 2 janin itu. Dokter Sofie lalu tersenyum kepada pasangan
suami istri itu dan menjelaskan. Alin dan Kenzo akan mempunyai anak kembar, hal
ini tidak disadari sejak awal karena posisi janin yang ke dua bersembunyi di
belakang janin pertama. Kenzo yang semula cemas kini bisa bernafas dengan lega
begitu juga dengan Alin. Setelah selesai USG, mereka berdua kosultasi kembali
apakah sudah diperbolehkan untuk perjalanan luar negeri? Dokter Sofie pun
mengizinkan, karena kondisi kedua janin sangat sehat serta kesehatan ibunya
juga telah membaik dan pulih.
Akhirnya selang 2 hari sejak check up Kenzo
menyiapkan keberangkatan menuju Jepang bersama keluarga besarnya. Rencananya
mereka berdua ingin memberikan surprise untuk
keluarga mereka perihal bayi kembar mereka. Kenzo mulai packing semua barag-baragnya dan juga Alin ke dalam koper, Alin
hanya membantu melipat baju saja, selebihnya suaminya yang mengerjakan. Semenjak
Kenzo tahu dia akan punya bayi kembar, dia semakin overprotective kepada Alin. Kenzo melarang Alin melakukan ini itu
selain melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti menyiapkan baju,
menyiapkan keperluan Kenzo saat akan berangkat bekerja dan lainnya. Terkadang
Alin merasa jengah dengan sikap suaminya itu, tetapi mau dikata apa, peritah
suami memang harus dilaksanakan.
Tibalah waktu keberangkatan keluarga Xu berlibur ke negeri
sakura itu. Jonathan telah melakukan reservasi di hotel mewah yang berada di kota
Tokyo. Dia juga telah membooking satu villa dan pemandian air panas untuk
keluarganya. Alin sangat semangat dengan liburan kali ini, Kenzo memperingati
Alin untuk tidak berlari menuju mobil. Alin hanya membawa satu tas kecil berisi
make up, skin care, dan juga ponsel serta kartu-kartu penting. Semua koper dan
tas ransel di bawa oleh suaminya. Kenzo tidak membiarkan Alin menyentuh ataupun
membawa barang-barang yang sekiranya berat menurut Kenzo. Ayah dan ibu Kenzo
telah berada di bandara dan memasuki jet pribadi serta menunggu kedatangan para
putra dan menantu mereka.
Setelah semuanya siap, Jonathan mengendarai mobilya menuju
bandara. Ada 2 mobil lainnya yang mengikuti di belakang dan satu bus ukuran
sedang yang membawa para pelayan dan juga beberapa penjaga. Jonathan membawa
mereka untuk ikut liburan ke Jepang, semua pelayan bersorak gembira. Sesampainnya
di bandara, rombongan Jonathan dan rombongan pelayan berpisah, para pelayan dan
penjaga naik di pesawat yang berbeda dengan Jonathan dan keluarga. Petugas
bandara membantu membawa seluruh barang-bawaan keluarga Jonathan dan menatanya
di kabin jet pribadi. Alin dan Nana sudah heboh sendiri ketika bertemu dengan
ibu mertua mereka.
“Jangan lupa nanti pakai jaket tebal nak, di Jepang sedang
musim dingin,” kata ibu mertua mereka.
“Iya ma,” kata Alin dan Nana serempak.
“Ya sudah kalian istirahat dulu, perjalanan masih lama,
terutama kamu Alin,” kata ibu Xu.
“Baik ma, Alin mau duduk di sebelah Kenzo dulu ya ma,” kata
Alin sambil beranjak pergi.
Alin segera duduk di sebelah suaminya yang tengah
mengutak-atik laptopnya. Alin memilih duduk di dekat jendela sambil
memperhatikan Kenzo yang tengah serius, dia terihat jauh lebih tampan ketika
landas dan berada di ketinggian beberapa ribu meter di atas laut. Karena bosan
dan mengantuk, lambat laun Alin tertidur. Kepalanya jatuh ke pundak suaminya
dan rambut panjangnya menutupi wajah Alin. Kenzo mengalihkan pandangannya ke
arah sang istri lalu tersenyum. Dia membenarkan posisi Alin agar dia nyaman dan
membenarkan rambut istrinya kemudian Kenzo meminta selimut kepada pramugari.
Setelah memastikan istrinya nyaman, Kenzo melanjutkan kembali pekerjaannya.
Tak berbeda jauh dengan Jonathan dan Nana. Jonathan sibuk
berkutat dengan laptopnya sementara Nana tertidur di bahu kekar suaminya.
Jonathan menatap sang istri dengan lekat sebelum membenarkan posisi tidur Nana
agar nyaman. Dia juga menyelimuti istrinya agar tidak kedinginan, Jonathan
mengusap wajah sang istri dengan lembut. Ada rasa bersalah yang terpancar di
mata Jonathan ketika menatap wajah damai istrinya.
“Maafkan aku!” bisik Jonathan kemudian mencium kening Nana
lama sekali.
Semua interaksi itu disaksikan sendiri oleh orang tua
mereka. Nyonya Xu sangat bahagia melihat interaksi yang terjalin antara para
putranya dengan istri masing-masing. Kemudian dia memeluk lengan suaminya
sambil tersenyum senang. Apalagi ketika melihat Jonathan yang begitu perhatian
dengan Nana. Putra sulungnya yang memiliki sifat dingin dan cuek itu kini
tengah belajar bersikap hangat dan baik kepada istrinya. Bahkan Kenzo yang juga
sangat persis dengan kakaknya dalam hal sifat dingin dan cueknya bisa langsung
berubah karena kehadiran Alin.
“Lihat deh para putra kita yang terlihat begitu menyanyangi
istri-istri mereka, aku sangat bahagia melihatnya suamiku, akhirnya
putra-putraku bisa berubah dan menjadi lembut, ah rasanya lengkap sudah
kebahagiaan dan harapanku saat ini,” kata nyonya Xu.
“Kau benar sayang, aku dulu juga berubah karena diri mu, aku
yakin jika mereka akan hidup bahagia selamanya, aih putra-putraku telah dewasa
sekarang, padahal seperti baru kemarin aku menggendong mereka di lenganku,
sekarang malah mereka sudah punya istri dan aku akan segera menjadi kakek,
rasanya seperti semua bebanku telah terangkat dari pundakku,” kata tuan Xu
menaggapi istrinya.
“Ya kau benar suamiku, aku juga akan segera menjadi nenek,
aku sangat menantikan lahirnya cucu kita, entah itu laki-laki ataupun perempuan
aku akan tetap sangat menyayanginya,” kata nyonya Xu.
Alin terbangun ketika
merasakan guncangan pelan di lengannya. Ternyata suaminya yang membangunkan
Alin, dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan
cahaya sekitar. Ternyata mereka telah sampai di bandara Interasional Jepang, Kenzo mengambil jaket bulu yang tebal
dan hangat untuk istrinya sebelum keluar dari jet pribadi. Mereka semua segera
menuju ke hotel sementara para pelayan dikirim ke villa yang telah Joathan booking sebelumnya. Alin mendongak
menatap langit yang mendung dan serpiha salju yang turun, tangannya terulur
untuk menampung salju yang turun tersebut. Akan tetapi tangannya dengan cepat
merasakan dingin yang menusuk dan dengan cepat pula Alin membersihkan tangannya
dari salju dan memasukkan tangannya ke saku jaket agar hangat kembali. Kenzo
yang melihat hal itu tertawa dan megambil tangan Alin kemudian memasukkan
tangannya ke dalam saku jaket Kenzo sambil menggegamnya.
Tak berapa lama mereka sampai ke hotel dan langsung check in, mereka di antar menuju ke
kamar president suit masing-masing
untuk segera istirahat. Alin yang masih lelah dan mengalami jetlag segera membarigkan dirinya di
atas ranjang king size tanpa melepas
jaket dan sepatunya. Alin langsung jatuh tertidur dengan posisi terletang.
Kenzo yang baru masuk ke dalam kamar menggelengkan kepala melihat tingkah
istrinya. Dia bergerak mendekati Alin dan melepaskan jaket serta sepatu yang
masih melekat di kaki jenjang Alin. Kemudian Kenzo membenarkan posisi Alin
serta menyelimutinya. Setelah itu giliran dirinya yang melepas jaket serta
sepatu kemudian ikut berbaring di samping istrinya yang telah terlelap. Kenzo
mencari posisi ternyamannya, yaitu dengan memeluk istrinya dari belakang dan
menghirup aroma rambut serta menenggelamkan wajahnya di leher putih Alin.
Bersambung.