
Satu minggu kemudian.
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan
Alin ke dokter kandungan. Kenzo juga mengosongkan jadwalnya di pukul 10.00
waktu setempat. Dengan seragam militernya dia pulang ke villa untuk menemani
istrinya check-up. Rupanya Alin telah
siap dan tengah menunggu kedatangan Kenzo. Dia langsung mengemudikan mobilnya
menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Kenzo menggandeng tangan Alin
dengan lembut. Sepanjang perjalanan menuju ke ruangan dokter Sofie, mereka
berdua menjadi pusat perhatian. Banyak dari pengunjung rumah sakit yang
mengatakan jika mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Akan tetapi banyak
pula yang mengatakan tentang paras tampan serta kegagahan Kenzo dengan seragam
militernya. Banyak wanita yag menatap tak berkedip ke arah Kenzo yang membuat
Alin tidak nyaman. Untung saja mereka segera sampai ke ruangan dokter Sofie.
Dokter Sofie melakukan USG terhadap Alin dan
menjelaskan tentang seputar kehamilan. Menunjukkan beginilah bentuk bayi ketiga
berusia 3 bulan. Kenzo menatap layar dengan antusias, bertanya ini-itu kepada
dokter. Rasa bahagianya membuncah tatkala melihat calon anaknya dari layar
untuk yang pertama kali. Dokter Sofie mengatakan jika janin dalam keadaan sehat
dan tumbuh dengan normal. Setelah selesai USG, Kenzo berkonsultasi mengenai
rencana perjalanannya ke Jepang.
“Saya belum mengizinkan untuk perjalanan jauh
apalagi via pesawat, dikarenakan kandungan masih dalam tahap trimester pertama
dan masih rentan dengan bahaya keguguran tuan, saya sarankan untuk menunggu 1
bulan lagi dimana kandungan telah mencapai usia 4 bulan dan telah keluar dari
masa rawan,” jelas dokter Sofie.
“Kalau begitu saya ikut saran dokter Sofie
saja bagaimana baiknya,” kata Kenzo sambil menatap dan menggenggam erat tangan
istrinya.
“Kamu tidak apa-apa kan sayang?” tanya Kenzo.
“Aku tidak apa-apa kok, ini kan juga demi
keselamatan calon anak kita, aku tidak mau mengambil resiko hanya karena
kesenanganku saja,” kata Alin sambil tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu, kita akan menunggu 1
bulan lagi untuk pergi ke Jepang,” kata
Kenzo.
“Iya sayang,” sahut Alin.
Setelah selesai melakukan check-up, Kenzo mengarahkan mobilnya
memasuki parkiran VVIP sebuah mall mewah. Alin hanya mengikuti kemanapun
suaminya membawanya pergi. Kenzo menggandeng tangan istrinya dan masuk ke lift
menuju ke lantai 5 mall. Sesampainya di sana, Kenzo membawa Ali masuk ke sebuah
toko pakaian mewah. Kenzo memilihkan beberapa potong baju untuk istrinya, pelayan
toko melayani mereka berdua dengan ramah. Alin hanya menurut saja dengan semua
yang dipilihkan oleh suaminya itu. Seharian itu mereka berkeliling mall dan
bersenang-senang. Paperback belanjaan
mereka sangat banyak karena Kenzo membelikan apapun yang istrinya mau. Karena
lelah dan Alin sudah tak sanggup berjalan lagi, Kenzo membawa istrinya untuk
makan di restoran yang berada di dalam mall. Semua belanjaan mereka telah di
antar ke villa pribadi oleh seseorang. Menunggu makanan disajikan, Kenzo
memijit kaki istrinya yang bengkak dengan lembut. Para pengujung restoran
menatap mereka dengan berbagai tanggapan. Lagi-lagi mereka menjadi pusat
perhatian karena keserasian dan perhatian yang diberikan Kenzo kepada Alin.
Bahkan ada beberapa gadis yang nekat
mendekati Kenzo. Akan tetapi tidak ada satupun yang digubris oleh Kenzo. Bahkan
dia menampilkan wajah dinginnya untuk membuat gadis-gadis itu berhenti
menganggunya. Tak berapa lama makanan pun datang, mereka berdua segera
menikmati makanan yang tersaji. Sesekali Kenzo menyuapi istrinya yang membuat
para gadis yang tadi mendekatinya berteriak iri. Alin hanya bisa geleng-geleng
melihat tingkah para gadis itu dan meneruskan makan. Setelah selesai, Alin
meminta suaminya untuk membawanya ke markas militer untuk berkeliling. Dia merindukan
suasana ketika masih tinggal di rumah dinas militer bersama ayahnya dulu. Kenzo
pun membawa Alin ke markas militer setelah meminta izin kepada atasannya.
Sesampainya di markas, Kenzo memarkirkan
mobilnya terlebih dahulu. Kemudian mereka mulai berjalan ke arah kompleks rumah
dinas. Bekas rumah yang dulu di tinggali oleh ayahnya Alin kini telah menjadi
taman dan ada tugu monumen. Tugu itu bertuliskan nama ayahnya Alin dan juga
beberapa kalimat dan terpahat wajah ayahnya. Air mata luruh seketika tatkala
Alin menatap wajah tersenyum itu, wajah tampan nan teduh itu masih saja tersenyum
dalam ukiran batu. Alin mendekat dan menyentuh tugu tersebut dengan tangan
bergetar. Ingatan ketika tragedi sebelas tahun yang lalu kini berputar kembali
di pikirannya. Tubuhnya mulai tak seimbang, Kenzo menangkap tubuh istrinya dan
memapahnya menjauh dari tugu. Mereka berpapasan dengan beberapa tentara dan
juga ada atasan Kenzo juga.
“Ada apa kapten? Kenapa dengan istri mu?”
“Ah istriku kelelahan di tambah dia teringat
dengan ayahnya ketika melihat tugu monumen ayahnya,” kata Kenzo.
“Apakah dia adalah putri mendiang jenderal
yang meninggal sebelas tahun yang lalu di rumah dinas itu?” tanya atasan Kenzo.
“Benar, dia mengatakan ingin kemari dan aku
hanya bisa membawanya, tetapi aku tidak menyangka jika hal ini menyebabkan
traumanya kambuh, dia kembali teringat dengan kejadian masa lalu,” jelas Kenzo.
“Memang tidak akan mudah dan mungkin bahkan
tidak akan bisa melupakan kejadian yang begitu mengerikan mengenai ayahnya dan
dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian mengenaskan itu,” kata
atasan Kenzo, para tentara lainnya merasa prihatin.
“Ya sudah saya izin pamit untuk membawa istri
saya ke ruangan saya dahulu,” kata Kenzo yang diikuti dengan anggukan semua
tentara di sana.
Kenzo menggendong Alin menuju ke ruangannya
untuk istirahat, di sana ada satu ranjang. Setelah membaringkan Alin yang masih
gemetar, Kenzo memeluk istrinya untuk menenangkannya. Bagaimanapun ini tidak
mudah bagi Alin, dia memang sudah berusaha sekuat mungkin untuk melupakan semua
kejadian menyakitkan di masa lalu. Akan tetapi apalah daya, tubuh Alin tidak
bisa bekerja sama, memang tubuh lebih jujur ketimbang perkataan mau perbuatan
dan ikiran kita. Setiap Alin teringat kematian ayahnya, tubuhnya bereaksi
dengan rasa sakit dan tertekan, menyebabkan Alin terserang panik dan juga detak
jantungnya menjadi cepat dan nafasnya sendiri menjadi susah. Hanya Kenzo saja
yang bisa membuat istrinya tenang kembali.
Malam itu, Kenzo pulang ke villa untuk
membawa pakaian ganti dan juga
perlengkapan lain untuk istrinya. Dia pergi setelah mempercayakan istrinya
kepada salah satu tentara wanita. Tak berapa lama Kenzo kembali ke ruangannya
di markas militer. Alin masih terlelap setelah ditenangkan oleh suaminya,
tentara wanita juga masih di sana menjaganya. Kenzo mengucapkan terima kasih
kepada tentara itu sebelum tentara itu meninggalkan ruangan. Kemudian Kenzo
merapikan barang-barang yang dia bawa ke dalam lemari kecil. Dia beranjak untuk
membuat susu ibu hamil untuk istrinya dan membangunkan Alin. Istrinya pun
terbangun dan langsung meminum susunya.
“Sayang malam ini mau makan apa? Akan aku
belikan,” tanya Kenzo.
“Em, aku mau makan nasi goreng buatan kamu,”
kata Alin setelah berpikir agak lama.
“Baiklah, aku ke kantin ya,” kata Kenzo.
Alin hanya menaggapinya dengan anggukan,
sepeninggal Kenzo, Alin memeriksa lemari kecil di sebelah ranjang. Alin
terkejut melihat barang-barangnya ada di dalam. Kapan suaminya itu pergi
mengambil semua barang-barang itu? Alin pun segera mengambil piyama dan segera
mengganti baju yang sedari siang dia pakai. Sambil menunggu suaminya selesai
memasak nasi goreng, Alin bermain dengan ponselnya sambil makan camilan kue
cokelat yang di belikan Kenzo. Tak berapa lama, dia mencium bau harum nasi
goreng dan pintupun terbuka. Alin menatap berbinar ke arah suaminya yang
membawa 2 piring nasi goreng yang mengepulkan asap.
Kenzo menatanya di meja sementara Alin telah
lama duduk di kursinya sambil terus menatap nasi goreng. Kenzo terkekeh melihat
tingkah menggemaskan istri kecilnya itu. Sebenarnya dia harus antri untuk
membuat nasi goreng itu, tetapi setelah mengatakan jika istrinya mengidam,
sontak saja koki di kantin segera mempersilahkan Kenzo untuk membuatnya, toh
tidak memakan waktu lama. Kantin waktu itu sedang ramai karena memang sudah
memasuki waktu makan malam, sontak saja kabar tentang Kenzo yang memasak untuk
istrinya segera menjadi pembicaraan hangat di kalangan tentara pria maupun
wanita. Para tentara wanita sangat iri dengan Alin yang begitu di perhatikan
oleh kapten dingin itu.
Kembali lagi ke ruangan Kenzo, dia dan
istrinya kini tengah menikmati sepiring nasi goreng panas dengan lahap. Apalagi
istrinya, dia makan seperti tidak makan berbulan-bulan. Kenzo berkali-kali
mengingatkan agar pelan-pelan, tetapi sepertinya Alin tidak mendengarkan
peringatan suaminya. Dengan cepat nasi goreng di piring Alin telah tandas tak
tersisa. Kenzo sangat senang jika istrinya makan dengan lahap dan banyak,
bahkan sempat meminta sedikit jatah nasi gorengnya. Kenzo mengelap mulut Alin
dengan sapu tangan yang membuat wajah Alin memerah.
“Habiskan susu mu sayang! Aku akan membawa
piring dan sendok kotor ini ke kantin untuk aku cuci,” kata Kenzo sambil
menyodorkan susu yang tinggal separuh dan segera merapikan meja dan bergegas ke
kantin.
Bersambung.