The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 36



Satu minggu kemudian.


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan


Alin ke dokter kandungan. Kenzo juga mengosongkan jadwalnya di pukul 10.00


waktu setempat. Dengan seragam militernya dia pulang ke villa untuk menemani


istrinya check-up. Rupanya Alin telah


siap dan tengah menunggu kedatangan Kenzo. Dia langsung mengemudikan mobilnya


menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Kenzo menggandeng tangan Alin


dengan lembut. Sepanjang perjalanan menuju ke ruangan dokter Sofie, mereka


berdua menjadi pusat perhatian. Banyak dari pengunjung rumah sakit yang


mengatakan jika mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Akan tetapi banyak


pula yang mengatakan tentang paras tampan serta kegagahan Kenzo dengan seragam


militernya. Banyak wanita yag menatap tak berkedip ke arah Kenzo yang membuat


Alin tidak nyaman. Untung saja mereka segera sampai ke ruangan dokter Sofie.


Dokter Sofie melakukan USG terhadap Alin dan


menjelaskan tentang seputar kehamilan. Menunjukkan beginilah bentuk bayi ketiga


berusia 3 bulan. Kenzo menatap layar dengan antusias, bertanya ini-itu kepada


dokter. Rasa bahagianya membuncah tatkala melihat calon anaknya dari layar


untuk yang pertama kali. Dokter Sofie mengatakan jika janin dalam keadaan sehat


dan tumbuh dengan normal. Setelah selesai USG, Kenzo berkonsultasi mengenai


rencana perjalanannya ke Jepang.


“Saya belum mengizinkan untuk perjalanan jauh


apalagi via pesawat, dikarenakan kandungan masih dalam tahap trimester pertama


dan masih rentan dengan bahaya keguguran tuan, saya sarankan untuk menunggu 1


bulan lagi dimana kandungan telah mencapai usia 4 bulan dan telah keluar dari


masa rawan,” jelas dokter Sofie.


“Kalau begitu saya ikut saran dokter Sofie


saja bagaimana baiknya,” kata Kenzo sambil menatap dan menggenggam erat tangan


istrinya.


“Kamu tidak apa-apa kan sayang?” tanya Kenzo.


“Aku tidak apa-apa kok, ini kan juga demi


keselamatan calon anak kita, aku tidak mau mengambil resiko hanya karena


kesenanganku saja,” kata Alin sambil tersenyum.


“Syukurlah kalau begitu, kita akan menunggu 1


bulan lagi untuk pergi  ke Jepang,” kata


Kenzo.


“Iya sayang,” sahut Alin.


Setelah selesai melakukan check-up, Kenzo mengarahkan mobilnya


memasuki parkiran VVIP sebuah mall mewah. Alin hanya mengikuti kemanapun


suaminya membawanya pergi. Kenzo menggandeng tangan istrinya dan masuk ke lift


menuju ke lantai 5 mall. Sesampainya di sana, Kenzo membawa Ali masuk ke sebuah


toko pakaian mewah. Kenzo memilihkan beberapa potong baju untuk istrinya, pelayan


toko melayani mereka berdua dengan ramah. Alin hanya menurut saja dengan semua


yang dipilihkan oleh suaminya itu. Seharian itu mereka berkeliling mall dan


bersenang-senang. Paperback belanjaan


mereka sangat banyak karena Kenzo membelikan apapun yang istrinya mau. Karena


lelah dan Alin sudah tak sanggup berjalan lagi, Kenzo membawa istrinya untuk


makan di restoran yang berada di dalam mall. Semua belanjaan mereka telah di


antar ke villa pribadi oleh seseorang. Menunggu makanan disajikan, Kenzo


memijit kaki istrinya yang bengkak dengan lembut. Para pengujung restoran


menatap mereka dengan berbagai tanggapan. Lagi-lagi mereka menjadi pusat


perhatian karena keserasian dan perhatian yang diberikan Kenzo kepada Alin.


Bahkan ada beberapa gadis yang nekat


mendekati Kenzo. Akan tetapi tidak ada satupun yang digubris oleh Kenzo. Bahkan


dia menampilkan wajah dinginnya untuk membuat gadis-gadis itu berhenti


menganggunya. Tak berapa lama makanan pun datang, mereka berdua segera


menikmati makanan yang tersaji. Sesekali Kenzo menyuapi istrinya yang membuat


para gadis yang tadi mendekatinya berteriak iri. Alin hanya bisa geleng-geleng


melihat tingkah para gadis itu dan meneruskan makan. Setelah selesai, Alin


meminta suaminya untuk membawanya ke markas militer untuk berkeliling. Dia merindukan


suasana ketika masih tinggal di rumah dinas militer bersama ayahnya dulu. Kenzo


pun membawa Alin ke markas militer setelah meminta izin kepada atasannya.


Sesampainya di markas, Kenzo memarkirkan


mobilnya terlebih dahulu. Kemudian mereka mulai berjalan ke arah kompleks rumah


dinas. Bekas rumah yang dulu di tinggali oleh ayahnya Alin kini telah menjadi


taman dan ada tugu monumen. Tugu itu bertuliskan nama ayahnya Alin dan juga


beberapa kalimat dan terpahat wajah ayahnya. Air mata luruh seketika tatkala


Alin menatap wajah tersenyum itu, wajah tampan nan teduh itu masih saja tersenyum


dalam ukiran batu. Alin mendekat dan menyentuh tugu tersebut dengan tangan


bergetar. Ingatan ketika tragedi sebelas tahun yang lalu kini berputar kembali


di pikirannya. Tubuhnya mulai tak seimbang, Kenzo menangkap tubuh istrinya dan


memapahnya menjauh dari tugu. Mereka berpapasan dengan beberapa tentara dan


juga ada atasan Kenzo juga.


“Ada apa kapten? Kenapa dengan istri mu?”


“Ah istriku kelelahan di tambah dia teringat


dengan ayahnya ketika melihat tugu monumen  ayahnya,” kata Kenzo.


“Apakah dia adalah putri mendiang jenderal


yang meninggal sebelas tahun yang lalu di rumah dinas itu?” tanya atasan Kenzo.


“Benar, dia mengatakan ingin kemari dan aku


hanya bisa membawanya, tetapi aku tidak menyangka jika hal ini menyebabkan


traumanya kambuh, dia kembali teringat dengan kejadian masa lalu,” jelas Kenzo.


“Memang tidak akan mudah dan mungkin bahkan


tidak akan bisa melupakan kejadian yang begitu mengerikan mengenai ayahnya dan


dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian mengenaskan itu,” kata


atasan Kenzo, para tentara lainnya merasa prihatin.


“Ya sudah saya izin pamit untuk membawa istri


saya ke ruangan saya dahulu,” kata Kenzo yang diikuti dengan anggukan semua


tentara di sana.


Kenzo menggendong Alin menuju ke ruangannya


untuk istirahat, di sana ada satu ranjang. Setelah membaringkan Alin yang masih


gemetar, Kenzo memeluk istrinya untuk menenangkannya. Bagaimanapun ini tidak


mudah bagi Alin, dia memang sudah berusaha sekuat mungkin untuk melupakan semua


kejadian menyakitkan di masa lalu. Akan tetapi apalah daya, tubuh Alin tidak


bisa bekerja sama, memang tubuh lebih jujur ketimbang perkataan mau perbuatan


dan ikiran kita. Setiap Alin teringat kematian ayahnya, tubuhnya bereaksi


dengan rasa sakit dan tertekan, menyebabkan Alin terserang panik dan juga detak


jantungnya menjadi cepat dan nafasnya sendiri menjadi susah. Hanya Kenzo saja


yang bisa membuat istrinya tenang kembali.


Malam itu, Kenzo pulang ke villa untuk


membawa pakaian ganti  dan juga


perlengkapan lain untuk istrinya. Dia pergi setelah mempercayakan istrinya


kepada salah satu tentara wanita. Tak berapa lama Kenzo kembali ke ruangannya


di markas militer. Alin masih terlelap setelah ditenangkan oleh suaminya,


tentara wanita juga masih di sana menjaganya. Kenzo mengucapkan terima kasih


kepada tentara itu sebelum tentara itu meninggalkan ruangan. Kemudian Kenzo


merapikan barang-barang yang dia bawa ke dalam lemari kecil. Dia beranjak untuk


membuat susu ibu hamil untuk istrinya dan membangunkan Alin. Istrinya pun


terbangun dan langsung meminum susunya.


“Sayang malam ini mau makan apa? Akan aku


belikan,” tanya Kenzo.


“Em, aku mau makan nasi goreng buatan kamu,”


kata Alin setelah berpikir agak lama.


“Baiklah, aku ke kantin ya,” kata Kenzo.


Alin hanya menaggapinya dengan anggukan,


sepeninggal Kenzo, Alin memeriksa lemari kecil di sebelah ranjang. Alin


terkejut melihat barang-barangnya ada di dalam. Kapan suaminya itu pergi


mengambil semua barang-barang itu? Alin pun segera mengambil piyama dan segera


mengganti baju yang sedari siang dia pakai. Sambil menunggu suaminya selesai


memasak nasi goreng, Alin bermain dengan ponselnya sambil makan camilan kue


cokelat yang di belikan Kenzo. Tak berapa lama, dia mencium bau harum nasi


goreng dan pintupun terbuka. Alin menatap berbinar ke arah suaminya yang


membawa 2 piring nasi goreng yang mengepulkan asap.


Kenzo menatanya di meja sementara Alin telah


lama duduk di kursinya sambil terus menatap nasi goreng. Kenzo terkekeh melihat


tingkah menggemaskan istri kecilnya itu. Sebenarnya dia harus antri untuk


membuat nasi goreng itu, tetapi setelah mengatakan jika istrinya mengidam,


sontak saja koki di kantin segera mempersilahkan Kenzo untuk membuatnya, toh


tidak memakan waktu lama. Kantin waktu itu sedang ramai karena memang sudah


memasuki waktu makan malam, sontak saja kabar tentang Kenzo yang memasak untuk


istrinya segera menjadi pembicaraan hangat di kalangan tentara pria maupun


wanita. Para tentara wanita sangat iri dengan Alin yang begitu di perhatikan


oleh kapten dingin itu.


Kembali lagi ke ruangan Kenzo, dia dan


istrinya kini tengah menikmati sepiring nasi goreng panas dengan lahap. Apalagi


istrinya, dia makan seperti tidak makan berbulan-bulan. Kenzo berkali-kali


mengingatkan agar pelan-pelan, tetapi sepertinya Alin tidak mendengarkan


peringatan suaminya. Dengan cepat nasi goreng di piring Alin telah tandas tak


tersisa. Kenzo sangat senang jika istrinya makan dengan lahap dan banyak,


bahkan sempat meminta sedikit jatah nasi gorengnya. Kenzo mengelap mulut Alin


dengan sapu tangan yang membuat wajah Alin memerah.


“Habiskan susu mu sayang! Aku akan membawa


piring dan sendok kotor ini ke kantin untuk aku cuci,” kata Kenzo sambil


menyodorkan susu yang tinggal separuh dan segera merapikan meja dan bergegas ke


kantin.


Bersambung.