The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 38



Chapter 38


Kenzo berjalan bolak-balik di depan ruang perawatan


istrinya. Dokter tengah menangani Alin yang tak sadarkan diri setelah mengeluh


perutnya sakit, Alin dipindahkan kemari karena kondisinya mengkhawatirkan. Bulir-bulir


keringat mengalir dari sela-sela alis Kenzo. Setiap kali Alin kesakitan, Kenzo


merasa seperti tulangnya terlolos dari sendinya. Ketakutan terus saja


menggelayut manja setiap kali Alin berada dalam bahaya. Kenzo menghubungi ayah


dan ibunya, mereka berdua segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Keduanya


juga panik dan khawatir tatkala mendengar Alin masuk rumah sakit. Tak berapa


lama keduanya sampai di dekat ruang perawata Alin dan mendapati Kenzo tengah


megusap kepalanya dengan kasar dan menghela nafas.


“Apa yang terjadi dengan putriku?” tanya sang ibu.


“Entahlah bu, tadi Alin merasakan perutnya sakit dan


pingsan, dia sedang di tangani oleh dokter Sofie,” kata Kenzo yang kentara


jelas tengah gelisah.


Sang ibu memeluk putranya dengan erat, Kenzo tak mampu lagi


membendung air matanya yang sedari tertahan. Kenzo terisak di pelukan ibunya.


Sang ayah hanya menatap keduanya dengan prihatin. Kini sang ayah juga tengah


merasakan takut, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan menantunya. Sahabatnya dulu


telah memberikan tanggung jawab untuk merawat dan menjaga Alin. Jika terjadi


sesuatu dengannya dia pasti akan sangat malu untuk bertemu sahabatnya sekalipun


di alam mimpi.


“Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk menjaganya, kenapa


putriku bisa kesakitan ketika bersama mu?” tanya sang ayah agak emosi.


“Ini di luar kendaliku ayah, dia memintaku membawanya ke


markas militer dan berkeliling di komplek perumahan militer yang dulu dia


tempati, siapa sangka jika di akan mengalami serangan traumanya dan terpaksa


dia harus menginap di kamar yang ada di ruanganku, keesokan harinya, aku ada


rapat dengan beberapa jenderal, dia keluar dari kamar dan di sudutkan


sekelompok tentara wanita, dia hampir terjatuh ke lantai jika aku tidak


menangkapnya tepat waktu,” jelas Kenzo kepada ayahnya.


“Besok-besok lagi aku melarang mu membawa putriku ke


tempat-tempat yang membuatnya mengingat ayahnya dan jangan pernah lagi kamu


membawanya ke markas militer lagi!” perintah sang ayah.


“Tidak akan pernah ayah,” jawab Kenzo.


Tak berapa lama Dokter Sofie keluar dari ruang perawatan


dengan wajah lelah. Dia segera di dekati oleh ketiga orang yang sedari tadi


menunggunya. Kenzo segera melontarkan rentetan pertanyaan kepada dokter Sofie.


“Tuan muda, bagaimana anda menjaga istri anda? Sudah berapa


kali saya bilang? Ini sudah terjadi berulang kali tuan dan beruntung janin


mampu bertahan saat ini, tetapi saya tidak akan menjamin jika hal ini terjadi


lagi,” kata Dokter Sofie memarahi Kenzo.


“A-apakah menantuku baik-baik saja dok?” tanya nyonya Xu


(ibu Kenzo).


“Kondisinya saat ini telah stabil nyonya, ini adalah


keajaiban karena janin masih bertahan, dia sangat kuat sekali seperti ibunya,


lain kali nona Alin harus di jaga dengan ketat agar kejadian ini tidak


terulang, kandungan nona muda masih sangat rawan keguguran nyonya,” jelas


dokter Sofie.


“Baik dokter, kami akan selalu menjaga menantu kami dengan


lebih baik lagi,” ucap nyonya Xu.


“Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya, kalau ada


apa-apa bisa panggil saya kembali,” ucap dokter Sofie dan pamit pergi.


Kenzo segera menghambur untuk masuk ke ruangan perawatan


istrinya. Alin masih belum sadarkan diri, Kenzo segera meraih tangan istrinya


dan menggenggamnya. Dia meminta maaf karena terlambat menolongnya, jika saja


Alin tidak dia tinggalkan semua ini tidak akan terjadi. Kenzo selalu


menyalahkan dirinya sendiri. Sang ibu menegur putranya dan mengatakan jika ini


bukan salah siapa-siapa, semua yang terjadi adalah takdir. Ayahnya juga


ke markas militer untuk melapor dan memberi pelajaran kepada para tentara


wanita yang menyakiti menantunya.


“Tidak baik jika kamu meninggalkan markas tanpa melapor,


istri mu ada ayah dan ibu yang akan menjaganya,” ucap tuan Xu.


Kenzo pun bergegas kembali ke markas militer seperti


perintah ayahnya dan benar saja, dia di cari oleh atasannya sejak tadi. Ketika


Kenzo muncul, dia mendapat omelan keras dari atasannya itu. Kenzo menjelaskan


duduk permasalahan yang menyebabkan dirinya harus keluar markas tanpa melapor.


Mendengar hal itu, atasan Kenzo langsung mengadakan sidang militer dan


mengumpulkan para tentara wanita tersebut. Mereka berdiri dengan gemetar di


depan meja persidangan. Di belakang mereka ada satu kompi tentara yang


merupakan anak buah Kenzo dan akan menjadi saksi dalam persidangan. Di depan


mereka telah duduk jajaran aparat sidang militer yang tengah menatap mereka


dengan tatapan kecewa. Di sebelah kanan, duduklah Kenzo dan sang atasan yang


menatap mereka dengan dingin.


Sidang militer memakan waktu 2 jam, para tentara wanita itu


mendapat hukuman dan di kirim ke perbatasan untuk membantu para medis yang


bertugas di sana. Itu adalah hukuman yang paling tidak menyenangkan bagi


tentara wanita, tetapi juga bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan


jika hukuman itu di manfatkan dengan baik bisa mendapat beberapa hal yang


menguntungkan. Tetapi bagi kebanyakan tentara wanita, di kirim ke perbatasan


adalah momok menakutkan bagi mereka. Suasana yang tak pernah tenang,


pertempuran di mana-mana, wilayah yang jauh dari pusat peradaban. Bagi yang


benar-benar merenungkan kesalahannya, dia akan berusaha dengan keras untuk


menjadikan hukuman ini menjadi ladang kesempatan untuk mendapat pengalaman


lebih yang tidak di dapat ketika mereka berada di markas kota.


Kenzo menghela nafas ketika masuk ke ruangannya, hukuman


tadi memang sudah pantas untuk mereka yang bertindak tidak sopan. Ya memang


perbuatan mereka sangat memalukan, menyudutkan seorang yang hamil muda hingga


nyaris keguguran hanya karena tidak percaya jika dia adalah istri dari Kenzo. Konyol


sekali, jika berita ini menyebar ke masyarakat bisa dipastikan ini akan menjadi


rumor tak baik dan menurunkan kepercayaan masyarakat kepada militer. Kenzo


melanjutkan pekerjaannya hingga selesai dan dia segera bergegas ke rumah sakit


setelah mandi dan berganti pakaian. Sesampainya di sana, istrinya itu tengah


makan bubur di suapi oleh Nana.


Ternyata Nana datang bersama Jonathan saat sore hari dan


mereka bergantian dengan ayah ibu mereka dalam menjaga Alin. Kenzo tersenyum ke


arah istrinya dan dibalas dengan senyum hangat seperti biasa. Kenzo meletakkan


parsel berisi buah yang tadi dia beli di toko buah ketika perjalanannya ke


rumah sakit. Alin meminta suaminya untuk mengupaskan jeruk untuknya setelah


selesai menghabiskan buburnya. Dengan cepat Kenzo menyambar jeruk dan


mengupasnya, dia juga menyuapi istrinya. Nana dan Jonathan yang melihat itu


merasa bahagia, tadi ketika mereka mendapat kabar tentang Alin, menjadi panik


dan cemas. Mereka segera bergegas menuju rumah sakit setelah Jonathan


menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan menjemput istrinya. Namun kekhawatiran


itu kini berangsur-angsur mereda dengan adanya Kenzo di sisi Alin.


Sang ayah dan istrinya datang kembali ke rumah sakit setelah


bersih-bersih di rumah. Mereka membawakan makan malam untuk anak dan menantunya


kecuali Ali yang harus makan makanan rumah sakit. Kini giliran sang ibu yang


mengupaskan apel untuk menantunya sementara yang lain makan malam. Dengan


telaten dia merawat menantunya dan calon cucunya. Setelah meminum obatnya Alin


tertidur, sementara tuan dan nyonya Xu pulang ke rumah karena paksaan anak-anak


mereka. Nana tidur di zal tambahan di sana, sementara Jonathan melanjutkan


pekerjaannya yang tertunda di bantu oleh adiknya. Saat tengah malam semunya telah


selesai dan mereka berdua tertidur di sofa. Posisi mereka saling bersandar,


jika Alin ataupun Nana melihat mereka pasti mereka berdua akan tertawa melihat


pose tidur kakak adik itu.


Bersambung.