
Chapter 39
Ketika Kenzo dan Alin di mall, Tania melihatnya. Dia
membuntuti pasangan suami istri itu dengan teman-temannya. Tania masih belum
terima dengan pernikahan Kenzo. Dia masih memiliki obsesi itu, ditambah hasutan
teman-temannya. Membuat Tania menjadi gelap mata dan pikirannya di penuhi oleh
hal-hal dan rencana-rencana buruk. Semua temannya mendukung setiap rencana
jahat yang tercetus di antara mereka. Tania menatap Alin dengan tatapan licik
dan jahat. Kemudian tatapannya beralih ke seorang laki-laki mencurigakan yang
juga terus mengikuti kemanapun Kenzo pergi bersama istrinya. Tania dan
teman-temannya memikirkan hal sama dan saling menatap.
Dia menemui laki-laki itu setelah Kenzo dan Alin
meninggalkan area mall. Laki-laki itu di kepung oleh para gadis dan di seret ke
parkiran bawah yang sepi. Tania dan teman-temannya menginterogasi laki-laki itu
dan menyudutkannya. Laki-laki itu mendengus kesal karena dia dihalangi dan
bahkan di seret ke tempat itu.
“Apa mau kalian?” tanya pria itu dengan nada tinggi.
“Eit tenang bro! Apakah
kamu mengikuti pasangan yang bernama Kenzo dan Alin sejak tadi?” tanya Tania.
“Memangnya kenapa? Urus saja urusan mu sendiri, minggir!”
kata laki-laki itu sambil mendorong 2 gadis yang memegangnya.
“Sabar dong bro, kami
hanya bertanya, jika iya maka apa tujuan mu?” tanya Tania sambil menahan
laki-laki itu.
“Kalian apa-apaan sih? Aku nggak kenal kalian, kenapa juga
aku harus ngomong alasan ku dengan kalian,” kata laki-laki itu semakin kesal.
“Mungkin kita ada di kubu yang sama,” kata Tania.
“Maksud mu?” tanya laki-laki itu bingung.
“Aku sangat membenci wanita itu kalau kau ingin tahu,” kata
Tania.
Laki-laki itu menatap Tania dengan berbinar. “Yah kau benar,
kita berada di kubu yang sama.”
“Aku sedang menjalankan misi yang diperintahkan bosku, kalau
begitu kita bekerja sama saja, aku ingin mendapatkan wanita itu dan kau bisa
memiliki prianya,” kata laki-laki itu.
“Oke,” sahut Tania sambil berjabat tangan.
Laki-laki itu segera melapor kepada bosnya bahwa dia
mendapat sekutu yang bisa dimanfaatkan. Si bos memerintahkan laki-laki itu
untuk menyelidiki siapa Tania sebelum benar-benar bekerja sama. Laki-laki itu
menyanggupi perintah bosnya dengan antusias. Bayarannya akan berlipat ganda,
pikirnya.
Rumah sakit.
Kondisi Alin berangsur-angsur pulih, setiap pagi Kenzo akan
membawanya ke taman rumah sakit. Alin diperlakukan bak ratu oleh suaminya dan
keluarga barunya. Ini adalah perlakuan yang belum pernah Alin dapatkan
sebelumnya. Hal ini berpengaruh kepada kesehatannya yang cepat pulih,
psikologisnya juga membaik. Sekarang Alin jarang sekali mimpi buruk dan
mengenang kenangan tragis di masa lalu. Kenzo dan keluarga sangat senang
mendengar hal itu, apapun akan mereka lakukan untuk Alin. Kenzo pun semakin
menyayangi dan mencintai Alin, dia rela di marahi oleh atasan dan berkali-kali
mendapat tindakan disiplin oleh atasannya hanya untuk menemani Alin. Anak buah
Kenzo sampai nggak habis pikir dengan kaptennya itu, dulu saja nggak pernah
libur bahkan sepanjang akhir pekan dia habiskan di markas. Sekarang bahkan
kapten mereka berani membolos hanya untuk menemani istrinya.
Satu minggu lamanya Alin di rawat di rumah sakit dengan
penjagaan ketat. Jonathan tidak mau kecolongan karena setiap kali Alin pergi
dari villa, dia selalu diikuti oleh seseorang. Jonathan yakin jika Alin masih
diincar oleh kakeknya dan mungkin beberapa orang yang tidak suka dengan
pernikahan Kenzo dengan Alin. Jonathan tahu jika banyak gadis konglomerat yang
menyukai adiknya itu, jadi akan banyak kemungkinan untuk menyakiti Alin. Di hari
ke 4 Tania Ou sempat menjenguk Alin di rumah sakit, awalnya para penjaga tidak
memberi izin untuk masuk, tetapi Alin memerintahkan mereka untuk membiarkan
Tania masuk. Para penjaga itu hanya bisa menuruti perintah Alin, Tania masuk
dengan membawa sebuket bunga dan buah-buahan. Kebetulan kala itu Alin sedang
sendiri di dalam ruangan, karena Nana sedang mengambil baju ganti ke villa.
Tania meminta maaf atas kelancangannya saat acara pesta
pernikahan Kenzo dan Alin. Entah dia tulus atau malah berpura-pura, tetapi
memang dasarnya Alin adalah gadis yang polos dan naif, dia memaafkan Tania
dengan tulus. Tania meminta izin untuk berteman dengan Alin, dan alin
mengiyakan sembari tersenyum hangat. Tania hanya sebentar di sana, setelah
lift, Nana keluar dari lift yang satunya dan berjalan membawa bungkusan berisi
baju ganti dan makan siang untuk para penjaga. Ruangan yang ditempati oleh Alin
adalah ruangan VVIP sehingga satu lantai itu adalah area pribadinya untuk
sementara, jadi tidak akan menganggu pasien lain dengan adanya para penjaga
berbadan kekar itu di luar. Para penjaga itu mengucapkan terima kasih kepada
Nana yang telah membawakan makan siang, sehigga mereka tidak bergantian untuk
ke kantin rumah sakit.
Tak berapa lama, suster mengantarkan makanan untuk Alin. Dia
di sambut hangat oleh Nana dan juga Alin, mereka adalah salah satu pasien dan
keluarga pasien yang selalu ramah kepada siapapun di rumah sakit itu, tidak
seperti kebanyakan keluarga kaya yang menempati ruangan VVIP yang bahkan tidak
tersenyum sedikitpun. Setelah selesai mengantarkan makan siang untuk Alin,
suster itu pun pamit pergi. Alin memakan makan siangnya dengan lahap di temani
Nana yang juga memakan makanan yang dimasak koki di villa.
Tiba-tiba pintu terbuka dan nampaklah 2 kepala pemilik wajah
tampan keturunan keluarga Xu. Para laki-laki itu berjalan ke arah istri
masing-masing sambil menenteng bingkisan. Kenzo meraih sendok istrinya dan
mengambil alih mangkok berisi sup ayam. Dia menyuapi istriya yang masih bengong
dengan kedatagan suaminya itu. Tak jauh berbeda dengan Nana yang terkejut
dengan kedatangan suaminya, pasalnya tadi dia mengatakan jika akan makan siang
bersama klien di restoran.
“Kenapa kamu menatapku begitu?” tanya Jonathan menyadarkan
Nana.
“Ah tidak kok, aku hanya terkejut saja,” kata Nana sambil
mengalikan pandangannya.
“Hahaha melihat suami sendiri saja terkejut, kamu ini
aneh-aneh saja,” kata Jonathan sambil tertawa.
“Ya habisnya tadi kamu mengatakan jika tidak akan ke sini,”
kata Nana cemberut.
“Gara-gara adik mu itu aku harus batalkan meeting dengan
klien siang ini,” sambil menunjuk ke arah Kenzo.
Yang di tunjuk hanya bisa nyengir sambil menyuapi istrinya. “Hehehe
ya nggak papa kan kak, lagian kakak bisa makan siang dengan kakak ipar, kan
bagus bisa bersama.”
“Ni anak ngelunjak ya, hmm mau nolak dia pasti nggak akan
pergi sampai aku menuruti kemauannya, dasar tidak mencerminkan sifat seorang
kapten tentara,” ejek Jonathan.
“Gini-gini aku paling ditakuti oleh anak buahku kak, jangan
seperti itu dong, aku hanya manja dengan kakak, kakak harusya bersyukur karena
telah aku anggap orang yang istimewa, buktinya aku hanya bersikap seperti itu
dengan kakak,” kata Kenzo membela diri.
“Kok ada ya orang yang memuji dirinya sendiri nggak habis
pikir deh,” kata Jonathan sambil mengambil makanan yang ada di piring Nana.
“Kalian ini ya, datang-datang malah bertengkar,” kata Nana
sambil mengambil makanan lagi karena di habiskan oleh suaminya.
Mereka semua akhirnya tertawa bersama, memang Jonathan dan
Kenzo kalau sudah bersama kerjanya hanya bertengkar dan berdebat. Mereka berdua
memang selalu berbeda pendapat, walaupun wajah mereka terbilang mirip padahal
umur mereka terpisah 8 tahun, tetapi kalau urusan pendapat dan selera, sangat
berbeda. Akan tetapi ketika kedua saudara ini dihadapkan kepada situasi yang
pelik, mereka mampu bekerja sama dengan sempurna. Tidak akan ada yang bisa
mengalahkan mereka jika mereka sudah memutuskan untuk bekerja sama. Jika kedua
orang ini berada di dunia bisnis semua, maka dalam waktu singkat mereka akan
menjadi raja bisnis yang tak tertandingi. Beruntung mereka berada di jalur yang
berbeda, tetapi hanya akan menunggu waktu hingga Kenzo beralih haluan.
Setiap kejadian dan keputusan yang di ambil memiliki konsekuensi,
Kenzo selalu mengambil langkah dengan cermat, memikirkan sampai ke akibatnya di
masa depan. Dia tahu dengan menjadi tentara, dirinya bukan hanya bisa mengabdi
untuk negaranya sesuai dengan semboyan ayanya, tetapi itu juga berarti dia
harus siap mati dan meninggalkan semua yang ada di dunia. Tetapi semenjak dia
memiliki Alin, hatinya goyah, dia tidak siap mati di medan perang. Dia tidak
sanggup memikirkan akibat jika dirinya gugur dan meninggalkan istri dan
anaknya. Entahlah, Kenzo masih menunggu waktu yang pas untuk keluar dari
tentara, dia masih memiliki satu misi yang dia genggam selama lebih dari 11
tahun belakangan ini. Yaitu menemukan pembunuh ayah mertuanya, sebelum dia
menguak misteri ini, dia belum akan meninggalkan ketentaraan dengan tenang.
Bersambung.