
Chapter 09
The Legendary Of Hero
.
.
.
Saat ini, kondisi Hizen tak sadarkan diri setelah mengenai serangan panah oleh Archia. Pahlawan panah itu membidik panahnya ke arah Raphtalia, tepatnya mengenai telapak tangan Raphtalia. AGGHHHH!
Gadis itu meringis berat dan berusaha mencabut panahnya.
"Light Expolision!" Seru Raphtalia meneriaki serangan ledakan pada Archia.
Namun, serangan itu tidaklah mencapai Archia karena pahlawan panah itu mengambangkan dirinya dengan ketinggian 100m, hal itu mustahil serangan Raphtalia mencapainya.
"Ini gak bohong kan? Kekuatan ku sangat lemah, sial!"
Raphtalia kesal pada dirinya, saat Hizen tidak bisa menggunakannya maka kekuatan Raphtalia hanyalah 30% bertahan.
"Kenapa disaat seperti ini....??"
Saking paniknya, tak tahu harus berbuat apalagi. Dia terkejut karena sadar bahwa dia bersama Hizen berada diujung bukit merah, itu artinya dibelakangnya adalah jurang. Raphtalia sempat berpikir, apa hanya terjun ke jurang adalah jalan satu-satunya? Tetapi,
"Aku takut!" Tentu saja dia tidak mungkin berani melakukannya karena melakukannya saja sama dengan bunuh diri bersama Hizen.
Gadis itu menyadari bahwa Archia ingin menyerangnya sekali lagi.
"Aku...tidak punya pilihan lain lagi, sebelum aku benar-benar mati di tempat ini dan itu artinya Hizen akan sendirian lagi." Gumamnya sambil merangkul Hizen tak sadarkan diri.
Dia tidak punya pilihan selain melompat ke jurang hingga Archia ikut terkejut melihat mereka memilih kabur ke jurang. Dia tidak berpikir bahwa mereka akan mati melainkan dia tidak menyerah mengejar mereka sampai dia bersama lainnya menuntaskan tugasnya.
•••
Enam pahlwan telah berkumpul, mereka mempersiapkan diri untuk kembali ke kerajaan Kyouka.
"Kau darimana, Archia-sama?" Tanya Taku pada tuannya yang baru saja muncul.
"Baru saja, aku bertemu pahlawan tak berguna itu." Jawab Archia santai.
"Heh? B-benarkah?" Kaget yang lainnya.
"D-dimana kau menemukannya?" Tanya Veno.
"Di bukit merah, aku berhasil membidiknya bersama dewi sampah itu. Tapi, mereka kabur ke hutan Dyr."
"Kau kejam, Archia-sama." Sahut Megumin.
"Itu benar, seharusnya kau bicara baik-baik padanya bukan sekasar itu." Tegur Katagaki.
Archia tidak begitu mempedulikan teguran Katagaki, melainkan pahlawan panah itu mengubah topik pembicaraan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mencari mereka di hutan itu?"
"Bukankah itu sudah jadi tugas kita?" Sahut Zyn.
"Itu benar sih, tapi...." Jawab Veno agak ragu melakukannya karena baginya Hizen sempat menjadi temannya.
"Tenang saja, Veno-sama. Aku akan mengambil alih tugas ini." Ujar Alysa.
"Aku ikut." Ucap Zyn dan diikuti Melty.
Veno menghela nafas dan menyerah, "baiklah, ku serahkan pada ka...." Ucapan Veno terhenti akibat pertarungan tadi membuat tubuhnya kian melemah hingga jatuh terpapar ke tanah.
Dan untungnya Mia menyambutnya. "V-veno-sama!? Kau baik-baik saja?"
"A-aku baik-baik saja, hanya saja tubuhku terasa lemah."
"Kalau begitu, ayo kembali teman-teman." Ujar Suzuki.
"Aku bersama Alysa dan Melty akan nyusul kalian dengan membawa mereka." Ucap Zyn.
"Baik, jaga diri kalian." Balas Suzuki.
Yang lainnya kembali ke kerajaan Kyouka kecuali Zyn, Alysa dan Melty yang akan mencari pahlawan Magus bersama dewi kecilnya di sekitar jurang bukit merah.
•••
Hingga menjelang malam, Raphtalia sadar dan melihat dirinya bernoda darah lalu memperhatikan di sekelilingnya.
"I-ini d-di mana?" Dia baru ingat kejadian tadi menimpanya hingga jatuh ke jurang.
Kemudian, melihat kondisi Hizen masih tak sadarkan diri disampingnya. Tak hanya itu, kepala pria itu tampak berdarah.
"H-hizen?"
Perlahan-lahan gadis itu bangun, kemudian memeriksa luka ditubuh Hizen terutama bagian kepalanya. Tak lama kemudian, Raphtalia menangis.
"Hiks...hikss, maafkan aku... maafkan aku, Hizen."
"A-aku tidak bisa menyembuhkan mu dengan kekuatan penyembuhku."
Melihat dirinya juga terluka bagian tangan akibat panah mengenainya hingga dia tidak bisa menggunakan kekuatan penyembuhnya.
"Aku benar-benar lemah dan sangat lemah, bahkan tidak bisa berbuat apa-apa padamu, Hizen."
Dia berhenti menangis sejenak karena menyadari kehadiran beberapa orang yang akan ke tempatnya.
"Tidak mungkin! Mereka masih tidak menyerah mencari kami!?" Gumamnya.
Dia mencoba membangunkan Hizen yang tak sadarkan diri, "Apa yang harus aku lakukan? Saat ini aku benar-benar takut Hizen, ku mohon sadarlah gunakan aku untuk membantumu."
"Ku mohon Hizen, sadarlah... Hiks..hikss..."
"Kenapa harus disaat seperti ini? Kenapa?"
Dia benar-benar putus asa, tidak tau harus berbuat apa lagi. Diam-diam dia menemukan cara tetapi cara itu haruslah mengorban dirinya, yaitu....
"Maafkan aku, Hizen...."
Ternyata dia menyembunyikan Hizen tepat di belakang pohon. Dia memilih akan berhadapan dengan orang yang mencarinya, tetapi sebelum itu.
Dia memberikan kalung yang ada dilehernya itu pada Hizen, kemudian memasangnya.
"Ini sebagai petanda bahwa kau adalah pria yang sangat penting bagiku, tapi...hikss...hikss maafkan aku,"
"Maafkan aku, karena aku memilih mengorbankan diri demi melindungimu." Sambil mengusap pipi Hizen dengan lembut.
Setelah itu, Raphtalia benar-benar meninggalkan Hizen dan menjadi umpan agar Hizen tidak diserang oleh orang-orang yang mencarinya. Raphtalia melakukannya demi melindungi pria yang sangat berharga baginya.
•••
Zyn bersama Alysa dan Melty sedang mencari keberadaan pahlawan magus dan dewinya di hutan itu. Hingga tak disangka, mereka begitu cepat menemukannya yaitu hanya gadis kecil sendiri duduk bertekuk sambil menangis ketakutan.
"Kita menemukannya." Ucap Alysa.
Raphtalia menyadarinya sambil menghapus airmatanya, kemudian berdiri menatap mereka.
Mereka melihat kondisi Raphtalia yang terluka, tetapi tidak melihat keberadaan Hizen.
"Dimana tuanmu?" Tanya Zyn mengarahkan tombak besarnya ke hadapan wajah Raphtalia.
Dengan datarnya, Raphtalia menjawab. "Dia sudah mati,"
Mereka tidak percaya jawaban Raphtalia, terutama Alysa. "Light of Silver!"
Alysa melempar serangan kecil pada Raphtalia dan tepat mengenai perutnya. NGHH
Raphtalia membiarkan dirinya mengenai serangan yang menyerangnya karena kekuatannya tidak akan bisa bangkit untuk melindunginya.
"Alysa, kau tidak usah sekasar itu padanya." Tegur Mellty.
"Memang pantas gadis ini harus diperlakukan lebih kasar lagi, aku bahkan tidak percaya pahlawan tidak berguna itu mati begitu saja, padahal kekuatannya sudah melampui ku." Jawab Alysa menatap tajam pada Raphtalia.
Zyn ikut mempercayai yang dikatakan oleh Alysa, kemudian menarik rambut merah panjang Raphtalia.
"Apa kau sedang membohongi kami?"
Raphtalia menunjukkan wajah marahnya hingga kedua matanya bersinar merah darah hingga memancarkan aura mengerikan, membuat Zyn gemetar melihatnya.
"Aura apa ini? Mata itu...mata itu benar-benar mengerikan! Sepertinya dia tidak berbohong, kan?"
"Tanya saja pahlawan panah, dia adalah pelakunya dan aku bersama tuanku hanyalah korban." Sahut Raphtalia masih memancarkan aura mengerikan.
Zyn tak tahan itu menatapnya malah menendang gadis itu hingga tergeletak ke tanah.
"Zyn-sama?!" Teriak Melty tampak kasihan melihat gadis lemah itu diserang oleh mereka.
"Kau serius? Bagaimana dengan pahlawan tidak berguna itu?" Tanya Alysa.
"Yahh itu nanti saja, karena saat ini raja membutuhkan gadis ini bukan?"
"Hmmm...iya juga ya."
Mendengar hal itu membuat Raphtalia cemas, jika mereka membawanya kehadapan raja itu artinya dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Hizen.
"Aku tidak mungkin meninggalkannya, a-aku harus pergi dari sinii."
Raphtalia bangkit berdiri dengan niat untuk kabur, sayangnya akibat memiliki satu kaki, tindakannya begitu mudah ketahuan. Alysa dengan cepat menarik rambut Raphtalia.
"Aggh, sakit!" Tentunya dia kesakitan berat dengan di perlakukan kasar oleh Alysa.
"Mau kemana? Kau tidak bisa kabur begitu saja." Seru Alysa menarik rambut Raphtalia dengan kasar nan kuat sakitnya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!!" Raphtalia berusaha meminta untuk melepaskannya.
Melty ikut menghampiri Alysa dan mencoba menghentikan tindakan Alysa begitu kasar. Diam-diam Raphtalia mengambil pisau kecil milik Melty, kemudian memotong rambutnya. Tentu saja ketiga orang itu terkejut melihat gadis berkaki satu memilih rambutnya dipotong agar bisa kabur.
"Light Expolision!" Seru Raphtalia melemparkan mantra peledaknya pada mereka.
Tetapi, mereka berhasil menghindarnya dengan mudah karena kekuatan Raphtalia tidak seberapa kuat.
"Aku harus sebisa mungkin kabur dari mereka, aku harus bisa."
Dia masih berusaha lari sejauhnya agar mereka tidak dapat mengejarnya lagi. Tapi, sebuah tombak tajam datang ke arah Raphtalia.
"Huh? Sejak kapan..."
Hingga tombak itu tepat mengenai lengannya yang terluka dan,
AAAAAAGGGGGGGHHHHHHH!!!
•••
Teriakan Raphtalia terdengar oleh Hizen hingga membuatnya sadar.
"Huh? Apa yang terjadi?" Gumamnya sempat panik, kemudian melihat luka-luka di tubuhnya telah dibungkus perban oleh seseorang.
"Tadahiro-sama?" Ucap nada familiar pada Hizen.
Dia terkejut sedetik, kemudian melihat gadis cantik mengenakan gaun putri itu baru saja menyembuhkan lukanya.
"Hina-chan?" Dan tampaknya Hizen juga mengenal gadis itu.
Gadis itu bernama Hina adalah putri kerajaan Kyouka, dia begitu lega melihat kondisi Hizen lumayan membaik. Saking senangnya, dia memeluknya penuh erat.
"Syukurlah, kau tau aku mengkhawatirkanmu Tadahiro-sama."
Salah satu tangan Hizen ikut merangkul tubuh Hina, kemudian membalasnya dengan tersenyum lembut pada Hina.
"Terima kasih, Hina-chan."
Hina menatapnya, "aku terkejut menemukanmu kondisi terluka parah, apa kau ingat kejadian sebelumnya?"
Hizen mencoba mengingatnya, sayangnya dia hanya ingat membantu ras hewan dan panah yang menusuknya.
"Sebelumnya, aku diserang panah tapi setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi dan aku...heran mengapa aku berada disini,"
"Padahal aku berada di bukit merah." Jawab Hizen.
Kemudian, Hina dan Hizen mendengar suara teriakan lagi.
"Aku khawatir dengan suara itu, apa semuanya baik-baik saja?" Sahut Hizen.
"Aku juga, tapi kau harus mementingkan kondisimu."
"Tunggu? Bagaimana kau ke tempat ini? Jangan bilang kau...." Hizen menebak kalau Hina diam-diam mengikuti para pahlawan untuk menghadapi gelombang kedua.
Hina sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan, apalagi pergi tanpa izin ayahnya.
"Maaf Tadahiro-sama, aku tidak punya pilihan lain."
"Aku mencemaskanmu, lagipula ini perintah ibuku meminta ku menjagamu." Tambah Hina.
Hina begitu cemas pada Hizen sampai dibuatnya ragu merautkan wajah tenangnya pada Hina,
"Yahh, gimana ya, sebelum itu aku sangat berterima kasih padamu. Tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan ku."
"Bagaimana pun itu sebagai putri juga berhak mengkhawatirkan kekasihnya." Ujar Hina sedikit cemberut.
Dia tegasnya sebagai putri kerajaan juga berhak mengkhawatirkan kekasihnya alias Hizen. Keduanya sempat menjalin hubungan kekasih saat Hizen belum digelar sebagai pahlawan magus. Setelah kejadian dikhianati oleh kerajaan Kyouka, diam-diam Hina menemui Hizen agar bisa bersatu dan saling cinta satu sama lain.
tak sampai dua bulan, Hizen memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Namun, Hina tidak terima jika harus berpisah dengannya. Hizen tetap menegaskan bahwa suatu saat dia akan kembali ke sisinya.
"Aku tau itu, tapi itu berlebihan." Balas Hizen.
Hina menyerah sambil menundukkan wajahnya, "Maaf...."
"A-aku hanya m-merindukanmu." Sahutnya tersipu malu mengatakan dengan jujur.
Hizen hanya tersenyum, kemudian menarik tubuh gadus itu jatuh ke pelukannya.
"Aku tau itu jawabanmu." Singkatnya.
•••
AAAAAAAGGGHHHHH
Raphtalia benar-benar teriak kesakitan, bahkan sempat terkejut melihat lengan kirinya yang telah terpotong akibat tombak tajam milik Zyn.
"Sakit...sakit sekali, aku benar-benar dewi yang begitu lemah."
AAAAAGGGGGGHHHHHH AAAGGGHHHH
Dia terus teriak-teriak meringis, tak kuat menahan tangis melihat dirinya benar-benar tidak berdaya. Kemudian tubuhnya jatuh lemah ke tanah melihat sepotong tangan kirinya di sampingnya.
"Kenapa? Hiksss...hikss kenapa? Kenapa harus aku? Aku hanyalah wanita biasa bersifat lemah maupun jiwa malah mendapatkan siksaan berat dari dunia ini."
"Padahal aku hanya ingin memenuhi tugas ku agar dunia ku kembali."
"*Tetapi itu tidak mungkin, pertama aku kehilangan kaki kiriku demi tugasku sebagai dewi terakhir, kedua aku tidak tega meninggalkan pria yang berarti untukku dan yang k-ketiga...."
"Aku kehilangan lengan kiri dan rambutku*."
"*Dunia ini benar-benar j-jahat ya, maafkan aku Hizenn...aku hanya bisa mengorban diriku demi dirimu, tapi ini k-kejam, aku tidak kuat menahannya."
"Jaga dirimu Hizen, aku akan kembali dan t-tolong jangan lupakan aku apalagi perjuanganku untukmu*."
Perlahan-lahan matanya tertutup lelap dan tidak bergerak lagi, Zyn bersama Melty dan Alysa akhirnya menemukan Raphtalia tidak berdaya lagi. Melty sempat kaget melihat kondisi Raphtalia,
"Huh? Tidak mungkin." Gumamnya.
"Cih! Itu akibatnya sudah kabur seenaknya." Sahut Alysa.
"Dia pantas mendapatkannya." Ucap Zyn sambil mengambil tombaknya disamping tubuh Raphtalia.
Kemudian mereka membawa Raphtalia yang tidak berdaya itu pulang ke dunia Kyouka.
Dari kejauhan, terlihat dua orang alias Shirayuki dan Tatsuya sempat menyaksikannya. Shirayuki menutup mulutnya menahan suara isak tangisnya melihat kondisi Raphtalia sangat memilukan.
"Jahat ya...."
Tatsuya memeluk gadis itu disampingnya,
"kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Shirayuki." Sahut Tatsuya tidak tega melihat Raphtalia yang tidak bersalah dibawa oleh orang-orang tadi.
Shirayuki mencoba tegaskan ingin menyelamatkan Raphtalia, "Tapi...tapi kita harus menyelamatkannya."
"Aku tau Shirayuki, untuk saat ini kita tidak bisa bergerak. Kita harus mencari Hizen." Balas Tatsuya.
Shirayuki tidak menanggapinya, melainkan hanya menangis tersedu-sedu dipangkuan dada Tatsuya.
Pahlawan perisai itu tampak mengepalkan salah satu tangannya, dia merasa kesal dan marah pada orang-orang yang melukai Raphtalia.
"*Aku juga marah melihat mereka memperlakukannya seperti ini, tapi kemana Hiro? Kenapa dia meninggalkannya? Lihat saja jika aku menemukannya."
"Akan ku beri pelajaran padanya!"
"Bersiaplah kau, Hiro*."
Dia ingin tau, apa yang sebenarnya dilakukan Hizen saat ini? Mengapa hanya Raphtalia yang harus menerima penderitaan Hizen? Itu tidak adil!
Tatsuya berjanji begitu bertemu dengan Hizen akan memberinya pelajaran akibat membiarkan Raphtalia menderita.
*BERSAMBUNG. . . *