The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
RAPUH



**The Legendary Of Hero


_chapter 25**_


.


.


.


Setelah sehari berlalu, Hizen dan Raphtalia menyempatkan diri jenguk pemakaman Yunon. Semenjak Raphtalia sadar, kedua kakinya lumpuh akibat serangan Douman. Kursi roda kayu itu juga sudah rusak, maka dari itu Hizen malah memilih akan menggendongnya.


"Apa ini tidak apa-apa? Nanti kau lelah, loo." (Raphtalia)


"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah lama tidak menggendongmu lagi." (Hizen)


Kedua pipi Raphtalia langsung merah tomat mendengarnya. "H-hehh?"


Bahkan sulit mengendalikan rasa malunya. Mata Hizen sempat melihat Onikirimaru masih digenggaman Raphtalia.


"Ku pikir kau akan melepaskannya."


Raphtalia terlihat bingung sedetik itu jadi sadar dengan apa yang diperhatikan Hizen.


"Heh? Uh..i-ini..?"


Sebelum mereka meninggalkan penginapan, Raphtalia sama sekali tidak ingin melepaskan Onikirimaru dari tangannya. Dia juga tidak menginginkan Hizen yang memegangnya. Intinya, Onikirimaru itu tetap harus di tangan Raphtalia.


Dia tidak nyaman setelah kejadian itu. Matanya sedikit sayu,


"M-maaf...h-hanya ini yang tersisa dari ku."


Mengingat kembali, 2 senjata legendaris telah direbut oleh Heila dari Raphtalia dan perisai legendaris miliknya juga sudah hancur karena lemah.


"Jadi perisainya sudah hancur karena kau melindungi dirimu dari Douman." (Hizen)


"Benar, meskipun benar-benar menyakitkan harus merasakan kehilangan benda itu." (Raphtalia)


Hizen juga khawatir, dia ingin mendengar jawaban Raphtalia apa dia masih kesakitan.


"Apa rasa sakit itu masih terasa?"


Raphtalia mengganggukan kepalanya, "M-masih."


"Kalau begitu istirahatlah."


"I-iya..."


Raphtalia menutup matanya sejenak, tapi mengingat kemarahan Hina masih menghantuinya. Matanya terbuka gemetaran sambil mempereratkan pedangnya di genggamannya.


"Bukankah saatnya kau akan menceritakannya...?"


"Hu-h?"


"Tentang kejadian itu."


Mata mereka bertemu, tapi Hizen sedikit kaget menyadari tatapan Raphtalia saat ini dipenuhi rasa takut.


"Kalau tidak bisa, aku tidak memaksa kok. Yang penting kau baik-baik saja."


Hizen tidak memaksa jika Raphtalia tidak ingin menceritakannya. Asal Raphtalia benar-benar merasa baikan.


Raphtalia cepat meresponnya,


"B-bukan itu maksudku..a-aku hanya takut menceritakannya. Karena sebelum itu terjadi...aku...aku...


...sempat dibuat takut."


"Apa yang membuatmu takut?" Tanya Hizen.


"Uh..mm...i-itu...sebenarnya Hina sangat marah besar pada ku."


Langkah Hizen berhenti, "..dan menyerangmu, bukan?"


Raphtalia semakin gugup dan khawatir menjawabnya,


"Huh? Aa..i-itu...nyaris karena Heila-sama datang menghentikannya."


Hizen melanjutkan langkahnya, kemudian menanggapi ucapan Raphtalia.


"Jadi begitu, aku mengerti alasan mengapa Hina marah sebesar itu. Sebelumnya dia menahannya, jadi aku khawatir jika dia meledakkannya..."


...tidak menyangka dia meledakkan diri denganmu, maaf ya." (Hizen)


"U-uh? Uhm...tidak apa-apa." (Raphtalia)


Meskipun Raphtalia ingin menghindarinya, Hizen tidak terima!


"Tapi, aku sangat marah padanya." Protesnya.


Bahkan sempat membuat Raphtalia kaget dan menganggap masalah itu hanyalah masalah kecil.


"Heh? Tapi.. I-itu hanya masalah kecil."


Tetapi Hizen tetap membantah tidak terima Raphtalia diperlakukan kasar oleh Hina sebelumnya.


"Masalah seperti itu jangan dianggap kecil Raphtalia, aku sudah berjanji padamu jika seseorang menyakitimu atau memarahimu sampai kondisimu seperti ini maka aku tidak akan membiarkannya!"


Raphtalia terkejut bercampur takut. Wajahnya sedikit menunduk sedih dengan mencoba menenangkan Hizen.


"Jangan begitu, Hina itu tunangan mu bukan?"


Kali ini Hizen tidak menanggapinya, juga merasa tidak nyaman mendengar Raphtalia anggap Hina adalah tunangannya.


Pembicaraan itu berakhir, mereka sudah tiba dipemakaman Yunon. Hizen menurunkan Raphtalia, mengingat kembali kenangan kecil dari Yunon. Raphtalia merasa bersalah tak dapat menyelamatkannya daru serangan Douman.


"Terima kasih Yunon dan juga...maafkan aku karena kau ikut terlibat padahal kau sama sekali tidak ada hubungan dengan hal ini


..bahkan juga tidak dapat melindungimu, maka dari itu tolong maafkan aku, Yunon."


Raphtalia menangis tersedu-sedu, "hikss...maafkan aku...a-aku...aku...."


Saking tenggelam dari rasa bersalahnya, Raphtalia tiba-tiba merasa otaknya gemetar dan kedua matanya terbuka getar.


"H-uh? O-oya..b-benar, s-selama ini akulah p-penyebabnya...aku..penyebabnya, benar..!"


"Aaaaaaggggggghhhhhhhhhhhh!!!!!"


Raphtalia teriak dan terus teriak merasa muak pada dirinya karena telah membuat Yunon tiada.


"Oi, Raphtalia?"


Hizen memanggil Raphtalia berkali-kala sambil menepuk bahunya.


"Kenapa...? Kenapa aku harus h-hidup? Harusnya...aku yang mati, aku yang mati bukan Yunon."


"Raphtalia? Raphtalia, dengarkan aku!"


Namun Raphtalia tidak mendengarkan suara Hizen, melainkan hanya teriak.


"Aaagghhh! Semua ini salah ku! Salahku! Salah ku! Salah ku! Salah ku..." (Raphtalia)


"Raphtalia, ku mohon...dengarkan aku!" (Hizen)


Hizen tidak tau cara apa lagi yang dapat menenangkan Raphtalia, hingga tak tahan. Ia telah memutuskannya, meski itu membuatnya kesal bercampur malu.


"Sial!


"Semua ini sa-"


Kedua mata Raphtalia lebih terbuka dan terkejut hingga tubuhnya berhenti gemetar melainkan tak bisa bergerak, menyadari Hizen yang ternyata mengecup lembut ke dahinya.


Hizen menatapnya kembali dengan tatapan khawatir.


"Ku mohon, jangan salahkan dirimu, meski pun semua menyalahkan mu." (Hizen)


Raphtalia tidak tau harus berwajah apa setelah mendapatkan kecupan bibir dari Hizen ke dahinya. Rasanya hal yang sempat menakutinya itu telah menghilang.


Ia juga sulit berkata-kata, Hizen tak peduli hanya memeluk erat tubuhnya.


"E-ehhh?"


•••


Menuju malam hari, sudah beberapa jam telah meninggalkan perbatasan antara desa kecil Muy king dan Kyouka. Saat ini, mereka telah menginjak wilayah desa kecil Kyouka. Meskipun, kerajaan itu jauh belum terlihat.


"Kita istirahat dulu ya." (Hizen)


Raphtalia terlihat diam-diam menyembunyikan wajah malunya.


"U-uh? I-iya..."


Semenjak kejadian itu, Raphtalia tak pernah buka mulut baik itu obrol dengan Hizen. Bahkan ia sangat gugup menatap Hizen yang menggendongnya.


"Kyaa...memalukan!"


Raphtalia benar-benar terkejut tindakan Hizen yang tiba-tiba mengecup dahinya. Juga sangat malu mengingatnya kembali. Dilihat dari reaksi Hizen, sepertinya dia tampak biasa. Seolah tak terjadi apa-apa.


Dia menurunkan Raphtalia, kemudian meminta istirahat sejenak.


"Aku akan menghidupkan api unggunnya, tapi sebelum itu aku harus mencari kayu."


Diam-diam tangan kecil Raphtalia menarik kain lembut yang dikenakan Hizen.


"Jangan pergi."


Hizen sedikit cemas memperhatikan raut wajah Raphtalia tampaknya ketakutan.


"Apa tidak apa-apa tanpa api unggunnya?" Tanya Hizen.


"..n..tidak apa-apa."


"Baiklah, apa kau lapar?"


"Tidak."


"Kalau begitu istirahatlah."


Raphtalia menyandarkan kepalanya ke samping bahu Hizen. Salah satu tangan Hizen meraihnya dengan memeluknya.


"Hizen...sebelum itu, terima kasih untuk semuanya, kau sudah sejauh ini menyelamatkan ku, menjaga ku dan selalu ada bersama ku."


"Itu belum cukup membayar kesalahan ku padamu."


"Bagiku itu sudah jauh lebih cukup dan lagi....tolong maafkan aku, Hizen."


"Kenapa minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan lagi."


"Aku tau itu, tapi setidaknya aku menyempatkan diri minta maaf denganmu...


....oiya, aku hampir lupa memberitahumu."


"Apa?" Tanya Hizen.


Wajah Raphtalia tertunduk sedih, "gelombang akhir akan segera tiba."


"H-uh?"


"D-dan gelombang akhir itu akan menimpa Kyouka, pusat dari 8 dimensi, saat itulah yang akan menentukan nasib antara hidup dan mati..."


Raphtalia menggenggan Onikirimaru itu tampaknya ingin menyerahkan pedangnya pada Hizen.


"Aku sudah tidak kuat lagi dengan kondisi ku yang rapuh mewarisi pedang ini, j-jadi ku mohon Hizen...


...tolong warisi pedang ini."


Hizen tak percaya Raphtalia benar-benar menyerahkan pedang legendaris yang masih tersisa kepadanya.


Bibir Raphtalia tersenyum ikhlas menyerahkannya.


"Sebelum terlambat, aku harus menyerahkannya padamu dan begitu juga dengan kekuatan suci ku."


"Tapi, kenapa?..."


"Huh?"


"Kenapa kau menyerahkan semuanya pada ku?"


"Karena kondisi ku seperti ini tak bisa berbuat apa-apa, aku hanyalah beban."


Kedua tangan Raphtalia menyentuh wajah Hizen.


"Aku bersyukur telah menemukan pahlawan sepertimu, sudah banyak hal kau lewati sampai saat ini....


...ini pesan terakhir ku, tak peduli siapapun yang ingin menjatuhkanmu, aku sebagai dewi terakhir dan putri dari kerajaan ning akan selalu ada di sisimu, baik itu dihatimu maupun dipelukanmu."


Hizen merasa aneh, mengapa Raphtalia berkata seperti itu. Apa ini perpisahan?


"Apa maksudmu? Pesan terakhir, jangan membuatku takut."


Namun Raphtalia hanya melebarkan senyumnya, kemudian berkata,


"Aku mencin-..."


Perkataan Raphtalia terputus karena merasa otaknya gemetar hingga pikirannya kacau-balau.



"H-uh?...H-hen-tikan!"


"Raphtalia?!"


Hizen panik melihat Raphtalia yang tiba-tiba panik gemetaran hingga ia teriak kesakitan.


"Aaaghhh!...aaagghh!"


Hizen memperhatikan di sekelilingnya, tiada siapapun di sana. Tetapi, seseorang muncul dengan kecepatan hebat terus mencekik leher Hizen.


"Ggarrhh!"


Raphtalia sempat melihatnya, salah satu tangannya meraih Hizen agar bisa mencapainya. Namun, orang tadi mengenakan jubah hitam malah menyerang dengan merusak saraf otaknya.



"Aaaarrghhhhh...ti-tidak!" Raphtalia teriak kesakitan.


Rasanya dia benar-benar ingin mati, kemudian dihantamkan ke pohon. Kemudian, darah berceceran keluar tiada henti di kepalanya. Dia terpapar jatuh tak berdaya.


"K-ke..napa...d-di s-saat s-se-seperti...i-ini?" (Raphtalia)


"H-hentikan!" Hizen mencoba raih tangan orang itu agar menghentikannya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian kembali."


Mata Hizen terbuka sadar mendengar suara familiar itu.


"H-heila-sama?"


Melihat kondisi Raphtalia keadaan rapuh, sepertinya dia akan sekarat kembali dan di tambah lagi dia sudah tak bangun-bangun.


"Ti-tidak mungkin...R-raphtalia?"


hingga amarah Hizen tak terkendali.


Orang tadi masih mencekik Hizen seerat-eratnya.


"Meskipun aku pernah bertemu kalian di dunia itu, tapi...itu sama saja kalian adalah musuh ku."


Sambil melepaskan penutup kepalanya, kemudian memperlihatkan wajahnya.


Itu sosok Heila Lizeray.


Hizen tak tahan dengan amarahnya, dia sudah lelah melihat hidup Raphtalia yang selalu rapuh. Saat ini, dia benar-benar tak terkendali.



Meski tanpa pedang dari pemberian Vanus maupun onikirimaru, Hizen mampu mengendalikan magusnya sebagai senjatanya.


Sekali ucap, Heila terlempar jauh hingga beberapa pohon tumbang. Ini lemparan sangat kuat, kemudian Hizen bangkit.



Tak hanya itu, ternyata dia mampu menggunakan kekuatan Raphtalia dengan menghentikan pendarahan hebat dari kepalanya.


"Aku sudah muak diperlakukan seperti ini..." Dinginnya.


Heila bangkit, kemudian maju balas serangan Hizen.



Bagi Hizen, serangan Heila sangat mudah dikalahkan.



Hingga tembus pandang, Heila mendapat pukulan tangan oleh Hizen.



Dia melakukannya berkali-kala hingga Heila terlempar ke sana-sini. Bahkan tak sempat balas serangan Hizen. Sampai Hizen berhasil mencekik leher Heila, kemudian mencoba masukkan jari-jemarinya ke muasalnya.


Bibir Heila tersenyum jahat. "Kau tidak bisa membunuh ku."


Hizen terkejut karena orang yang ia hadapi saat ini adalah bayangan atau bisa dibilang...



Walaupun Hizen berhasil menghancurkan muasal Heila, tetap saja itu hanya bayangan dan Heila akan tetap hidup kembali.


"Dia melarikan diri?"


Hizen kesal dengan kesempatannya gagal, "SIAALLLL!!!!" Teriaknya.


Di sisi lain, Heila masih mengurung diri sempat merasakan keberadaan Hizen dan Raphtalia dalam keadaan tumbang bercampur amarah. Dia merasa senang akan hal itu.


"Aku tidak tau, apa yang menghantui dalam diri ku hingga aku seperti iblis....


..apa karena gadis lemah itu?"


Sebelumnya ia memerintahkan klonnya agar memusnahkan mereka.


"Bahkan aku tidak bisa membiarkan gadis itu pulih kembali."


Saking puasnya mendengar Raphtalia tumbang lagi, Heila tertawa puas.


"HAHAHAHAHHAHAHAHAH....aku senang..! Aku puas..! Hahahahahhaha....!!!"


Sosok Hina yang selalu menunggu ibunya keluar dari kamarnya, ia juga mendengar ibunya tertawa besar hingga membuatnya khawatir bercampur takut.


"Apa yang ibu pikirkan sebenarnya?"


Setelah kejadian malam itu, tingkah Hizen jauh lebih dingin dari sebelumnya. Melihat Raphtalia yang rapuh tak bisa kembali seperti semula, Hizen merasa waktu hidup Raphtalia sudah tidak banyak lagi.


"Apa aku akan kehilangan putri yang ku sayangi?"


•••


Pagi akhirnya terlihat, di tengah kota keramaian. Langit cerah tampak kembali normal, penduduk Kyouka juga terlihat ramah nan hangat.


Terlihatlah sosok Shirayuki tampaknya sedang membeli bahan masakan membuat sarapan enak untuk Tatsuya.


"Wuaahhh, sayur-mayurnya terlihat segar sekali...wuaahh."


Sambil mengambil satu ikat sayur bayam dengan wajah penuh cinta.


"Mulai dari kemarin, langit Kyouka sudah mulai terang lagi setelah mendung dan gelap selama dua minggu. Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi kata Tatsuya langit hitam sempat menakuti penduduk Kyouka sesuatu pertanda buruk...


...Aku juga tidak terlalu memikirkannya, yang terpenting bagaimana kabar Hiro dan Raphtalia? Apa mereka baik-baik saja kan?"


Setelah menghabiskan 30 menit di pasar, ia akhirnya selesai dan saatnya untuk kembali. Saking bahagianya, ia tidak sengaja menabrak seseorang hingga barang bawaannya jatuh.


"A-aduhh, b-barangnya?!"


Ia sibuk mengambil sayurannya, hingga sebilah pedang muncul dihadapan wajahnya.


"Heh?"


Shirayuki jadi gugup karena tidak sengaja menabrak orang itu.


"Maafkan aku, maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja, aku mohon tolong maafkan aku."


Sambil membungkukkan kepalanya berkali-kala di depan orang itu.


"Berisik!"


Mata Shirayuki sedikit terbuka mendengar suara familiar dari orang itu.


"Huh?"


Perlahan-lahan mengangkat kepalanya lalu melihat orang yang berdiri dihadapannya lantas membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Lain kali lihat jalan itu yang benar, mengerti?"


Suara pria yang sangat familiar bagi Shirayuki, berjubah hitam dan tingginya sama dengan tingginya Tatsuya. Dan lagi pria itu menggendong seseorang. Sayangnya Shirayuki tak bisa melihat wajah orang yang digendong oleh pria itu karena tertutup kain hitam.


Terutama wajah pria itu juga tertutup dengan jubah hitamnya.


"Oi, kau mendengar ku?!"


"A-ah, i-iya aku dengar. Tolong maafkan diriku yang tak sengaja menabrakmu."


"Lupakan itu."


Lagi-lagi Shirayuki terkejut menyadari pedang yang ada di tangan pria tadi.


"Pedang ini...o-onikirimaru?"


Pria itu meninggalkan Shirayuki begitu saja, sampai Shirayuki teriak menghentikannya.


"Tunggu? Kau Tadahiro Hizen, bukan?"


Langkah pria itu tidak berhenti bahkan tak ada respon darinya. Hingga kemudian,


"Aku tidak mengenal Tadahiro Hizen."


Shirayuki terdiam tak berkutip.


"Ti-tidak mungkin, apa aku salah lihat? Suaranya...suaranya mirip dengan Hiro, dan orang yang dia gendong itu pasti....itu pasti Raphtalia, bukan?


apa mereka benar-benar orangnya? Tapi....


....kenapa?"


Sepertinya Shirayuki percaya orang tadi adalah Hizen dan Raphtalia. Tapi, ini membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi pada Hizen sampai sedingin itu pada Shirayuki.


Apa terjadi sesuatu sebelummya?


•••


*BERSAMBUNG. . .*


terima kasih sudah membacanya...😌🙏🙏💕🙇🙇