The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Black Queen



_chapter 23_


The Legendary Of Hero


.


.


.


Sosok Heila tampaknya mengurung diri di kamarnya membuat Suwon, Hina dan Asuka khawatir. Ini sudah ketiga harinya, Heila tak pernah keluar.


Hina masih berdiri dihadapan pintu menunggu sosok ibunya menampakkan diri.


"Apa ibu baik-baik saja?" Gumam Hina terdengar sedih.


Dan disampingnya muncul sosok Suwon juga khawatir nasib Hina tampak kesepian.


"Ibumu hanya frustasi, jadi biarkan dia tenangkan diri." (Suwon)


Mata Hina terangkat menatap sang ayahandanya. "Benarkah? Tapi, aku khawatir."


Bagaimana pun itu, dia tetap khawatir pada ibunya.


Sosok Asuka juga di samping ayahandanya ikut menenangkan adiknya, Hina.


"Tenang saja, Hina. Kau harus yakin ibu bisa tenang secepatnya." (Asuka)


Sambil menyentuh kedua pundak Hina dengan tatapan tenang nan lembut.


Wajah Hina sedikit meraut sedih, "Iya aku tau, tapi kapan ibu bisa mengembalikannya?"


Asuka memiringkan kepalanya, "Mengembalikannya?"


"Ibu sudah mengambil semuanya dari dewi terakhir, Raphtalia." (Hina)


Suwon dan Asuka tampak terkejut. "A-apa?!"


"R-raphtalia?!..dia benar-benar seorang dewi?!" (Asuka)


"Benar, aku sudah bertemu dengannya, mungkin dilihat tubuhnya sangat lemah tapi keberanian dari matanya bisa menunjukkan bahwa dia seorang dewi jauh lebih kuat dari lainnya." (Hina)


Suwon menutup mulut sejenak, kemudian matanya sangat cepat menangkap sosok sedang mendengar percakapannya dengan anak-anaknya.


"Sedang apa pahlawan seruling di sana?" Batinnya.


Ternyata sosok Haku alias pahlawan seruling itu menyadari tatapan Suwon telah menangkapnya. Ia pun pergi.


"Ada apa, ayah?" Tanya Asuka.


"Tidak ada apa-apa. Ayo kembali.."


"Baik."


Ketiganya meninggalkan Heila yang masih mengunci diri dalam kamar. Dengan membiarkannya agar Heila bisa menenangkan diri.


•••


Kamar Heila terlihat gelap kelabu, pintu jendela terkunci, lilin indah terhias itu terhapus dan tak ada cahaya sedikit pun menyinari kamar itu. Sosok Heila hanya terbaring di kasurnya dengan melentangkan tubuhnya.


Wajahnya yang terukir kesedihan, membayangkan dirinya yang telah di tenggelamkan ke laut merah darah.


"Sebenarnya apa yang telah aku lakukan selama ini..."


10 tahun lalu,


Saat itu runtuhnya bangsa kelelawar yang hampir membuat Heila nyaris menghancurkan dunia. Dia ratu bangsa kelelawar, akibat runtuhnya bangsa kelelawar adalah kerajaan Ning.


Ning adalah kerajaan tertinggi di era itu. Bahkan tidak ada yang berani melawan tahta Ning yang sangat tinggi. Heila menyimpan dendam besar pada kerajaan Ning agar suatu hari ia akan meratakan tanah hingga tak terlihat kastil besar itu.


"Tidak bisa dimaafkan!"


Kedua tangannya mengepal erat menyaksikan kebahagian penduduk Ning. Mulai hari itu, Heila telah memutuskan akan menjadi “pembunuh”


Satu-persatu anak perempuan telah dibunuh olehnya, setiap hari kedua tangannya dipenuhi noda darah menjijikan hingga muntah-muntah.


Jujur, dia sangat ketakutan harus menderita sendirian.


Para penduduk mulai ketakutan dan segera mengamankan anak mereka setelah tahu rumor pembunuh bayi yang di juluki “black queen” menghantui negara Ning, baik kota maupun desa.


Suatu hari, Heila mengenakan jubah merah menutup identitasnya agar tidak diketahui orang lain. Dengan tampilan seperti itu, ia berhasil masuk ke kastil Ning. Alasan ia masuk adalah mencari orang yang telah membasmi bangsanya.


Namun, gadis kecil rambut pendek berpirang merah duduk di samping tiang kastil menemukannya.


"Siapa?"


Suaranya menghentikan langkah Heila, ia bingung dan sedikit memiringkan kepalanya.


"Dia bertanya pada ku?" Gumam Heila.


Gadis itu membenarkannya. Dia bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri ke hadapan Heila.


"namamu?"


"N-nama ku?" Heila terkejut, ketika gadis itu menanyakan namanya.


"Apa kau tidak punya nama?"


"P-punya kok, n-nama ku-.."


Namun, gadis kecil itu tidak ingin tau namanya.


"Yahh sudahlah, kau sangat gugup jika aku ingin tau nama mu. Baiklah, tidak apa-apa. Bilang saja kau tidak punya nama."


"Eh?" Heila heran dan pertama kalinya bertemu dengan gadis aneh yang sama sekali tidak takut padanya.


"Ooh, nama ku Raphtalia, Shin Raphtalia."


Ternyata gadis itu juga punya nama yang unik alias Shin Raphtalia. Bahkan Heila baru pertama kali mendengar nama itu di kerajaan ning.


"Shin Raphtalia? O-oh, s-senang bertemu dengan mu." (Heila)


Raphtalia melebarkan senyumnya. "Sedang apa kau di sini? Apa kau ada pertemuan dengan orang tua ku?"


"O-orang tuamu?" (Heila)


"Aku putri kerajaan Ning." (Raphtalia)


"Huh?" Mata Heila terpaku mengetahui gadis kecil dihadapannya adalah putri kerajaan ning.


Menurut informasi yang ia temukan atau dengar dari kota Ning, kerajaan itu tidak punya putri bahkan mengenali nama, Shin Raphtalia.


Apa gadis ini sedang berbohong?


"Hmm..kenapa?" (Raphtalia)


"Aah, tidak apa-apa. Aku baru saja selesai bertemu dengan orang tuamu." (Heila)


Heila juga berbohong, seolah dia begitu kenal dengan orang tua Raphtalia.


"Kalau begitu, maukah aku mengantarmu sampai depan gerbang." (Raphtalia)


"Aah, tidak usah aku bisa pergi sendiri kok." (Heila)


Sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya.


Dilihat dari atas ke bawah sosok Raphtalia punya sifat begitu lemah lembut dan baik, juga sopan pada orang disekitarnya. Dia tidak peduli mana yang baik dan buruk menghadapi orang dihadapannya.


Asalkan dia mampu melebarkan senyumnya.


"Raphtalia-sama?"


Sosok pria seumuran Raphtalia berlari terengah-engah menghampirinya. Wajah Raphtalia jadi memerah ketika matanya bertemu dengan pria itu.


"Ahh..H-hizen?"


Heila memperhatikannya sejenak dan menebak, "sepertinya dia menyukainya, bukan?"


"Aku mencarimu, Raphtalia-sama." (Hizen)


"Tolong maafkan aku." (Raphtalia)


Sambil membungkukkan badannya.


"Lalu, sedang apa kau disini?"


"Aku bicara dengan-.."


Raphtalia heran melihat sosok Heila sudah tiada di sana.


"Eh, s-sudah hilang?"


"Bicara dengan siapa?"


Raphtalia menggelengkan kepalanya, "Mmm...tidak ada apa-apa."


"Ayo.." Hizen mengulurkan salah satu tangannya pada Raphtalia.


Raphtalia sedikit terkejut, setelah itu senang akan hal itu sambil meraih tangannya. "Nn.."


Heila tidak menghilang melainkan bersembunyi dibalik tiang. Diam-diam bibirnya tersenyum jahat, bahkan punya ide berlilian setelah tau bahwa ada gadis kecil yang sangat disayangkan di kastil ning.


Kebetulan sekali, Heila sangat suka membunuh anak perempuan.


"Benar-benar kebetulan sekali."


•••


Malam itu, Heila diam-diam menemukan sosok Raphtalia kecil sedang tertidur di kamarnya. Ini kesempatan bagus membunuhnya dengan kunainya.


Namun, sayang sekali. Pergerakan Heila sangat cepat ketahuan oleh pria muda alias guardian Raphtalia.


"Sedang apa kau di kamar Raphtalia-sama?" (Hizen)


Itu Hizen yang kebetulan sekali menjaga Raphtalia di depan pintu. Ia tak menyangka sosok Heila berhasil mengendap ke kamar Raphtalia lewat jendela.


"Bukan urusanmu." (Heila)


Untungnya Heila menutup wajahnya dengan topeng dan berjubah merah menutup seluruh tubuhnya hingga Hizen sulit mengetahuinya.


Mata Raphtalia terbuka sedikit demi sedikit memperhatikan di sekelilingnya, "..huh? A-ada apa i-ini?"


Mendengar suara Raphtalia sadar dari tidurnya, Heila mempercepatkan gerakan tangannya menyerang Raphtalia. Bahkan kecepatan itu tidak bisa dihentikan oleh Hizen.


Tetapi, kecepatan kunai itu meleset karena Raphtalia menggeserkan kepalanya sedikit menghindar. Namun, kedua matanya terbuka luas dan kaget merasa ada rasa sakit di pipi kirinya.


Salah satu tangannya menyentuh pipinya, noda darah membasahi telapak tangannya membuatnya takut gemetaran melihatnya.


Meskipun meleset, tetap saja mengenai sedikit ke wajah Raphtalia.


"Raphtalia-sama?!"


Hizen mulai panik melihat Raphtalia gemetaran melihat darah di tangannya. Kemudian menyerang Heila dengan pedangnya.


Heila begitu mudah menghindarinya karena serangan Hizen masih level bawah. Tapi, jangan senang dulu. Walaupun pertarungannya di level bawah. Tolong lihatlah kenyataannya bahwa saat ini tangan Hizen sudah meraih topeng Heila.


"K-kau a-adalah..."


Tentunya Hizen mengenalnya. "..ratu bangsa gagak, black queen!"


Akibat ketahuan Heila akan segera pergi secepat mungkin. Hizen tidak akan membiarkan itu.


"Apa kau ingin menuntaskan dendam bangsamu?!"


Langkah Heila berhenti, kemudian berbalik dan mengatakan. "Benar."


"Sudah ku duga, ini akan terjadi. Tapi, ini bukanlah cara yang benar!" (Hizen)


Heila kesal mendengar seseorang menasehatinya. "Jangan sok tau! Kalianlah telah membasmi bangsa ku!!" Teriaknya.


"Itu pasti perbuatan ayah ku, tolong maafkan dia." Sahut Raphtalia bangkit dari tempat tidurnya.


"Walaupun aku seorang putri di kerajaan ini, tidak ada yang menganggap ku ada. J-jadi maaf..aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya mengurung diri dengan guardian ku." Tambahnya.


Sekali lagi, Raphtalia memperhatikan Heila dengan wajah seksama"H-hei, k-kau ketakutan...bukan?"


"Berisik! Berisik! Berisik!" Teriak Heila.


Dia tak ingin jika ada orang ingin mengetahui masa lalunya maupun penderitaannya. Saking kesalnya, dia cepat-cepat meninggalkan tempat itu lewat jendela.


Setelah itu, Raphtalia jatuh lemah dan disambut oleh Hizen.


"Gawat." Hizen sempat dibuat panik melihat pendarahan dipipi Raphtalia sangat kuat mengalir.


Hizen cepat menutupnya dengan merobek lengan bajunya. Kemudian mengusapnya.


"Maafkan aku." (Hizen)


Raphtalia sulit berkata-kata, dengan cepat Hizen memeluknya. Sepertinya Raphtalia sangat syok dan ketakutan melihat darah pertama kali di wajahnya.


Dan Heila tampak menyandarkan tubuhnya dipohon. Perlahan-lahan airmatanya terlihat mengalir. Selama ini dia berusaha menahan penderitaannya agar ia tak bisa merasakannya lagi. Namun, mengingat perkataan Raphtalia tadi itu. Sungguh membuat dirinya yang lemah itu telah kembali lagi.


"Sial, aku kembali lagi pada diri ku yang sama sekali pecundang."


•••


Berturut-turut hari Heila berubah pikiran akan meneruskan identitasnya sebagai “Black Queen”. Membunuh anak-anak baik itu perempuan dan laki-laki diberbagai perkotaan ning. Bertepatan, gerhana bulan yaitu malam yang ditakuti oleh manusia. Bangsa ras mulai menggila dimalam itu hingga terjadilah bertumpah darah tak berdosa.


"Malam yang menyenangkan..."


Sedangkan Heila sudah terbiasa membunuh itu, juga menggila seperti iblis haus darah. Semuanya ketakutan akan kehadirannya.


"Tidakkkk...!! Hentikan!! Jangan sakiti anak kuuuu!!!"


Teriak sepasang suami istri teriak mati-matian menghentikan Heila mulai menancapkan pedangnya ke arah anak perempuannya.


"Hiks...hikss...i-ibu..ayah...aku takut...tolong aku..."


Anak itu teriak ketakutan dan meminta tolong pada siapapun. Namun, Heila menjambak rambutnya, lalu membentaknya.


"Berisik!!"


"K-kenapa?" Tanya anak itu.


"Anak kecil sepertimu tidak pantas mendengar jawaban ku!" (Heila)


Sambil mendekatkan ujung mulut pedangnya ke wajah anak itu.


Dia ketakutan. "Hikss...t-tolong aku...i-ibu..a-ayah..."


Salah satu tangan Heila mulai mencekik leher anak itu. Mendengar tangisannya membuat Heila makin kesal.


"T-tidak!!! Jangannnnnnnn!!!" Teriak ibu anak itu.


Tak lama itu, satu anak panah muncul tepat mengenai tangan Heila.


"Ggkhh!" Dia meringis dan anak itu terbebas.


"Siapa?!"


Heila menyadari seseorang bersembunyi di sekitarnya dan orang itu muncul tepat dihadapannya. Dan kali ini, mata Heila terpaku melihat sosok wanita anggun punya rambut panjang berpirang merah maron, berkulit sawo dan tidak hanya itu tatapan matanya sangat tajam dan berani.


"Jadi kau adalah Heila Lizeray, ratu gagak hitam, bukan?"


"Itu aku, jangan ikut campur." (Heila)


Anak tadi berlari mendekat wanita itu.


"Kau baik-baik saja, nak...." Sambil mengusap kepala anak itu dengan lembut.


"Iya, aku baik-baik saja..Shina-sama."


"Kalau begitu kembalilah ke orang tua mu."


"Baik, terima kasih...." Akhirnya anak itu terselamatkan dan kembali pada orang tuanya.


Heila sempat mendengar nama “Shina” sangat familar sekali.


"Siapa?" (Heila)


"Nama ku, Shina Yuen... Ratu kerajaan Ning!" (Shina)


"Sudah ku duga, kau orangnya."


Heila juga mengenal nama itu dan kebetulan sekali dia bertatap muka dengannya.


"Aku mengerti kau sangat dendam dengan kerajaan ku. Tapi, kau seharusnya tidak memakai cara seperti ini. Cukup datang ke kastil ku dan bicara!" Tegas Shina.


"Itu tidak cukup membayar nyawa bangsa ku!!" seru Heila.


"Kalau begitu, aku akan memberimu gelar suci untukmu, apa itu akan membayar nyawa bangsamu?"


"Apa maksudmu?" Tanya Heila tidak mengerti.


Namun, Shina tidak menjelaskannya. Ia hanya melebarkan senyumnya, kemudian mengangkat salah satu tangannya ke atas.


"Wahai dewa agung, aku telah bersumpah akan membayar nyawa bangsanya dengan gelar suci. Tolong...jadikan dia penyelamat yang pantas di agungkan dengan kekuatan suci ku.."


Shina memohon penuh tekad, permohonannya didengar oleh langit hingga waktu berhenti baik orang-orang beraktivitas, perang dan bergerak.


Kecuali Heila dan Shina.


"Tolong jawab pertanyaan ku, apa maksud semua ini?"


Sayang sekali, Shina belum menjawabnya melainkan masih menyibukkan diri dengan fokus pada permohonannya.


"Sial!"


Langit malam mulai dipenuhi cahaya indah aurora, kemudian tubuh Shina bersinar sama sepertinya cahaya aurora.


"Pegang tangan ku." Pinta Shina.


Sambil mengulurkan tangannya pada Heila.


"Kau belum jawab pertanyaan ku." Protes Heila.


Shina tetap melebarkan senyumnya hingga Heila menyerah dan menurutinya. Begitu tangannya tersentuh ke telapak tangan Shina, Heila merasakan sesuatu yang hangat baginya.


"P-perasaan ini..."


"Kau merasakannya, itu perasaan keberanian anakku." (Shina)


"Anaknya? Maksudnya Shin Raphtalia, bukan?"


"Mulai sekarang gelar suci ini sudah berada di hati terdalam milikmu dan saat ini...kau adalah ratu dewi."


Heila terkejut, "R-ratu dewi?"


"Benar, jika suatu saat kau bertemu dengannya.. Tolong jadikan dia sebagai dewi terakhir dan berikan ini padanya."


Shina memberikan kalung berharganya pada Heila agar memberikan pada anaknya, Raphtalia. Heila menerimanya akan mengabulkan permintaannya.


Kemudian, Shina jatuh melemah dan disambuti Heila. Dia panik melihat kondisi Shina sepertinya tidak bisa bertahan lama.


"Kenapa?" (Heila)


"Dia menceritakannya pada ku, k-kau s-sangat k-ketakutan d-dan menderita ha-harus menanggung s-sendirian." (Shina)


"Dia?"


Sekali lagi, mata Heila terbuka gemetar bahwa yang dimaksudkannya “dia” adalah Raphtalia. Tidak menyangka gadis kecil itu sangat mempedulikannya, meski Heila sempat berencana akan membunuhnya.


"D-dengan g-gelar i-ini kau bisa membangunkan dunia baru dan...t-tolong m-maafkan s-suami ku t-telah m-membasmi b-bang...sa..mu..." (Shina)


Pada akhirnya, Shina tak bersuara lagi maupun membuka matanya lagi, waktu terjeda itu mulai normal kembali. Heila syok dan tidak tau harus mengatakan apa, dia terkejut Shina datang hanyalah mengorbankan dirinya sebagai balasan akan membayar nyawa bangsa gagak.


".....hiksss...hikss...hikss..." Dan ini pertama kalinya, Heila bercucuran airmata.


Setelah mendapat gelar tersebut, Heila resmi menjadi seorang ratu dewi. Ia berhasil membangun dunia baru bersama Suwon yaitu Kyouka alias salah satu dimensi. Tetapi, saat Heila coba menciptakan 7 generasi dewi. Ia gagal karena hasilnya mereka memiliki emosi tak beraturan seperti sifat dengki dan kebenciannya.


Itu membuatnya muak tak tertahankan, maka dari itu dia meminta para peri bawahannya melenyapkan 7 dewi yang ia ciptakannya.


Sampai suatu saat, dia bertemu dengan Raphtalia. Sungguh membuatnya senang, tetapi perjanjian kontrak dewi yang digelari oleh Raphtalia itu hancur dan membuatnya kecewa besar.


"Maafkan aku..."


padahal Heila berharap besar padanya.


• • •


*BERSAMBUNG . . .*


GIMANA PENDAPAT KALIAN CHAPTER HARI INI?


ADA YANG BERPENDAPAT ATAU BERTANYA?


SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN.


JANGAN LUPA VOTENYA, LIKE DAN RATE SECUKUPNYA.


TERIMA KASIH DAN DI TUNGGU CHAPTER BERIKUTNYA MINGGU DEPAN.