
_***chapter 14_
The Legendary Of Hero***
.
.
.
Di tengah pasar meriah dipenuhi wajah rakyat Kyouka yang ramah, tiga pahlawan juga ikut mengelilingi tempat itu. Namun, gadis berpirang ungu kemerahan memiliki dua tanduk hitam memancar kegelapan itu datang mengganggu suasana.
"Ara-ara, apa kalian selesai bersenang-senang?" Sapanya terdengar mengerikan hingga orang-orang disekitar tempat itu ketakutan dan segera mengamankan diri masing-masing darinya.
Ketiga pahlawan itu sudah mempersiapkan senjatanua untuk berjaga-jaga terhadap gadis itu.
"Apa yang kau lakukan di sini, Merlia?" Seru Veno bertanya.
Ternyata gadis anggun itu bernama Merlia, sepertinya tak hanya Veno mengenal Merlia. Kedua mata gadis itu menatap tiga pahlawan itu masih mengerutkan wajah yang penuh waspada, diam-diam bibir Merlia tersenyum sinis.
"Hmmph...aku sedang mencari seseorang." Jawabnya.
"Memangnya kau mencari siapa?" Tanya Zyn berdiri disamping Archia.
"Oniki." Jawab Merlia singkat dan jelas.
Tetapi, wajahnya terukir kebohongan karena alasan Merlia kemari bukanlah mencari seseorang melainkan...
"Jangan bercanda!" Seru Archia.
"Kau kemari ingin mengambil kekuatan leluhur Kyouka, bukan?!" Tambahnya.
Dengan tenang, Merlia menjawabnya.
"Jika kalian tau alasan ku kemari, untuk apa kalian bertanya lagi."
"...Terasa sia-sia saja." Tambahnya dingin, meski terdengar singkat tapi terasa sedang menghina mereka.
"Cih!" Kesal Veno.
Merlia merasa bosan harus berhadapan tiga pahlawan pengecut.
"Aku sangat benci harus berhadapan kura-kura pengecut di sini." Ujarnya sambil mengeluarkan busur hitam bersama anak panahnya.
Kemudian membidiknya disalah satu dari ketiga pahlawan itu.
"Bagaimana dengan ini??"
"Pahlawan suci seperti kalian memang pantas lenyap saja karena kalian itu..."
"Merepotkan." Tambahnya sambil melepas tali busurnya,
"Doragone darkness!!"
Dengan menyerukan serangan doragone darkness, tentunya panah hitam raksasa diselimuti sinar kegelapan melayang ke arah salah satu tiga pahlawan.
Salah satunya adalah Veno.
"ancestral protector!" Seru Zyn yang ternyata mampu menangkis panah Merlia dengan tombak sucinya.
Meski terasa kekuatan Merlia sangat kuat, dan sulit menangkisnya. Tetapi, Zyn berhasil menangkisnya hingga anak panah itu terbelah dua.
Sempat membuat Merlia kaget, tapi bukannya kecewa melainkan membuatnya semakin tertarik.
"Heh...ku pikir kalian adalah boneka bodoh yang tak bisa apa-apa dihadapan ku, ternyata...kalian lumayan kuat juga."
"Aku tertarik loo." Tambahnya.
Tiba-tiba ketiga pahlawan itu dipindahkan ke ruang dimensi kegelapan oleh Merlia. Mereka memperhatikan disekelilingnya, sepertinya dimensi sangat familiar bagi mereka.
"O-oi, dimana k-kita?" Tanya Veno.
"H-hei..b-bukankah ini..." Jawab Zyn.
"Ville dyr!" Jawab ketiganya serentak terkejut.
Dan sosok Merlia tepatnya dihadapan mereka itu tersenyum penuh gairah mengerikan, sepertinya gadis itu benar-benar penasaran kekuatan ketiga pahlawan.
"Kalian tau...gelombang kedua itu sebenarnya belum berakhir loo."
. . . . ! Apa?!
•••
Tatsuya bersama Shirayuki memilih berpisah dengan Hizen bersama Raphtalia dan Hina tepat di pinggir danau. Tapi, Hizen khawatir jika Tatsuya tak bisa kendalikan diri terutama perisai di tangan kirinya yang tak mau lepas.
"Tenang saja, akan ku usahakan mengendalikan kekuatan ku." Jawab Tatsuya.
"Bagaimana pun itu, kau adalah salah satu pahlawan suci legendaris. Perisai ini tentu saja memiliki kekuatan pelindung dahsyat, kami tidak yakin kau mampu mengendalikannya atau tidak." Sahut Raphtalia.
Dengan lembut, Tatsuya menepuk kepala gadis berkaki satu berdiri disamping Hizen.
"Bisakah kau tidak mengkhawatirkan ku, Raphtalia?"
"Maaf, tapi..."
"Raphtalia?" Tegur Hizen dingin.
"Jika itu sudah keputusannya maka itu sudah jadi tanggungjawabnya." Tambahnya.
"Baiklah, kalau begitu i-ini untukmu." Ucap gadis itu memberikan sesuatu pada Tatsuya.
Raphtalia memberikan kalung yang hampir mirip dengan pemberiannya pada Hizen, hanya saja warna yang berbeda.
"Untuk apa?" Tanya Tatsuya.
"Agar aku bisa merasakan keberadaanmu." Jawab Raphtalia.
Tatsuya menerimanya. "Baiklah."
"Jaga dirimu, Shirayuki." Sahut Hina pada Shirayuki disamping Tatsuya.
Bibir Shirayuki sedikit terangkat senang, kemudian wajahnya diam-diam mendekat,
"Kau juga, jangan sampai diantara kau dan dia bertengkar hanya karena pria itu." Bisik Shirayuki terdengar tajam.
"Aku tau itu." Dingin Hina.
Yang lainnya tidak begitu curiga maupun penasaran karena melihatnya saja mereka mudah akrab satu sama lain.
"Aku tidak punya pilihan lain, lagi pula aku menyerah." Ucap Hizen tersenyum menatap Tatsuya.
Artinya Hizen memang patut membiarkan Tatsuya jaga diri karena sudah saatnya bagi Tatsuya mandiri.
Bagi Hizen, Tatsuya adalah pria pertama yang akrab dengannya dan sudah menganggap pria itu saudarannya.
"Aku tidak seperti pengecut tau." Balas Tatsuya ikut tersenyum juga mengerti alasan Hizen.
Raphtalia merasa kagum pada dua pria itu bak saudara.
"Aku pergi dulu, Hina-hime." Pamit Tatsuya pada putri Hina.
"Baik."
Tatsuya bersama Shirayaki akhirnya meninggalkan tempat itu dengan mantra teleportnya.
"Semoga saja kita bisa bertemu dengan mereka lagi." Ujar Hizen.
"Kau benar." Balas Hina ikut tersenyum.
"Kau juga harus kembali, Hina-chan."
Hina terdiam sejenak, kemudian protes.
"B-bukankah kau sudah janji akan kembali bersama ku?!"
Hizen jadi kaku pada tingkah Hina mulai bersifat manja.
"Ehrr, maksud ku y-yahh kau itu seorang putri Kyouka. Bukankah ayahmu mengkhawatirkanmu, terutama ibumu loo."
"Apa karena Raphtalia kau tidak bisa bersamaku?!" Seru Hina cemberut.
Raphtalia jadi tidak tenang pada sepasang kekasih itu bertengkar hanya karena keberadaannya.
"A-anu...t-tolong jangan libatkan aku."
"A-aku hanya perisai Hizen, bukan siapa-siapanya!" Seru Raphtalia.
Keduanya terdiam sejenak, Hina membuang nafas menyerah.
"Baiklah, aku akan kembali ke istana." Ucapnya.
Hizen lega mendengarnya, "tapi aku mau kalian mengantar ku." Tambah Hina.
"Ehhhhhh???" Kaget keduanya.
Tatsuya dan Shirayuki berhasil berpindah ruang ke salah satu dimensi. Tapi, keduanya terkejut dan sadar berada di tempat itu.
"K-kenapa ke tempat ini?!" Tanya Tatsuya.
"I-ini ville dyr." Sahut Shirayuki juga heran, mengapa dia bersama Tatsuya tiba-tiba berpindah ke dimensi ville dyr.
Padahal niat Tatsuya adalah dimensi Knight Lavenda
"Sepertinya ada yang tidak beres." Gumam Tatsuya merasakan aura kegelapan di tempat itu.
•••
"Kita benar-benar dalam masalah ya." Ucap Archia.
"Pastikan kita tidak terpancing oleh emosi sendiri karena iblis itu menginginkan kekuatan kita." Ujar Veno.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak berdiam diri seperti orang bodoh, bukan?" Tanya Zyn.
"Tentu saja tidak, kita tidak tau apa yang dia rencanakan. Jika dia menyerang terlebih dahulu maka yang harus kita lakukan adalah cara menangkisnya." Jawab Veno.
"Terutama busur itu."
"Aku hampir kesulitan menangkisnya." Tambah Zyn.
Merlia daritadi memperhatikan mereka hingga membuatnya penasaran, apa yang sedang dibicarakan oleh mereka. Tapi, Merlia berhasil membaca sesuatu dari gerak-gerik mereka.
"Hmmm...jadi begitu." Gumamnya.
Selagi mereka berbicara, Merlia datang melempar serangan kilat pada mereka.
"Beazer gleam!" Teriaknya menyerukan pukulan kilat hingga ketiga terkejut.
"Ap..!"
Akibat terkejut serangan itu membuat mereka tak sempat menghindar hingga mereka jatuh ambruk ke tanah.
ATTACKKK!!!
Merlia tampak berdiri santai sambil memeriksa kuku-kukunya yang dirawat cantik nan rapi olehnya.
"Ara-ara...hanya sekali pukulan saja, kalian sudah ambrukk."
"Tidak menyenangkan sekali, padahal aku ingin sekali melihat kekuatan pahlawan itu seperti apa." Tambahnya menatap mereka.
"Apa lebih hebat dari ku?" Tanya Merlia terdengar angkuh.
Veno merasa marah mendengarnya, "jangan remehkan kami!"
"Wahai cahaya kecil yang murni, biarkan leluhur suci menyatumu untuk memusnah titik kegelapan!"
"Keluarlah Groza Nifileam!!" Serunya memanggil sesuatu.
Sebuah pedang raksasa biru dibaluti huruf-huruf romawi legendaris memiliki nama alias Groza, salah satu senjata legendaris.
Archia dan Zyn sangat mengenal pedang itu, karena semua pahlawan itu saling mengetahui senjata masing-masing kecuali kekuatan magus milik Hizen yang sama sekali tidak diketahui oleh mereka.
"Groza Nifileam adalah pedang pahlawan suci legendaris, sebelumnya dimiliki seorang dewi pertama bernama Groza."
"Namun, akibat kekuatan nifileam menelan dirinya ke pedang itu. Dia menyerahkan kekuatan pedang itu kepada sang penerus yaitu...pahlawan pedang legendaris." Batin Archia.
"Sial! Pedang ituu...." Raut wajah Merlia sedikit khawatir akan kekuatan pedang itu. Tapi, bagaimana pun itu dia harus melawannya.
"Oi, kau?"
"Aku punya nama tau! Veno Wiliams!" Protes Veno pada Merlia.
"Oooh...Veno? Sepertinya kau memiliki tekad yang luar biasa ya." Balas Merlia.
Hanya sekelip mata, Merlia langsung menyerang Veno dengan busur raksasanya yang ternyata juga mampu mengubah berbagai senjata seperti tombak, pedang, panah dan perisai.
"Doragone piller!"
Serangan begitu cepat, Veno nyaris kesulitan mengendalikan pedangnya menangkis seribu serangan dari Merlia.
"Ini lelucon, kan?! Senjatanya bisa merubah apapun!" Batin Veno kaget.
Dan dua pahlawan itu juga bertarung dengan monster-monster bermata satu. Merlia benar-benar menyiapkan prajuritnya agar menuntaskan rencananya.
SWISHH...
"Lasting glow!" Archia melemparkan anak panah ke tengah area monster itu hingga meledak, sebagian tersapu bersih oleh pahlawan panah.
BAMN!
"Bout Javeline!"
SWOSSHH-SWISSHH
Zyn yang mengayunkan tombaknya sekali ke hadapan puluhan monster itu juga tumbang membelah.
Keduanya berhasil menyapu bersih para monster itu, tetapi tubuh monster terpotong itu menyambung kembali.
"Sial, benar-benar tiada habisnya ya!"
Tentu saja keduanya kesal menghabiskan tenaga hanya karena monster tiada punahnya.
"Wahai langit mengguncang badai dan petir, biarkan kekuatan suci menyatumu menghancurkan kegelapan!"
"Javeline Enraiha!" Seru Zyn memanggil kekuatan yang akhirnya menyatu dengan tombaknya.
Hanya sekali mengayunkan tombaknya monster itu lenyap. Pada akhirnya monster itu tidak kembali lagi.
"Benar-benar membantu, kak Zyn." Sahut Archia terasa bernyawa kembali.
"Terima kasih, sekarang ayo bantu Veno."
"Baik." Keduanya berniat membantu Veno, hanya selangkah saja Merlia menyadarinya.
"Sayang sekali ya..."
Sayang sekali mereka tiba-tiba terjebak kurungan diselimuti tanaman beracun.
"Apa yang...!"
Mereka hilang kesadaran akibat tanaman itu mengikatnya hingga warna mata mereka pudar dan berdiam diri.
Veno juga panik dan terkejut, "Archia! Zyn!"
Merlia tertawa kecil nan licik,
"dua pria tampan ini sangat mudah mematahkannya yaa...." Ucapnya.
"Sial!"
Di tambah lagi, Veno meringis keras pada jantungnya hingga ia batuk berdarah.
"gawat! jantung ku....?!"
Akibat Veno terus menggunakan kekuatan pedangnya Groza, kekuatan itu akan menelannya. Merlia juga tau hal itu akan menimpa pada tubuh Veno.
"Kenapa? Apa kau baik-baik saja, hm....?"
"Nifileam tidak akan bisa menyatu dengan dirimu karena pedang legendaris itu adalah pedang terkutuk." Tambahnya.
"Berisik!!" Seru Veno benar-benar tidak terima disaat seperti ini, dia mengalami kesakitan yang luar biasa.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Merlia mengubah pedang hitamnya menjadi busur kembali, kemudian memasang anak panah ke busurnya.
"Ternyata tiga pahlawan ini benar-benar tidak cocok untukku." Gumamnya sambil membidik anak panahnya ke arah Veno.
"Baiklah, sekarang katakan ucapan terakhirmu, Veno Williams."
Veno tak sanggup bertahan maupun berbuat apa lagi dengan kondisinya ikut melemah.
"Sial! Sial! Sial! apa aku benar-benar berakhir di sini?!"
"Dasar, pahlawan tak berguna!"
Pahlawan pedang itu benar-benar putus asa, tapi kedua matanya terkejut gemetar.
"Tunggu? Pahlawan tak berguna?"
Meski dia sempat mengejek dirinya pahlawan tak berguna, tapi kata itu sempat mengingatkannya pada Hizen. Yang awalnya Veno menganggap Hizen pahlawan tak berguna itu malah juga menimpa dirinya.
"Harusnya aku tidak mengatakan itu."
Dia menyesal apa yang sudah dia katakan pada Hizen, menganggapnya pahlawan tak berguna. Ternyata dirinya jauh tak berguna dibanding Hizen maupun Tatsuya.
"Doragone darknesss!!"
Akhirnya Merlia melepas anak panahnya diselimuti kegelapan mematikan, benda itu melayang secepat kilat ke hadapan Veno.
Tapi saat itu. . . .
"Shield Hero!!" Seru seseorang melindungi Veno dengan perisai besinya hingga anak panah itu hancur.
"A-ap...!" Merlia kaget dan penasaran siapa yang berhasil menangkisnya.
"Dasar bodoh!" Seru suara familiar itu dihadapan Veno.
Kedua mata Veno melebar getar menatap kedatangan dua orang itu, salah satu dari mereka itu adalah pahlawan perisai.
"T-tatsuya?"
"Ternyata kau dan lainnya lebih tak berguna dibandingkan aku dan Hiro." Jawab Tatsuya dingin.
*BERSAMBUNG. . .*
akhirnya up juga, gimana pendapat kalian tentang
chapter ini, di tunggu opininya dan segera tinggalkan jejak.
jika ada kesalahan kata diatas, mohon maaf ya.
terima kasih🙏🙇🙏💕