
_Chapter 22_
The Legendary Of Hero
.
.
.
Tatapan sang ratu jadi lebih dingin, ketika 7 peri itu telah berhasil mengepungnya. Padahal ia ingin menyimpan dua senjata legendaris pada inti Kyouka segera.
"Kalian mengganggu ku."
"Maaf, kami tidak bermaksud mengganggumu Heila-sama. Tapi, ini sudah tanggung jawab kami menjaga benda itu." Sahut Melty.
Mia sempat memperhatikan dua senjata di genggaman Heila.
"Apa benda itu adalah senjata legendaris?" (Mia)
"Jika itu benar, artinya ada hubungan dengan dewi terakhir bukan?" (Suzuki)
Heila sedikit tegang, ia merasakan pertanyaan itu mengganggunya terutama mereka.
Ia kesal sambil melempar serangan yang tak dapat mereka lewati yaitu
Membuat garis perbatasan itu sungguh sulit untuk dilewati para peri karena cahaya hitam adalah kelemahan mereka.
Tapi, mata mereka terbuka curiga melihat kekuatan itu dan bagaimana bisa Heila mampu menggunakannya? Padahal dia adalah ratu Kyouka yang dapat menggunakan kekuatan cahaya suci. Itu mustahil ratu Kyouka bisa menggunakan kekuatan kegelapan.
"Siapa kamu sebenarnya, Heila-sama?" Tanya Jail.
Heila makin tegang dan terdiam. Ia memilih lempar serangan lagi pada mereka.
adalah serangan api kegelapan. Itu cukup membuat para peri sulit menangkisnya.
Salah satunya adalah Sarah tampak tak kuat menahannya dengan perisainya.
"Ggghh...kekuatan ini sangat jauh lebih besar d-d..dan...kebencian sangat tajam..!"
Yang lainya jadi khawatir, Sarah menggunakan kekuatan pelindungnya untuk melindungi semuanya.
"Sarah, kau tidak perlu memaksakan diri..." Melty khawatir.
Tiba-tiba bibir Jail terangkat bahagia,
"Ini kesempatan bagus."
Selagi Sarah menahan serangan Heila itu jadi kesempatan bagus bagi Jail menyerang kembali.
"Taku, aku perlu kau membantu Sarah." (Jail)
Taku sempat protes, tapi itu hanya sebentar.
"Hehhh nyalimu suka perintah ya, Jail...uhmm, baiklah."
Ia melakukan sesuai perintah Jail, memulihkan kekuatan Sarah kembali.
Sarah bahkan tampak terkejut, "e-ehh, kekuatan ku...kembali, terima kasih Taku."
"Yes, sama-sama...mari lakukan bersama."
"Baik!"
Jail lega ini berhasil, sekarang gilirannya menyerang. Tapi, seseorang dibelakangnya menyentuh pundaknya.
"Hei, kau meninggalkan aksi ku." (Megumin)
"Aku khawatir aksimu malah menghancurkan strategi ku." (Jail)
Megumin cemburut, humphh
Tapi Jail tersenyum tipis, "justru di saat seperti ini kau bebas melakukannya."
Mendengar pujian membuat Megumin tampak ceria kembali. "..Baiklah"
Inilah aksi yang di tunggu oleh Megumin, sebuah tongkat panjang muncul ditangannya. Ia mulai mempersiapkan serang balasan yaitu serangan ledakan.
Heila nyaris saja lengah terhadap serangan itu. Untungnya, dia berhasil menghindarinya. Ia coba menyerang sekali lagi, akan tetapi seseorang muncul menghentikan gerakannya.
"..Gghh..!" (Heila)
"Kau harusnya tidak seperti ini." (Suwon)
Itu Suwon berdiri dihadapan Heila, 7 peri merasa lega sang raja datang tepat waktu.
"Syukurlah..." (Sarah)
Mata Heila terbuka lebar menatap wajah Suwon tampak sedih.
"Kenapa?" Tanya Heila.
Suwon tidak menanggapinya, ia malah memeluk erat tubuh Heila. Berada dipelukannya, Heila jatuh pingsan akibat penyakit gibea melumpuhkan kesadarannya.
Tetap saja, raut wajah Suwon tampak sedih.
"Bisakah yang mulia menjelaskan maksud semua ini?" Tanya Jail.
Suwon juga agak ragu menjawab pertanyaan itu. Sebelum itu ia mencoba minta maaf pada mereka.
"Aku benar-benar minta maaf atas perlakuan Heila tadi terhadap kalian."
"Lupakan itu, sekarang jawab pertanyaan Jail." Sahut Melty.
Pada akhirnya, Suwon tidak punya pilihan lain.
"Apa kalian ingat wanita yang di juluki “black queen”?" (Suwon)
"Maksudmu si pembunuh anak perempuan?" Tanya Taku.
"Benar, itu Heila yang melakukannya."
Mendengar jawaban Suwon itu, lantas mereka kaget. "A..a-apa?!"
Suwon membopong Heila berniat kembali ke kastil. Ia tak ingin memperpanjangkan bicara ini.
"Aku pergi dulu."
Namun, langkahnya berhenti menatap ujung pedang familiar tepat di hadapan wajahnya.
"Asuka?"
Suwon tampak biasa akan kehadiran Asuka, dan kali ini wajah Asuka terukir kemarahan. dia menduganya bahwa Asuka telah mengetahuinya atau bisa dibilang ketahuan.
"Aku tidak bisa memaafkan sifat ibu!" (Asuka)
"Itu benar, karena ibu mu setengah iblis." (suwon)
"Alasannya?"
"Ibu mu telah melanggar aturan demi memanggil dewi terakhir."
"Huh..?" Mata Asuka terbuka lebar.
"Untuk apa Heila-sama memanggil dewi terakhir? Padahal dia meminta kami melenyapkan 7 dewi!" Teriak Alysa juga hadir di samping Asuka.
"7 dewi itu adalah hasil eksperimen yang dibangun olehnya. Ia mencari yang asli, siapa dewi sebenarnya. Ia melenyapkannya karena batas usia mereka pendek dan emosinya tak beraturan." (Suwon)
Sosok Hina yang dari awal menyaksikannya dan mendengarnya, ia menangis dan tak tahan setelah tahu kebenaran ibunya. Ia bahkan merasa ketakutan mengingat perbuatannya terhadap sosok Raphtalia.
"Siapa pun di sana...tolong aku...a-aku sangat takut dan sangat ketakutan."
•••
Keesokan harinya, Shirayuki tampak ceria sambil menyiram tanaman bunga dengan rapi di samping jenda rumahnya. Ia bahkan terlihat senang melihat bunga-bunga itu berkelopak mekar.
"Bunga yang indah ya."
Tak lama kemudian, sekumpulan cowok-cowok tampan datang mengetuk pintu halaman depan. Begitu Shirayuki membuka pintunya ia heran.
"E-eh...? A-aanu...cari siapa ya?"
"Apa ini kediaman Tatsuya?" Tanya Lucien.
Shirayuki mengangguk, "Benar."
"B-bisakah kami menemuinya?" Tanya Veno menampakkan diri dihadapan Shirayuki.
Akhirnya Shirayuki sadar akan kehadiran familiar dari salah satunya.
"E-ehhh? Veno? J-jangan bilang kalian adalah..."
Mereka adalah 6 pahlawan yang ingin sekali menemui Tatsuya. Tapi, raut wajah Shirayuki berubah kesal.
"Aku menolak."
Ia menolak dengan menutup pintunya. Namun, sosok tangan Katagaki menahan pintungnya.
"T-tunggu? Ini penting..!" (Katagaki)
"Penting apanya! Yang ada, kalian kemari hanya melecehkan Tatsuya, aku benar-benar tidak bisa memaafkan sifat kalian!"
"Benar-benar jijik!"
Tatsuya muncul dan mendengar kehebohan di luar. Ia heran melihat Shirayuki tampak berusaha merapat pintunya.
Ia berhasil menutup paksa dengan menguncinya.
"Huuffhhh syukurlah..." (Shirayuki)
"Ada apa ini?" Tanya Tatsuya.
Shirayuki hampir jantungnya copot mendengar suara Tatsuya di belakangnya.
"Ee-eh? Aa-a...m-mereka ingin menemuimu."
Tatsuya memiringkan kepalanya tak mengerti, "Mereka?"
Raut wajah Shirayuki layu dan sempat ragu menjawabnya, maka ia menjawabnya dengan nada lesunya.
"Para pahlawan."
"Bagaimana? Apa harus membiarkan mereka masuk menemuimu?" (Shirayuki)
Tatsuya menundukkan wajahnya, "Biarkan saja."
"Tapi...aku khawatir."
Kali ini pendapat Tatsuya berubah, akan menemui mereka.
"Aku baik-baik saja, lagipula aku juga ingin bicara dengan mereka."
Shirayuki tak punya pilihan lain, "Baiklah."
Perlahan-lahan pintunya terbuka menampakkan sosok Shirayuki. Wajahnya tampak gugup dan masih ada rasa kesal.
"K-kalian diperbolehkan m-masuk."
6 pahlawan itu lega mendengarnya,
"Wahhh, syukurlah...terima kasih." (Archia)
Namun, Shirayuki sempat protes, "Tapi, ini bukan berarti aku memaafkan kalian. Jadi, jangan senang dulu."
Mereka hanya bisa tersenyum palsu bercampur pahit.
Kali ini 7 pahlawan telab berkumpul, di antara mereka tidak ada tatapan musuh karena saat ini adalah waktu yang sangat penting membahasnya.
Shirayuki menyediakan beberapa cemilan dan minuman untuk mereka, meski suasana hatinya masih belum membaik.
"Terima kasih.." (Zyn)
Mereka sedikit tidak nyaman dengan sikap Shirayuki tampak jenuh berat.
"Iya, aku akan ke dapur." (Shirayuki)
Begitu Shirayuki ingin segeran meninggalkan ruanhan itu, Tatsuya menarik lengannya,
"kau ikut duduk di samping ku."
"Aku tidak berhak berurusan denganmu maupun mereka." Dingin Shirayuki.
"Justru kaulah yang berhak menentukan jawabannya." (Tatsuya)
Mata keduanya bertemu, perlahan-lahan Shirayuki melihat keyakinan di mata Tatsuya membuat dirinya tak mampu menolak.
"Baiklah."
Shirayuki duduk kembali di samping Tatsuya, sementara lainnya menatap curiga.
"Jangan menatap kami seperti itu." Protes Tatsuya.
"Aaah, tidak juga, kami penasaran hubungan kalian ini seperti apa?" (Veno)
"Apa kalian sudah menikah ya?" (Haku)
"Atau baru tunangan?" (Zyn)
"Pacaran?" (Lucien)
Mendengar pertanyaan mereka lantas membuat wajah Shirayuki merah, entah ekspresi apa yang harus ditunjukkan. Namun, Tatsuya malah merangkul bahu Shirayuki dengan erat.
"Dia calon istri ku." (tatsuya)
"A...a..a-APAAAAA???!!!" yang lainnya kompak terkejut kecuali Katagaki hanya duduk santai menghabiskan tehnya.
Shirayuki protes, "oi, bisakah kalian jangan bertingkah anak kecil? Kapan seriusnya di mulai?!"
Mereka hanya tertawa pahit mendengarnya, ahahahaha...
"Ahahahaha...maafkan kami." (Archia)
Tapi setelah itu, semuanya mulai tampak serius.
"Baiklah, kami akan serius, ehermmm...!" (Veno)
"Sebelum itu, tolong maafkan kami."
6 pahlawan itu menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf sebesar-besarnya atas kesalahan masa lalu mereka terhadap Tatsuya.
"Untungnya aku masih bisa memaafkan kalian, tapi Hiro mungkin jauh lebih sulit memaafkan kalian." Gumam Tatsuya.
"Apa kau mengalami mimpi buruk dewi terakhir itu?" tanya Haku.
"Maksudmu Raphtalia? Tentu saja, semua pahlawan itu juga merasakannya bukan? Walaupun ada yang berbeda diantara para pahlawan."
"E-eh..? Kau juga mengetahuinya?" mereka kaget.
"justru kalianlah sangat lambat mengetahuinya, semenjak digelar sebagai pahlawan, aku dan Hiro sudah mendahului kalian bahkan sejarah dewi inti kyouka." (Tatsuya)
"Berarti tak ada yang perlu dibahas dong." (Archia)
"Ada kok." Sahut Katagaki.
"Bagaimana kabarnya, sang dewi dan si magus itu?"
"Kabar mereka baik-baik saja, jangan terkejut kalau dia jauh lebih kuat daripada kalian. Tapi, yang jadi masalah adalah kondisi sang dewi..." Jawab Tatsuya.
"Sudah ku duga sesuatu sedang terjadi pada sang dewi." (Veno)
"Benar, seseorang telah mengambil semua yang ada pada dirinya kecuali tubuhnya yang tersisa." (Tatsuya)
"T-tidak mungkin, apa ini berarti dia bukan dewi lagi?" (Lucien)
"Dia seperti itu bukan berarti gelar dewinya ditarik. Tapi, mulai pikirannya, isi hatinya, harapan dan kekuatannya itu terkuras habis hanya tersisa tubuh yang tak berdaya bersama jantungnya berdetak sangat lemah." Sahut Shirayuki.
Mereka sulit berkata-kata bahkan bingung harus lakukan apa pada sang dewi.
"Ada satu cara untuk mengembalikannya.." (Shirayuki)
"Kau tau, Shirayuki?" (Tatsuya)
"Dia pernah mengatakannya, jika sesuatu terjadi pada dirinya maka saat itulah aku yang akan membantunya."
"Dan sebelum itu, tolong berdamailah para pahlawan."
Semuanya terdiam satu sama lain mendengar permintaan Shirayuki, dan ada yang tidak terima. Tangan Shirayuki mengepal erat dan tangan Tatsuya muncul menggenggam erat tangannya.
"Itu benar, jika terus menerus seperti maka penderitaan 8 dimensi tidak akan berakhir dengan bahagia." (Tatsuya)
Tak yang berani memberi tanggapan maupun jawaban. Tatsuya dan Shirayuki berharap para pahlawan berdamai secepatnya.
•••
Tampaknya Heila mulai sadarkan diri, ia merasa kepalanya sangat pusing dan sangat sulit mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Di mana aku?...a-apa yang terjadi sebenarnya?"
Sosok gadis kecil rambutnya berpirang merah muncul di sampingnya.
"Apa kau merasa baik kan?"
Heila terlihat kaget melihat sosok itu muncul di kamarnya, lebih tepatnya di samping tempat tidurnya.
"Huh..? S-siapa kau?!"
"Sshhhhh...jangan berisik." Sambil meminta Heila mengecilkan suaranya.
Tapi setelah itu, gadis kecil itu menjawab dengan melebarkan senyumannya.
"Nama ku...Raphtalia, cheessss.."
Ini membuat Heila makin terkejut dan tak percaya ia bertemu dengan Raphtalia kecil. Ia tidak bermimpi kan?
"Jangan sepanik itu, aku kemari hanya karena meminta mu untuk menarik kembali kata-katamu saat itu." Protes Raphtalia.
"Menarik kembali kata-kata ku? Saat itu?" Heran Heila.
Raphtalia kecil menganggukkan, "Benar, imbalan sang dewi. Harusnya kau tidak melakukannya, kau jahat ya Heila-sama."
Heila jadi tegang dan ketakutan, "Siapa kau sebenarnya? Kau tidak mungkin Raphtalia karena setahu ku sifatnya itu sangat lemah."
"Memang faktanya sifat ku lemah, tapi...sosok Raphtalia juga memiliki keberanian yang mampu mengalahkanmu bahkan...
...juga menakutimu." (Raphtalia kecil)
Mata Heila terbuka gemetar, "Huh?"
"Jadi tolong...jangan menyakiti tubuh ku, kembalikan apa yang sudah kau curi dari ku."
Menatap mata Raphtalia sangat memancarkan aura mengerikan hingga membuat Heila tak kuat menahan rasa takutnya.
Ia meraih bantal di sampingnya kemudian melemparnya, Raphtalia tampak santai itu sama sekali tidak mengenainya.
Heila muak dan berteriak, meminta sosok itu pergi.
"Aaaaaggghhhhhh! PERGIII!!! PERGI DARI SINI!!! JANGAN MENGGANGGU KU!!" (Heila)
"Ibu..! Ibu..! Ibu..! Kau baik-baik saja?"
Terdengar suara Hina memanggilnya, Heila akhirnya benar-benar sadar dari tidurnya.
"Huh? H-hina..t-tadi itu m-mimpi?"
Hina khawatir langsung memeluknya. "Syukurlah... Tadi ibu sesak, jadi...aku k-khawatir."
"Aku sesak?"
"Apa maksud mimpi tadi? Terasa seperti nyata, apa sosok itu mencoba membunuh ku?" batinnya.
Mengingat mimpi tadi rasanya membuat sekujur tubuh Heila gemetar.
•••
*BERSAMBUNG*
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN...
GIMANA CHAPTER HARI INI? APA INI BENAR-BENAR MASIH DALAM PERTANYAAN MISTERI?
TETAP SALING MENDUKUNG PARA THOR KU😁😁😁
SEMMANGAT DAN DI TUNGGU CHAPTER BERIKUTNYA MINGGU DEPAN.
TERIMA KASIH