
_chapter 17_
The Legendary Of Hero
.
.
.
{Ashia Douman - pangeran iblis}
Hina tetap saja nekat pergi ke tengah perkotaan Muy king, itu karena dia penasaran pada monster yang menyerang ke tempat itu. Tak disangka hal itu membuatnya terkejut,
"Huh? B-bukankah i-itu..."
"...mythical one-eyed...!"
Monster bernama Mythical one-eyed adalah raksasa mata satu terbesar dan memiliki banyak lidah memakan anak-anak agar kekuatannya bangkit tak terkalahkan.
"Tapi, bukankah monster ini sudah di segel? Siapa yang membebaskannya?"
Meski sebelumnya, enam pahlawan berhasil menyegel tubuh raksasa di gerbang neraka. Tidak menyangka monster itu mudah bebas dari segel terkuat, Hina masih tak percaya hal itu karena baginya tak semudah itu bebas dari segel.
"Tentu saja, aku yang membebaskannya." Sahut seseorang tampak duduk santai di punggung monster mythical one-eyed.
Hina terkejut, kemudian mengerutkan wajahnya penuh tekad amarahnya.
"Ashia Douman..."
"Yoo, lama tidak bertemu, si putri pedang kristal." Sapa pria itu santai, namun bibirnya tersenyum sinis menatap Hina.
Namanya, Ashia Douman alias pangeran iblis yang akan digelari raja iblis. Dia memiliki postur tubuh manusia yang sempurna kecuali dua tanduk iblisnya tak bisa menyempurnakan dirinya itu manusia melainkan iblis.
"Kenapa?"
Sepertinya, ini bukanlah pertemuan awal Hina dan calon raja iblis. Dia ingin tau, alasan mengapa raja iblis menyerang ke tempat zona hijau.
"Yah...itu karena mycthical-kun ku ini mencium darah manis di sini."
Monster itu terus mencari pemilik darah suci dengan mengambil satu-persatu anak. Tetapi, memiliki tubuh besar itu sulitlah menemukan pemiliknya. Maka dari itu, anak-anak yang sudah tertelan ditubuhnya menjadi monster kecil ikut membantu induknya.
"Darah suci, aku mau darah suci..."
"Huh? Ti-tidak mungkin, monster itu....!"
Hina berpikir sejenak, "Darah suci...memangnya siapa yang memiliki darah itu?!"
Dia bahkan tidak terlalu mengetahui pemilik darah suci maupun tentang dewi. Dia hanya berpikir dewi itu adalah senjatanya pahlawan.
Sosok Hizen akhirnya muncul juga, kemudian menemukan Hina sedang bertatap muka dengan Achia Douman.
"Hina-chan?"
"Tadahiro-sama?! Sedang apa kau kemari?!"
"Aku khawatir sesuatu terjadi denganmu."
"Bagaimana dengan Raphtalia?"
"Aku mengandalkan pada mereka."
"Mereka...? Maksudmu, Khalty dan Vanus-sama?"
Hizen membenarkannya, dia tidak terlalu terkejut bertemu dengan Ashia Douman, walaupun sudah lama tidak bertemu.
"Sudah ku duga ini perbuatanmu, Ashia Douman...tidak, tapi calon raja iblis."
"Kemana gadis itu bersamamu? Kau menyembunyikannya?"
Bukannya menjawab, Hizen mencoba pastikan sesuatu yang dia pikirkan.
"Apa ini kebetulan saja? Mythical one-eyed terlepas kendali hanya karena aroma darah Raphtalia. Tapi, bukankah keberadaannya sangatlah berbahaya?"
Douman menegurnya dengan melempar serangan kilat bertubi-tubi.
"Jio destroyer."
Hizen dan Hina berhasil menghindarinya. "Kekuatannya jauh lebih kuat." Keluh Hina.
"Namanya juga calon raja iblis, tapi...ini belum seberapa."
"Oi, kau belum menjawab pertanyaan ku!" Seru Douman.
Bibir Hizen tersenyum, "maaf ya, bukannya aku tidak bisa menjawab. Tapi, aku tidak bisa mengatakannya dengan mudah."
"Kalau begitu, aku akan membuatmu untuk mengatakannya, Hiro-kun." Douman melebarkan senyum jahatnya.
"Tidak akan ku biarkan!" Seru Hina juga mengeluarkan pedang besar birunya.
"Wahai leluhur suci dengan aliran air, es, api, tanah dan petir, jangan biarkan kegelapan menghancurkan cahaya biru ini, tolong bantu kekuatan suci melenyapkan kegelapan."
"Sanctuary Graze!"
Dia mengangkat pedangnya ke arah langit hingga pedangnya menerima kekuatan besar. Tak hanya itu, sinaran pedang itu membuat mata monster itu kepanasan. Sementara Douman berusaha waspada terhadap di sekelilingnya karena sadar, Sanctuary Graze adalah serangan ilusi tersembunyi.
"Menarik juga." Ucapnya.
•••
Tatsuya bersama Shirayuki dan tiga pahlawan kembali ke Kyouka setelah menghadapi gelombang kedua yang ternyata belum tuntas. Tapi, raut wajah Shirayuki kesal menatap Archia dan Zyn.
"Hei, Tatsuya, kenapa kau begitu baik sekali pada mereka? Padahal Zyn pernah melukai Raphtalia dan Archia juga pernah menggangu mu, bukan?"
"Aku tau itu, tapi...kok terasa canggung ya."
Keduanya saling berbisik, meski suasana agak canggung. Veno dan lainnya juga sadar akan hal itu, mereka tidak enak hati mengatakan terima kasih karena sudah membantunya. Akibat masa lalu menghambatnya, suasana jadi semakin canggung.
Tatsuya menghela nafas panjang, "huhfhh...sebaiknya ayo kita pergi, Shirayuki."
"Tunggu...!" Tahan Veno.
"Hm?"
"Bagaimana ya, a-anu...terima kasih."
Mendengar ucapan Veno sangatlah singkat membuat Shirayuki terganggu. Saking terganggu, dia menampar wajah tiga pahlawan itu.
Tentu saja mereka terkejut.
"Shirayuki?!" Tatsuya ikut terkejut.
"Sampai kapan kalian harus bermusuh seperti ini!...."
"Sampai kapan, hah?! Hanya karena Tatsuya dan Hiro tidak berguna!..."
"Aku muak perselisihan bodoh ini!"
"Jika perselisihan ini tidak berakhir maka perang juga tak akan berakhir!"
Shirayuki benar-benar melepaskan kemarahannya pada mereka.
"Jika kalian itu pahlawan, buktikan bahwa kalian bisa kerjasama satu sama lain!"
"Ayo pergi, Tatsuya."
Tiga pahlawan itu membiarkan mereka pergi, tapi raut wajah mereka terasa menyedihkan.
"Ku rasa ucapannya benar." Sahut Zyn mengingat perbuatan kejamnya pada Raphtalia.
Begitu juga dengan Archia mengingat perbuatannya terhadap Hizen dan Raphtalia di Ville dyr.
"Mari perbaiki semuanya, aku merasa ada yang jangkal dari permasalahan ini." Ucap Archia.
"Aku tau itu."
"Syukurlah kalian menyadarinya." Sahut peri perisai alias Jail yang ternyata mendengar pembicaraan mereka dengan Tatsuya dan Shirayuki.
"J-jail? K-kau menguping ya....?" Tanya Veno curiga.
"Yahh begitulah, Veno-sama."
"Aku mengetahui kebenaran yang sudah lama tersembunyi dari masalah itu. Tapi, aku kurang yakin, apa kalian benar-benar mempercayainya."
"Yahh...ku rasa ini tidak membuat kalian terkejut."
"Sepertinya kau tau banyak hal, Jail." Ucap Zyn.
Bibir jail tersenyum damai nan santai. "yahhh begitulah...."
•••
Di kediaman istana Glory Kyouka alias kediaman sang ibunda ratu Kyouka yang tepatnya berada di ujung kota Muy king. Seseorang sedang berdiri disamping jendela itu menyaksikan cahaya biru dari kejauhan memancar ke langit.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya khawatir pada seseorang.
"Heila-sama?" Panggil seorang maid masuk ke kamar sang ratu.
"Sepertinya sesuatu terjadi di kota muy king."
"Muy king? Baru pertama kali, aku mendengar kota terdamai itu diserang, alasannya?"
"Ada seorang dewi hingga aroma darahnya menarik monster ke tempat itu."
"Hmm...seorang dewi?"
"Kalau begitu, siapkan tongkatku. Aku merasakan keberadaan putri ku sedang berada di zona merah."
"Dimengerti."
Namanya Heila lizeray, seorang ratu Kyouka. Dia juga memiliki kekuasaan beberapa kota dan dimensi seperti, Muy king, Ville dyr dan knigh lavenda. Akhir-akhir dia jarang mendengar kabar pusat kerajaan Kyouka, semenjak dia menghidapi penyakit gibea, salah satu penyakit ringan yaitu tubuhnya cepat melemah hanya memikirkan satu masalah.
Alasan dia terpisah dengan raja Siwon itu karena tanggungjawab kekuasaan dari delapan dimensi. Tapi, Heila sedikit kecewa bahwa tidak ada yang memberitahunya kedatangan delapan pahlawan. Benar-benar tidak adil.
"Ini tongkatnya, Heila-sama." Seorang maid telah tiba membawakan tongkat sang ratu sesuai atas perintahnya.
"Terima kasih, aku pergi dulu."
"Baik, hati-hati Heila-sama."
Setelah pamit pada si pelayan khususnya, dia berteleport ke tengah serangan monster.
Vanus dan Khalty belum menyadari kehebohan di luar karena keduanya sangat fokus menyelesaikan operasi varanium salah satu kaki Raphtalia.
"Sepertinya operasi varanium berjalan dengan baik, vanus-sama."
"Yahh ku rasa begitu, ini pertama kalinya sangat mudah bagiku menjalaninya...."
"Apa itu karena aku terlalu semangat?"
"Tidak, itu karena Lia-sama seorang dewi hingga membuatmu mudah melakukannya."
"Sepertinya kau sudah akrab dengannya."
"Benar, kau juga."
Operasinya berjalan dengan baik, akan tetapi salah satu monster menemukan mereka.
"Aku menemukannya."
"Ap...?!"
"Mythical One-Eyed?!"
Mereka kaget dan sadar bahwa anak-anak monster Mythical one-eyed sedang berkeliaran mencari pemilik darah suci dan tentunya mereka menemukannya.
"Gawat...! Itu karena Raph-kun."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Vanus-sama?"
"Tolong buat jalan untukku agar keberadaannya tetap aman."
"Siap dilaksanakan!"
Khatly keluar dari tempat itu, siap melaksanakan perintah Vanus agar membuka jalan untuknnya. Karena situasi saat ini, tempat itu dikerumuti oleh monster mungil tapi menjijikan.
"Sial! Kenapa harus sekarang? Tapi...kesadarannya masih belum stabil akibat stamina tubuhnya melemah, aku khawatir ini tidak sesuai dugaan ku."
Tak disangka Vanus secemas ini melihat kondisi Raphtalia yang baru saja selesai di operasi, itu artinya kehidupannya berada diantara hidup dan mati.
Vanus menggendongnya sambil menutup tubuh Raphtalia dengan jubah pelindung agar aroma darahnya tidak dapat dilacak oleh monster.
"Dishelved harves..."
Dengan memajukan kedua tangannya, Khalty membuka kekuatannya, yaitu gerbang pukulan pertama Dishelved Harves
"Frazzle...!" (hancurkan)
Hanya sekali pukulan dari kedua kepalan tangannya dibungkusi oleh sarung tangan putih ke pusat tanah, para monster tadi mengepungnya itu ditenggelamkan ke tanah hingga hancur berkeping-keping.
"Vanus-sama! Aku sudah membuka jalannya."
"Bagus! Ayo pergi."
"Baik."
•••
Selagi cahaya biru Sanctuary Graze masih bersinar ke langit, Douman tetap menghindari serangan ilusi tersembunyi dari Hina.
"Ini terlalu sulit membangkitkan kekuatan ini, tapi...kenapa...?!"
"Kenapa dia semudah itu menghindarinya? Bikin kesal saja...!"
Selagi Douman terahlikan serangan Hina, Hizen sadar bahwa anak-anak monster itu berlari ke arah lokasi Raphtalia bersama Vanus dan Khalty.
"Raphtalia...?!"
Hina semakin lelah menahan pedangnya hingga perlahan-lahan cahaya di kelilingi Douman itu makin memudar.
"Sial...kekuatanku tidak bisa bertahan lebih lama."
"Heeee? Kelelahan kah? Kalau begitu...."
Dan itu kesempatan emas Douman menyerang Hina, dengan bola api.
"Vigour fire!"
Tapi....
"Steel armor...!"
"Cukup sampai disini, Ashia Douman!" Teriak seseorang membatalkan serangan Douman.
Melihat kedatangan seseorang itu, membuat Hizen dan Hina terdiam sejenak.
"I-ibu?!" Kaget Hina.
"Herlia-sama? Jadi...anda menyadarinya?" Sepertinya Hizen tampak santai menanti kedatangan orang itu.
"Tentu saja, seorang ibu juga bisa merasakan perasaan anaknya loo."
Gadis anggun bergaun ungu gelap dengan mahkota emas dikepalanya dengan tongkat kuningnya adalah seorang ratu Kyouka, Heila lizeray alias sang ibundanya Hina Lizeray.
"Aku tau itu." Jawab Hizen dingin.
Heila menyapa seram pada Douman, "Yo, Douman? Kau tidak perlu menghebohkan suasana seolah kau sedang berkuasa ditempat ini, benar-benar tidak sopan ya..."
"Urusan kita belum selesai loo." Sambil tersenyum dingin menatap tajam pada Douman.
Douman ikut tersenyum penuh ide berlilian,
"Kalau begitu...."
"...mari selesaikan, aku jadi makin tertarik loo."
Tanpa membuang waktu, Heila dan Douman berpindah tempat bertarung agar lebih mudah bergerak di tempat yang luas.
"Ibu?"
Hina khawatir dan berniat ikut dengannya, Hizen cepat mencegahnya pergi.
"Tidak, Hina-chan. Kau harus tetap tenang dan serahkan semuanya pada ibumu."
"Tapi...!"
"Saat ini, kita harus melenyapkan para monster itu...."
"Sepertinya mereka masih mengejar Raphtalia."
Hina akhirnya mengetahui penyebabnya yaitu Raphtalia memiliki darah murni hingga memanggil monster menyerang tempat itu.
"Ini tidak main-main...bukan?"
Raut wajahnya kesal dan kedua tangannya ikut mengepal erat.
"Aku tidak ingin kau membuat masalah dengannya hanya karena kota ini hancur akibatnya, mengerti?"
Ternyata Hizen mudah membaca gerak-gerik wajah Hina. Hina tak punya pilihan lain itu meminta maaf.
"Maaf." Singkatnya.
Sikap Hizen tampak dingin membuat Hina merasa dirinya dikucilkan.
"Bodoh!"
•••
Raphtalia akhirnya sadar dan terkejut berada dipangkuan Vanus.
"Syukurlah kau sadar..."
"A-apa yang terjadi?"
"Begitu operasinya selesai, kau sedang dalam bahaya karena darahmu."
Raphtalia terdiam sejenak, "tapi...dimana Hizen?"
"Tenang saja, dia meminta ku untuk mengandalkan kami."
"Kami akan melindungimu dengan cara apa pun."
Vanus dan Khalty berusaha menenangkan Raphtalia agar tidak mencemaskan Hizen dan Hina. Mereka benar-benar berlari ke zona teraman, tampaknya para monster tidak muncul.
"Sepertinya ini sudah tempat teraman." Ucap Khalty.
Mereka bersembunyi di Goa kecil, lalu Vanus memasang mantra pelindung agar monster tidak dapat masuk ke tempat persembunyiannya.
"Kau harus istirahat, Lia-chan." Sahut Khalty pada Raphtalia.
"Iya, lagipula aku merasa ma...."
Raphtalia jatuh pingsan lagi akibat stamina tubuhnya masih belum stabil.
"Lia-chan?!"
Vanus dan Khalty panik karena tak sempat ambil beberapa pengobatan untuk Raphtalia.
"Aku tidak tau, kalau tubuhnya selemah ini. Ternyata hanya matanyalah asal tekad itu."
"Jadi...apa yang harus kita lakukan, Vanus-sama?"
"Entahlah, sampai situasi aman dan Hizen benar-benar kembali."
"Jika dibiarkan seperti ini maka tiada peluang mengakhiri serangan malapetaka...."
"Hanya dia satu-satunya harapan Kyouka."
Khalty ikut sedih mendengarnya, "Aku tau itu, meski sebelumnya para dewi tewas hanya karena mereka memperlakukannya dengan kasar."
Keduanya menatap matahari akan segera terbenam.
"Yari-yari, tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu." Ucap Vanus.
Mereka berharap Hizen dan Hina secepatnya kembali, sebelum waktu akan habis.
"Bertahanlah, Raph-kun."
•••
*BERSAMBUNG. . .*