
_***chapter 12 _
The Legendary Of Hero***
.
.
.
Asuka benar-benar kesal melihat Shirayuki menghalanginya untuk mengejar Hizen bersama Raphtalia.
"Cih! Kau benar-benar menghalangi ku saja!"
Dengan tegas, Shirayuki mempersiapkan semua kekuatannya agar Asuka tidak akan mengejar mereka.
"Aku tidak bisa membiarkanmu mengejar mereka maupun menyakitinya."
"Kau itu bukan siapa-siapanya Tada-kun, lagi pula kau ini siapa? Datang-datang sok pahlawan, mau cari mati kah?" Tanya Asuka.
"Shirayuki, itu nama ku!" Jawab Shirayuki meninggikan nadanya.
Bibir Asuka tersenyum sinis, "Hoh? Shirayuki, nama yang begitu tajam seperti pedang pengecutmu."
Shirayuki marah mendengar Asuka menganggapnya pengecut.
"Jangan katakan aku ini pengecut!"
Saking amarahnya meledak, dia mengangkat pedangnya. Kemudian menebasnya ke arah Asuka dengan mantra kecil Shirayuki.
"Wind power!!"
Tebasan angin setipis lidi itu ternyata tak mampu menebas tongkat milik Asuka.
Tentu saja, dia tersenyum menang.
"Ara-ara, sayang sekali. Eraze crystal" Sambil menyerangnya kembali dengan mantra pembekuan.
"Huh? Pedang ku?!" Shirayuki panik melihat pedangnya begitu berat dan beku, dia tak bisa menstabilkan pedangnya.
Asuka merasa dirinya benar-benar menang, kemudian menyerukan serangan kilat pada Shirayuki.
"Eraze Fire!!"
"Huh?" Shirayuki sempat panik melihat dirinya tak bisa lari dari serangan Asuka.
"Shield hero!" Suara tak asing memanggil mantra perisai besi anti api itu berhasil melindungi Shirayuki dari serangan.
Hingga Asuka kaget melihat perisai besi anti api menyelimuti Shirayuki.
"Apa?! Tidak bekerja?"
Shirayuki juga terkejut.
"Huh? Apa yang terjadi? Pelindung ini...Tatsuya-kun?"
Tapi, setelah melihat perisai itu. Dia benar-benar sadar bahwa orang yang melindunginya adalah Tatsuya.
"Kau baik-baik saja, Shirayuki?" Tanya Tatsuya berdiri disamping Shirayuki, kemudian mengambil perisainya.
"Aku benar-benar terselamatkan, terima kasih." Jawab Shirayuki lega Tatsuya datang diwaktu yang tepat.
Pedang Shirayuki tampak normal kembali, Asuka tidak menyangka malam itu dia bertemu dua pahlawan tak berguna.
"Benar-benar informasi menarik ya." Sahut Asuka tersenyum sinis yang kemudian menghilang dan meninggalkan suara bergema membuat Tatsuya terganggu.
"Sampai bertemu lagi, pahlawan tidak berguna."
Tatsuya mengepal erat kedua tangannya, hampir saja dia tenggelam oleh amarahnya. Tapi melihat Shirayuki disampingnya membuat Tatsuya tenang kembali.
Tapi, Shirayuki kaget hingga pipinya memerah berat melihat Tatsuya tiba-tiba memeluknya.
"T-tatsuya-kun?"
"Tadi itu hampir saja." Sahut Tatsuya menyembunyikan wajah kesedihannya agar Shirayuki tidak menyadarinya.
"Maafkan aku." Balas singkat dari Shirayuki.
•••
Dan Hizen sedang berusaha mengembalikan kesadaran Raphtalia dengan kekuatan magusnya.
"Curer maguze!"
Sebelumnya dia sempat terkejut menyadari denyut nadi Raphtalia mendadak hilang. Meski tubuh gadis itu sebersih air tanpa noda, tapi jantungnya tak berdetak. Saat ini Hizen terus berusaha dan berusaha membangunkan Raphtalia.
"Raphtalia?! Raphtalia?! Oi, sadarlah!" Serunya.
Dia benar-benar marah sambil menumbangkan salah satu pohon dengan sekali pukulan. AAAARRGHHHHH!
"Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa melakukannya?! Apa kekuatan ku tidak cukup untuk mengembalikannya? Sial!!"
Dia hampir menyerah, dan perlahan-lahan kedua matanya membulat sadar menatap kondisi Raphtalia yang rapuh itu hingga sesuatu datang mengingatkannya.
"Lengan kirinya?"
Melihat lengan kiri Raphtalia yang hilang itu membuat Hizen sadar bahwa lengan kiri gadis itulah penyebab denyut nadinya tidak bisa kembali. Maka dari itu, Hizen masih punya cara untuk mengembalikan lengan kiri Raphtalia.
Dengan kekuatan magus Hizen, dia berharap kekuatannya akan membuahkan hasil.
"Ku mohon, Raphtalia...sadarlah, aku sangat membutuhkanmu."
Secara perlahan-lahan lengan kiri Raphtalia kembali, namun Hizen kecewa berat dengan hasilnya hanyalah terbawa sia-sia.
Gadis itu masih tidak menyadarkan diri, Hizen putus asa tak tau harus apa lagi untuk membangunkan Raphtalia.
"Maafkan aku...." Isak tangisnya benar-benar putus asa.
"Maafkan aku, Raphtalia."
Sebuah tangan mungil nan lembut itu menyentuh salah satu pipi Hizen membuat suara tangisnya berhenti. Kemudian, menatap orang yang menyentuh wajahnya hingga wajahnya terukir bahagia dan lega.
"Kau mengembalikan tangan ku." Ucap Raphtalia menatapnya sambil mengusap wajah Hizen dengan kedua tangan lembutnya.
"Syukurlah...syukurlah, Raphtalia."
Bibir Raphtalia tersenyum lembut, "aku adalah perisaimu, maka dari itu izinkan aku mendengar suara penderitaanmu, Hizen."
"Iya."
"Dan tidak perlu menyembunyikan hatimu yang rapuh dari ku."
"Iya."
"Aku hanya ingin menuntaskan tugasku yaitu mempersatukanmu dengan kekuatan ku."
"Iya."
"Sekali lagi maafkan aku karena tidak bisa melindungimu, meski kau adalah perisai ku, tapi aku sudah gagal menjaga perisai ku." Isak Hizen memeluk Raphtalia.
"Kau tau...aku sangat takut, setiap hari ketakutan itu terus melukai ku..." Balas Raphtalia ikut menangis.
"Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan tanpa dirimu, Hizen." Tambahnya.
"Maka dari itu...t-tolong maafkan aku." ujar Hizen.
•••
Kediaman Istana Kyouka, Jail tampaknya kembali ke aula. Namun, kehadirannya malah dicurigai oleh para peri. Suasanapun ikut jadi tidak nyaman menyadari tatapan iblis sedang tertuju ke arah Jail.
"Tatapan macam apa itu." Protes Jail berusaha berwajah tenang.
"Kami mencurigaimu." Sahut Alysa.
"Apa?" Tanya Jail.
"Saat gadis berkaki satu itu kabur, kami sedang mencarinya dan hanya kaulah yang tersisa tidak bersama kami. Apa kau pelakunya?" Curiga Alysa.
Dengan santainya, Jail menjitak kepala Alysa. "Aduh!"
"Aku ini kakak tertuamu, jadi jangan seenaknya bicara sembarangan, mengerti?"
"Tapi tidak usah pake jitak segala kali!" Protes Alysa.
"Aku bersama Katagaki-sama." Balas Jail singkat nan jelas.
"Kami pikir kau menghilang karena alasan lain." Sahut Mia.
"Jangan salah paham, sebagai perinya pahlawan harus saling mempercayai satu sama lain."
"Lalu, apa gadis itu ditemukan?" Tanya Melty.
"Ku rasa tidak."
"Syukurlah, alangkah baiknya dia pergi daripada dia harus menanggung rasa sakit tuannya."
Mendengar Melty yang peduli gadis dewi itu, Alysa protes.
"Apa-apaan bicaramu!"
"Gadis itu memang pantas mendapatkannya." Tambahnya.
Dengan cepat, Jail menegurnya."Alysa, gadis itu adalah onikirimaru senjata legendaris. Tidak hanya itu, dia adalah pusat kerajaan ini."
Megumin ikut menjawab, tapi jawabannya malah membuat Jail makin kesal.
"Memangnya kau tau darimana? Apa kau sedang merangkum karena itukan hobimu."
"Aku serius tauuu!!
Jail memperlihatkan selembar dari buku yang ia dapatkan dari Raphtalia pada yang lainnya. Alysa tidak percaya itu malah merobeknya.
"Ini tidak terlalu penting untukku." Dinginnya.
Tentu saja, Jail marah besar melihat kertasnya dirobek oleh Alysa.
"Oi, kau merobeknya!" Serunya.
"Aku tidak peduli." Dingin Alysa kemudian meninggalkan aula peri.
Suzuki menenangkan Jail yang dilanda rasa kesal.
"Tenang saja, aku akan memperbaiki kertasnya."
Jail sedikit terkejut nan kagum, "Suzuki?"
"Kau sudah menerjemahkan kertas ini, bukan?" Tebak Suzuki.
"Bagaimana kau tau?"
"Karena seorang peri tak mungkin mengerti tulisan romawi kecuali dewi itu."
Suzuki melebarkan senyumannya penuh jawaban, bahwa dia sudah tau rencana Jail sebelumnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Taku.
"Hanya membicarakan kertas ini." Jawab Suzuki dengan wajahn yang tenang sekali.
"Apa kertas itu penting bagimu, Jail?" Tanya Sarah.
Jail menganggukkan kepalanya, dia berharap Suzuki menjaga rahasianya.
"Tenang saja." Bisik Suzuki disampingnya.
•••
Malam masih berlanjut, Hina merasa kesepian harus menunggu kepulangan Hizen,Tatsuya dan Shirayuki.
"Apa mereka baik-baik saja disana?" Gumamnya sedikit khawatir.
Tak lama kemudian, Tatsuya dan Shirayuki muncul dengan sihir teleport.
"Syukurlah, dimana Tadahiro-sama?" Tanya Hina tidak melihat sosok Hizen bersama mereka.
"Eh? Dia belum kembali." Sadar Shirayuki.
"Ku rasa dia akan datang sebentar lagi." Tebak Tatsuya.
Sosok Hizen akhirnya juga kembali sambil menggendong Raphtalia membuat Shirayuki dan Tatsuya senang. Dan Hina hanya bisa terkejut lalu cemberut.
"Shirayuki? Tatsuya...aku kembali." Ucap Raphtalia menyapa mereka. Kemudian Hizen menurunkannya.
Mereka menghampiri Raphtalia, "tanganmu?" Tanya Tatsuya sedikit terkejut melihat tangan Raphtalia kembali.
Raphtalia dengan senang hati itu menjawab,
"Hizen yang melakukannya."
"Syukurlah...." Ucap Shirayuki memeluk erat pada Raphtalia.
"Kau tau, aku sangat mencemaskanmu apalagi saat itu...saat mereka menyakitimu." Tambahnya.
"Jadi...kau melihatnya." Tebak Raphtalia.
Shirayuki membenarkannya bahwa dia sempat menyaksikan kejadiam harinm itu.
"Maaf, saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku, Raphtalia."
"Semua itu sudah dilewati, tidak yang bisa mengulang hal itu, kecuali kau mengakui kesalahanmu." Balas Raphtalia.
"Tapi kau memaafkan ku, bukan?"
Raphtalia melebarkan senyumnya. "Tentu saja."
Lalu, matanya tertuju menatap Hina masih berdiam disana. "Dia...siapa?"
"Ooh, dia...sebaiknya kau kenalan saja sama dia." Jawab Hizen mendekatinya.
"Dia orang baik kok." Tambahnya sambil menepuk lembut bahu Raphtalia.
"Baik."
Mereka membiarkan Raphtalia bicara dengan Hina,
"a-anu...n-namaku...."
Hina dengan cepat itu menjawab, "Raphtalia, bukan? Aku sudah mendengar tentang mu dari Shirayuki, kau seorang dewi yang memiliki senjata legendaris."
"Panggil nama ku, Hina kekasih dari tuanmu." Tambahnya dengan melebarkan wajah senangnya.
"Huh? K-kekasih?" Gumam Raphtalia sedikit terdiam mendengarnya.
"I-tu benar, bukan?" Tanya Raphtalia pada mereka, namun Tatsuya dan Shirayuki berpura-pura menghindar dengan alasan tidak tau.
Saat tatapan Raphtalia tertuju ke arah Hizen,
"eh? ahahahaha...itu ya...." Hizen jadi ragu menjawabnya itu berusaha menenangkan dirinya. Dia sempat khawatir akan melukai Raphtalia.
"B-benar." Jawabnya.
Mendengar jawaban itu, Raphtalia mematung sejenak. Kemudian, melebarkan wajah cerianya menatap Hina.
"Jadi begitu ya, syukurlahh...." Ujarnya lantas membuat Hizen khawatir.
Tak lama kemudian, Raphtalia memilih pamit dengan alasan ingin istirahat.
"Kalau begitu, aku ingin istirahat." Sahutnya.
"Aku akan menemanimu." Sahut Shirayuki.
"O-oke."
Hizen tidak bisa menjelaskan hubungannya dengan Hina pada Raphtalia, dia yakin Raphtalia merasa terluka jika ada seseorang telah memilikinya selain Raphtalia.
"Mungkin sebaiknya dia tenangkan diri."
Diam-diam Tatsuya membisiknya. "Andai saja kau tidak membawa Hina bersamamu."
"Yahh, mau gimana lagi."
"Kau harus bertanggung jawab!"
"Eh? Aku?!"
Tatsuya cepat-cepat meninggalkan Hizen dan Hina berdua disana.
"Apa itu benar?" Tanya Hina.
"Hm?"
"Apa dia adalah dewi berhargamu yang kau maksudkan?" Tanya Hina mencoba memastikannya lagi.
Hizen jadi sulit menjawabnya bahkan tidak nyaman harus berkata jujur.
"Hina-chan, itu...ya benar sih."
"Lebih dari ku?" Tanya Hina menatapnya.
"Aku tidak tau, tapi...mungkin lebih dari mu." Jawaban Hizen malah membuat Hina kecewa.
"Apa karena dia putri dari kerajaanmu?" Tebak Hina.
"Ku rasa mereka memberitahumu ya." Hizen sudah menduga Tatsuya dan Shirayuki sempat menceritakannya pada Hina.
"Tidak apa-apa, yang penting kau juga harus peduli padaku." Balas Hina berdiri dihadapan Hizen.
"Terima kasih, tolong maafkan aku jika akhir-akhir ini sempat melukaimu." Ucap Hizen sambil mengusap pipi lembut Hina agar gadis itu tetap tenang.
Hina yang wajahnya dipenuhi mawar itu, tampaknya tenangn nan bahagia, tapi...
"Aku baik-baik saja. Sampai tiba waktunya, aku ingin kita berdua pulang ke rumah." Harapnya sambil memegang salah satu tangan Hizen menyentuh pipinya.
"Baiklah."
•••
Sementara itu, Raphtalia tidak bisa tidur dengan tenang hingga Shirayuki ikut terbangun.
"Kau tidak bisa tidur ya?" Tanya Shirayuki.
"Ya, aku tidak tau tiba-tiba sesuatu mengganggu ku. Meskipun aku berusaha tidak memikirkannya, tapi itu sungguh mengganggu ku."
"Apa karena Hina?" Tebak Shirayuki.
"Uhmm...mungkin." Jawab Raphtalia dengan nada yang lesu.
"Dia adalah seorang putri kedua Kyouka alias pewaris takhta Kyouka selanjutnya." Balas Shirayuki.
"Apa kau sedang jatuh cinta dengannya ya?" Tebaknya malah membuat wajah Raphtalia memerah berat.
"Eh?! Tidak kok!" Kaget Raphtalia menyembunyikan wajah malunya.
"Tapi wajahmu sudah terjawab loo." Shirayuki begitu mudah menebak wajah Raphtalia yang begitu pemalu.
Raphtalia menyerah dengan membuang nafas,
"Hufh, entahlah... Aku hanya merasa pernah melihat wajahnya, tapi aku tidak begitu ingat karena berada di tempat ini aku benar-benar melupakan sesuatu kecuali perang akhir itu." Sahutnya.
"Kau serius tidak mengingatnya, tapi Hiro mengingatmu loo. Katanya kau adalah putri kerajaannya dan dia adalah prajurit khusus untukmu." Ujar Shirayuki.
"Huh?"
Raphtalia jadi tidak mengerti, apa yang dibicarakan sebenarnya oleh Shirayuki. Namun, Shirayuki memintanya tidak terlalu memikirkannya.
"Jangan terlalu memikirkannya, kau harus istirahat."
"Baiklah."
Shirayuki kembali tempat tidurnya kembali dan membiarkan Raphtalia duduk sendirian agar dia bisa tenangkan pikirannya.
Raphtalia dengan wajah harapan nan kagum itu menatap langit dipenuhi kelipan yang indah.
"Padahal aku sudah bertekad akan menyatukan onikirimaru milikku padanya. Tapi...entah mengapa gadis bernama Hina membuat ku terganggu, seolah menghalangi ku."
"Karena dia kekasih Hizen, aku tidak keberatan. Akan ku usahakan Onikirimaru tidak membuat diriku tenggelam oleh perasaan ku sendiri."
Dia memutuskan tidak akan ikut campur urusan Hizen bersama Hina. Tapi dia khawatir, jika Onikirimaru akan mengganggunya.
"Ooya, ngomong-ngomong Hina kemana? Ku pikir dia ke sini." Gumamnya tidak melihat sosok Hina di tempat tidur.
Maka dari itu, dia mencarinya. Akan tetapi, kedua matanya membulat terkejut hingga pipinya memerah berat lagi melihat Hizen tidur bersama Hina.
"Eeehhhhhh???!!"
Melihat Hina tenggelam alam tidurnya itu memeluk lengan Hizen. Raphtalia jadi malu dan tidak nyaman melihatnya.
"Kyaaaaa!! Harusnya aku tidak ke sini!"
Tak lama kemudian, kedua mata Raphtalia terbuka lebar kaget merasakan sesuatu yang mengikat jantungnya hingga membuatnya kesakitan.
"A-apa yang terjadi? J-jantung ku?"
AAAGHH!
Ini pertama kali Raphtalia merasakan sakit yang luar biasa itu pada jantungnya. Dia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, semuanya tertidur. Tidak ada siapapun disana mencoba melukainya, tidak mungkin Shirayuki, Tatsuya, Hina dan Hizen. Lantas mengapa jantungnya tiba-tiba sakit?
Tubuhnya terbaring ke tanah dengan kondisi yang lemah.
"apa yang sebenarnya terjadi?!"
*BERSAMBUNG . . .*