The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Cahaya Rembulan



The Legendary Of Hero


.


.


.



"Hiro?"


"Tatsuya?"


Saat ini, pahlawan magus dan perisai telah bertemu di dunia half-human yang sebelumnya musnah akibat gelombang malapetaka pertama.


Raphtalia disamping Hizen ikut memperhatikan pria yang disebut namanya oleh tuannya. Dia sudah menduga bahwa pria itu adalah pahlawan perisai. Jadi tidak perlu bertanya pada tuannya karena melihatnya saja mudah ditebak. "Pahlawan perisai?"


Tidak hanya Raphtalia, gadis disamping Tatsuya juga memperhatikan dua orang yang berhadapan dengan tuannya.


"Kau mengenalnya?" Tanya Shirayuki.


Tatsuya membenarkannya, "dia teman 8 tahun lalu."


"8 tahun lalu?" Mungkin bagi Shirayuki cukup mengherankan setelah mendengar jawaban Tatsuya karena mengenal teman 8 tahun lalu itu, bukankah itu terlalu sulit mengingatnya? Tak disangka Tatsuya masih mengingatnya meski teman 8 tahun lalu.


"Lama tidak bertemu." Sahut Hizen menyapanya terlebih dahulu.


"Sepertinya kau sudah banyak berubah, Hiro." Balas Tatsuya melihat Hizen sudah bertumbuh dengan baik.


"Kau juga."


Tatapan Hizen jadi penuh curiga terhadap Tatsuya, hal itu lantas membuatnya bertanya.


"Hmmm..tatapan itu membawa aura hitam, apa kau masih menjaga kewaspadaanmu? Aku ini temanmu loo."


"Meskipun kau teman ku, aku tidak begitu yakin apa yang akan kau lakukan dibelakang ku. Jadi memang patut aku waspada terhadap siapapun." Jawab Hizen.


"Bagaimana dengan gadis berkaki satu disampingmu? Apa kau..."


"Jangan memanggilnya berkaki satu!!" Seru Hizen menegaskan pada Tatsuya tidak memanggil Raphtalia berkaki satu.


"Yahh mau gimana lagi, aku tidak tau namanya."


"Raphtalia." Jawab gadis disamping Hizen.


Tatsuya jadi penasaran dengan pertanyaannya, mengapa Hizen begitu marah ketika Tatsuya memanggil Raphtalia berkaki satu. Diam-diam dia mengangguk-anggukan kepalanya seolah mendapat jawaban sendiri.


"Jadi begitu, dia pacarmu ya?"


Lantas keduanya terkejut, EHHHH?


"Apa yang kau pikirkan, ****?!"


"Dia ini dewi kecil yang berharga bagiku. Jadi aku tidak akan membiarkan setetes darah pun terlihat ditubuhnya." Ujar Hizen.


Tatsuya melebarkan senyumnya dan menegaskan bahwa.. "Itu sama saja dia pacarmu."


Hizen jadi kesal dan harus mengatakan apa lagi terhadap temannya. Tetapi Raphtalia tegaskan tidak perlu dimasukkan ke hati maupun pikiran pada tuannya.


"Tidak apa-apa, biarkan saja dia mengatakannya karena apapun itu aku hanyalah dewi kecilmu yang berharga untukmu."


Hizen jadi tenang pun tersenyum mendengarnya. Kemudian, gilirannya membalas pertanyaannya pada Tatsuya.


"Gadis disampingmu juga pacarmu, bukan?"


"Bukan ****!!" Teriak Tatsuya juga tegaskan bahwa dia dan Shirayuki tidak memiliki hubungan apa-apa, gadis itu hanyalah pedangnya.


"Sama aja loo." Sahut Hizen lagi lantas membuatnya kesal hingga membuat Shirayuki tertawa kecil.


"Hehehe..kau sangat lucu, Tatsuya-kun." Pujinya.


"Oi, shirayuki!"


••


Kerajaan Kyouka, para peri pahlawan berkumpul di ruang rapat.


"Anuu.. Kenapa yang mulia meminta kita kemari?" Tanya peri pahlawan tombak, Melty.


Alysa tampak gugup itu mulai menjawab karena dialah meminta para peri untuk berkumpul di tempat ini.


"Yahh..i-itu..a-anuu..yang mulia sempat bilang ingin membahas tentang dewi terakhir yang telah dikirimkan ke tempat i-ini.."


"Dewi terakhir?" Sahut Mia, peri pahlawan pedang.


"Oh? Aku pernah mendengar dari penduduk sini kalau mereka bertemu dengan dewi terakhir." Tambahnya.


"B-benarkah? Seperti apa ciri-cirinya?" Tanya Suzuki, peri seruling.


"Berkaki satu, dan gadis itu mencari pahlawan magus." Jawab Mia membuat Alysa terdiam sejenak.


"J-jadi gadis bersama Hizen-sama itu b-benar-benar seorang d-dewi?" Diam-diam dia gemetar mengingat kekuatan onikirimaru milik Hizen.


"Hm? Ada apa denganmu Alysa?" Tanya Sarah, peri kipas sedikit curiga pada sikap Alysa gemetaran.


"Heh? Ah..tidak ada apa-apa." Jawab Alysa sambil mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya dengan senyum pahitnya.


"Kau mencurigakan, Alysa." Bisik Jail tepat ditelinga Alysa lantas membuatnya terkejut.


"Kyaaa!! Kau mengagetkan ku, Jail!!" Teriak Alysa.


"Aku bukan hantu loo." Balas Jail, si peri perisai.


"Sssttt..yang mulia sudah kembali." Ujar Taku, peri panah iu mengingatkan pada 7 peri bahwa sang raja tampaknya sudah datang.


Kali ini, yang mulia datang bersama 6 pahlawan.


••


Kini Shirayuki sedang berlatih pedang, dan diajari oleh Hizen. Karena sebagai pahlawan magus juga punya senjata seperti pedang dan semacamnya, tapi baginya sebaiknya tidak mengajari gadis itu dengan pedang miliknya alias Onikirimaru. Dia khawatir Raphtalia kelelahan. Dan Hizen memilih membuat pedang ilusi untuk mempermudahkan latihan Shirayuki.


"Jika musuhmu memiliki keahlian yang hebat darimu maka kau perlu mencari kelemahannya." Ucap Hizen.


"Kelemahan?"


"Benar, kelemahannya mudah sekali."


"Huh? A-apa itu?" Tanya Shirayuki.


"Patahkan senjatanya."


"Huh? Tapi bukankah itu,.."


"Makanya kau harus belajar dari sekarang."


Meski pun Shirayuki kesulitan mematahkan senjata Hizen akibat depresinya. Hizen tetap bersikeras pada Shirayuki tidak mengekspresikan rasa takutnya.


Pada akhirnya, Hizen hanya menghela nafas panjang menatap Shirayuki kelelahan.


"Dengar Shirayuki, jika hal itu mengganggumu sebaiknya kau undurkan diri dari tuanmu karena terluka saja akan menghambatnya dan..tidak hanya itu kau hanyalah beban."


Mendengar kata Hizen sungguhlah menyakiti perasaan Shirayuki. Tapi kata itu ada benarnya, jika dia lemah seperti ini tidak akan ada kemajuan untuknya melainkan beban.


"Tapi.. bagaimana dengan Raphtalia? B-bukankah dia patut.." Ia mencoba menanyakan alasan mengapa Raphtalia tidak diperlakukan sepertinya pada Hizen.


Namun, Hizen dengan marahnya itu menjawab,


"Jangan samakan dia!" Serunya membuat Shirayuki terkejut.


"Dia memiliki tubuh yang lemah dari siapapun itu, tapi..tekad keberaniannya itu berhasil mengubahku." Tambahnya, kemudian meminta gadis itu istirahat.


"Sekarang istirahatlah.. Karena kau itu perempuan."


Shirayuki hanya diam mengepal erat kedua tangannya.


"Aku tidak boleh lemah seperti ini.. Aku sudah berjanji kalau aku ingin terus bersama dengan pahlawan perisai."


••


Tatsuya sedang membuat beberapa obat penyembuhan hingga Raphtalia jadi tertarik kemudian ikut bergabung.


"Apa aku bisa bergabung?"


"Oh? Tentu saja."


"Terima kasih, sepertinya kau sangat ahli membuat obat." Puji Raphtalia memperhatikan hasil obat buatan Tatsuya.


"Aku hanya sedang mempelajarinya."


"Hmm.. Begitu ya, anu..apa aku bisa menanyakan sesuatu padamu, pahlawan perisai?"


"Silahkan saja, uhmm tapi kau tidak perlu memanggilku pahlawan perisai hehehe..aku punya nama loo."


"Ohh..maaf, a-anu eto..begini apa kau tau bagaimana bisa Hizen dikhianati oleh kerajaan Kyouka?" Tanya Raphtalia membuat bibir Tatsuya sulit bergerak untuk menjawab.


"I-itu..sungguh pertanyaan yang sulit untukku."


"Hm, k-kenapa?"


"Yahh kenapa ya?? Heheheh.. Intinya masa itu adalah mimpi burukku bersamanya." Sambil memajangkan senyum pahitnya dihadapan Raphtalia.


Hingga wajah gadis itu sedikit merautkan wajah cemberutnya.


"Akan lebih baik jika kau bertanya padanya." Sambung Tatsuya.


Diam-diam pipi Raphtalia memerah. "A-aku sangat gugup menanyakan hal itu, bisa-bisa dia memasangkan wajah menakutkan.."


"Mengingatnya kembali, rasanya tidak berani menanyakannya." Sahut batin Raphtalia.


"Oi kalian berdua?!" Panggil suara tak asing itu mulai menghampiri mereka.


"Uh, Hizen?" Raphtalia jadi terdiam menatapnya.


"Ada apa?"


"Ahh..tidak ada apa-apa, bagaimana latihan Shirayuki?" Tanya Raphtalia mengubah topik pertanyaannya pada Hizen.


"Jujur saja, aku sangat ingin memberi hukuman akibat terus berputus asa."


"Kau kejam Hiro." Sahut Tatsuya.


"Aku tidak kejam, hanya saja aku benci sikap manjanya sebaiknya kau ajari saja dia."


"Lagipula dia sudah mahir membidik pedangnya, tapi dia depresi." sambung Hizen.


Kemudian dia menggendong Raphtalia, "setidaknya kau juga istirahat tuan putri."


"Ehh? A-aku b-baik-baik saja." Wajah Raphtalia langsung memerah gawat.😳😳


"Jangan berbohong."


Dari tadi Tatsuya jadi terganggu oleh sikap Hizen begitu romansa terhadap dewi kecilnya.


"Oi, apa kau bisa sedikit sopan padaku agar tidak menyaksikan adegan kenakalanmu itu?" Tegurnya.


"Bukankah kau juga punya?" Balas Hizen itu lantas membuat Tatsuya kesal.


"Kau itu ya!!"


"..nyebelinn."


••


Raja Kyouka mengabarkan bahwa dewi terakhir telah datang ke dunia ini. Tanpa sepengetahuannya, itu sungguh hal tak sopan hingga membuat keputusan bahwa setelah gelombang kedua, dia meminta kepada para pahlawan dan peri untuk membawa dewi kecil itu kemari.


"Ku rasa hal itu mustahil, ayah." Sahut putri kyouka alias Asuka.


"Kenapa?" Tanya ayahnya, alias Suwon si Raja Kyouka.


"Membawa gadis itu kemari adalah hal yang sulit bagi kita karena dia utusan dewi. Kerajaan Kyouka hanyalah dipimpin leluhur suci dan dewi maupun dewa hanyalah tetangga, kita tak bisa membawanya dalam keadaan baik,"


"Melainkan cara yang lebih baik." Bibir Asuka tersenyum manis nan licik serta memancarkan aura gelapnya mengatakan bahwa menangkap gadis dewi adalah hal mudah baginya.


Salah satu peri pahlawan merasa sesuatu hal yang tak beres.


"Sepertinya..gadis dewi itu sedang dalam bahaya, tapi bukankah tindakan itu sudah melanggar batas." Kata batin Jail.


Tidak hanya peri Jail khawatir, pahlawan kipas ikut mencemaskan nasib Hizen. Karena tau bahwa dewi kecil itu sudah jadi milik Hizen dan hal itu tidak mudah baginya menyerahkan gadis itu pada kerajaan yang sudah menyalahkannya.


"Ku rasa.. Dia benar-benar dalam masalah." Kata batin Katagaki.


Dia berharap nasib Hizen tidak berakhir seperti 8 tahun lalu.


••


Malam itu, diam-diam Shirayuki berlatih menggunakan pedangnya.


Tampaknya, dia terengah-engah hingga berpeluh keringat. "Aku..h-harus bisa!"


"Sudah ku duga, kau tidak bisa melawan depresimu Shirayuki." Ucap suara familiar itu dari tadi memperhatikan latihan Shirayuki.


"Huh, t-tatsuya? K-kau belum tidur ya.."


Tatsuya mendekatinya, "sebenarnya kau itu sudah mahir berpedang, tapi..depresimu masih terganggu."


"Eh? Ehrr ya.. Itu sih..uhmm m-maaf."


"Dia memberitahuku." Maksud Tatsuya itu adalah Hizen telah memberitahunya keputusasaan Shirayuki padanya.


Diam-diam pria itu menarik tubuh gadis itu kepelukannya.


"Aku mengerti, kau begitu takut. Tapi yakinlah aku selalu bersamamu." Ucapnya begitu lembut dan damai didengar membuat pipi Shirayuki memerah.


"Huh? T-tatsuya?" 😳😳


Kemudian, keduanya saling bertatap mata, "Mari berlatih lagi." Kata Tatsuya mulai menyemangati Shirayuki sehingga dia melebarkan senyumnya.


"Baik."


Sementara Raphtalia tampak melentangkan tubuhnya sambil menatap langit malam dipenuhi bintang yang indah membuatnya teringat sesuatu.


"Masing-masing juga memiliki tugas, tapi..kenapa harus aku memiliki salah satu tugas itu?" Gumamnya.


"Bintang yang menyedihkan."


"Kau berisik tau.." Tegur Hizen terbangun disampingnya.


"Heh? Ohh..maafkan aku."


"Kau itu ya masih saja menganggap bintang itu menyedihkan."


"D-darimana kau tau?"


"Yahh.. Setiap malam kau menangis menatapnya, apa hal itu mengganggumu?"


"Aku trauma." Jawan Raphtalia singkat.


"Begitu ya.."


"Hei lihat, malam ini bulannya indah sekali ya."


"Ku rasa hanya bulan yang terlihat indah."


"Bulan juga menyedihkan loo."


"Hm, kenapa?"


"Karena kau jarang tersenyum." Mendengar gombalan Hizen membuat pipi Raphtalia jadi merona lagi.


Raphtalia menatap langit kembali, "setiap langit juga memiliki wajah yang berbeda ya."


"Itu benar, meski berlawan arah dengan perasaan yang kau rasakan saat ini, ku rasa dengan menatapnya itu akan membuatmu bertekad kembali." ujar Hizen.


Perlahan-lahan Raphtalia tersenyum dan disinari oleh pancaran bulan nan indah itu, hingga membuat Hizen yang diam-diam menatap gadis disampingnya tampak melebarkan matanya.


Dia benar-benar terkejut menyaksikan senyum Raphtalia bak puteri.


"Jika kau terus tersenyum seperti itu..orang-orang akan bilang bahwa dirimu bagai cahaya rembulan yang mampu memancari orang-orang."


Mendengarnya saja, wajah gadis itu memerah. "Kau berlebihan memujiku.."


"Tapi.. Terima kasih, aku sangat senang bisa bertemu denganmu." katanya merasa lega.


"Dan aku akan selalu bersamamu, kemanapun kau pergi." Ucap Raphtalia.


Hizen ikut tersenyum, tak lama detik kemudian Raphtalia tertidur lelap.


"tentu saja, aku akan membawamu kemanapun aku pergi, Raphtalia." Batin Hizen sambil menatapnya.


dia menatap langit malam kembali, "*ini terlalu cepat waktu berjalan karena besok adalah mimpi buruk."


"jika hal itu terjadi, apa yang harus aku lakukan? apa harus kehilangan Raphtalia? padahal dia seorang putri kecil bernasib lemah*."


••


Akhirnya, hari itu datang. Raphtalia terkejut mendengar suara Hizen yang tiba-tiba terbangun kaget, wajah pria itu pucat dipenuhi keringat darah membuat Raphtalia khawatir.


"Hizen? kau baik-baik saja?"


"Raphtalia?" pria itu langsung memeluk Raphtalia penuh erat.


"a-anu Hizen? ada apa denganmu?"


Hizen tidak menanggapinya, Raphtalia menatapnya kembali wajah Hizen dipenuhi rasa khawatir, takut dan gemetar.


"aku baik-baik saja, j-jadi tidak perlu khawatir."


Hizen hanya mengusap lembut rambut Raphtalia dengan mengatakan, "syukurlah..."


"aku..benar-benar bermimpi buruk tentangnya lagi."


tampaknya Hizen bermimpi buruk tentang Raphtalia, dia khawatir jika mimpi buruknya menjadi kenyataan.


waktu tidak banyak lagi, gelombang kedua telah tiba. para pahlawan Kyouka ditemani peri masing-masing sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan kedua malapetaka.


"kali ini gelombang kedua berada dimensi hewan liar." sahut Veno si pahlawan pedang.


"semoga berhasil para pahlawan ku." ucap Puteri pertama Kyouka, Hina.


"baik, kami pergi dulu."


mereka pergi dengan mantra teleport, gadis berpirang merah muda sedikit merautkan wajah cemasnya terhadap seseorang.


"semoga kau juga berhasil, Tadahiro-sama."


••


BERSAMBUNG. . .


mohon dukungannya teman-teman, tinggalkan jejak bomlike kalian.😊😊