The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Bukan Pahlawan



The Legendary Of Hero


.


.


.



Di suatu tempat dipenuhi kabut putih, hanya suara air terdengar mengalir kemudian memperlihatkan sosok pria tinggi dengan tubuh yang dibungkusi oleh perban, pria yang sedang duduk salah satu batuan besar.


Lalu, seseorang berambut pirang merah kecoklatan memanggilnya dengan melebarkan senyuman yang begitu melembutkan itu membuat wajah pria itu ikut tersenyum.


Melihat gadis mungil berkaki satu hingga pria itu bangkit lalu memeluknya.


"*Izinkan aku jadi perisaimu. . Tuan."


"Itu tidak semudah kau jadi perisai ku, tapi.."


"Aku akan melindungimu."


"Te..ri..ma ka..sih*."


Hanya beberapa detik kemudian, gadis itu menghilang dipelukannya membuat wajah pria itu dilanda kesedihan. . .


Ternyata. . .


"Huh?"


Pria berambut hitam pekat setengah pirang merah itu terbangun setelah memimpikan hal tersebut. Mimpi itu bukanlah mimpi pertama kalinya, ini puluhan kali dia terbawa mimpi aneh bertemu dengan gadis berkaki satu.


"Mimpi itu lagi?"


Mimpi itu masih terpikir olehnya karena bertemu gadis berkaki satu saja membuatnya ingin lebih dekat dengannya.


Pria itu masih berdiam diri di ruangan kecil tanpa lampu hanya kasur kecil dan jendela yang tersisa ditempat itu. Meski kamar itu tidak terlihat mewah sepertinya kamar itu bukanlah miliknya, melainkan hanya tumpangan.


.


.


.


"*Nama ku Hizen Tadahiiro, pria otaku yang tak biasa hal cinta maupun pacaran, aku hanya menghabiskan waktu ku dengan membaca buku di dunia ku.


Dunia manusia adalah tempat ku.. Hingga suatu saat...


Hidupku berakhir dimensi Abys, bagiku tempat itu adalah neraka, tapi tak disangka aku terpilih ke tempat ini..


Tempat yang begitu kejam yaitu dimensi Kyouka adalah kerajaan antar 8 dimensi yang kini telah memanggil 8 pahlawan dari dimensi masing-masing dan salah satunya adalah aku. . "


..Pahlawan yang tak berguna*.."


.


.


.


Pria bernama Hizen Tadahiro alias salah satu 8 pahlawan legendaris yang dipanggil oleh kerajaan dimensi kyouka untuk melindungi dunia dimensi dari gelombang jahat malapetaka. Saat ini, beberapa gelombang jahat sudah menghabisi setengah dimensi membuat para rakyat jatuh kemiskinan dan harus dikirim ke dunia Abys.


Dunia Abys adalah tempat yang hanya ditinggal oleh kegelapan seolah bagi mereka tempat itu adalah neraka, menurutnya tidak adil mengirim orang-orang yang tak berdosa ke Abys.


Dan 8 pahlawan legendaris memiliki senjata masing-masing seperti pedang, tombak, panah, perisai, kipas, seruling, cambuk dan kekuatan tubuh tanpa senjata yaitu Hizen.


Semenjak keberadaannya di kerajaan Kyouka, orang-orang maupun raja tidak menyukainya. Bahkan menganggap Hizen adalah..


"Dasar pahlawan tidak berguna!"


Hal itu membuat Hizen menderita apalagi saat itu dia dikhianati oleh gadis bermuka dua yaitu, putri pertama dari kerajaan Kyouka. Akibat kurang waspada, Hizen termakan oleh jebakan gadis itu. Dia tak sanggup membela dirinya yang sama sekali tidak bersalah bahkan tidak mengerti jalan pikiran mereka.


"Semenjak kejadian itu, aku memilih mengasingkan diri dari Kyouka. Orang-orang itu tidak akan mau mendengarku begitu juga dengan pahlawan.."


Tidak hanya orang-orang dan kerajaan menghantuinya, para pahlawan ikut menyalahkan Hizen sebagai pembunuh atau iblis Abys.


"Diriku saat ini.. bukanlah pahlawan yang di inginkan tempat ini, aku ingin pulang ke tempat ku yaitu dunia yang damai. Aku merindukan kedamaian.." Sahut Hizen mengenakan jubah sambil menutup kepalanya agar tidak dicurigai oleh para penduduk Kyouka.


Akibat Hizen dituduh pembunuh, rumor palsu itu menyebar ke seluruh Kyouka. Bahkan sekarang, kerajaan memerintahkan orang-orang menangkapnya jika melihat sosok Hizen.


Dengan menutupi dirinya, dia berhasil keluar dari wilayah Kyouka. Rasanya benar-benar bernafas bisa lolos dari kerajaan neraka itu.


"Sekarang. . . aku akan berpetualangan ke dimensi lain, siapa tau aku bisa membantu orang-orang kesusahan." Gumamnya penuh tekad.


Untungnya, dia mendapat peta kecil agar bisa berjelajah berbagai tempat karena ingin melindungi orang-orang di luar. Walaupun, pria setinggi dua meter itu sudah menganggap dirinya bukan pahlawan lagi.


••


Pada malam itu, Hizen istirahat di hutan. Akibat tak terbiasa tidur diluar membuatnya tidak nyaman hingga terdengar suara monster sedang berlari dan tidak hanya itu. . .


Hizen menebaknya bahwa monster itu sedang mengejar gadis yang teriak minta tolong tadi. Sayangnya, pria itu memilih menutup kedua telinganya.


"Biarkan saja." Gumamnya.


Dia membiarkannya karena mendengar suara gadis itu membuatnya teringat dengan putri licik yang sudah mengkhianatinya. Hal itu seolah mengganggunya.


Namun, teriakan gadis itu tidak menyerah. Dia terus teriak meminta tolong hingga Hizen menyerah dan tak punya pilihan lain.


"Sial!! suara itu mengganggu saja!!!" Pada akhirnya, Hizen memutuskan menghentikan monster-monster yang mengganggu gadis itu.


Gadis itu terengah-engah lelah berlari dengan kerumungan rasa takut melihat para monster bermata satu sedang mengejarnya.


"Darah suci.. aku mau darah suci.."


Mendengarnya saja membuat gadis kecil itu makin ketakutan.


"Aku..aku takut, seseorang tolong aku. . aku mohon.."


"Apa setidaknya ada pahlawan yang datang? Aku..aku tidak punya kekuatan!. . ."


Salah satu kakinya tersandung jatuh membuatnya bingung karena di hadapannya adalah jurang.


"Huh? Ju-jurang?"


Para monster bermata satu mulai berdatangan ingin memakannya. Mereka terus menyerukan darah suci milik gadis itu karena merasa lapar dan ingin memakannya.


"Monsternya semakin banyak! Apa yang harus aku lakukan???"


Gadis itu tak bisa bangkit lagi karena dia hanya punya satu kaki yang masih sakit. Saking paniknya, seseorang datang dengan sekali pukulan menyerang para monster.


"Enyahlah monster!!" Serunya.


Satu-persatu dijatuhkan oleh pahlawan itu dengan kecepatan kilat merah yang sulit dibaca maupun mata menyaksikannya. Hingga tersisa satu monster itu sempat menyampaikan sesuatu padanya. . .


"Sudah ku duga darah suci itu adalah darah sang dewi terakhir."


"Apa yang kau bicarakan?!" tanya Hizen.


"Dewi terakhir sudah datang, cepat atau lambat 8 dimensi ikut hancur seperti duniamu." Sahutnya membuat gadis itu syok.


"Huh?"


Pria itu tak tinggal diam itu cepat-cepat menghilangkan monster terakhir hingga suasana tenang kembali.


"Oi, kau? Baik-baik saja kan?" Tanya Hizen tampak dingin pada gadis yang duduk bergeletak di ujung mulut jurang.


"I-iya."


Gadis berpirang merah kecoklatan, mata coklat terang nan kilau serta mengenakan gaun bunga favoritnya yaitu blossom alias sakura. Sayangnya penampilannya sangat berantakan gaun dipenuhi noda darah dan sobek. Tidak hanya itu, dia adalah gadis berkaki satu. Tentu saja Hizen sempat memperhatikannya,


"Berkaki satu?"


Melihat gadis berkaki satu itu mengingatkan tentang mimpinya bertemu dengan gadis mirip sepertinya. Dia sempat berpikir, apa dia orangnya? Sayangnya ujung bukit itu mulai retak membuat gadis itu terkejut.


"Huh?"


Hizen ikut sadar itu juga terkejut melihat gadis dihadapannya jatuh ke jurang.


"Tidak mungkin? Gadis itu adalah. . ."


Dia sudah menduganya bahwa gadis yang sering muncul dimimpinya adalah orang yang ada dihadapannya sekarang. Tubuh pria itu bergerak secepat kilat agar sempat menyelamatkannya.


Namun. . .


"Apa aku berakhir di jurang kematian ini? Itu artinya aku..aku gagal menemukan salah satu pahlawan legendaris." Kata batin dari gadis berkaki satu.


Tampaknya dia tak sanggup meminta tolong lagi karena melihat pria itu mencoba menolongnya dan walaupun berakhir kegagalan. Dia tak bisa berbuat apa-apa.


"SIAL!!!!!" Teriak Hizen merasa marah pada dirinya.


Bersambung. . .


••


wahhh akhirnya rilis bab berikutnya, sayangnya updatenya seminggu sekali. jadi gak apa-apa ya? karena harus mikir jalan ceritanya yang tepat biar gak berantakan maupun pusing.


gimana pendapat kalian episode hari ini Bukan Pahlawan aku tunggu jawaban kalian di bawah kolom komentar.


jangan lupa saling mendukung para thor ku maupun para pembaca ku, terima kasih.


Next chapter ! Di incar Monster


.


.


.