
_***chapter 18_
The legendary Of Hero***
.
.
.
Ini benar-benar tak terduga bahwa waktu begitu cepat menuju malam hari, namun musibah yang menimpa kota Muy King masih belum berakhir. Anak-anak monster bersama raksasa Mythical One-Eyed belum menyerah cari pemilik darah suci yang begitu murni, segar, manis dan bersih.
Para penduduk teriak histeris ketakutan dan terisak tangis melihat anak-anaknya diambil oleh monster dan dijadikan budaknya.
Hizen dan Hina memusnahkan monsternya sambil mencari keberadaan Vanus, Khalty yang bersama Raphtalia. Sebelumnya, mereka sempat kembali ke toko Olivia, akan tetapi tempat itu sudah hancur dan tidak ada siapapun korban luka di sana.
"Hina-chan, aku minta kau mengevakuasikan orang-orang yang masih selamat itu ke tempat aman...."
"...aku akan mengurus monsternya."
"Baik, serahkan padaku."
Keduanya mengatasi tugas masing-masing. Hizen tidak bisa menciptakan senjata atau memanggil senjatanya alias Onikirimaru karena Raphtalia tidak di sampingnya, maka dari itu dia hanya menggunakan sihir magusnya.
"Semenjak kekuatan ku menyatu dengan Raphtalia, aku tidak bisa menyempurnakan magus ku tanpanya, akan ku usahakan setengah magus ku bisa menghancurkan mereka."
Hizen sedikit kesulitan pada kekuatannya yang ternyata tak sempurna tanpa Raphtalia disampingnya. Tapi, dia usahakan dengan setengah kekuatannya melenyapkan para monster.
"Gricare maguz..." (Serangan api magus)
Dia menggunakan kekuatan magusnya Gricare, yaitu serangan api.
Dengan melempar serangan kecil ke arah monster hingga mereka kepanasan kemudian lenyap, ternyata Hizen menyadari satu hal yaitu kelemahan monster.
Bibirnya tersenyun berlilian, "Sepertinya ini tidak sia-sia."
Sementara Hina sibuk menyelamatkan para penduduk Muy king, tetapi para monster begitu banyak menghalanginya lantas membuatnya kesal.
"Sial, monster ini tidak ada habisnya...!"
"Shurem plurm...!" (Tebasan plurm)
Sswaasshh. . . .
Dia menebasnya dua kali dengan kemarahannya hingga monster di sekelilingnya habis.
••••
Zringg...zring! Zringg!!
Douman dan Heila sedang bertarung sengit di tempat luas, hanya tanah rata di sekitar mereka.
"Sedang apa kau menyerang ke tempat ku?"
Sebuah pertanyaan mudah dari Heila yang ingin memastikan alasan Douman menyerang kota Muy King.
"Aku hanya ingin memberi kejutan padanya."
"Padanya? Maksudmu seorang dewi?"
"Absoluty yes."
Keduanya berhenti sejenak bertarung. Kemudian, Heila bertanya lagi.
"Apa kau bermaksud ingin melenyapkan inti Kyouka?"
"Jika kau mampu menebaknya dengan benar, maka kau akan menemukannya dengan mudah."
Wajah Heila sedikit mengerut kesal menatapnya, Douman tampak santai itu sepertinya ingin meninggalkan tempat itu.
"Sampai bertemu lagi."
Heila membiarkannya, tetapi salah satu tangannya mengepal erat.
"Tidak akan ku biarkan, kau menghabisi inti Kyouka!"
•••
Khalty makin panik melihat tubuh Raphtalia semakin pucat memutih.
"Vanus-sama? Lia-chan! Lia-chan...! Semakin melemah dan tubuhnya...."
Vanus juga tidak tahan membiarkan kondisi Raphtalia memburuk, hingga dia putuskan membawanya pada Hizen.
"Aku tidak punya pilihan lagi!" Sambil menggendong Raphtalia.
"Kau serius akan membawanya? Tapi bukankah itu sedikit berbahaya...?"
"Aku tau itu, jika kita membiarkannya seperti ini maka kita tidak punya peluang menyelamatkannya, hanya Zen-kun yang bisa melakukannya."
Vanus tegaskan pada dirinya akan membawa Raphtalia pada Hizen.
"Baiklah, akan ku lakukan sesuai perintahmu Vanus-sama yang terpenting Lia-chan aman."
Pada akhirnya keduanya menampakkan diri dari goa, tentunya para monster mythical one-eyed menemukan mereka.
"Dishelved Harves...!"
"Frazzle...!"
Khalty memberi pukulan pertamanya yang kuat ke tanah hingga monster disekeliling terserap kemudian hancur. Tetapi, monster itu berterusan muncul lagi. Khalty terus menghancurnya dengan pukulannya tetap saja masih belum berakhir.
"Dari mana asal monster-monster kecil ini?"
"Benar-benar tiada habisnya...!"
Dia mengeluh pada monster tiada akhirnya.
"Ternyata ini jauh lebih sulit dari dugaan ku membawanya ke Hizen."
Keduanya kesulitan bebas dari jalan yang dikepungin oleh monster kecil, tak lama kemudian raksasa Mythicall one-eyed menghampiri mereka.
"Darah suci...darah suci...darah suci...."
Para monster terus meminta darah suci melihat sosok Raphtalia dipangkuan Vanus.
"Khalty, sepertinya asal monster kecil itu dari ibunya."
"Itu benar, Vanus-sama. Tapi, monster kecil ini adalah korban anak-anak Muy king."
"Jadi, dia memakan anak-anak di sini? Yari-yari...benar-benar tidak ada ampunnya, Mythicall one-eyed."
Khalty mulai mengumpulkan kekuatannya pada kedua tangannya.
"Dishalved second Gate....!"
Kemudian, dia melompat tinggi ke arah ibu monster.
"Frazzel...!" Lalu memusatkan pukulannya tepat di mata Mythicall one-eyed.
GAAAARRRRRGGGGHHHHHH......!!!
•••
"Huh, apa yang terjadi sebenarnya?"
"Entahlah, tapi sepertinya mereka pergi ke satu arah."
"Bukankah arah itu...hutan perbatasan?"
Hizen sempat berpikir, monster itu mampu mencium aroma darah Raphtalia. Jika mereka mendadak kabur ke suatu tempat, itu berarti mereka menemukan Raphtalia.
"Apa ini ada kaitannya dengan Raphtalia?" gumamnya.
"Hina-chan, ayo ikuti mereka."
"Heh? S-serius?"
Keduanya memutuskan ikuti anak-anak monster berlari ke arah hutan.
•••
Khalty terkejut bahwa pukulannya dapat ditangkis oleh seseorang.
"Walah...kau berani sekali ya."
"A-ap....?!"
Ternyata Mythicall one-eyed bisa berubah pria iblis.
"Jangan menghalangi ku!"
Teriak pria itu melemparkan tendangan dashyatnya tepat mengenai perut Khalty.
"Mythicall kick!"
"Huh?! Ti-tidakkk!!!"
Khalty jatuh bergeletak ke tanah hingga tak sadarkan diri.
"Khalty?!"
Vanus bingung karena dia benar-benar sendirian di tengah musuh, manalagi dia bukanlah penyihir atau memiliki kekuatan atau magus melainkan dia seorang mantan jenderal Kyouka yang hanya bisa bertarung menggunakan pedang.
Akan tetapi, pedangnya sedang tidak bersamanya.
"Aku benar-benar mengalah..."
Kemudian menatap Raphtalia masih tak sadarkan diri.
"Raph-kun, maaf...aku bukanlah pria yang pantas melindungimu." Sambil memeluk erat gadis itu.
"Sekarang...serahkan gadis itu pada ku."
"...atau, kau juga akan mendapatkan akibatnya."
Vanus tidak menanggapinya, dia hanya melindungi Raphtalia dengan tubuhnya.
Pria itu kesal mulai mengeluarkan cahaya kegelapan ditangannya.
"Cihh! Keras kepala...!"
"Mythicall fire!!!" Dia melempar serangan api kegelapan.
Hingga mengenai punggung Vanus, dia meringis kesakitan dan berusaha menahannya sampai Hizen datang karena Vanus sangat yakin, Hizen akan menyelamatkan Raphtalia.
Akan tetapi, pria iblis itu terus-terusan melempar serangan bertubi-tubi.
"Hahahahhaahah....! Mati! Matilahh!! Menyerahlah!!!"
Vanus jatuh bertekuk lutut, "Aaaaggggrrrhhh...! Aku...a-aku t-tidak akan menyerah sampai pria itu datang...!"
"Heeehh...Kau masih belum menyerah, hah?!" Sambil melempar serangan terus menerus pada Vanus.
Dan pada saat itu . . .
"Patrona Maguz...!"
Sebuah tembok besar dengan lapisan sihir magus dapat menangkis mythicall fire.
Vanus mengenali kekuatan itu, "s-syukurlah...."
"...Kau datang tepat waktu, z-zen-kun."
Mengetahui orang itu datang, Vanus tak kuat bangkit dengan punggungnya terluka hingga jatuh pingsan dan mengandalkan orang itu yang akan melindungi Raphtalia.
Dua orang yang ditunggu-tunggu telah tiba, meski pun nyaris terlambat tapi untung saja Vanus masih bertahan di ujung waktu.
"Hina-chan, ku serahkan padamu!" Teriak Hizen.
"Baik!"
Hina memusatkan kekuatannya ke pedang kristal.
"Sanctuary graze!!!"
Dengan memancarkan cahaya biru ke langit, anak-anak monster satu-persatu lenyap hanya tersisa pria iblis Mythicall one-eyed.
Hizen tidak tau berwajah apa menatap Raphtalia tidak sadarkan diri.
"Maafkan aku, harusnya aku tidak membiarkanmu melakukan operasi varanium, ternyata aku salah bahwa kau memiliki tubuh yang lemah."
"Curer Maguz...."
Dia memulihkan stamina Raphtalia yang terus-menerus lemah dengan Curer Maguz. Perlahan-lahan Raphtalia mulai stabil. Kedua matanya ikut terbuka lembut dan orang yang pertama dia lihat adalah Hizen.
"Hizen?..." Panggil Raphtalia lembut menatapnya.
Kemudian, tangannya menyentuh lembut ke wajah Hizen.
"Kau...terluka...."
Melihat goresan luka di salah satu pipi Hizen membuat Raphtalia khawatir. Hizen tidak tau harus menanggapi apa terhadapnya.
"Wring Recupe."
Raphtalia menyembuhkan luka kecil Hizen dengan penyembuhannya wring recupe. Setelah itu, bibirnya tersenyum damai.
"Sekarang...satukan tekadmu dengan perasaanmu agar kau mampu memanggil kekuatan barumu."
Hizen menggenggam erat tangan Raphtalia, gadis itu memohon kecil agar kekuatannya bersatu dengan Hizen itu bisa menghasilkan kekuatan baru.
"Wahai alam semesta, biarkan kekuatan ini bangkit untuk melindungi.."
"...spera Onikirimaru."
Tubuh Raphtalia berubah sebuah tombak besar sangat tajam, tidak hanya itu saja tombaknya sangat berat, tak sembarang orang yang membawanya kecuali orang yang ditentukan oleh Raphtalia.
Memegang tombak itu, rasanya kekuatan Hizen bertambah kuat berlipat ganda.
"Aku sudah siap!"
•••
*BERSAMBUNG*