
The Legendary Of Hero
.
.
.
Ilustrasion : by Jannah
Ville dyr alias dunia hewan liar, itu tidak berarti bahwa hewan liar adalah makhluk ganas berada di tempat itu melainkan mereka adalah penduduk ramah nan damai yang akrab dengan berbagai ras dari dunia lain.
Namun, saat ini gelombang malapetaka datang secara tiba-tiba menghancurkan tempat para hewan tak berdosa. Sebagian dari mereka mempersiapkan diri menghadapi serangan gelombang dan lainnya sedang melindungi bayi-bayinya di tempat aman.
Gelombang malapetaka adalah serangan oleh pasukan iblis yang asalnya dari salah satu galaksi. Mereka datang untuk menguasai galaksi bima sakti dengan memusnahkannya terlebih dahulu.
Raphtalia bersama Hizen dan Tatsuya, Shirayuki tiba di tempat itu. Mereka berdiri tepat di bukit merah kemudian melihat kota-kota yang hampir musnah.
"Ville dyr?" Wajah Raphtalia terukir terdiam sejenak hingga membuat pria disampingnya ikut bertanya.
"Ada apa, Raphtalia?"
Raphtalia tidak meresponnya sejenak, ia hanya memeluk lengan Hizen dengan rasa takut. Kemudian...
"A-aku pernah berkelana di tempat inii...dann mereka sudah memperlakukanku seperti keluarga."
"Ku mohon Hizen... gunakan aku untuk menyelamatkan mereka." Sahut Raphtalia memohon pada Hizen agar menggunakan dirinya.
"A-aku ingin membalas kebaikan mereka, k-ku mohon...." Bujuk Raphtalia.
Hizen yang menatap ke depan itu menggenggam erat tangan gadis itu. "Serahkan padaku."
"Wahai alam semesta, biarkan kekuatan ini bangkit untuk melindungi...."
"Onikirimaru!"
Hizen dengan memanggil onikirimaru, tubuh Raphtalia langsung berubah sebuah pedang. Tatsuya dan Shirayuki terkejut sejenak setelah tahu bahwa Raphtalia adalah Onikirimaru.
"Pantas saja kau sangat peduli dengannya, ternyata dia adalah pedangmu." Ujar Tatsuya.
"Kau pasti bermaksud kalau aku akan memanfaatkannnya, ku rasa kau salahpaham karena dia adalah putri dari kerajaan ku dan aku..salah satu pengawalnya." sahut Hizen pada keduanya.
"Tapi ke...!" Shirayuki mencoba bertanya, tetapi Hizen meminta agar tidak membahasnya sekarang.
"Saat ini bukanlah waktu untuk membahasnya, tapi saat ini adalah situasi darurat bahwa kita harus melindungi tempat ini."
"Kita?" Serentak Shirayuki dan Tatsuya heran.
Mendengar kata “kita” yang artinya dua pahlawan itu harus kerjasama, Shirayuki dan Tatsuya cukup terkejut dan merasa ragu melakukannya. Hingga, tak ada satupun menanggapinya. Hizen mengeluh dan mengerti wajah itu.
Dia tidak terlalu mempedulikannya, melainkan dia bersama Onikirimaru pergi dahulu dengan teleportnya.
"Baiklah, aku pergi dulu."
Keduanya tak bisa berkata-kata, tapi setelah itu Tatsuya menghela nafas panjang.
"Ada apa, Tatsuya-kun?" Tanya Shirayuki.
"Aku hanya terkejut gadis itu adalah onikirimaru."
"Kau tau?"
"Iya, onikirimaru adalah kekuatan dewi itu artinya Raphtalia benar-benar seorang dewi."
"Aku juga sempat berpikir kemampuannya hanyalah membebaninya jadi aku khawatir Hizen kesulitan, ternyata dugaan ku salah. Raphtalia hanyalah gadis bernasib lemah tapi memiliki tekad yang begitu kuat." Balas Shirayuki.
Tatsuya mengusap kepala gadis itu dengan tangan lembutnya. "Apa kau takut?"
"Tidak, karena saat ini ada Tatsuya yang selalu melindungi ku."
Tatsuya tersenyum lega, "Syukurlah, ayo berangkat."
"Baik." Balas Shirayuki dengan wajah yang ceria dan senang.
•••
Salah satu hewan liar kecil yaitu ras singa betina tampaknya terjebak reruntuhan rumah yang telah dirobohkan oleh pasukan iblis.
"Tolong aku..siapapun disana!" Teriaknya.
Namun ditempat itu tiada siapapun disana kecuali para pasukan hewan liar sudah tewas.
UAAAA...UAAAA....
Suara isak tangis dari bayinya yang ketakutan.
"Tenang saja... Ibu bersamamu, Rem."
SWAASSSHH
"Flash attack!!"
Sebuah serangan datang membelah runtuhan itu hingga membuat singa betina lega melihat sosok pahlawan magus telah menyelamatkannya.
"Syukurlah, terima kasih banyak pahlawan."
Meski dia sangat berterima kasih pada pahlawan magus. Tetapi dengan cueknya,
"Cepat cari tempat yang aman dan,"
"Lindungi bayimu." ujar Hizen.
"B-baik."
Ibu bersama anaknya pergi melindungi diri, Hizen menghela nafas panjang melihat jasad-jasad hewan liar disekitarnya. Dia juga tak tega mengenangnya.
Kemudian, melihat beberapa pasuka ras hewan terluka. Hizen memutuskan membawa mereka ke tempat yang aman.
"Oi kalian? Jika kalian ingin hidup, tidak perlu memaksa diri ikut berperang." ujarnya.
"Tapi tuan, kami sangat membutuhkan tempat dan kebutuhan untuk menghidupi keluarga kami." Keluh salah satu pasukan ras hewan liar.
"Jika kalian mementingkan kebutuhan dan tempat untuk keluarga kalian, itu sama saja tidak membuat kalian bahagia." Jawab Hizen.
"Lalu, apa yang kami harus lakukan?" Tanya mereka.
"Sembunyilah dan lindungi diri kalian, serahkan saja pada para pahlawan."
"Para pahlawan?"
Mendengar bantuan para pahlawan telah datang membuat mereka marah karena sebelumnya para pahlawan sudah memperlakukan ras hewan seperti budaknya.
"Tidak mungkin!"
"Para pahlawan itu sudah bertindak seenaknya seolah itu kekuasaannya, kami tidak membutuhkan bantuan dari mereka."
"Ya! Itu benar!" Sahut yang lainnya.
Hizen mengeluh berat, "ternyata sesuai dugaan ku, akibat raja berotak miring itu sudah melewati batas memperlakukan para pahlawan layaknya boneka dan senjatanya."
Pria itu ingin tau, apa yang dilakukan 6 pahlawan bersama perinya ke tempat ini? Apa mereka mampu mengalahkan pasukan iblis yang levelnya sudah tinggi?
"Aku hanya melihatnya saja." Gumamnya
•••
Sementara Tatsuya bersama Shirayuki sedang bertarung salah satu pasukan iblis yang tubuhnya lumayan berotot, besar dan melihatnya saja sudah menebak bahwa iblis itu memiliki tubuh baja.
"Sial!"
"Wahai gelombang angin yang lembut nan hangat, biarkan pedang suci menyatumu dengan tekad yang akan membelah kegelapan!"
"Wind powerrr!!" Seru Shirayuki memotong salah satu lengan iblis.
Hingga darah itu muncrat dari lengan iblis yang sudah terpotong. AAAAGGGGGHHH
Dan serangan api bertubi-tubi itu muncul entah datangnya darimana itu datang ke arah mereka.
"Shield water!!" Seru Tatsuya menggunakan perisainya yang berubah segumpal air besar melindungi dirinya dan Shirayuki dari hujan api yang menyerangnya.
"Arrow thousand!" Suara familiar terdengar dibelakang Tatsuya itu ikut melawan hujan api dengan seribu panah abadi.
Tatsuya menyadari kehadiran pahlawan panah, "lama tidak bertemu perisai." Sapa Archia santai.
"Aku punya nama tau!" Protes Tatsuya.
"Hmmm...ku pikir kau akan jadi pengecut selamanya."
"Berisik!!"
"Aku sibuk jadi jangan mengganggu ku!!" Tegas Tatsuya pada Archia agar tidak mengganggunya.
"Dikit aja kok marah, sensitif amat siih."
Shirayuki sempat memperhatikan wajah kesal Tatsuya itu membuat gadis itu marah.
"Wind power!"
Hanya sekali tebas, pahlawan panah terlempar hingga terbawa arus angin. "Tidakkkk!!!"
"Shirayuki?" Tatsuya terkejut sejenak dan bertanya alasan mengapa gadis itu melakukannya.
Shirayuki membungkukkan badannya dan meminta seribu maaf pada tuannya.
"M-maafkan aku tuan! Aku m-merasa terganggu melihat orang tadi merendahkanmu." Jawabnya.
"Huh?" Pipi Shirayuki langsung memerah menatap Tatsuya, kemudian gadis itu menutup wajahnya.
"Aaahhh tidak, wajahku jadi panassss!"
"Heh?" Tatsuya jadi bingung melihat gadis itu tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
•••
Setelah menghadapi pasukan iblis yang akhirnya dilenyapkan oleh para pahlawan bersama peri. Mereka lega dan merasa gelombang itu benar-benar berakhir.
Tetapi, sesuatu yang besarnya minta ampun akhirnya muncul dihadapan mereka lantas membuatnya terkejut.
{Raksasa naga iblis, REX}
ROOOAAAARRRR
"Itu...n-naga iblis, bukan?" Tanya Katagaki pada yang lainnya.
"B-benar, ini pertama kalinya aku melihat langsung naga sebesar ituu." Jawab Haku sedikit ketakutan.
Semuanya ketakutan menghadapinya hingga berniat meninggalkan tempat itu kecuali, pahlwan pedang bersama perinya.
"Apa yang kalian lakukan? Menghilang diri layaknya sekelompok pengecut! Apa kalian benar-benar seorang pahlawan, hah?!" Seru Veno pada mereka.
"Itu benar yang dikatakan Veno-sama, sebagai pahlawan juga tidak boleh jadi pengecut hanya karena menghadapi naga iblis." Ucap Mia mencoba menenangkan mereka.
Semuanya terdiam dan berpikir, Veno menghela nafas panjang seolah memutuskan sesuatu.
"Begini saja, siapa yang mau ikut denganku bertarung?"
"Biarkan para peri membantumu, Veno-sama." Sahut Melty.
"Heh?" Kaget 4 pahlawan mendengar jawaban salah satu peri mereka.
Para peri tidak mempedulikannya, mereka menegaskan bahwa para peri yang akan membantu Veno, pahlawan pedang.
"A-anu, apa kalian melihat Archia-sama? Daritadi aku tidak melihatnya." Tanya peri Taku pada lainnya.
"Kau benar, aku tidak pernah melihat Archia daritadi." Jawab Veno.
"Kami juga tidak melihatnya." Sahut lainnya.
"Hmmm..kemana ya Archia-sama? Aku khawatir terjadi sesuatu padanya." Ucap Taku, peri panah tampaknya khawatir pada Archia.
"Mungkin saja, dia bertarung tempat lain. Jadi jangan khawatir." Ucap Jail menenangkannya.
"Baiklah."
Setelah usai pembicaraan tersebut, Veno sudah mempersiapkan dirinya untuk melawan naga iblis itu.
"Kalau begitu, ayo lawan naga iblis itu...." Ajaknya.
Diam-diam bibirnya tersenyum penuh ide,
"...karena aku punya ide." Sambungnya.
•••
Dan Hizen bersama Raphtalia menyaksikan pertarungan pahlawan pedang bersama para peri membantunya itu menghadapi naga iblis.
"Kau tidak membantunya, Hizen?" Tanya Raphtalia disamping tuannya.
"Buat apa? Mereka juga bisa melawannya sendiri."
"Apa...sebesar itu kau membencinya?"
Hizen mengerutkan wajah tajamnya menatap Raphtalia.
"Ahh...yahh maaf, sebenarnya saat kau menggabungkan kekuatan magusmu dengan onikirimaru, a-aku...."
"Aku merasakan kegelapan darimu, t-tidak hanya itu aku melihatnya tapii i-itu tidak terlalu jelas dan bahkan aku tidak mengerti." Ucap Raphtalia yang kini wajahnya dilanda oleh rasa gugupnya pada Hizen.
"Jadi...a-aku,"
"Raphtalia?"
"Ya?"
"Itu sudah wajar kau melihatnya maupun merasakannya, meski tidak jelas bagimu, tapi maaf...."
"...aku tidak bisa memberitahumu."
Raphtalia mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah menyembunyikan rasa sedihnya.
"Aku akan menunggu, sampai kau menceritakannya padaku." Batin Raphtalia.
Hizen jadi tidak nyaman menyadari rasa kecewa Raphtalia, diam-diam tangannya merangkul tubuh gadis itu merapatnya.
"Hei lihat, bukankah percuma mereka menyerangnya? Naga iti tidak akan tewas jika tidak membidik kelemahannya." Ucap Pahlwan magus mencoba ubah topik pembicaraanya pada gadis kecilnya.
"Huh? Kau tau kelemahannya?" Tanya Raphtalia, tak percaya tuannya begitu mudah mengetahui kelemahan naga iblis meski hanya sekali melihatnya.
"Itu sudah jelas aku mengetahuinya, tapi aku butuh panah atau pistol untuk membidik kelemahannya."
"Kalau begitu, kau bisa menggunakan ku Onikirimaru."
"Hah? Bukankah onikirimaru itu hanyalah pedang?"
"Tidak, Onikirimaru memiliki berbagai jenis senjata dan kau bisa mengubahnya hanya dengan keinginanmu."
"Hmmm...begitu ya."
"Arrow onikirimaru!" Dengan menyerukannya, Raphtalia berubah jadi busur panah Onikirimaru. busur setengah berbentuk bulat yang terbuat dari emas abadi dan skala saiznya sangat besar. Hizen jugasempat mengaguminya.
•••
Veno bersama para peri lainnya mencoba menggunakan strategi menyerang Naga iblis yaitu menggunakan salah satu peri menjadi umpannya. Namun rencana itu gagal akibat Veno tidak bisa membidik pedangnya ke tubuh naga akibat tubuh naga itu sangat keras dan sangat sulit menusuknya. Dengan mengayunkan ekor naga ke arah lawannya, mereka terlempar jatuh.
"Sial! Sebenarnya sekeras apa sih tubuh naga itu!" Veno kesal.
"Jangan mengganggu ku!!" Teriak naga Iblis sambil mengeluarkan api dari mulutnya.
"Heh? D-dia bisa bicara?!" Kaget Alysa.
"Kalian hanyalah serangga kecil menghalangi jalan ku!!" Sahut Rex.
"Cih! Justru kau lah yang merepotkan, datang kemari untuk menghancurkan tempat ini... Itu sudah keterlaluan!" Balas Jail.
"DIAMLAH!!"
"Memangnya kau tau apa, kau tidak akan tau alasan mengapa kami kemari. Kau bersama pahlawanmu benar-benar bukan pahlawan sebenarnya." Ujar Rex begitu marah.
"hellige piler!" Seru seseorang yang membidik anak panah raksasa tepat mengenai leher naga itu.
"A-apa? S-sejak kapan...."
"Tidakkkkk!!! Kekuatan ini...kekuatan ini Onikirimaru! Tidak mungkin aku mudahnya kalah seperti ini, aku tidak memaafkanmu Onikirimaru!!!" teriak Rex hingga jatuh tak berdaya kemudian jasadnya perlahan-lahan kian mendebu.
Veno bersama para peri terkejut melihat naga itu tewas hanya sekali serangan anak panah raksasa.
"Oh, udah selesai yahh." Gumam Suzuki.
"Tunggu? Onikirimaru, jangan bilang...." Veno menebak bahwa orang yang menggunakan Onikirimaru adalah Hizen. Itu artinya pahlawan magus ada disekitar tempat itu.
Itu benar, namun Hizen dengan cepat menghilang. Kemudian berdiri tepat dibukit merah, dia benar-benar lega gelombang kedua sudah berakhir.
"Syukurlah...."
Tetapi tiba-tiba, sebuah panah menusuk tepat dibelakang Hizen hingga menembus ke perutnya.
"Aaghhh! Darimana datangnya benda ini?!"
Busur panah digenggaman Hizen terlepas hingga Raphtalia normal kembali, "H-hizen?!"
Gadis itu terkejut melihat panah perak berbinar telah menusuk belakang Hizen.
"Huh? S-sejak kapan?!"
"Raphtalia, sepertinya seseorang sedang mengawasi kita. Bawa aku p-pergi dari sini." Sahut Hizen tampak meringis kesakitan diperutnya.
Dia tak kuat menahan tubuhnya karena panah yang menusuknya bukanlah panah biasa dan pada akhirnya pria itu jatuh pingsan.
"H-hizen?! Hizen?!"
AAGGGHHHH.... teriak Raphtalia juga mengenai panah tepat di tangan kanannya, kemudian melihat seseorang mengambang dilangit.
"B-bukankah itu...pahlawan panah?"
"Apa yang harus aku lakukan? T-tanganku terluka dan...aaghhh a-aku tidak punya pilihan lagi."
Gadis berpirang merah mencabut panah ditangannya dan dibelakang Hizen. Kemudian,
"Light Expolision!!" Seru Raphtalia melemparkan serangan ledakan ke arah pahlawah panah.
Sayangnya, serangan itu tidak mencapai sasaran. Raphtalia tidak tahu harus apa lagi, ketika melihat jurang dihadapannya membuatnya ragu melakukannya.
"Tidak mungkin kan aku melakukannya, a-aku takutt."
Archia menarik anak panahnya dari busurnya, kemudian bersiap-siap membidik Raphtalia. Tetapi pria itu terkejut melihat Raphtalia membawa Hizen itu terjun ke jurang.
"Apa dia mencoba kabur dariku dengan membunuh diri ke jurang? Jangan membohongi ku, aku tidak akan tinggal diam disini, aku akan membawa pahlawan tak berguna itu kehadapan sang raja!"
*BERSAMBUNG. . . .*
ditinggal jejak plus vote sebanyak-banyak, insya allah di feedback bagi siapapun tinggalkan jejak. terima kasih sudah mampir😌🙏🙏