The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Mimpi



_***chapter 13_


The Legendary Of Hero***


.


.


.



{cover : Hizen with Oniki}


"Apa yang terjadi??! Jantung ku?!"


Raphtalia tampak gemetar memucat sulit menggerakan tubuhnya yang diikati oleh rasa sakit pada jantungnya.


NGGHH!


"Apa yang sebenarnya terjadi? Tubuhku tak bisa bergerak!"


Saking tak kuat menahan rasa sakit yang luar biasa itu, dia jatuh pingsan.


Di sisi lain, Hizen akhirnya membuka kedua matanya dan sadar dari tidurnya. Tapi, posisinya saat ini tengah berada di kerajaan yang rapuh.


"Di mana ini?"


Perlahan-lahan dia bangkit dan mulai memperhatikan di sekelilingnya.


"Tunggu? Tempat ini adalah..."


"...kerajaan Ning?!"


Akhirnya pria itu benar-benar sadar bahwa dirinya berada di tengah kerajaan Ning alias tempat tinggalnya di masa lalu.


"Tapi...kenapa?"


"Kenapa kerajaan ning serapuh ini? Tiada seorang pun di sini, apa yang terjadi?" Gumamnya bertanya.


Dia beranjak keluar dari tempat itu, tiada siapa pun di sana kecuali langit merah memancarkan aura darah tempat itu lantas membuat Hizen bertanya-tanya.


"Apa kau pahwalan magus?" Sahut suara asing di belakang Hizen.


Hizen berbalik cepat itu menanggapinya, "Huh? siapa?"


"Nama ku Onikirimaru, panggil saja Oniki." Jawab pemuda, memiliki warna mata yang unik.


"O-onikirimaru? Tunggu, kau..." Hizen mencoba tebak kalau onikirimaru adalah pedang yang berada di tubuh Raphtalia.


"Benar, onikirimaru adalah senjata legendaris yang saat ini di tubuh gadis itu." Ujar pemuda itu berwajah polos menatap Hizen yang begitu tinggi darinya.


"Jujur saja, aku sangat mengaguminya ketika dia memilihmu sebagai kekuatan hidupnya." Tambah pemuda itu tersenyum kecil.


"Kekuatan hidupnya?" Gumam Hizen masih bertanya.


"Lihat, ini adalah perang bodoh yang telah dikuasai Ashia Douman." Ucap pemuda itu sambil menunjukkan perang tiada akhirnya dari kejauhan.


"Ashia Douman?"


Setahu Hizen, Ashia Douman adalah pangeran iblis yang sedang menghantui 8 dimensi. Itulah mengapa 8 pahlawan sangat dibutuhkan oleh Kyouka untuk melindungi delapan dimensi.


"Biar ku peringati, gadis itu memilihmu karena kau sangat berharga baginya dan punya keyakinan besar bahwa akan lebih aman jika dia bersamamu. Tidak hanya itu, setetes saja rasa luka yang ia hadapinya karena dirimu maka aku akan merenggut nyawanya."


"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Hizen.


"Lebih singkatnya jangan sampai dia adalah orang keduamu atau nyawanya akan ku telan." Jawab pemuda itu.


Tapi setelah itu, terdengar suara isak tangis oleh gadis tak asing baginya.


"I-itu..." Hizen terdiam sejenak melihat gadis mungil tak asing baginya yaitu Raphtalia yang saat itu masih berusia 10 tahun.


"Raphtalia, bukan? Aku ingin kau melihatnya alasan mengapa aku memilih dia sebagai pemegang Onikirimaru karena dia...." Sahut pemuda itu juga mengenal sosok Raphtalia.


"Memiliki kekuatan besar dari tekadnya yang kuat itu." Tambahnya.


Raphtalia kecil itu tampak menangis tersedu-sedu berusaha membangunkan seseorang yang sudah tak berdaya lagi akibat sebilah pedang sudah menusuk dadanya.


"Hiksss...hikss...jangan tinggalkan aku..."


Hizen sedikit tak mengenal orang yang ditangisi oleh Raphtalia kecil.


"Aku sangat takut, orang-orang sudah meninggalkan ku, bahkan kerajaan ning ikut tenggelam dan pria yang ku kagumi dan ku sayangi juga meninggalkan ku..."


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa tanpa mu, Hizen."


Kedua mata Hizen membulat kaget mendengar Raphtalia kecil memanggil namanya.


"Jangan bilang, orang itu..." Gumam Hizen menebak kalau orang yang tak berdaya itu adalah dirinya saat kecil.


Tak lama kemudian, sebuah pedang raksasa sedang mengarah ke hadapan wajah Raphtalia kecil. Hingga kedua mata gadis itu memancarkan keberanian yang mengerikan.


"TIDAK BISA KU MAAFKAN!!" teriak Raphtalia menatap tajam pada seseorang bertubuh besar itu.


Tentu saja, Hizen mengenal orang itu yang menyebabkan dunia itu berakhir. Sayangnya, kisah itu berakhir dalam mimpinya.


"Huh? Mimpi?"


•••


Lembaran baru mulai terbuka akan menulis kisah hari itu, Tatsuya di pinggir danau, tampaknya sibuk sendirian menyelesaikan obat-obatan alami yang ia temukan di hutan.


"Sepertinya kau begitu sibuk." Sahut nada gadis familiar itu menghampirinya.


"Katakanlah jika kau ingin mengatakan sesuatu pada ku." Balas Tatsuya menatap gadis itu.


Sebenarnya Tatsuya sudah tahu bahwa kedatangan gadis itu hanyalah ingin mengatakan sesuatu padanya. Tetapi rasa gugupnya terganggu membuat Tatsuya muak.


"Maafkan aku." Ucap Raphtalia.


"Aku hanya ingin berterima kasih padamu karena berkat perimu Jail sudah menolong ku." Tambahnya sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Jangan menundukkan kepalamu seperti itu." Tegur Tatsuya nan lembut.


"Huh?" Kaget Raphtalia.


"Karena kau seorang putri penting bagi Kyouka." Sahut Tatsuya.


"Huh? Apa itu artinya...Jail menceritakan mu?" Tanya Raphtalia memastikannya.


"Tidak, aku dan Hiro sudah tau semenjak berada di kerajaan neraka itu."


"J-jadi Hizen juga mengetahuinya ya?"


"Benar, ooya ini obat untukmu." Dengan cepat Tatsuya melemparkan sebotol obat ke arah Raphtalia.


"Ehh? U-untukku? T-tapi untuk apa?" Raphtalia kaget menerima lemparan cepat dari Tatsuya.


"Siapa tau di antara kau dan pria itu membutuhkannya." Jawabnya dingin.


Raphtalia sangat senang mengenal Tatsuya itu orangnya baik.


"Ooh, kalau begitu t-terima kasih Tatsuya." Balas Raphtalia lembut.


Raphtalia kaget dan bingung,


"Eh? M-maksud ku Tatsuya-sama."


"Tatsuya-sama?" Protes Tatsuya lagi lantas makin Raphtalia bingung.


"Heeehhh? J-jadi aku harus memanggilmu apa?"


Diam-diam wajah Tatsuya mendekat kehadapan mata Raphtalia, hingga suara menggodanya itu terdengar di samping telinga gadis itu.


"Panggil Tatsuya-neesan." Bisiknya terdengar menggoda.


Hingga wajah Raphtalia memerah tomat, "Heh?"


"Bercanda kok. Kau bisa memanggilku apa saja." Ucap Tatsuya melebarkan senyum lembutnya pada Raphtalia.


"Ooh, b-baiklah."


Kemudian meninggalkan Raphtalia sendirian berdiri di tepi danau kecil. Dan raut wajah Raphtalia tampak cemas ketakutan mengingat semalam ia merasakan rasa sakit yang luar biasa tepat di jantungnya.


"Aku masih penasaran, apa yang terjadi pada ku? Rasa sakit itu bukanlah dari sihir musuh tapi dari bagian tubuh ku. Apa karena kekuatan onikirimaru?"


Gadis itu tenggelam oleh pertanyaannya sendiri hingga suara langkah terdengar menghampirinya.


"Ternyata kau di sini...."


Mendengar suara itu, kedua pipi Raphtalia memerah lagi.


"Heh? dia datang!"


"Ada dengan mu, Raphtalia?" Tanya Hizen.


"Ah! Tidak juga, tidak ada apa-apa." Jawab Raphtalia cepat melebarkan senyum pahtinya.


"Sebenarnya aku ingin bicara lebih lama denganmu semalam, tapi..."


"Tidak apa-apa, kau harus lebih mengerti perasaan Hina karena dia kekasihmu dan aku adalah perisaimu."


"Aku tau, tapi semenjak Hina bersama ku kau menghindar." Protes Hizen.


"Eh?! B-benarkah? Tapi ku rasa biasa saja." Balas Raphtalia masih melebarkan wajah palsunya meski dilanda oleh rasa khawatirnya.


Tak di sangka Hizen begitu mudahnya mampu membaca ekspresi Raphtalia saat ini.


"Dengar Raphtalia, jika ada hal yang mengganggu mu katakanlah pada ku karena aku juga khawatir." Sahut Hizen mencoba ajak Raphtalia membuka diri lagi tanpa menyembunyikan apapun darinya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja."


Namun, jawaban Raphtalia selalu saja berarti penolakan, Hizen tak menyerah itu memaksanya dengan protes.


"Lagi-lagi kau menghindar."


Karena ketahuan, Raphtalia menyerah. "Maaf."


"Jika kau terus menutupi diri dari ku maka tubuh mu akan tertelan oleh kekuatanmu sendiri." Ujar Hizen.


"Huh?"


"Apa akhir-akhir ini kau merasa sakit atau..." Ucapan Hizen terhenti melihat Raphtalia yang tiba-tiba memeluknya.


Lalu, terdengarlah nada yang terdengar gemetar oleh gadis itu. Dia berusaha menepatkan posisi bicaranya dengan benar, namun rasa gugup membuatnya tidak teratur dalam bicara.


"Maaf...maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Sebelumnya, aku merasakan rasa sakit yang luar biasa mengikat jantung ku." Ucap Raphtalia.


"Begitu ya."


Sesuai dugaan Hizen bahwa Raphtalia merasakan rasa sakit yang luar biasa dari tubuhnya. Rasa sakit itu adalah kekuatannya sendiri alias Onikirimaru, Raphtalia seperti ini akibat tenggelam oleh perasaannya sendiri karena Hizen.


Maka dari itu Hizen merasa dirinya benar-benar telah melakukan kesalahan terhadap Raphtalia.


Perlahan-lahan Hizen menepuk kepala gadis itu dengan lembut, kemudian menarik wajah gadis itu menghadap ke wajah Hizen.


"Kau tidak bisa jauh dari ku." Ucapnya.


"Huh?"


"Akan ku usahakan rasa sakit itu tidak menelanmu."


"Apa hidup ku akan berakhir karena kekuatan ku?" Tanya Raphtalia.


"Mungkin, jika kau tak mampu menahannya maka dia akan menelanmu."


"Dia?" Raphtalia tidak mengerti siapa yang Hizen maksudkan. Namun pria itu memintanya untuk melupakannya.


"Lupakan saja."


Dari kejauhan, sosok Hina ikut menyaksikannya hingga wajahnya meraut kesal penuh rasa cemburu.


Hmmpphhhh


•••


Sementara kondisi Kyouka tampaknya masih damai nan tentram itu. Veno bersama Zyn dan Archia tampaknya mengelilingi Kyouka,


"Aku sudah lama tidak keluar dari istana ya." Sahut Veno.


"Itu karena kau mengalami kondisi buruk." Jawab Zyn.


Sebelumnya, Veno tidak menyadarkan diri dalam beberapa hari akibat menggunakan kekuatan penuhnya melawan raksasa naga alias REX.


"Tapi kau benar-benar sudah baikan, bukan?" Tanya Archia cemas.


"Tenang saja, aku merasa jauh lebih baik." Jawab Veno.


Kemudian, ia terpikir oleh kejadian dewi terakhir yang kabur dari tahanan Kyouka.


"Ooya, ku dengar dari Mia...dewi terakhir itu telah kabur dari tahanan, benarkah itu?"


Kedua pria itu membenarkannya. Saking bahagianya mereka, tak di sangka mereka disambut oleh gadis iblis yang tiba-tiba muncul di tengah pasar desa hingga orang-orang ikut ketakutan.


"Ara-ara, apa kalian sudah selesai bersenang-senang?" Sapanya.


Raut wajah ketiga pria itu tampak waspada dengan mengeluarkan senjata masing-masing.


Gadis iblis itu memiliki postur tubuh anggun dan memiliki dua tanduk, tidak hanya itu juga memiliki mahkota hitam yang menempel di rambut hitamnya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Merlia?!" Seru Veno.


Sepertinya mereka juga mengenal gadis bernama Merlia. Gadis itu tertawa kecil nan licik,


"Hmmm...sepertinya aku kemari sedang mencari seseorang." Jawab gadis itu sambil mengeluarkan busur hitam serta anak panah.


Kali ini ketiga pria itu sedang dalam masalah harus berhadapan gadis bernama Merlia.


"Sial!"


*BERSAMBUNG. . .*


jangan lupa di tinggal jejak di kolom komentarnya.👇👇


dan terima kasih banyak🙆🙇‍♀️🙆🙇‍♀️🙆🙇‍♀️🤗🤗