
_***chapter 16_
The legendary of hero***
.
.
.
{Olivia Vanus - mantan jenderal Kyouka}
Di era perang Han Deva, dimana saat itu Han Deva adalah korban kedua menghadapi gelombang malapetaka hingga kerajaan Deva dan penduduknya hampir punah. Shirayuki juga salah satunya, akibat memiliki bakat yang tidak layak oleh kerajaannya, tak ada satupun orang menganggapnya ada karena Shirayuki sebenarnya tidak ada, bahkan sangat dibenci oleh saudaranya alias Merlia yang juga merupakan kesatria panah.
"Merlia-nesama?!" Panggil Shirayuki mencoba hampiri kakaknya yang terlihat mempersiapkan diri menghadapi gelombang kedua.
Namun, Merlia sangat jenuh menatap adiknya yang tak ada habisnya menunjukkan wajah keimutannya.
"Jangan panggil aku ne-sama, aku ini bukan kakakmu dan kau hanyalah boneka yang digerakan oleh sihir." Tegurnya.
"Huh? Ne-sama?" Shirayuki tidak begitu mengerti apa yang diucapkan oleh kakaknya karena baginya Merlia adalah kakak yang mengagumkan.
"Cukup, aku tidak punya waktu." Dingin Merlia, kemudian meninggalkan Shirayuki di rumahan kecil.
Adiknya tidak terlalu memikirkan alasan mengapa Merlia menyembunyikannya di tempat itu. Lalu, gadis itu melebarkan senyumnya sambil melambaikan tangannya pada Merlia.
"Kalau begitu, hati-hati dan aku mencintaimu, ne-sama!!" Teriak Shirayuki kecil kegirangan ceria.
Merlia menghela nafas menyerah, tapi diam-diam bibirnya tersenyum.
"Aku menyadari perasaan itu, tapi kenapa dia tidak mengatakan sejujurnya padaku?" batin Shirayuki.
Tapi setelah perang itu berakhir, Shirayuki menunggu kepulangan kakaknya yang daritadi tak kunjung kembali. Saking khawatirnya, Shirayuki memilih cari kakaknya dan tentu saja menemukannya setelah seminggu era perang itu berakhir. Tapi,
"Ne-sama?" Tubuh Shirayuki gemetar menemukan sosok kakaknya terbaring tak berdaya serta dipenuhi tancapan panah dibelakangnya.
"Huh? T-tidak m-mungkin?"
Tidak menyangka di sekeliling Shirayuki terdapat banyak jasad prajurit. Dia tidak tau harus mengekspresikan wajahnya karena saat ini rasa kebingungan melanda dirinya.
Dia teriak sekeras-kerasnya suaranya, AAAAGGGGGGHHH....
Kemudian lari dan terus berlari hingga kakinya tersandung dan terjatuh, akhirnya dia menangis.
"Hikss...hikss...aku takut."
"Aku takut...t-tolong aku."
Mengingat masa itu, Shirayuki mengusap airmatanya.
"Benar, saat itu memang benar aku tidak ada di dunia itu. Tapi, setelah menemukan seseorang yang membangkitkan hidupku dan memanggil namaku, aku merasa hidupku sudah normal." Batin Shirayuki.
Setelah melenyapkan iblis Darkness alias Merlia ditangan Shirayuki. Tidak menyangka terjadi diantara dua saudara itu berakhir dengan perpisahan memilukan, tapi Shirayuki sudah memaafkannya.
Begitu dia bangkit, tubuhnya kelelahan bertarung hingga membuatnya jatuh pingsan. Pada saat itu, seseorang menyambutnya.
"Kau sudah melakukannya yang terbaik..."
"...Shirayuki."
Mendengar suara itu, kedua mata Shirayuki terbuka sedikit.
"T-tatsuya..." Ucapnya kemudian melebarkannya senyumnya.
"Pria inilah yang membangkitkan hidupku kembali." Batin Shirayuki yang kemudian pingsan kembali.
Tatsuya memeluk erat gadis itu dengan belas kasih.
"Aku tidak terlalu tau tentangnya, tapi aku hanya merasa dirinya juga merasakan hal yang sama seperti ku."
"Benar, kan Shirayuki?" Batin Tatsuya.
•••
"Wari-wari, sepertinya sepasang kekasih ini sedang mesraan loo." Sahut pria berkacamata itu menyambut hangat dibelakang tempat duduk Hizen dan Raphtalia.
Hizen jadi gugup bercampur kesal itu menegurnya.
"Sejak kapan kau menguping dibelakangku?"
"Dari tadi loo." Jawab pria itu melebarkan senyumnya.
"Heh?" Serentak mereka terkejut, diam-diam pipi Raphtalia memerah berat dan sulit menyembunyikan wajahnya mengingat pembicaraanya tadi dengan Hizen begitu damai nan hangat.
Hizen juga sulit berkata-kata sejenak, "o-oi, kau tidak sopan sekali." Kesalnya.
"Heheheheh...maaf-maaf." Balas pria itu bercanda, kemudian mendekatkan suaranya ke samping telinga Hizen.
"Apa dia istri keduamu?" Bisiknya.
Hizen makin kesal mendengarnya. "Sial, kenapa pemikiranmu sampai ke situ?!" Bentaknya.
Pria itu tertawa melihat ekspresi Hizen begitu lucu. "Ahahahha...bercanda kok."
"Ngomong-ngomong...lama tidak bertemu ya zen-kun." Tambahnya menyapa Hizen.
Hizen menghela nafas, kemudian tersenyum, "ku rasa begitu, Olivia Vanus." Balasnya.
Pria berkacamata itu alias Olivia Vanus adalah mantan jenderal Kyouka.
"Dimana istri pertamamu?" Godanya lagi.
Hizen menahan paksa amarahnya, "Oi, jaga bicaramu. Hina-chan ikut bersamaku dan akan ke sini." Tegurnya.
"Ooh, pasti dia mencari koleksi aksesoris bukan?" Tebak Vanus.
Hizen membenarkannya. Kemudian, Vanus memperhatikan sosok Raphtalia disamping Hizen.
"Aahh, mata yang indah ya." Pujinya menatap Raphtalia sangat dekat.
"T-terima kasih." Balas Raphtalia gugup.
"Namanya Raphtalia, dewi terakhir." Sahut Hizen memperkenalkan Raphtalia pada Vanus.
"Oohh dewi terakhir kah?" Singkat Vanus, tapi setelah itu. . .
"Heh? Tunggu, dewi terakhir?!" Teriaknya tak percaya.
Hizen membenarkannya lagi, hingga Vanus kegirangan bahagia yang akhirnya bertemu dengan dewi lagi.
"Kyaaaa! Apa aku sedang bermimpi menemukan generasi dewi terakhir?!" Ucapnya benar-benar bahagia.
Raphtalia semakin takut itu merangkul erat lengan Hizen disampingnya.
Hizen tampak biasa itu menenangkannya, "Tenang saja, dia memang seperti ini karena sebelumnya dia bersama Kalty pernah bertemu dewi sepertimu."
"B-benarkah?" Tanya Raphtalia sedikit kurang percaya diri.
Hizen menganggukkan kepalanya, "yes, my princess."
Kemudian, Vanus memperkenalkan dirinya,
"Salam kenal, aku Olivia Vanus mantan jenderal Kyouka loo." Sambil menunduk hormat pada Raphtalia
"M-mantan jenderal? O-oh, s-salam k-kenal j-juga." Balas Raphtalia masih terlihat kaku harus berhadapan dengan Vanus.
"Engg...wajahnya jauh lebih menyeramkan." Batin Raphtalia mencoba lebarkan senyum kepahitannya.
"Ooya, kenapa kau ke sini?" Tanya Vanus pada Hizen.
"Apa ada perlu bantuan ku?" Tebaknya.
Hizen membenarkannya, "Tentu saja, apa kau bisa membuat dia berjalan normal?"
Mendengar Hizen yang ternyata punya alasan membawa Raphtalia ke tempat itu adalah menemukan cara agar dia bisa memiliki kaki yang sempurna.
Namun, hal itu tidak nyaman baginya terhadap Hizen yang begitu baik padanya.
"Huh? H-hizen, tapi a-aku sudah terbiasa seperti ini."
"Semua manusia itu butuh yang namanya normal." Jawab Hizen mengedipkan matanya.
Kedua pipi Raphtalia memerah lagi menatap Hizen, dia cepat-cepat mengalihkan matanya ke bawah dan berusaha menolak bantuan Hizen.
"A-aku tau itu, t-tetap saja aku menolak karena sampai kapan pun aku tidak akan bisa berjalan dengan baik." Balas Raphtalia.
Vanus tampak senang sendiri menyaksikan sepasang kekasih begitu menggemaskan, kemudian ikut membenarkan yang diucapkan oleh Raphtalia.
"Benar yang diucapkan princess Raphtalia, seorang dewi berkaki satu itu tak dapat mengembalikan kakinya sebelum tugasnya benar-benar tuntas." Sahutnya.
"Yahhh, sebenarnya aku heran saja dewi sepertimu mengalami seperti ini padahal aku tidak pernah menemukan dewi kekurangan sepertimu."
"Apa i-itu artinya ini pertama kalinya?" Tanya Raphtalia.
"Ku rasa begitu, tapi tenang saja, ada satu cara yang dapat menyempurnakan kaki mu."
"Kau sudah tau bukan, zen-kun?" Tambah Vanus menatap Hizen yang juga tau.
"Huh?"
Hizen duduk damai itu membenarkannya, "itulah mengapa aku memintamu untuk tidak menolak bantuan ku." Sahutnya pada Raphtalia.
"Lalu, apa itu?" Tanya Raphtalia sedikit penasaran cara apa yang dapat menyempurnakan kakinya.
Vanus melebarkan senyum kedamaian itu mulai menjawabnya.
"Varanium."
Raphtalia terdiam sejenak, kemudian bergumam.
"V-varanium?"
"Benar, Varanium adalah magma teratai biru yang mampu membuat tubuh buatan, tidak hanya itu Varanium juga melengkapi bagian inti tubuh agar bisa terhubung dengan jiwa dan ragamu." Jawab Hizen juga memgetahui arti Varanium.
Varanium hampir sama dengan teknologi modifikasi atau manusia buatan, bedanya hanya cara menggabungkannya. Varanium dilakukan harus bisa menggabungkan dengan pemiliknya atau inti tubuhnya, sementara teknologi modifikasi dilakukan mulai dari sel telur alias ovarium, kemudian dikembangkan eksperimen tersebut.
Tapi di kota Muy King, tak ada yang mengenal modifikasi. Sebagian penduduknya hasil dari Varanium, mereka saling menjaga satu sama lain meski berbeda ras maupun bentuk.
"Lalu, kapan kita akan lakukan operasinya?" Tanya Vanus.
Reaksi Raphtalia tak begitu terkejut maupun kesal, kecuali merasa tidak nyaman pada Hizen sangat mempedulikan keadaannya.
"Kau sudah siap, Raphtalia?" Tanya Vanus.
"I-iya... A-aku sudah siap." Jawab Raphtalia.
Vanus menjentikan jarinya, hanya sekali mendengarnya Raphtalia sudah jatuh tak sadarkan diri ke pangkuan dada Hizen.
"Maaf, Raphtalia, sepertinya akan sangat lama untukmu." Gumam Hizen sambil membaringkan Raphtalia di sofa.
"Aku mengandalkanmu, Vanus." Tambahnya pada Vanus.
"Jadi kau benar-benar meninggalkannya untukku? Kapan kau kembali? Tunggu dia benar-benar pulih?" Tanya Vanus.
"Ku rasa begitu."
"Baiklah, serahkan padaku."
"Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Hizen.
"Baik, hati-hati zen-kun."
Meski terasa singkat akan kepergian Hizen, tapi sebenarnya Hizen berharap besar pada Raphtalia bisa jadi dewi sempurna.
"Dia benar-benar gadis beruntung ya." Sahut Kalty menatap Raphtalia.
"Benar, aku tidak menyangka putri yang sangat dia kagumi adalah generasi dewi terakhir kita." Balas Vanus.
"Ini benar-benar mimpi indah ya." Tambahnya, kemudian mereka tersenyum lembut nan damai menatap wajah Raphtalia bersinar seri bak seorang putri.
•••
Hina tampak begitu menikmati pasar meriah Muy King dengan suara penduduk terdengar ramah menyambuti kehadirannya.
"Aku merindukan momen madu bersama tadahiro-sama di tempat ini." Gumamnya.
"Jadi keingat yaaa...."
Mengingat kembali momen indah bersama Hizen dan Hina melaksanakan pertunangan mereka di kota Muy King.
Hingga kedua pipi Hina memerah ingat momen begitu romantis.
"Kyaaaa!! Perasaan apa ini!! Rasanya benar-benar...kyaaaaaa aku jadi malu mengingatnyaaaaaa..." Batinnya.
Dia begitu tenggelam oleh kenangan manis, namun tanpa sadar, ledakan besar terjadi di tengah kota Muy king. Para penduduk panik dan berlari ketakutan untuk melindungi diri.
"Huh? Apa yang terjadi di sana?" Gumamnya bertanya.
Dia mencoba bertanya salah satu pria penduduk berlari ketakutan.
"A-anu, apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Hina.
"A-ada m-monster, ada monster...iya i-itu monster memakan anak-anak kami." Jawab pria itu kemudian berlari.
"Huh? Monster makan anak-anak?"
"Tapi...ini baru pertama kali monster menyerang ke tempat ini. Pasti ada sesuatu yang membuatnya kemari...." Pikir Hina kemudian pergi ke tempat monster di tengah Muy King.
Hizen baru saja meninggalkan toko Olivia itu juga menyaksikan serangan monster di tengah kota.
"Apa yang terjadi di sana? Bukankah tempat ini adalah tempat teraman dari ancaman gelombang malapetaka?" Tebaknya.
Muy King adalah salah satu kota teraman dari ancaman gelombang malapetaka, tapi ini pertama kalinya ada monster yang menyerang tempat itu.
"Tunggu? Hina-chan...dia masih di sana kan?" Tiba-tiba Hizen teringat sosok Hina yang juga masih ada di tengah pasar.
Dia khawatir, jika sesuatu akan menimpa pada kekasihnya.
Raphtalia yang tadinya tak sadarkan diri itu membuka kedua matanya.
"I-ini d-dimana?"
Dia heran berada di tempat begitu cerah dipenuhi bunga hydrangea disekitarnya. Dia bangkit perlahan-lahan itu mencoba mengamati di sekelilingnya sekali lagi.
"Berhentilah jadi seorang pelemah." Sahut seseorang.
"Huh?" Raphtalia terkejut dan mencari asal suara itu.
"Aku di sini loo." Balas suara lembut itu akhirnya menunjukkan dirinya di samping Raphtalia.
Kedua mata Raphtalia terbuka lebar hingga merintihkan airmatanya.
"Oniki-sama?"
Tak lain itu adalah pria bertubuh besar sangat dikenali oleh Raphtalia yaitu Onikirimaru, gurunya yang selalu membimbing hati dan hidupnya selama perjalanannya sebagai dewi.
Oniki memeluk erat tubuh gadis itu,
"kau pasti ketakutan bukan?"
"Tentu saja, aku sangat takut, o-oniki-sama." Balas Raphtalia bercucuran airmata.
"Begitu ya, apa pria itu menjagamu dengan baik."
"Huh?" Raphtalia angkat kepala menatap Oniki.
"Maksudmu Hizen?"
Kedua tangan Oniki mengusap lembut airmata di wajah indah Raphtalia. Kemudian, Oniki membenarkannya.
"Kau sudah saling kenal...? S-sejak kapan...?"
Dengan lembut, Oniki menyentuh kepala Raphtalia.
"Semenjak kau memilihnya." Jawabnya.
"Sekarang tetaplah sementara bersama ku, akan ku ceritakan apa yang terjadi di luar." Tambahnya.
"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Raphtalia.
"Hizen dan lainnya berusaha melindungimu."
Mendengar ucapan itu, Raphtalia merasakan keberadaan Hizen mengkhawatirkan seseorang. "Huh?"
"Kau merasakannya bukan?" Tebak Oniki duduk disampingnya.
"T-tidak mungkin." Balas Raphtalia tak percaya merasakannya.
Akan tetapi, hal itu membuat jantungnya kesakitan.
"Agghh...g-gawat j-jantung ku?!"
Oniki juga menyadarinya itu tau hal yang membuat Raphtalia kesakitan.
"Apa Hizen pernah bilang padamu bahwa kau tidak bisa jauh darinya?" Tanya Oniki.
Raphtalia terkejut sejenak, "P-pernah, t-tapi b-bagaimana kau tau itu?"
"Yang dimaksudkan ucapan itu adalah kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu darinya dan hal membuatmu seperti ini adalah pria itu sudah memilih seseorang."
Raphtalia sulit menanggapi ucapan Oniki
"Apa ini berhubungan dengan Hina-chan?" Batinnya.
"Raphtalia?"
"Ya?"
"Berhentilah berharap pada Hizen, karena tak semua pahlawan yang bisa membawa kehidupanmu jauh lebih damai."
Raphtalia tak tau harus menanggapi apa lagi ucapan itu. Perlahan-lahan kesadarannya kembali setelah di tidurkan oleh Vanus. Tapi, begitu kedua matanya terbuka, dia sungguh terkejut.
"Huh? V-vanus...Khalty? A-apa yang terjadi?"
"Syukurlah, kau sadar..."
Sungguh mengherankan dua orang itu tiba-tiba membawa Raphtalia pergi dengan cemas. Vanus tampaknya menggendong Raphtalia.
"Begitu kami menyelesaikan operasinya, tempat itu sudah dihancurkan oleh monster." jawab Vanus.
"M-monster?"
"Benar, dia mencium bau darah suci dan itu adalah kau, Raphtalia-chan."
"Huh?"
"I-ini sama dengan kejadian itu." Batin Raphtalia mengingat kembali, saat dia dikejar oleh monster bermata satu hanya karena Raphtalia memiliki aroma darah menggairahkan. Untungnya, saat itu Hizen menyelamatkannya. Meski harus dengan memarahinya hingga Raphtalia ketakutan, apalagi ketinggian.
Tak hanya terkejut, dia heran menyadari kaki kirinya tampak sudah kembali dengan perawatan Varanium.
Dia juga tak lihat sosok Hizen dan Hina bersamanya.
"A-anu, Hizen k-kemana?"
"Dia memintaku untuk menjagamu."
"Tapi tenang saja, kami yakin kau aman dalam penjagaan kami." Sahut Khalty.
Wajah Raphtalia terlihat khawatir pada Hizen dan Hina yang masih berada di tengah kota Muy king, itu artinya mereka sedang berhadapan dengan monster yang menyerang tempat itu.
"Hizen...Hina-chan... Aku khawatir, kalian baik-baik saja, kan?"
•••
*BERSAMBUNG*
happy Eid mubarak,
jika ada kesalahan pada tulisan di atas
mohon maaf sebesar-besarnya.
meski akhir-akhir ini telat update akibat koneksi data sedang bermasalah.
insya allah, saya usahakan update lebih tepat waktu.
jangan lupa tinggalkan jejakmu...
Arigatou Gozaimasu🙌🙏😊😊