
The Legendary Of Hero
.
.
.
"Lama tidak bertemu, tadahiro.."
"..si kilat merah yang tak berguna." Sapa Zyn, si pahlawan tombak yang kini berdiri bersama temannya, pahlawan panah alias Archia.
Dua pria itu sedang berhadapan dengan pahlawan yang di sebut tak berguna, Tadahiro Hizen.
"Huh?" Gadis kecil berpirang merah ketakutan dengan memyembunyikan dirinya dibalik punggung Hizen.
"Cih! Benar-benar merepotkan!" Wajah Hizen sedikit mengerut kesal menatap dua pahlawan itu telah menemukannya. Dia tetap menyembunyikan bagian pengecutnya karena bertemu mereka saja membuat dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
Tapi, pria itu berusaha tetap tegar dan berani melawannya. Meski dia lemah tak punya senjata seperti pahlawan lainnya, setidaknya dia mencoba dengan kekuatan magusnya yang telah dipelajari berturut tahun sebelumnya.
"Ternyata benar, gadis itu memang ada hubungannya denganmu." Ucap Zyn.
"Memangnya kenapa? Itu tidak ada salahnya dia ada hubungannya dengannku." Jawab Hizen.
"Cihh! Aku sempat berpikir kalau gadis itu hanyalah budakmu, tapi melihatnya saja mudah ditebak bahwa itu benar gadis ini memang budakmu."
"Meski sebelumnya dia menolak, tapi kau menyiksanya dengan mencuci otaknya bukan?"
Mendengar ucapan Archia yang sama sekali tidak ada benarnya membuat Hizen semakin marah dan menegaskan bahwa dirinya tak pernah menjadikan gadis itu sebagai budaknya.
"Aku tidak mungkin memiliki kekuatan itu menjadikannya budakku!!" Seru Hizen meninggikan suaranya agar mereka benar-benar sadar apa yang diucapkannya. Sayang sekali, itu hanyalah...
"Jangan bermain denganku!!" Ucap Zyn membantah mendengar ucapan Hizen itu tidak berarti sama sekali.
Archia mengarahkan anak panahnya ke arah Hizen, perlahan-lahan tangannya menarik busurnya serta mengumpulkan kekuatan skillnya tepat di ujung anak panahnya.
"Persiapan metal, wahai cahaya abadi biarkan panah ini menyucikan hati kegelapan..."
"Lasting glow!!"
Dengan meneriakan mantra lasting glow, panah itu lepas dari busurnya dan mengarah lurus ke hadapan Hizen. Panah yang diselimuti cahaya abadi yang dapat menghancurkan musuh dalam waktu singkat. Seolah hancur debu tak tersisa.
Raphtalia juga merasakan kekuatan panah itu sangatlah kuat, dia khawatir apa Hizen mampu menangkisnya dengan tubuh yang tak bersenjata sama sekali.
"Patron maguc!"
Hizen mengucapkan sebuah mantra pelindung diri Patron maguc hanya dengan mengucapkannya, mantra jauh lebih kuat itu mampu menangkis panah abadi hingga benda itu menghilang. Tentu saja dua pahlawan itu sedikit membulat.
Bibir Hizen terangkat sinis, "sebaiknya kalian jangan berurusan dengan ku."
Bukannya menyerah, keduanya menanyakan dimana Hizen mendapatkan kekuatan itu. Padahal dia hanyalah pahlawan tanpa senjata.
"Apa kau mencuri kekuatan orang lain?" Tanya Zyn.
"Buat apa aku mencurinya, kau tau...selama aku di tempat neraka itu aku mempelajari banyak hal dalam tubuhku."
Zyn tanpa berpikir panjang langsung menyerang Hizen dengan tombaknya. Namun, Hizen hanya menampilkan senyum cerdiknya seolah dirinya sedang bertarung dengan kecoa.
"Lambat.."
Dengan membaca gerakan Zyn begitu lamban, Hizen dapat menangkis tombaknya dengan sekali genggaman. Zyn heran bagaimana bisa pria tingginya 200cm bisa bergerak cepat menangkis senjatanya.
"Tidak mungkin!"
Tangan Hizen menarik tombak itu bersamaan Zyn jatuh banting ke tanah. Archia menyaksikannya tak sangka hal itu membuatnya heran, ini bukanlah Hizen si lemah melainkan iblis.
"Biar ku peringatkan, meskipun aku tidak ingin berurusan dengan pahlawan lainnya dan kerajaan tidak jelas itu sebaiknya jangan mengganggu ku, karena aku bukanlah pahlawan dari kerajaan itu, paham?!." Sahut Hizen memperingati mereka.
"Ayo raphtalia." Hizen bersama Raphtalia menghilang dengan kekuatan magusnya, teleport.
Tangan zyn tampak mengepal kesal. "Tidak bisa ku maafkan!" Teriaknya.
"Tenangkan dirimu, Zyn. Kita tidak tau apa yang terjadi kedepannya, setidaknya kita menunggu waktu menantikannya,"
"..Gelombang malapetaka sudah dekat." Sahut Archia.
Zyn menghela nafas panjang. "Baiklah, kalau begitu.."
"Ayo kembali ke istana dan laporkan hal ini pada sang raja."
••
Hizen dan Raphtalia berhasil berpindah ruang, meski tak jauh dari keberadaan dua pahlawan setidaknya tempat itu sudah aman.
"Huffhhh.. Syukurlah.." Tampaknya Hizen begitu lega setelah menyembunyikan keraguannya.
"Anu..H-hizen? Itu..uhmm.."
"Aku sudah tau, kau mencari pahlawan legendaris bukan?" Tebak Hizen sambil duduk menyandarkan bahunya ke salah satu dinding pohon.
"Kau tidak boleh ikut dengan ku." Sambungnya.
Dia begitu paham alasan Raphtalia mencarinya, tapi menurutnya gadis itu akan terbebani olehnya. Apalagi gadis iti hanyalah bernasib lemah,
"Kenapa? Apa karena tubuhku lemah? Tapi.. Aku sangat membutuhkanmu.."
"Aku menolak!" Teriak Hizen lantas membuat Raphtalia terdiam lagi.
"Untuk apa kau membutuhkan ku, masih banyak pahlawan legendaris disana dan kau bisa meminta bantuan dengan mereka."
"..Tidak dengan ku, bersamaku saja kau akan terbebani dan aku tidak ingin kehilangan orang lemah sepertimu." Tambah Hizen.
Raphtalia berlutut memohon agar Hizen membiarkan dirinya ikut bersamanya. "ku mohon biarkan aku ikut denganmu Hizen."
"Karena pahlawan legendaris yang ku cari adalah si kilat merah, dan itu anda Hizen tadahiro."
"Jadi ku mohon.." Bujuknya sebisa mungkin.
Mendengar gadis itu bicara jujur membuatnya sadar sejenak. "Aku?"
"Kenapa?" Tanyanya.
Gadis itu bangkit dan menjelaskan alasan mengapa dia mencari si kilat merah.
"Karena aku telah dipilih untuk menyelamatkan hidupmu dan kau bisa menggunakan ku sebagai pedangmu maupun perisaimu, Hizen." Jawab Raphtalia.
Hizen menatap gadis itu berdiri dihadapannya. "Itu artinya kau berada disalah satu dimensi? Bagaimana pun itu...arghh.."
Raphtalia baru sadar bahwa sebelumnya, Hizen tertusuk panah di belakang punggunggnya akibat melindunginya.
"A-anu, kau b-baik-baik saja? B-biarkan aku mengobatimu."
Hizen tak meresponnya melainkan membiarkan gadis itu mengobatinya dengan kekuatan penyembuhnya pada belakang badan pria itu.
"Maafkan aku.. aku memang gadis bernasib lemah, tidak pintar bertarung dan penakut." Ucap Raphtalia terdengar sedih.
"Akibat diri ku.. Kau jadi seperti ini, aku..benar-benar minta maaf."
Hizen mendengarnya hanya diam merenungkannya. Setelah menyembuhkannya, diam-diam Raphtalia menyandarkan kepalanya tepat punggung Hizen.
"Izin kan aku ikut bersamamu.."
"Kau bisa menggunakan senjata apapun dalam tubuhku, meskipun tubuhku lemah tapi setidaknya kau mencobanya." Sahut Raphtalia masih mengharapkan izin Hizen.
"Anu..H-hizen?"
"Hm?"
"Daritadi kau tidak menjawabku, apa ada yang salah dengan ku? Atau aku orang jahat yang akan mengkhianatimu."
"Aku sangat takut berbuat jahat apalagi mengkhianati orang lain, tapi aku akan marah jika ada yang menyakiti orang ku meskipun tubuhku tak bisa bertarung aku akan mengorbankan tubuhku sendiri."
"Orangmu?"
"Penduduk kerajaan Ning."
"Apa?" Hizen sontak menatap Raphtalia, "kerajaan Ning? Apa kau berasal di tempat itu? Bagaimana situasi disana?"
Mendengar pertanyaan Hizen mendadak menatap kedua mata gadis itu membuat Raphtalia terkejut dan bingung. "Huh, h--hizen?"
"Jawab pertanyaan ku!" Tegas Hizen.
"Aku..putri kerajaan Ning, asalku memang dari tempat itu dan..kerajaan ku maupun dunia.."
Jawaban Raphtalia berhenti sejenak, mengingat masa akhirnya bersama penduduk bumi membuat airmatanya jatuh mengalir, Hizen tak mengerti itu memegang erat kedua pundak Raphtalia.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu...??" Tanya Hizen.
"Hiks..hiks.. Seorang iblis telah melenyapkannya dan..hiks..hiks.. hanya aku..hanya aku yang tersisa."
"Hah? A-apa? T-tidak mungkinn." Hizen juga sulit mengekspresikan wajahnya karena dunia damai yang sempat membuatnya tidak sabar untuk kembali itu, tak di sangka dunia impiannya sudah lenyap 8 tahun yang lalu.
"Apa asalmu dari tempat itu? Jika itu benar, maafkan keluarga ku karena tak bisa menjaga dunia damai dengan baik." Sahut Raphtalia masih dibanjiri oleh airmatanya.
"Hiks..maafkan aku..hikss.."
Hizen menarik tubuh mungil gadis itu jatuh ke pelukannya. "Kenapa kau tidak bilang jika kau berasal dari dunia damai itu?"
"Kau tau.. aku sangat ingin pulang ke dunia itu, tapi..kenapa? kenapa harus hancur mendebu? Padahal dunia itu sebelumnya baik-baik saja bukan?"
Raphtalia juga baru tau, bahwa Hizen juga berasal dari dunianya. Mendengar Hizen ingin kembali itu tentu saja membuatnya ikut bersedih karena dunia damai tak bisa kembali, kecuali..
"Orang-orang itu dikirim ke Abyss, tapi dalam keadaan amnesia." Ucap Raphtalia.
"Begitu ya.." Balas Hizen mempereratkan pelukannya terhadap Raphtalia.
"Maafkan aku Raphtalia." Sambungnya.
"Huh?"
••
Malam itu di kediaman Kyouka, seperti yang direncanakan. Zyn bersama Archia mengabarkan pada sang raja bahwa mereka menemukan Hizen. Namun, Hizen kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Dia mempunyai kekuatan yang mengalir dari tubuhnya seolah mirip seperti penyihir magus.
Mendengar kabar dari dua pahlawan tadi, sang raja mengenakan mahkota kerajaan tertawa kecil.
"Hmm..jadi begitu, setelah kabur dari tahanan 8 tahun lalu. Dia bersembunyi sambil mencuri kekuatan kah?" Gumamnya.
"Benar-benar pahlawan tak berguna."
"Apa yang harus kami lakukan yang mulia?" Tanya Archia.
"Dia memang patut ditahan kembali, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menangkapnya karena dua hari lagi, tujuh pahlawan akan menghadapi kegelapan malapetaka."
"Dimengerti, yang mulia."
"Terima kasih banyak sudah mengabarkan hal pada yang mulia."
Mereka menunduk bungkuk dengan memohon pamit pada sang raja. Setelah dua pahlawan pergi, bibir sang raja berubah senyum jahat.
"Dia sudah kembali ya?"
Diam-diam dia memerintahkan salah satu peri kecil untuk menyelesaikan hidup Hizen.
"Pastikan kau kembali hidup-hidup."
"Baik yang mulia.
Peri kecil bertubuh mungil serta imut menuruti perintah sang raja. Meski tampangnya sangat imut, tetapi dia kan berubah ketika berhadapan dengan musuh.
"Heheheh...serahkan padaku." Dengan memperlihatkan senyum jahatnya.
Mentari pagi akhirnya kembali, gadis dewi berkaki satu baru saja bangun oleh teriknya sinar matahari.
"Oh? S-sudah pagi? Hooaammph.." Namun wajahnya masih terbawa kantuk berat.
"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak semalam?" Tanya Hizen menyapanya.
"Hm? Ooh..ku rasa begitu." Jawab Raphtalia mengucel-ucek wajahnya.
Hizen berdiri dihadapannya itu mengulurkan tangannya. Lantas membuat Raphtalia tidak mengerti, huh?
"Sekali lagi maafkan aku.."
"Huh? H-hizen, aku..t-tidak apa-apa." Gadis itu mengibas-ngibas kedua telapak tangannya dengan wajah pahitnya karena tidak ingin membahas kesalahan kemarin.
Saat ini, dia sudah berhati tulus memaafkan Hizen. Jadi tidak perlu sungkam maupun membahasnya lagi. Hizen juga ikut tak enak hati jika membahasnya lagi, maka dari itu dia mengubah topik pembicaraan.
"Kalau begitu.. mulai sekarang, kau bisa ikut dengan ku."
Mendengar keputusan yang diharapkan Raphtalia, dewi mungil itu benar-benar bahagia.
"Huh? Benarkah? K-kemanapun kau pergi aku..aku bisa bersamamu bukan?"
Hizen tersenyum sambil mengganggukannya."hmm.."
"Kemanapun aku melangkah maupun ke dimensi lain, ku pastikan kau tetap bersamaku, karena kau adalah..."
"Salah satu dunia ku." Jawab Hizen.
Mata Raphtalia berbinar-binar kagum itu menerima tangannya dengan riang ceria. "Terima kasih Hizen,.aku benar-benar berterima kasih dengan keputusanmu."
"Jadi...mohon kerjasamanya!" Serunya menundukkan kepalanya dengan hormat pada Hizen.
Keduanya berjalan bersama untuk melanjutkan petualangan mereka. tetapi Raphtalia kesulitan berjalan dengan tongkatnya hingga membuat dirinya lamban. Maka dari itu, Hizen memilih menggendongnya.
"Huh? Anu..H-hizen, kenapa? Padahal aku tidak apa-apa seperti ini." Pipi gadis itu memerah jika Hizen menggendongnya seperti bayi. Dia bersikeras menolak agar Hizen tidak terlalu merepotkannya.
Hizen hanya meneruskan langkahnya dengan menatap kehadapan tanpa sadar gadis itu dilanda oleh sifat malunya. Dan langkah itu akhirnya berhenti sejenak, kemudian menatap Raphtalia dengan tatapan damai nan lembut.
"Dengar Raphtalia, mulai sekarang kau dan aku akan menghadapi hal yang menakutkan.. Siapapun yang menghalangi jalan ku maupun jalanmu, musnahkan mereka.."
"Karena siapapun itu adalah musuh." Sahut Hizen.
"Tapi.. Apa tujuanmu h-hizen?" Tanya Raphtalia.
"Tujuan ku.. Sederhana, hanya ingin pulang ke tempat damai."
"Tapi tempat itu..." Ucapan Raphtalia terhenti melihat Hizen memintanya diam sebentar.
"Ssstt... Seseorang sedang melacak lokasi kita."
"Huh?"
*BERSAMBUNG. . .*
yuppp, gimana chapter hari ini.. di tunggu saran atau pendapat kalian yahh. terima kasih sudah mampir membaca, jangan lupa bomlike, rate dn votenya. sekali lagi, syukron😌🙏🙇