
_Chapter 21_
The Legendary Of Hero
.
.
.
Entah mengapa, dihari yang tenang itu terasa cuacanya sedang buruk. Ada beberapa gagak hitam terbang berputar di atas menara jam Kyouka, para penduduk juga merasa aneh akan hal itu. Mereka khawatir ini adalah pertanda buruk.
Sama halnya dengan 6 pahlawan setelah bermimpi buruk tentang hilangnya sosok dewi terakhir. Mereka berkumpul di ruang rapat. Tepatnya ruang rapat tersembunyi yaitu perpustakaan bawah tanah, ruang itu sangat rahasia dan khusus untuk mereka rapat penting. Bahkan tidak diketahui oleh siapapun kecuali para pahlawan termasuk perinya.
"Aku terkejut kalian mengalami mimpi buruk yang sama." (Veno)
"Aku juga, apa karena darah dan jiwa pahlawan terhubung dengannya?" (Katagaki)
"Ku rasa begitu, apa kalian ingat saat gadis bernama Raphtalia dibawa ke hadapan yang mulia?" (Lucien)
"Tentu saja kami ingat, begitu melihatnya darah dan jiwa ku terasa panas, seperti kekuatan ku telah pulih." (Haku)
"E-eh? K-kau juga merasakannya?" (Archia)
"Kenapa? Apa kalian juga merasakannya?" (Haku)
"Aku merasakannya." (Lucien)
"Tapi aku tidak merasakan apa-apa." (Zyn)
"Aku juga." (Veno)
"Aku juga."(Archia)
"Aku pernah merasakan sebelumnya." (Katagaki)
Mereka baru sadar bahwa ada perbedaan kemudian mencoba pikirkan lebih atur lagi hingga Veno terlebih dahulu memahaminya.
"Jadi begitu..."
"Ada apa?" Tanya Katagaki.
"Dari delapan pahlawan, ada dua golongan senjata yang berbeda yaitu suci dan legendaris."
Itu benar yang dikatakan Veno, ada empat pahlawan suci yaitu Veno, Zyn, Archia dan Tatsuya dan empat pahlawan legendaris yaitu Haku, Katagaki, Lucien dan Hizen.
Hanya pahlawan legendaris mampu merasakan darah dewi jauh lebih panas dan mengerikan dibanding pahlawan suci yang hanya bermimpi buruk keberadaan dewi.
"Benar-benar tidak percaya." Sahut Zyn.
"Kalau begitu, maukah semua pahlawan itu kembali bersatu?" (Katagaki)
Mendengar akan hal itu, semua jadi sedikit terdiam dan tidak yakin semua hati pahlawan bersatu. Manalagi, sosok Hizen sangat tidak disukai oleh mereka hingga merasa jenuh menyebut nama pahlawan magus.
"Apa itu artinya Tada-san ikut bersama kami? Tapi bagaimana pun itu, aku menolak." (Zyn)
"Aku bahkan sulit memaafkannya tentang kejadian itu." (Haku)
Mereka tampaknya mengeluh hingga Katagaki merasa tidak nyaman dengan suasana mengerikan ini. Maka dari itu, dia cepat-cepat ubah topik pembicaraannya.
"Kalau begitu, mari temui Tatsuya. Ku dengar dia sudah kembali dan tinggal di daerah sini, bukan?"
Tentu saja, semuanya setuju. Ini benar-benar tak terduga, mereka mulai berdamai dengan Tatsuya dibanding Hizen. Padahal dua-duanya adalah pahlawan loo.
••
Kediaman putri kedua Kyouka yaitu Asuka tampaknya sedang membaca buku familiar alias kitab para dewi. Rasa ingin tahunya makin bertambah setelah membacanya, akan tetapi satu halaman hilang dari buku itu.
"Kemana satu lembaran?!"
Bisa dibilang dia cukup terkejut dan marah, sampai-sampai melemparnya jatuh bergeletak ke lantai. Dan pada saat itu, sebuah kunci terjatuh dari buku tersebut.
"Hm?"
Tentu saja, Asuka melihatnya kemudian mengambilnya.
"Kunci apa ini?"
Kebetulan buku itu jatuh dengan keadaan terbuka dan sebuah tulisan familiar terlihat di sana,
“Lost Memory Of Key”
Bibirnya terangkat sinis, "jadi begitu..."
"Inikah kunci kitab dewi itu? Aah..ku dengar ada ruang misteri terkunci, ku rasa ini kunci yang cocok." Gumamnya.
Asuka diam-diam ke ruang misteri tepatnya berada di kastil peri. Sebelumnya dia pernah menemukan pintu rahasia dan sangat sulit membukanya, bahkan baik kekuatan suci dan sihir tidak mempan. Itulah mengapa, dia sangat penasaran sesuatu didalam ruang itu.
Beruntung sekali para peri tidak ada di sana, tentu sudah jadi kesempatan ia menyelesaikan misi. Namun, tak di sengaja sosok Alysa kembali di tempat itu. Kemudian melihat Asuka tampak endap-endap ke suatu tempat.
"Sedang apa dia kemari?"
Alysa ikut membututinya karena penasaran, kemana sebenarnya Asuka pergi? Mencurigakan sekali.
Asuka menemukan ruang terkunci, sebenarnya Alysa terkejut setelah tau bahwa Asuka ingin masuk ke tempat itu.
"Oi..ini mimpi kan? Untuk apa Asuka-sama ke ruang itu? Ruang i-itu...kan-..."
Dia terdiam lagi melihat Asuka membawa kuncinya.
"E-eeeehh? Kunci itu ada di tangannya??? Bagaimana bisa???"
Alysa sulit berkata-kata, bahwa kunci itu sangat cepat di temukan. Asuka juga terkejut, kunci itu cocok dengan ruang misteri.
"Benar-benar menakjubkan."
Pintu itu terbuka, dan perlahan-lahan mata Asuka terbuka lebar gemetar.
"Huh?"
Beberapa batu pilar es dipenuhi ruangan itu, dan setiap isi pilar tersebut terdapat sosok gadis membeku.
"Tidak mungkin..!"
"Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin! Mereka adalah para dewi yang sudah dilenyapkan!"
Ini benar-benar tak terduga bahwa di ruang itu terdapat 7 dewi terjebak dalam pilar es tersebut. Asuka jatuh bertekuk lutut akibat saking terkejutnya, ia bercucuran mata dan tidak bisa memaafkan dirinya.
"Kenapa?...kenapa? Kenapa semuanya ada di sini?"
"Syukurlah kau bisa melihatnya dengan mata kepalamu." Sahut Alysa muncul di samping pintu.
Asuka terdiam mendengar sosok Alysa melihatnya.
"Sejak kapan kau di sini?"
"Ini kastil peri loo, tidak mungkin kami meninggalkan kastil ini tanpa sihir pelindung." (Alysa)
"Tolong jawab pertanyaan ku, apa yang terjadi sebenarnya di ruangan ini?" (Asuka)
Alysa merasa berat menjawabnya, ia tidak yakin apa saat ini adalah waktu yang tepat menceritakan misteri para dewi.
"Bagaimana kau mendapatkan benda itu?"
Benda yang dimaksudkan Alysa adalah kunci, dia ingin tau bagaimana bisa Asuka begitu mudahnya mendapatkan kunci itu.
"Dari kitab dewi." (Asuka)
"Hmm.. Begitu ya, itu pasti salah satu dari mereka menyimpan kuncinya di buku itu.." (Alysa)
"Mereka?"
"Para peri."
Alysa menghela nafas panjang dan mempersiapkan diri menceritakan dibalik misteri dewi maupun kitab suci.
"Kami menerima perintah Heila-sama membunuh mereka dengan meracuninya."
"A-apa? I-ibu?"
Asuka terkejut, dibalik lenyapkan para dewi adalah perbuatan ibunya.
Diam-diam wajah Alysa merautkan wajah kesedihan,
"kau tau, betapa takutnya kami melakukannya bahkan harus menerima mimpi buruk membuat kami tidak bisa tidur dengan baik dan membuat ku frustasi. Jadi kami akan bertanggungjawab dan mempertahankan tubuh mereka dengan es pilar agar suatu saat mereka kembali."
"Siapa saja yang tau hal ini?" Tanya Asuka.
"hanya kerajaan ini tidak tau apa-apa bahwa Heila-sama telah mengkhianati para dewi. Aku tidak tau, apa Heila-sama benar-benar mengkhianati semuanya apalagi dirimu?" (Alysa)
Sungguh memilukan nasib para dewi yang dilenyapkan oleh Ratu Heila, mungkin ada alasan mengapa sang ratu melakukannya. Tapi, Asuka ingin mengetahuinya dengan jelas.
•••
Tatsuya tampak murung, hanya duduk terdiam menatap makanan sudah disajikan di mejanya. Mengingat mimpi buruk tentang Raphtalia membuatnya tidak tenang hingga stres memikirkannya.
Sebelumnya ia meminta Shirayuki mengirim pesan pada Hizen lewat burung merpati. Ini sudah 5 jam tak ada balasan atau burung itu kembali.
Shirayuki jadi khawatir melihat kondisi Tatsuya sangatlah tidak bersemangat. Meskipun ia tidak bisa merasakan apa yang dirasakan Tatsuya saat ini. Yang harus ia lakukan hanyalah menenangkannya.
Ia mencoba menghampirinya dengan menyapa lembut pada Tatsuya.
"Tatsuya...?"
Sebenarnya ia takut mengganggu Tatsuya akan membuatnya marah padanya.
"Mm..bagaimana perasaanmu saat ini? Kau masih ketakutan?"
Tatsuya tidak menjawabnya, tangan Shirayuki mengusap lembut rambut Tatsuya.
"Semua baik-baik saja."
Shirayuki melihat makanannya masih penuh dan tidak ada bekas dimakan maupun habis.
"Kau harus makan."
Tatsuya menggelenggkan kepalanya, Shirayuki makin khawatir. Ia pun menangkap sosok merpati datang ke samping jendela dan tak hanya itu, merpati itu membawa surat kecil.
Dia lega suratnya telah kembali. Ia mengambilnya kemudian menghampiri Tatsuya kembali.
"Lihat, pesannya sudah datang dan aku akan membacanya."
Wajah Tatsuya terangkat menatap suratnya tepat di tangan Shirayuki.
Kali ini Shirayuki yang akan membaca isi suratnya.
“Raphtalia telah kehilangan semuanya dan tersisa hanyalah tubuh yang tak berdaya sama sekali, maafkan aku...”
Kedua mata Tatsuya terpaku, kemudian meneteskan airmatanya.
"Huh..? T-tidak mungkin..."
Shirayuki dengan cepat memeluk Tatsuya penuh erat agar menenangkannya.
"Hiks...tenangkan dirimu, Tatsuya..." (Shirayuki)
"...hikss..hikss.." (Tatsuya)
Shirayuki berusaha menenangkan Tatsuya dengan cara apapun itu.
"Semua baik-baik saja."
•••
Heila bersama Hina telah kembali ke kastil Kyouka dengan sihir teleportasi. Mereka heran melihat suasana Kyouka sangatlah sepi, tidak banyak para prajurit keluar maupun berjaga. Dan lagi, cuaca saat itu sangatlah mendung, tidak hujan maupun terdengar gemuruh petir dari langit. Terdapat gagak hitam berkeliaran di atas menara jam Kyouka.
"Apa yang terjadi?" Tanya Hina.
"Entahlah, yang penting aku harus menyimpannya segera." (Heila)
Tiada siapapun sadar maupun menyambut kedatangan mereka. Tetapi, untungnya seseorang mendapati mereka.
"Apa yang sudah kau lakukan, Heila?" (Suwon)
Itu sosok Suwon, melihat kehadirannya Heila sedikit tegang dan cepat-cepat menyembunyikan dua senjata di belakangnya. Sayangnya, itu mudah terlihat karena benda itu sangat besar. Suwon jadi curiga,
"Dua senjata legendaris? Apa maksudnya ini?"
Dia jadi bertanya-tanya pada Heila. Akan tetapi Heila mengabaikan pertanyaan itu dengan sikap dinginnya.
"Itu bukan urusanmu, Suwon."
Heila pergi dengan wajah jenuh terhadap Suwon. Kali ini Suwon membiarkan wanita itu pergi karena masih ada sosok Hina masih diam terpaku dihadapannya.
"Katakan sebenarnya."
Bibir Hina gemetar mengeluarkan kata-katanya. Dengan tenang, Suwon menyentuh kedua pundak Hina.
"Jangan khawatir, aku ayah mu." Sahut Suwon.
Tubuh Hina gemetar dan ketakutan, ia tak tahan menutup rasa keraguannya dalam dirinya. Maka dari itu, ia memeluk erat ayahandanya.
Suwon sedikit terkejut, tapi setelah itu tangannya mengusap lembut rambut panjang Hina.
"Apa ada sesuatu membuat mu takut?"
"Hiks...hiks..ssh..hikss.." Suara isak tangis Hina mulai terdengar.
"Aku sangat takut, sangat takut dan tidak tau apa yang sudah ku perbuat padanya." (Hina)
"Padanya?" (Suwon)
"Aku sangat marah dan tidak sengaja kemarahan ku lepas kendali hingga aku hampir membunuhnya. Tapi untungnya ibu cepat menghentikan ku." (Hina)
"..namun setelah itu...ibu..ibu mengambil semuanya dari tubuh orang itu hingga punah."
Mengingat kejadian itu, Hina benar-benar ketakutan. Manalagi jika harus berhadapan dengan Hizen, ia khawatir berat dia memarahinya.
Mata Suwon terbuka kaget mendengarnya, ia menebaknya, apa orang yang dimaksud oleh Hina adalah sosok dewi?
"Jadi begitu..?"
Perlahan-lahan ia mengerti dengan kejadian sebenarnya.
"Benar-benar diluar dugaan ku, kau berulah lagi setengah iblis Heila Lizeray."
••
Heila sudah masuk ke aula inti Kyouka, tepatnya berada ruang bawah tanah. Benda bulat raksasa sudah berada dihadapannya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, ia akan mengembalikan senjata legendaris pada bola itu.
Semakin melangkah, melangkah dan melangkah...
Empat langkah,
Tiga langkah,
Dua langkah dan...
Satu langkah ia sudah berdiri dihadapan benda itu. Ia juga sudah mempersiapkan diri mengembalikan dua senjata itu.
Akan tetapi, entah darimana munculnya itu, dua senjata di tangan Heila diambil seseorang.
Heila terkejut dan kesal melihat beberapa orang datang di sekelilingnya.
Dan bibirnya terangkat, "aku sudah menduga bahwa kalian telah mengawasi ku."
"Kami tidak akan membiarkan hal ini terulang lagi." Sahut Jail.
Ternyata 7 peri bekerjasama akan melawan takdir Sang ratu.
"Kalian menganggu ku." dingin Heila.
•••
*BERSAMBUNG . . .*
**SEGERA TINGGALKAN JEJAKMU DIBAWAH, JANGAN LUPA VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA, LIKE DAN DUKUNGANNYA.
TERIMA KASIH BANYAK🙏💕**