
_Chapter 28_
The Legendary Of Hero
.
.
.
Mia dan Shirayuki menuju kediaman Heila, keduanya obrol santai sambil berjalan dan sepertinya mereka tampak akrab sekali ya.
"Memang ada apa kau ingin menemui Heila-sama?" Tanya Mia.
"Aku masih ingin tau tujuan Heila melumpuhkan Raphtalia. Jujur saja, aku tidak mempercayainya Raphtalia benar-benar sekarat karenanya."
"Hmmm, begitu ya. Aku juga tidak tahu alasan itu, tapi para peri percaya Raphtalia adalah dewi terakhir."
"Itu benar, aku berharap bisa bertemu dengannya lagi."
"Aku juga."
Sekian berjalan dan mereka akhirnya tiba dihadapan pintu kamar Heila.
"O-oh, sudah sampai?" (Shirayuki)
Mia membenarkannya, tak lama itu pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Asuka.
Mereka kaget satu sama lain.
"Asuka-sama?"
"Mia? Dan kau....?"
"Huh?"
Asuka jadi jenuh dan tidak punya waktu bertemu dengan Shirayuki dan Mia.
"Aku tidak punya waktu." Tegasnya.
"Aku tidak bilang ingin bertemu denganmu." (Shirayuki)
"Lalu, apa yang kalian lakukan di sini? Ingin temui ibu ku, hah? Aku tidak mengizinkannya!"
Asuka benar-benar tidak membenarkan Shirayuki masuk menemui ibunya. Mia mencoba bujuk sekali lagi.
"Asuka-sama, ini hanya sebentar kok."
Namun, Shirayuki menyerah terlebih dahulu.
"Baiklah, aku akan kembali...ayo Mia."
"Huh? Tapi...Shirayuki-sama..."
"Tunggu?" Suara familiar dari sosok Suwon menghentikan langkah mereka.
Suwon ikut muncul dari kamar Heila,
Shirayuki tersenyum lega, "Harusnya kau datang dari tadi, Suwon-sama."
Suwon menundukkan kepalanya dan meminta maaf atas ketidak sopanan putrinya terhadap Shirayuki.
"Tolong maafkan putri ku."
Bahkan Asuka tak terima ayahnya menunduk maaf pada setengah Elf.
"A-ayahanda?!"
"Jaga sikapmu, Asuka!" Tegur ayahnya.
Asuka kaget hingga tak berkutip, dia memilih meninggalkan mereka. Lagi pula, mereka tidak terlalu memikirkannya.
"Putri yang manja." Ucap Shirayuki.
"Lupakan saja, ayo masuk."
"Baik, terima kasih Suwon-sama."
Mereka masuk menemui Heila yang masih terbaring di kasurnya.
"Siapa?"
"Ini aku, Shirayuki."
Shirayuki duduk di samping tempat tidur Heila, sementara Suwon dan Mia meninggalkan mereka berdua bicara.
Heila tidak menyangka sosok Shirayuki sedang menjenguknya, dia mencoba bangun dari tempat tidurnya.
"Ada apa kau kemari?"
Dengan cepat, Shirayuki bangkit menolak Heila bangun sambil membaringkannya.
"berbaringlah, aku hanya kemari menjengukmu saja. Bagaimana kondisimu, Heila-sama?"
"Seperti yang kau lihat, kondisi ku masih lemah."
Shirayuki duduk kembali, dia benar-benar mencemaskan Heila mengingat Raphtalia kecil menyucikan jiwanya.
"Pasti menyakitkan setelah dia menyucikanmu, bagaimana dengan perasaanmu saat ini?"
"Aku tidak tahu."
Kedua mata Shirayuki terbuka lebar mendengar jawaban Heila yang polos, entah mengapa perasaan apa yang melanda dirinya hingga rasanya ingin menangis, dia menundukkan wajahnya dengan menyembunyikan rasa sedihnya.
"Kenapa...? Kenapa kau melakukan semua itu?"
Pertanyaan itu sempat Heila heran, tapi perlahan dia mengerti.
"Karena dari awal adalah kesalahan ku."
Shirayuki terkejut, kemudian menatap Heila dengan serius nan lembut.
"Apa selama ini kau berusaha melawan rasa bersalahmu hingga kau tidak bisa mengendalikan diri."
"Setengah benar."
"Hm?" Shirayuki tidak mengerti sambil memiringkan kepalanya.
Menjawab pertanyaan Shirayuki itu sangatlah panjang, Heila tidak ingin membahas lebih dalam maka dari itu intinya adalah jawaban darinya.
"Mencegah jiwa iblisnya bangkit."
Wajah Shirayuki terlihat mengerti, tapi raut wajahnya cemas bercampur sedih kembali.
"Bagaimana pun itu caramu sangatlah berantakan."
Dia menggenggam salah satu tangan Heila, pada akhirnya. . .
Hiks...hikss...hiksss, dia benar-benar menangis.
"Raphtalia......sangat menderita, dia bilang pada ku.... bahwa dia tidak pernah terbebas dari penderitaannya.... bahkan dari kerajaan ning...
"Kenapa....? Kenapa.... Raphtalia diperlakukan tidak baik? Padahal....dia tidak memiliki kesalahan, baik di kerajaan ning dan dunia yang dibuat....untuknya."
"Karena itu takdirnya." Jawab Heila.
Shirayuki terkejut lagi dengan terbuka matanya sekali lagi, dia tidak kuat mengingat dan mendengar kisah yang diceritakan oleh Raphtalia di malam itu.
"Aaagghhh....hikss...hikss...kapan kau kembali, Raphtalia...hikss..."
Heila mengerti sekali perasaan Shirayuki saat ini, dia hanya bisa menenangkannya.
"Maafkan aku...."
Sambil mengusap lembut pada kepala Shirayuki.
Shirayuki menangis tersedu-sedu menunduk.
"Aku benar-benar minta maaf, Shirayuki."
Suwon berdiri di luar hadapan pintu, dia mendengar pembicaraan itu. Bahkan tidak tau tanggapan apa yang diucapkan dalam pikirannya dan hatinya. Dia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Hhhuuffhhhh...."
"Saat ini, apa yang kau rencanakan Suwon-sama?" Tanya Mia di sampingnya.
"Memperbaiki ulang."
Mia terkejut bercampur lega, kemudian menatap serius pada Suwon.
"Apa ini berarti Suwon-sama mengharapkan pahlawan magus kembali?"
"Itu tergantung keputusannya." Singkat Suwon.
"Sebentar lagi akan ada pertemuan besar di ruangan ku, jadi ajaklah teman mu ke sana." Tambahnya.
"Baik."
"Aku pergi dulu."
Melihat Suwon pamit, Mia tampaknya senang setelah mendengar dari ucapan Suwon akan memperbaiki ulang dunia ini sebelum terlambat.
••••
Malam itu, sesuai perintah Suwon. Para pahlawan berkumpul di ruang rapat.
"Ada apa Suwon-sama?" (Veno)
"Apa ada masalah lagi?" (Zyn)
Mereka bertanya-tanya ada apa Suwon memanggilnya kemari. Sosok Tatsuya juga datang paling belakang, kemudian diikuti 7 peri hadir.
Sepertinya sudah lengkap, Suwon duduk dibangku meja ruangannya telah memutuskannya. Dia bangkit lalu berdiri dihadapan mereka.
"Aku tidak mau membuang waktu, kali ini aku benar-benar memutuskan berharap besar pada semua yang ada di sini."
Tentu saja, semuanya terkejut. Ada apa dengan perkataan Suwon? Tidak biasanya dia sebaik dan serius itu menghadapa para pahlawan dan peri.
"Berharap besar?" (Haku)
"Ini bukan biasanya, apa Suwon-sama sedang bermimpi?" (Katagaki)
"Tapi, bagaimanapun itu aku senang Suwon-sama benar-benar terlihat serius sekarang." (Jail)
Perlahan-lahan mereka merasa lega bercampur senang melihat Suwon sepertinya ada perubahan.
Suwon tersenyum kecil, kemudian membungkukkan badannya penuh harapan besar pada mereka.
"Tolong akhiri gelombang akhir dengan kerjasama kalian."
"A-ap..!"
Bukannya kaget, mereka malah khawatir pada sikap Suwon terlalu baik dan sopan.
"Tolong angkat kepalamu, Suwon-sama." (Veno)
"Kami tidak nyaman melihat Suwon-sama sangat berharap besar pada kami." Sambung Katagaki.
Bagi Suwon ini tidak masalah, demi menembus kesalahannya pada mereka.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku hanyalah seorang raja yang tidak bertanggung jawab."
Melty juga tidak nyaman sikap Suwon sangat baik,
"Itu tidak benar, Suwon-sama sudah berusaha selama ini."
Suwon mengerti, biar bagaimana pun rasa bersalahnya terhadapa Hizen dan Raphtalia masih belum tersampaikan akibat menghancurkan hidup mereka.
"Lalu, apa yang kita lakukan sekarang?" Tanya Tatsuya.
Semuanya terahlikan dari pertanyaan Tatsuya, Suwon menjawab
"Tentu saja persiapan dan kerjasama kalian di gelombang akhir."
Archia sedikit khawatir dan berpikir,
"Apa ini berarti glombang akhir ini menentukan nasib kita di dunia ini?"
Mereka juga merasakan hal yang sama, karena yang menentukan nasib mereka adalah gelombang akhir malapetaka. Jika mereka tak kuat memusnahkan gelombang akhir maka dunia buatan ini hancur seperti runtuhnya kerajaan Ning.
"Mungkin, jika kita berhasil maka tujuan dunia ini benar-benar tercapai." (Tatsuya)
Suwon hanya bisa mengandalkan mereka dan berharap kerjasama mereka bisa membuahkan hasil.
"Berharaplah kerjasama kalian membuahkan hasil."
••••
Di waktu bersamaan, Hizen sibuk memperbaiki ulang 4 senjata legendaris dengan menggunakan kekuatan magusnya.
Raphtalia yang masih terduduk dikursi rodanya terlihat senang melihat senjatanya telah kembali.
"Hh..."
Bibir Hizen tersenyum lega,
"Sebentar lagi kau akan pulih, Raphtalia."
Sambil mengusap rambut merah Raphtalia.
"Jangan menangis ya."
Dia mengerti dan sadar, apa yang dirasakan Raphtalia saat ini. Dia menangis terharu melihat Hizen berusaha memulihkan tubuhnya yang sekarat.
"Hizen, apa sudah waktunya?" Tanya suara familiar dari Raphtalia kecil berdiri disamping Hizen.
"Benar, kau juga akan kembali ke tubuhnya. Jadi gunakan waktumu sekarang untuk menyelesaikan urusanmu."
Raphtalia kecil tampak cemberut, "Aku tau itu, tapi bagaimana dengan Suwon? Padahal aku akan kembali besok."
Namun, Hizen tetap berhati dingin menjawabnya.
"Itu bukan urusan ku, waktumu hanya malam ini sampai matahari bersinar.
Bahkan Raphtalia kecil sempat cemberut, tapi setelah mendengar Hizen memberinya waktu 4 jam, dia senang.
"O-oh, ternyata masih sempat sampai besok ya."
Dia akan berusaha menyelesaikan urusannya sebisanya kemudian menghilang,
"Berusahalah tepat waktu." Gumam Hizen.
••••
Setelah rapat kecil di ruang Suwon, Jail dan Tatsuya menemui 7 dewi yang dibekukan di ruangan terlarang. Lebih tepatnya ruangan itu berada di kastil Peri.
"Sudah lama ya gak kemari."
Entah mengapa Tatsuya tampak bernostaliga melihat kastil peri masih sama seperti biasanya.
"Apa kau senang kembali?" Tanya Jail.
"Sedikit, itu karena Hiro dan Raphtalia tidak ada di sini."
"Benar juga sih."
"Aku sangat berterima kasih padamu."
Mendengar Tatsuya mendadak berterima kasih pada Jail, dia malah bingung. Saking bingungnya malah membuat wajahnya merah tersipu.
"Heh? A-apa?"
Tatsuya tidak menyadarinya, tatapannya tetap kehadapan dan kemudian bibirnya tersenyum,
"Saat itu kau telah membantu Raphtalia pergi dari tempat ini."
"Oh, i-itu ya.. Tidak perlu, lagipula aku senang dapat membantumu.“
Tak lama itu, keduanya sudah tiba di ruangan terlarang. Namun, 7 dewi yang dibekukan itu sudah tiada di tempat itu.
"Ap..!"
"Apa yang terjadi? B-bukankah kemarin itu masih ada ya?!"
"Apa maksudnya ini, Jail?"
"Aku tidak tau, kenapa tiba-tiba tempat ini sudah kosong."
Tatsuya sedikit kesal, tapi setelah itu matanya tertangkap oleh surat kecil menempel belakang pintu.
"Surat?"
"Apa isinya, Tatsuya-sama?"
Mereka membacanya melalui pikiran masing-masing.
"Maaf ya, aku mengambil mereka... Lagipula mereka hanyalah boneka rusak yang sudah tidak terpakai lagi, kan?"
Tiba-tiba Tatsuya membuang surat itu lalu menginjaknya berkali-kala.
"Apa ada sesuatu, Tatsuya-sama?"
Jail bingung dengan sikap Tatsuya sedang tidak bermood baik.
"Aku tau siapa yang mengambilnya."
"Heh?"
Tentu saja, tulisan di surat itu sangat familiar bagi Tatsuya.
"Dasar Vanus dan Kalty itu yaaaa!!"
Kesalnya.
•••••
*BERSAMBUNG . . .*