The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Putri Ning



_**chapter 24_


The Legendary Of Hero**


.


.


.


Pada malam itu, Hizen mencari penginapan kecil di beberapa toko. Tentu saja, ia menemukan yang termurah karena koin miliknya sudah tak menggunung lagi.


"Ku rasa ini sudah cukup."


Raphtalia yang masih terduduk di kursi rodanya di depan toko itu menunggu kabar Hizen di luar. Kepalanya sedikit terangkat menatap bulan sabit diselimuti awan hitam.


Bibirnya sedikit demi sedikit mulai terbuka, kemudian ingin mengatakan sesuatu.


"Ma....a..aaa...."


Hizen mendengarnya itu menghampirinya.


"Kenapa?"


Dia ikut, apa yang dilihat Raphtalia.


"Jangan memaksakan diri..." Sambil mengusap kepala Raphtalia.


Perlahan-lahan Raphtalia menggerakkan wajahnya ke hadapan Hizen.


"H...hh..hi....."


Dia mencoba memanggil Hizen, namun bibirnya sulit mengendalikan suaranya juga tak bisa keluar. Tangan Hizen menyentuh dipipi putih Raphtalia.


Hizen mengasihaninya, "aku di sini kok, jangan khawatir...


...malam ini kita akan menginap di tempat ini."


Saat Hizen masuk membawa Raphtalia ke salah satu kamar penginapan. Beberapa orang sedang memperhatikannya, meskipun toko besar memiliki penginapan kecil. Tapi, tempat itu sangat ramai seperti bazar malam di restoran. Hizen khawatir tatapan mereka itu akan jadi masalah baginya dan Raphtalia.


"Tunggu sebentar!" Seru nada pria berdiri dihadapan keduanya.


"Ada apa?" (Hizen)


Hizen juga jadi jenuh harus berhadapan dengan orang yang tidak penting baginya.


"Aku tidak punya waktu, permisi." Dinginnya.


Akan tetapi, pria bertubuh besar itu malah menodongkan pedang besarnya ke arah Hizen, kemudian menyerangnya dari belakang. Sayang sekali, ada kekuatan pelindung berhasil menangkis serangan pria tadi. Hizen terkejut, kekuatan pelindung itu berasal dari perisai Raphtalia.


"Sial!"


Pria itu berniat ajak kelahi dengan Hizen. Untungnya, sosok gadis rambut pirang kuning ikat dua itu menghentikannya.


"Ahom... Maaf, tempat ini bukan tempat berkelahi, mengerti!" tegurnya.


Tentu saja, pria itu sedikit kesal dan menitipkan bisikan dendam pada Hizen.


"tunggu pembalasan ku."


Pria bersama sekumpulannya itu angkat kaki dari tempat itu. Hizen merasa nyawanya tidak jadi melayang akibat hal tadi, ia juga tidak bermaksud mencari masalah dengan pria tadi.


"A-anu...kau baik-baik saja?" Sahut wanita tadi.


"O-oh, baik-baik saja, terima kasih banyak nona."


Mendengar Hizen memanggilnya “nona”, wanita itu sedikit berwajah kesal, tapi ia menahannya dengan wajah pahitnya.


"A-ahh sama-sama, tapi jangan memanggil ku nona tapi Yunon."


Hizen tidak menyadarinya, melainkan tampak biasa.


"Ooh..maaf, Yunon."


Wanita tadi bernama Yunon alias pemilik toko, sebelumnya Hizen bicara dengannya soal penginapan dua hari satu malam harga yang murah. Yunon sempat menolak, tapi saat Hizen mengatakan dirinya adalah pahlwan magus, Yunon cepat bereaksi akan menyediakan kamar untuknya.


"Hmm...orang baru?" (Yunon)


Sambil memperhatikan Raphtalia di samping Hizen.


Hizen dengan cepat memperkenalkan dirinya dan Raphtalia.


"Eh? Ahh...i-iya, nama ku Hizen Tadahiro dan...ini Shin Raphtalia."


"Ooh, uhm...dia kenapa?" Tanya Yunon.


"Dia hanya tidak sehat, kalau begitu aku pamit ke kamar." (Hizen)


"A-ahh, b-baiklah...selamat beristirahat."


"Iya, duluan."


Begitu Hizen meninggalkan Yunon terdiam, Yunon menyadari sesuatu.


"Tunggu..? Satu kamar, dua orang?!"


Perlahan-lahan wajah Yunon memerah tomat, setelah tahu Hizen dan Raphtalia satu kamar. Bukankah hal itu sudah luar batas.


"E-eeeeeehhhhh....!"


Bahkan Yunon sudah memikirkan yang bukan-bukan.


Di kamar, Hizen mengangkat Raphtalia ke kasur. Saat dia coba melepaskan pedang dari genggaman Raphtalia. Kedua tangan Raphtalia tampak mengeratkan pedangnya tetap di tangannya.


"Tapi,..."


Raphtalia tidak ingin lepas dari pedang satu-satunya masih bersamanya.


"Baiklah, bagaimana letakkan saja di sampingmu? Ku rasa itu akan aman untukmu."


Mendengar Hizen berpendapat, Raphtalia menurutinya sambil melepasnya. Hizen lega, dia mendengarkannya. Kemudian, menaruhnya sesuai perkataannya tadi.


"Sekarang istirahatlah, aku selalu di sini." (Hizen)


Malam semakin larut, Hizen sudah tenggelam dalam tidurnya di samping Raphtalia juga tertidur lelap. Dan setelah itu...


"Aaaa...aaa!..aaa!"


Hizen terbangun mendengar suara Raphtalia teriak mengamuk.


"Raphtalia?"


Dia panik melihat mata Raphtalia terbuka dengan ketakutan, airmatanya bercucuran. Hizen tak kuat, apa yang harus dilakukannya.


Ia memeluk Raphtalia penuh erat.


"Apa..apa yang harus aku lakukan, Raphtalia?...jangan seperti ini...aku juga sangat takut..."


"Aaaa...aaa!...aaaa.."


Raphtalia terus teriak di pelukannya, mendengarnya saja membuat Hizen ikut menangis.


"Sial!"


Ini sudah dua minggu setelah meninggalkan kota Muy King, hanya menunggu beberapa hari lagi akan tiba di kota Kyoyka. Tapi, Hizen sedikit takut kembali.


"Apa yang harus aku lakukan?"


•••


Ketika mentari telah datang, Hizen terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Di sampingnya sosok Raphtalia masih tertidur, mengingat semalam Raphtalia tidak bisa tidur akibat mengamuk, perisai miliknya makin melemah. Hizen khawatir perisai legendaris akan hancur, jika itu terjadi maka Raphtalia juga menderita.


"Perisainya tidak bisa bertahan lebih lama, itu berarti Raphtalia..."


Tentu saja, Hizen khawatir dan cemas melihat kondisi Raphtalia semakin sekarat. Raphtalia akhirnya bangun dari tidurnya sambil melihat Hizen duduk di sampingnya.


"Selamat pagi Raphtalia."


"Ayo bersiap-siap, kita akan melanjutkan perjalanan." Sambil menggendong Raphtalia ke kursi roda.


Kemudian, seseorang mengetuk pintu dari luar. Hizen menyambutnya dengan keramahannya, tak lain itu sosok Yunon tampaknya membawa beberapa makanan untuk Hizen dan Raphtalia.


"Bukankah pahlawan magus butuh nutrisi?" (Yunon)


"Ahh, kau benar. Terima kasih, Yunon. Silahkan masuk." (Hizen)


"Baik."


Yunon diajak masuk kemudian meletakkan makanannya di meja, lalu menyapa Raphtalia.


"Selamat pagi, Raph-san."


Raphtalia hanya diam berwajah polos menatap Yunon.


"Ooya, hiro-sama.. Ku dengar dekat sini ada permandian, apa kau tertarik?" (Yunon)


Baru kali ini Hizen mendengar ada permandian dekat toko ini. Dia sudah lama merindukan permandian,


"Ooh, benarkah? Tentu saja, aku tertarik. Tapi sebelum itu, maukah kau menjaganya sebentar?" (Hizen)


"Serahkan saja pada ku."


Hizen mohon pamit sebentar pada Raphtalia, sambil mengusap lembut pipinya.


"Aku pergi sebentar ya."


Namun, Raphtalia tampaknya berusaha tidak meninggalkannya sendirian.


"Hhh...aaa..aaa.."


"Tidak lama kok, jangan khawatir aku akan kembali secepatnya." (Hizen)


Tetap saja, Raphtalia bersikeras. "Aaa..a..."


Tapi Hizen tidak menyadari sesuatu yang sangat ditakuti oleh Raphtalia sendiri tanpa Hizen di sampingnya. Malahan dia mengandalkan Yunon menjaga Raphtalia.


"Aku mengandalkanmu, Yunon, kalau begitu aku pergi dulu." (Hizen)


"Iya, hati-hati." (Yunon)


Begitu Hizen pergi, Raphtalia mencoba bangkit dan malah terjatuh dari kursi rodanya. Dia terus berteriak mengamuk,


"Aaa...! Aaaa!!"


Yunon sempat dibuat panik, dia membantu Raphtalia bangkit ke kursi rodanya kembali.


"Aaa...!..aa..."


Raphtalia masih teriak hingga menangis, Yunon menenangkannya dengan memeluknya.


"Tenangkan dirimu, tuanmu hanya pergi sebentar...


...dan aku akan menjagamu, oke?"


Mendengar suara lembut dari Yunon, Raphtalia tidak teriak lagi. Tampaknya ia mulai tenang.


"Ayo kita keliling di luar, itu akan sangat bagus untukmu menikmatinya." (Yunon)


Yunon memutuskan akan mengajak Raphtalia keliling di luar sambil menunggu Hizen kembali.


•••


Tiba di tempat permandian, entah mengapa Hizen terlihat bahagia melihat alat permandiannya sangat lengkap, tenang, bersih dan nyaman sekali.


"Alangkah baiknya aku meringankan rasa stres ku sejenak di tempat ini...."


Ia melepaskan pakaiannya satu-persatu, kemudian merendamkan tubuhnya setengah telanjang dada. Terdapat beberapa goresan masih membekas di tubuhnya, tapi itu tidak apa-apa karena tidak ada yang melihatnya. Hanya dia seorang berada di tempat itu.


"Aaahhh...leganya."


Dia menikmatinya.


Sementara itu Yunon mengajak Raphtalia keliling desa.


"Tempat ini adalah desa ku, yahh meskipun tempat ini sangat kecil tapi penduduknya ramai loo."


Pemandangan sawah mulai terlihat, Raphtalia menyadari seseorang sedang mengawasinya. Kemudian, bibirnya ingin mengatakan sesuatu.


"Hh..." Dia memilih menutup bibirnya kembali.


"Wahhh, tempatnya indah dan tenang sekali." (Yunon)


Yunon tampak menikmatinya. Perlahan-lahan Raphtalia merasa sesuatu di tutupi oleh Yunon dibalik cerianya. Ia mencoba sekali mengatakan sesuatu pada Yunon.


"..hh..a..aa"


Mendengar suara Raphtalia, Yunon menatapnya Ia sadar, Raphtalia merasakan sesuatu darinya.


"Kau menyadarinya?"


Tangannya menggenggam erat kedua tangan Raphtalia. Yunon mulai menceritakan isi hatinya, meski Raphtalia tak bisa menanggapinya. Namun bagi Yunon, itu lebih baik mendengarnya, karena ia kesulitan menyembunyikan isi hatinya.


"Ini pertama kalinya aku bertemu dengan pahlawan, kau tau...aku sangat bahagia, meskipun tak dapat mengembalikan orang tua ku."


Mendengarnya saja, Raphtalia ingin sekali bicara dengan Yunon. "Aaa..."


Yunon mengerti sambil memohon tidak memaksakan diri.


"Jangan paksakan diri, aku mengerti... Kau juga pernah merasakan hal yang sama bukan?"


"Ayo kita pulang, ku rasa tuanmu sudah pulang."


Mereka berniat kembali, karena yakin Hizen sepertinya sudah kembali. Namun, sebuah sihir teleport telah membawa mereka ke suatu tempat.


"Huh? D-dimana ini?"


Yunon panik memperhatikan di sekelilingnya hanyalah pohon hijau. Bahkan tiada siapapun di sana, hanya dia dan Raphtalia di tempat itu. Dan pada saat itu...


Hanya angin saja dia dilemparkan ke salah satu pohon hingga terjatuh kesakitan. Dia melihat seseorang familiar berdiri dihadapan Raphtalia.


"K-ku mohon j-jangan sentuh dia...." (Yunon)


Ia berusaha bangkit agar mencegah orang itu menyentuh Raphtalia. Itu sosok pria yang sangat mengenali Raphtalia alias...


Ashia Douman.


"Lama tidak bertemu, gadis kecil ku." (Douman)


Raphtalia terkejut bercampur takut akan serangan Douman akan menimpa dirinya.


"H-uh? Hh..."


Menyadari kondisi Raphtalia tampak sekarat, Douman tertawa mengejek.


"Hahahahah...tidak menyangka keberanianmu sudah sekarat ini, bodoh sekali!


...kau tidak pantas menerima keberanianmu, kau hanyalah putri sadis."


Salah satu tangan Raphtalia sedikit mengepal, rasanya ingin menampar bibir pedas Douman. Sayang sekali, kondisinya sangat berat untuk bergerak.


Douman merasa puas dan sadar akan hal itu.


"Kenapa? Kau ingin mengatakan sesuatu... Itu benar, kita pernah bertemu sebelumnya."


Tentu, keduanya pernah bertemu di era runtuhnya kerajaan Ning. Tak lama itu, Douman tidak melihat sosok Hizen di samping Raphtalia.


"Ooya, kemana guardianmu yang selalu bersama mu? Apa kau sendirian...?"


Bibirnya tersenyum puas nan jahat agar dia bisa melakukan apa saja pada Raphtalia, dan saat ia mencoba menyentuh rambut Raphtalia. Perisai di belenggu hati Raphtalia mampu melindungi dirinya agar tak ada satu sentuhan Douman menyentuh tubuh sucinya.


Nyaris tersentuh, Douman terlempar jauh akibat perisai Raphtalia. Sambil bangkit, ia mulai tertarik dengan permainan ini.


"Heeeh...kuat sekali sampai aku terjatuh loo."


Sebelumnya perisai Raphtalia mulai melemah. Jika ia menggunakan sekali lagi maka dia akan menerima rasa sakit luar biasa. Tidak menyangka ini terjadi, hingga perisainya rusak kemudian pecah menghilang.


Raphtalia teriak kesakitan menerima rasa sakit yang luar biasa menggores jantungnya.


"Aaaggghhhh....! Aaaaghhhh..."


Ini kesempatan bagus bagi Douman menyerang Raphtalia kesakitan dengan pedangnya. Ia maju dengan kecepatan kilat sambil menodongkan pedangnya ke arah jantung Raphtalia. Akan tetapi...


Pedang legendaris alias Onikimaru milik Raphtalia itu terlebih dahulu menusuk ke jantung Douman sampai ke akar-akar muasalnya. Bahkan jauh lebih cepat dari Douman, Raphtalia tidaklah melakukannya, melainkan keberanian dari jati dirinya masih ada dalam pedang itu berhasil menusuk Douman.


Dan perlahan-lahan airmata Raphtalia jatuh satu-persatu.


"H-hentikan..."


Mulut Douman mengeluarkan banyak darah menyadari pedang itu sudah menusuk ke jantungnya.


"T-tidak mungkin, s-semudah i-ini..." (Douman)


"H-h..hentikan...."


Kedua mata Douman sedikit terbuka kaget mendengar suara hati Raphtalia. Namun, Douman merasa jenuh mendengarnya hingga bibirnya terangkat sinis.


"Aku tau...dan aku masih mengingatnya, kau adalah putri yang paling ku benci....


...tapi...jangan menghalangi rencana ku, GAAAARRGGGHHHHH...!!"


Dengan berteriak, Douman mampu bangkit lagi hingga pedang itu terlepas dari jantungnya, kemudian...


Douman melempar serangan meteor api hitam bertubi-tubi ke arah Raphtalia hingga tepat mengenainya.


"Hh...?"


Dia terlempar jauh hingga terpapar jatuh di samping Yunon. Raphtalia hilang kesadaran akibat pendarahan hebat di perutnya, Yunon sadar itu terkejut melihat kondisi Raphtalia sudah tak berdaya.


"R-Raph-san?!"


Luka yang melubangi jantung Douman kembali pulih. Ia tertawa keras melihat Raphtalia tampaknya tak bergerak lagi.


"Benar-benar putri yang sadis ya.."


Namun, mata Douman sedikit kaget melihat sosok Yunon bangkit kembali.


"Heeeh.. ada yang masih bertahan nih, tapi dengarkan baik-baik...


...kalau gelombang akhir akan segera hadir menghantui Kyouka, camkan itu!" (Douman)


"K-kyouka? K-kenapa, Douman-sama?"


"Kenapa kau selalu saja ingin menghancurkan Kyouka..?"


"..k-kenapa?" (Yunon)


Yunon terus bertanya alasan mengapa Douman adalah iblis yang suka menghancurkan dunia orang. Padahal orang itu tidak melakukan kesalahan padanya maupun mengganggu hidupnya.


Douman jenuh mendengarnya. "Itu sama sekali bukan urusanmu."


Kemudian, melangkah ke hadapan Yunon. Menatap tatapan Yunon menyedihkan membuatnya jijik harus berbuat baik.


"Sepertinya aku harus mengubahmu sama seperti aku membakar semut sampai tak terlihat." (Douman)


Mata Yunon terbuka lebar dan gemetar campur takut.


"H-uh?...t-tidak, k-ku mohon..."


Mendengar Yunon membujuk Douman tidak melakukannya. Namun bibir Douman sedikit terangkat, lalu...


Hanya sekali jentikan dari Douman, Yunon menerima tusukan panah dari belakangnya.


"Aargghhhh....!" Dia teriak kesakitan, hingga perlahan-lahan matanya sangat lelah, kemudian tertutup.


"Apa...ini adalah akhir hidup ku...?" Batin Yunon.


Di sisi lain, dia merasa dirinya tenggelam dalam laut akibat mengenai serangan dari Douman hingga matanya terbuka sedikit melihat seseorang menarik salah satu tangannya.


"Yunon...yunon..yunon?"


Dia mendengar seseorang memanggilnya, ia membuka kedua matanya lebih jelas lagi dan melihat sosok Raphtalia duduk di sampingnya.


"Raph-san? I-ini dimana..."


Yunon heran melihat dirinya berada ditaman mawar merah, ditambah lagi langit merah tanpa bintang maupun matahari. Ini seperti langit malam berwarna merah.


"Aku menghubungkannya di dunia ku, kerajaan ning." (Raphtalia)


"Huh? I-ini d-duniamu...tapi-"


"Itu benar, dunia ku telah rapuh itu karena seseorang sudah mencapai batasnya."


"Seseorang?" Tanya Yunon.


"Ashia Douman, meskipun ingatan ku masih kabur. Tapi, satu persatu aku mengingatnya.."


Sebenarnya Yunon tidak mengerti alasan Raphtalia membawanya kemari. Ia berpikir bahwa hidupnya sudah berakhir.


"Hm..lalu, kenapa kau membawa ku ke sini?" (Yunon)


"Karena aku ingin menyampaikan pesan akhir padamu."


"H-huh? Apa i-ini berarti a-aku..."


Sekarang Yunon tau, hidupnya benar-benar berakhir. Ia pikir ini hanyalah mimpi. Ternyata ini bukan mimpi, Raphtalia sadar Yunon memikirkannya.


Dengan cepat, Raphtalia memeluk erat Yunon.


"terima kasih...aku..aku sangat berterima kasih padamu, Yunon...


...Meskipun keadaan ku sudah sekarat, tapi...yang penting aku sempat berterima kasih padamu karena telah bersama ku dan Hizen."


Yunon tersenyum lega mendengarnya. Ini pertama kalinya dia merasakan sehangat ini pada Raphtalia maupun Hizen.


"Ternyata sosok Raph-san sebaik ini ya...syukurlah, aku bisa merasakan kehangatan ini bersama kalian."


"O-oya, ngomong-ngomong...pahlawan magus itu sangat dekat padamu, dia pacarmu ya?" Tanya Yunon menatap Raphtalia kembali.


Raphtalia sedikit tersenyum, kemudian mencabut salah satu mawar di hadapannya.


"Entahlah, tapi...aku merasa pernah bertemu dengannya bahkan pernah jatuh cinta dengannya dan sampai saat ini..."


"Kau masih mencintainya, bukan?" (Yunon)


"Benar, i-itu benar..." (Raphtalia)


Yunon benar-benar senang telah bertemu dengan Raphtalia dan Hizen. Ini akan membuatnya tenang dan tak sia-sia pergi.


"Sekarang tolong biarkan aku pergi Raph-san, tuanmu sudah menunggumu dan...tetaplah hidup, sampaikan perasaanmu padanya." (Yunon)


Reaksi Raphtalia terkejut bercampur sedih. Ia menahan airmatanya jatuh agar tetap tegar dihadapan Yunon dengan melebarkan senyumnya.


"Iya..aku akan menyampaikan perasaan ini." (Raphtalia)


Perlahan-lahan tubuh Yunon berubah sekumpulan kelopak mawar, kemudian terbang ke langit dan menghilang.


Suara tangisan Raphtalia mulai terdengar, "Hiks...s..m-maafkan..a-aku...Yunon."


Ia merasa takut kembali, maupun melawan perasaannya.


•••


Saat Raphtalia membuka kedua matanya, ia melihat sosok Hizen menangis akibat terlambat menyelamatkannya. Raphtalia memperhatikan di sekelilingnya bahwa ia berada di penginapan. Mungkin, dia sudah lama tidak sadarkan diri dalam beberapa hari.


"Aku telah membuat kesalahan lagi..." (Hizen)


Ia memeluk erat tubuh Raphtalia, "tolong maafkan aku, ku mohon...maafkan aku."


Sebuah tangan menyentuh pipinya, membuat mata Hizen terbuka.


"aku tau itu...


...seperti biasa...., kau selalu cengeng...Hizen...."


Itu suara Raphtalia, wajah Hizen terkejut bercampur bahagia menatapnya.


"Raphtalia..."


Bibir Raphtalia tersenyum sambil menyentuhkan dahinya ke dahi Hizen.


"Aku kembali...."


Hizen tidak tau harus berwajah bahagia seperti apa. Ia hanya menangis penuh lega bisa melihat Raphtalia kembali.


Jari-jemari Raphtalia mengusap airmata Hizen dengan lembut. Perlahan-lahan ia mengatakan sebenarnya.


"Kekuatan ku sudah tak bisa kembali, karena aku telah melanggar kontrak dewi dengan Heila-sama."


"kontrak dewi...?" (Hizen)


Raphtalia menatap Hizen, "Kau ingat saat kau menemukan ku pertama kalinya di jurang itu...bahkan dalam mimpi mu, aku hanyalah dewi berkaki satu, jika kaki ku telah kembali maka semua yang ada pada diriku telah diambil...


...aku syok berat hingga tanpa sengaja aku malah merusak otakku sendiri...harusnya akulah yang minta maaf...aku telah membuatmu khawatir, guardian ku."


Sambil menundukkan wajahnya sebagai permintaan maafnya telah membuat Hizen khawatir. Tapi, Hizen malah lebih terkejut mendengar Raphtalia menyebut “guardian”


"Huh? K-kau mengingatnya..?" (Hizen)


Raphtalia membenarkannya dengan menganggukkan kepalanya.


"Saat aku bertemu Ashia Douman...ingatan ku telah kembali, meskipun itu masih samar-samar.. Tapi, sedikit demi sedikit aku mengingatnya."


Hizen benar-benar lega dan sangat lega bisa bertemu dengan Raphtalia yang sesungguhnya. Dia memeluknya lagi,


"Syukurlah...syukurlah...syukurlah..." (Hizen)


"Aku...benar-benar payah ya, bahwa selama ini aku hanyalah putri sadis yang berdiri ketakutan di belakangmu." (Raphtalia)


Diam-diam tangan Hizen menggenggam salah satu tangan Raphtalia.


"Aku tau itu, sebelum kita berangkat...maukah kau menceritakan semuanya..?"


Raphtalia juga menpererat tangannya dengan Hizen.


"Aku akan menceritakannya, ku mohon bisakah kita menginap malam ini? aku ingin menghadiri pemakaman Yunon besok."


"Jadi..kau tau?" Tanya Hizen tentang kepergian Yunon.


"..nn..aku sempat bertemu dengannya."


"Baguslah." (Hizen)


Sambil mengusap rambut Raphtalia yang masih dipelukannya. Di dalam lubuk hati Raphtalia, dia ingin sekali mengungkapkan perasaannya. Tetapi mengingat sosok Hina adalah wanita yang dicintai Hizen. Bahkan status Hina saat ini adalah tunangannya.


Ia merasa dia terlambat. Tapi...


"Aku sudah terlanjur...mencintaimu, H-hizen...." Batinnya


•••


*BERSAMBUNG. . .*


GIMANA PENDAPAT KALIAN CHAPTER HARI INI?


ADA YANG BERPENDAPAT ATAU BERTANYA?


SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN.


JANGAN LUPA VOTENYA, LIKE DAN RATE SECUKUPNYA.


TERIMA KASIH DAN DI TUNGGU CHAPTER BERIKUTNYA MINGGU DEPAN. INSYA ALLAH😌🙏