The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Detik Akhir



_Chapter 29_


The Legendary Of Hero


.


.


.


Hina dan Alysa ditinggal sendirian, tapi bukankah itu sudah jadi kesempatan membebaskan diri?


Alysa kurang yakin akan melakukannya, karena Hizen tampaknya butuh bantuan darinya.


"Apa kau serius akan melakukannya?" (Alysa)


"Tentu saja, buat apa kita tinggal diam di sini." (Hina)


"Tapi, Tada-sama butuh bantuan dari kita." (Alysa)


Hina tidak mempedulikan ucapan Alysa, dia berusaha melepas magus yang mengikat tubuhnya dengan kekuatannya.



Sayangnya tidak berhasil, tetap saja dia tak menyerah.


"Sial!"


"Apa magusnya sekuat ini ya?!" Gumannya kesal.


Alysa hanya berdiam diri menatap Hina di sampingnya itu berusaha melepaskan dirinya.


Pada saat itu,


"Jangan paksakan diri." Bisik seseorang ke telinga Hina.


Hina terdiam dengan mata terbuka kaget melihat sosok jiwa iblis raphtalia sudah ada dihadapannya.


"Da-darimana k-kau m-muncul?"


"Rahasia loo."


Sambil melebarkan senyum jahatnya. Hina terkejut, bagaimana bisa Raphtalia muncul dihadapannya? Tak ada suara langkah maupun pintu terbuka, dia benar-benar muncul tanpa suara.


Dia mengendap-endap? Bukan loo.


"Jangan ketakutan begitu, sesuai dengan perkataan ku tadi akan ku sampaikan pesan dari Raphtalia ku."


Hina menatap curiga nan waspada, "Siapa kau sebenarnya?"


"Akan ku jawab di akhir nanti, sekarang utamakan pesan yang ku sampaikan."


Tiba-tiba Alysa berteriak dan tegaskan,


"Kalau begitu, katakan sekarang!"


Raphtalia kecil jadi kaget bercampur kesal,


"Hooh...semangat sekali nadamu, apa kau tidak lihat kuku tajam dijari yang siap mencakarimu, Alysa."


Karena Alysa tak ingin membuang waktu.


"Cih!" (Alysa)


"Sebaiknya diam dan nurut lalu dengarkan saja, waktu ku tidak banyak."


"Iya-iya, katakan sekarang." (Hina)


"Bagus."


Raphtalia kecil duduk didepan mereka sambil tersenyum,


"Raphtalia ku sempat bilang bahwa dia sangat kecewa pada mu...


....Hina."


Perkataan Raphtalia kecil yang menunjuk ke Hina membuatnya sulit berkata-kata,


"Huh?"


Raphtalia kecil sambung ucapannya lagi,


"Bukan hanya itu, kesalahan masa lalu Hizen berada di tangan Alysa lalu mengkhianatinya, kau harus memperbaikinya."


Alysa juga kaget, bagaimana bisa Raphtalia kecil mengetahuinya.


"Ap-"


Sampai-sampai dibuat pipinya memerah.


Hina kemudian bertanya dengan nada gagapnya.


"La-lalu, a-apa yang membuatnya...k-kecewa?"


Untungnya Raphtalia kecil tidak menyadarinya, dia tampak santai dan menjawab,


"Kau sering menyalahkannya."


"Dan bagaimana aku bisa memperbaiki masa lalunya?" Tanya Hina lagi.


Raphtalia kecil tak yakin harus menjawab atau tidak karena dia curiga pada keduanya.


Mereka tiba-tiba baik, apa ekspresi itu hanyalah kebohongan. Dia bertanya,


"Apa kalian benar-benar menyesalinya dengan semua yang sudah terjadi?"


Mata keduanya kaget hingga terdengar suara tenggukkan dari leher Alysa.


Glup...


Apa benar ini hanyalah kebohongan?


Raphtalia kecil memastikannya lagi, tapi tak di sangka kedua wanita itu mengakui kesalahannya.


"Aku benar-benar menyesalinya." Ucap Hina.


Raphtalia kecil terdiam dengan mata terbuka.


"A-aku juga." Sahut Alysa.


Bagaimana pun itu Raphtalia kecil tetap saja curiga, ini terlalu mendadak akui kesalahannya. Maka dari itu, dia mencoba menakuti mereka dengan ancaman agar mereka benar-benar serius.


Tatapan Raphtalia kecil berubah iblis liar hingga bibirnya tersenyum jahat.


"Benarkah? Jika ku dengar kalian mengkhianatinya akan ku hantui kalian."


"Aku tidak takut kok!" (Hina)


"Heh, benarkah? Kalau begitu kalian suka ini...."


Sambil memegang kepala pria yang sudah putus dari tubuhnya dan dilumuri darah busuk, berulat, juga cukup menggelikan.


Melihatnya saja dibuat mereka teriak geli.


"Kyaaaaaa!!!!"


Bahkan tidak tahan bau busuk dari kepala itu.


"A-apa kau yang memotongnya?" Tanya Hina.


"Benar."


Alysa dan Hina tak bisa berkata-kata, wajah mereka saat ini gemetar nan takut melihat Raphtalia kecil cukup menyeramkan.


"S-seram dan...me-me-nakutkan...!" Serentak mereka.


"Bagaimana?" Tanya Raphtalia kecil.


Akhirnya keduanya akan serius padanya.


"I-iya."


Raphtalia kecil lega, namun Hina bertanya lagi membuatnya ingin menakutinya. Hehehhehe....


"Bagaimana bisa kau bertubuh kecil berani memegang kepala mayat yang sudah terpisah dari tubuhnya." (Hina)


Dengan santai, Raphtalia kecil menjawabnya,


"Karena aku ini makhluk yang tak dapat dilihat sembarang orang looo."


Keduanya terkejut dan tak percaya,


"Heh?...aa-ap..?


Raphtalia kecil hanya terkekeh pelan. Mereka tidak mengerti,


Tapi kesampingkan dulu sejenak, Raphtalia kecil akan memutuskan akan mengatakan amanah dari tubuh aslinya.


"Agar kau tidak mengecewakan Raphtalia ku maka dari itu kau harus melepaskan Hizen ku dan jangan sering salah tingkah atau berpikir yang tidak sesuai terjadi."


Hina tak terima mencoba tolak mentah-mentah.


"Hah?! Tapi...."


Raphtalia kecil tidak peduli, tetap dingin seperti iblis.


"Aku tau, kau tunangannya. Tapi bagi Hizen ku kau belum sepenuhnya jadi tunangannya karena kesalahanmu dia merasa gerah padamu."


"B-bukan kah di-dia mencintai ku?" Tanya Hina.


"Dia mencintaimu bukan sebagai perempuannya tapi sebagai teman."


"Huh?" Kedua mata Hina terbuka hingga biji matanya gemetar karena sadar.


Bahwa ternyata Hizen mencintainya hanya sebatas teman bukan kekasih. Itu artinya wanita yang berharga baginya adalahh....


"Jangan pasang wajah seperti itu, kau harus lebih mengerti lagi bahwa orang yang berharga baginya adalah Raphtalia ku."


Itu Raphtalia.


Hina sudah menduganya, sambil menundukkan wajahnya.


"A-aku...tau itu, bodoh!" Gumamnya.


Raphtalia kecil menatap Alysa mematung di samping Hina.


"Dan Alysa, jadilah guardian Raphtalia ku."


Mungkin terdengar mendadak, bagi Alysa itu gadis kecil dihadapannya sok perintah seolah dirinya yang berkuasa.


"Heh?"


"Hanya itu satunya cara menembus kesalahan masa lalunya."


Raphtalia kecil melihat kedua tangannya mulai ada serpihan kecil. Sepertinya waktu untuknya benar-benar tidak banyak lagi.


Dia pamit,


"Aku harus pergi, kalian jalankan amanahnya dan ingat jangan melanggar loo."


Tapi itu terhalang oleh pertanyaan dari Hina.


"Tapi, kau belum menjawab pertanyaan ku siapa kau sebenarnya."


Ternyata pertanyaan identitas Raphtalia kecil. Dia baru ingat kalau mereka belum tau identitasnya.


"Ahhh, benar juga ya."


Lalu bagaimana reaksi mereka,


"Biar ku perkenalkan nama ku Shin Raphtalia, jiwa iblis kecil dari lubuk hatinya."


Tentu saja reaksi mereka kaget setelah mengetahuinya.


"A-apa? T-tidak mungkin?" Serentak mereka.


Raphtalia kecil hanya tersenyum lalu menghilang selamanya dihadapan mereka. Bahkan tak sempat bicara lagi dengannya karena waktunya hanya tersisa sedikit.


"Ti-tidak mungkin? Pantas saja mata dan rambutnya terlihat sama." Batin Hina.


Perlahan-lahan keduanya mengerti dan akan menembus kesalahan masing-masing.


••••


Sementara Suwon sedang berdiri didepan jendela menatap malam itu tanpa bulan. Seolah malam itu benar-benar terasa sepi.


"A-ayahanda tidak tidur?"


Suara Asuka berasal dari kejauhan, lalu sembari ayahnya.


"Oh, itu Asuka? Sedang apa kau berkeliling malam-malam?"


"M-maaf, aku baru saja temani ibu."


"Hmm, begitu ya."


"Lalu, kenapa ayahanda tidak istirahat?"


"Aku khawatir Alysa dan Hina di tangan mereka."


"Oh..i-itu ya, berharap saja mereka baik-baik di sana."


"Benar."


"Kalau begitu, aku pamit dulu dan selamat malam."


Asuka sudah tak terlihat lagi, tampaknya Suwon benar-benar mengkhawatirkan nasib Hina dan Alysa. Mereka pasti sedang dalam ketakutan, kan?


Dan di saat itu,


seseorang sudah berdiri di sampingnya. Namun, Suwon belum menyadarinya. Dia tenggelam oleh lamunannya,


"Tenang saja, mereka baik-baik saja di tangan ku."


Mendengar suara itu, Suwon mengalihkan wajahnya ke sampingnya.


"Sedang apa kau kemari?" Tanya Suwon,


Itu sosok jiwa iblis kecil Raphtalia,


"Menuntaskan kesepakatan." Jawabnya.


"Bukankah kesepakatannya besok?"


"Tidak banyak waktu."


Suwon juga tidak terlalu ingin tahu, apa yang membuat Raphtalia kecil tidak punya banyak waktu.


"Terserahlah."


"Bagaimana dengan kerjasama mereka?" Tanya Raphtalia kecil.


"Berjalan dengan baik sesuai perintahmu." (Suwon)


"Aku tidak memberi perintah padamu, tapi ini hanyalah permintaan demi kebangkitan kerajaannya."


Terdengar protes dari Raphtalia kecil membuat Suwon tak bisa menangkalnya lagi, tapi dia terpikirkan oleh kondisi tubuh Raphtalia kecil yang asli, sejenak.


Apa Raphtalia baik-baik saja?


"Aku tau itu, bagaimana kondisi tubuh aslimu?"


Raphtalia kecil berwajah senang, Suwon menanyakan itu padanya.


"Sedang dalam pemulihan."


"Begitu ya..."


Tiba-tiba Suwon berpikir tentang gelombang akhir.


"Apa kau tau soal gelombang akhir?"


"Tau kok, gelombang penentuan dan bisa di sebut perang besar 8 dimensi. Tapi, itu tidak menimpa 8 tempat itu melainkan....


Suwon sadar dan akhirnya menemukan jawaban, dimana tempat gelombang akhir? Sebelumnya dia tidak tau informasi tersebut.


"Jangan bilang...."


Raphtalia kecil membenarkannya dengan tersenyum kecil menatap Suwon kepanikan.


"Jangan panik, kau sebagai rajanya harus bisa mengatur strategi bertempur."


Tubuh Raphtalia kecil tampak bercahaya merah. Suwon sempat heran.


"Apa sesuatu terjadi dengan tubuhmu?"


"Tidak kok, kau khawatir."


Pipi Suwon tersipu malu mengakuinya, Raphtalia kecil tak bisa menahan tawa.


Hahahhahahahahaha....


Namun, melihat Raphtalia kecil tertawa membuat Suwon terkagum karena ini pertama kalinya dia mendengarnya tertawa begitu senangnya.


"Ku pikir jiwa iblisnya hanyalah kegelapan hatinya, ternyata dia juga memiliki sisi yang sama dengan tubuh aslinya"


Waktu hanya tersisa sedikit, Raphtalia kecil ingin segera meninggalkan tempat itu dan akan kembali ke tubuh aslinya.


"Sepertinya waktu ku sudah habis, aku akan tertidur dalan tubuhnya....


...Selagi tidak ada yang menyakiti tubuhnya maka semua akan baik-baik saja."


Suwon menatapnya, kemudian membungkukkan badannya sebagai permintaan maafnya pada Raphtalia kecil.


"Tolong sampaikan maaf ku padanya dan tuannya."


Kedua mata Raphtalia kecil sedikit terbuka, setelah itu bibirnya tersenyum senang mendengarnya.


"Mereka memaafkanmu, tapi hanya saja mereka tidak bisa menjadi bawahanmu."


"Aku mengerti." (suwon)


Sepertinya misi Raphtalia kecil benar-benar tuntas, bahkan merasa lega menemukan orang yang bisa di andalkan, yaitu...


Suwon.


Raphtalia kecil berterima kasih kembali,


"Sebelumnya terima kasih sudah mengabulkan permintaan ku dan sampaikan rasa maaf ku pada Heila."


"Saran kan agar tidak tersesat di jalan." Tambahnya.


"Baik." (Suwon)


"Aku benar-benar lega bahwa semuanya bisa diandalkan dan tetaplah hidup sampai gelombang akhir ini berakhir...


...jangan lupa...kewajibanmu sebagai raja, oke?"


"Akan ku lakukan."


Tubuh Raphtalia kecil semakin pudar dan memudar hingga menghilang selamanya dihadapan Suwon.


"Sepertinya aku pernah melihatnya sebelum dunia ini dibangun...


Tapi...dimana ya?" Gumam Suwon.


••••


Cahaya tubuh raphtalia kecil terbang ke arah tubuh aslinya. Hizen sempat menyaksikannya dan menebak dia melakukannya tepat waktu.


"Kau tepat waktu?" (Hizen)


"Ya, terima kasih..."


"Kau sudah bekerja keras, kembalilah."


"Baik, kau juga. Akan ku ceritakan padanya apa yang sudah ku lakukan dan...


Aku akan meminta maaf atas sikap kasar ku padanya."


Hizen hanya tersenyum kecil melihat Raphtalia kecil kembali ke tubuh aslinya.


Menurut Hizen merasa semua yang dilakukan benar-benar tuntas, hanya tinggal menunggu hasilnya.


Tapi, langit malam yang terlelap itu berubah menjadi langit merah berdarah. Hizen sempat menyaksikannya,


"Langitnya merah? Itu artinya....


...gelombang akhir ya?


••••


*BERSAMBUNG . . . *


***Makasih sudah mampir dan membacanya,


jangan lupa tinggalkan jejakmu,


dan...


pengen banget denger pendapat kalian hasil chapter minggu ini..


maaf jika updatenya seminggu sekali, karena harus memilih topik jalan cerita yg benar. biar gak berantakan...


Saranghae minna-san❤❤😘***