The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Senjata Legendaris



-***Chapter 10


The Legendary Of Hero***


.


.


.


Kerajaan Kyouka


Haru cerah nan segar sudah membaik dan kembali bersinar dengan embun yang lembut tapi tak ada hujan hari itu. Para penduduk tengah berkumpul menyaksikan sosok gadis familiar terbaring di tengah aula istana, mereka saling berbisik satu sama lain melihat gadis berkaki satu yang kondisinya sangat berantakan, rambut merah panjang yang telah terpotong dan tangan kirinya yang hilang.


"Bukankah gadis berkaki satu itu?"


"Maksudmu gadis sampah yang berhubungan dengan pahlawan magus itu?"


"Ya, itu benar."


"Tidak mungkin, mereka berhasil menangkapnya dengan mudah."


Suara ramai itu membuat gadis itu sadar dengan membuka kedua matanya perlahan-lahan, kemudian memperhatikan di sekelilingnya.


"Begitu ya...ini bukan mimpi." Gumamnya. Dia sadar dan ingat kejadian sebelumnya bahwa saat ini dia tidak bermimpi melainkan kenyataan.


Dia merasa berat tak berdaya berdiri, hingga salah satu prajurit Kyouka menyemburkan seember air ke wajahnya.


"Oi! Bangun gadis sampah!"


"Tolong...jangan perlakukan aku sekasar ini." Sahut Raphtalia.


Tak lama kemudian, raja Kyouka bersama para pahlawan dan peri telah datang ke aula istana tepatnya berhadapan dengan Raphtalia.


"Jadi kau adalah dewi terakhir itu, Onikirimaru?" Ucap Suwon si raja Kyouka.


Raphtalia perlahan-lahan bangun menatap mereka, bukannya menjawab Raphtalia malah mencaci maki pada sang raja.


"Jika kau benar-benar seorang raja, setidaknya jangan memperlakukan rakyatmu dengan kasar seolah kau sedang berkuasa di tempat ini."


"Kau hanyalah sampah menjijikan lebih dari ku maupun tuan ku." Sahutnya.


Mendengarnya saja lantas membuat para penduduk dan lainnya marah, tidak hanya itu Suwon ikut marah, "beraninya kau mencaci raja seperti ku!"


Dia memerintahkan prajurit di samping Raphtalia itu mencambuknya. Dan Raphtalia meringis kesakitan menerima cambukan itu meskipun bibirnya tidak menyerah melawan raja dihadapannya.


"Sebagai seorang dewi memang harus patuh pada tuannya maupun rajanya atau kau mendapatkan hukuman." Ucap Megumin pada Raphtalia.


"Itu sudah jadi tata krama ku, tapi aku tidak akan mematuhinya sampai tuan ku memberi perintah padaku."


"Memangnya kau sedekat itu dengannya?" Tanya Suzuki.


"Tidak juga, tapi dia adalah tuan yang pantas disebut pahlawan legendaris tidak seperti kalian yang tidak bisa apa-apa."


"Jahat ya..."


"Apa Kyouka ini sangat membutuhkan pahlawan? Yang taunya cuman membunuh, apalagi seorang raja yang kerjanya tertawa diatas penderitaan orang lain." Jawab Raphtalia.


Suwon tak tahan menerima ucapan pedas dari Raphtalia, hingga dia bangkit dari tempat duduknya. Tak sampai sedetik, dia sudah berada dihadapan Raphtalia.


"Sebaiknya jaga bicaramu terhadap rajamu, kau hanyalah gadis sampah yang bernasib lemah."


"Aku bahkan tidak percaya kau memiliki senjata legendaris Onikirimaru."


Raphtalia tersenyum cerdas dengan membalasnya, "sampai kapan pun aku tidak pernah mengakuimu sebagai raja ku. Dan aku juga tidak memintamu untuk mempercayai diri ku yang memiliki onikirimaru."


"Karena senjata legendaris tidak sembarang orang menguasainya, maupun...."


PLAAKKK! Saking marahnya Suwon, dia menampar wajah gadis itu.


"Aku begitu muak dengan omong kosongmu!"


Raphtalia menundukkan wajahnya, Suwon menarik kepalanya kemudian menatapnya.


"Seorang dewi itu adalah gadis yang sempurna bukan seperti dirimu yang punya kaki satu dan bernasib lemah, itu artinya kau juga tidak bisa apa-apa."


"Jadi tidak usah sok kuat." Tambahnya.


Kedua mata Raphtalia memancarkan keberaniannya yang berapi-api, tapi aura itu berlebihan hingga membuat Suwon tak berkutip sejenak.


"Memang benar aku tidak bisa apa-apa, tapi tekadku lah yang mampu membangunkan ku." Jawab Raphtalia dengan nada yang dingin nan mengerikan.


•••


Hizen bersama Hina yang tampaknya mengenakan jubah hitam dengan menutupi kepala mereka agar tidak mudah mengenali mereka oleh orang-orang di sekelilingnya. Wajah Hizen tak bisa berkutip melihat dirinya malah kembali kerajaan Kyouka.


"Anu...Hina-chan? Bukan kah iniiii...."


Dengan senang hati, Hina membenarkannya.


Padahal sebelumnya, Hizen memutuskan tidak akan kembali ke tempat itu.


Begitu mereka masuk, suasana Kyouka tampak sepi membuat mereka bertanya-tanya.


"Eh? Kok sepi ya? Biasanya ramai bukan?" Gumam Hina.


"Sebaiknya kita pergi dari sini, Hina-chan." Namun Hizen tetap bersikeras keluar dari pintu gerbang Kyouka dengan meninggalkan Hina di sana.


"Tunggu Tadahiro-sama!"


Hina mengejarnya, Hizen menyerah berhadapan dengan gadis yang merepotkan. Meskipun Hina adalah kekasihnya, tapi ini pertama kalinya dia tidak merasa perasaan sedikitpun terhadapnya.


"Kau ini ya..." Keluhnya.


"Maaf, kau pasti tidak ingin pulang bukan? Tapi...ini keinginan ku." Jawab Hina merasa gugup jika harus bertindak jujur pada Hizen.


"Hina-chan?"


"Ya?"


"Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk kembali ke tempat itu." Ucap Hizen


"Aku tidak ingin kau juga menderita karena diriku."


Hina sedikit merautkan wajah sedihnya, "sekali lagi maafkan aku, Tadahiro-sama."


Hizen mendekatinya, kemudian menyentuh lembut pada kepala Hina hingga pipinya memerah.


"Kau sangat manja seperti bayi saja hingga aku tidak bisa mengendalikan diriku padamu."


"Kau berlebihan, Tadahiro-sama." Balas Hina jadi tersipu malu.


Hizen hanya tersenyum simpul, tapi kemudian menatap langit sejenak.


"Aku bisa merasakannya, bahwa aku melupakan seseorang. Tapi...siapa? Rasanya hampa jika tidak bisa mengingatnya dengan baik...."


"Akan ku usahakan." Sambungnya.


Dia menghela nafas panjang, "ayo Hina-chan."


"Oh, b-baik."


Hizen dan Hina tidak jadi kembali ke tempat itu karena sekarang bukan saatnya untuk kembali.


•••


Pada akhirnya, Raphtalia dibawa ke penjara bawah tanah akibat punya hubungan dengan Hizen. Siapapun berkaitan dengan Hizen, maka orang-orang itu akan menangkapnya. Gadis berkaki satu sedang duduk menyandarkan tubuhnya ke tembok batu-bata menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya setelah mendapat hukuman cambuk.


Ruang tahanan yang begitu sepi, hanya pintu besi yang mengurung dirinya dan sinaran langit malam memancar dari lubang jendela kecil.


"*Aku penasaran, bagaimana kabar Hizen? Apa dia baik-baik saja? Aku telah meninggalkannya dalam keadaan terluka parah."


"Ku harap seseorang menolongnya*."


Dia membaringkan tubuhnya, kemudian wajahnya dibanjiri oleh airmatanya. "Aku sangat takut berada di tempat ini."


"Apa aku tidak akan bertemu dengan Hizen? Tolong biarkan aku bebas agar bisa memeluknya." Gumam Raphtalia.


Setiap pagi Raphtalia terus mendapatkan hukuman cambuk oleh salah satu penjaga tempat itu. Setiap hari dia terisak menangis kesakitan pada tubuhnya mulai membekas luka.


"*Kapan hukuman ini berakhir? Apa sekejam ini hukuman Hizen? Aku ingin tau...aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi padanya di tempat ini."


"Tapi...dia tidak mengizinkan aku mendengarnya bahkan mengetahuinya... Kenapa, Hizen...??"


"Kenapa*???"


•••


Pada malam itu, Jail sedang merenung diri di luar. Tampaknya memikirkan sesuatu, kemudian menatap sebuah buku tebal yang bertulisan aneh dipegang olehnya.


"Aku makin penasaran isi buku ini, tapi yang bisa membacanya adalah seorang dewi." Gumamnya.


Dia sempat memikirkan Raphtalia seorang dewi, tapi wajah Jail sedikit ragu jika Raphtalia bukanlah seorang dewi yang sebenarnya.


"Kau tidak tidur, Jail?" Ucap nada familiar yang kebetulan menangkap sosok Jail sendirian di luar aula.


"Oh, Katagaki-sama."


"Ada apa? Apa kau memikirkan tuanmu?" Tanya Katagaki berdiri di samping Jail.


"Sedikit, tapi aku menemukan buku ini."


"Buku apa itu? Tulisannya aja keliatan anehh, kagak ngarti guaaa."


"Emang faktanya lo kagak ngarti." Jawab Jail yang kemudian menjelaskan bahwa buku itu ada hubungannya dengan dewi.


Katagaki menyarankan Jail pada dewi berkaki satu alias Raphtalia, namun Jail tetap meragukannya.


Pahlawan kipas itu tersenyum mengerti akan perasaan Jail,


"Kau terlalu sensitif seperti biasanya yahhh."


Kemudian, terdengar suara burung kecil dari kejauhan yang akan ke tempat Jail.


"Oh, dia sudah datang."


"Hm? Siapa?"


"Pesan dari Tatsuya-sama."


"Itu artinya kau masih berhubungan dengannya."


"Tentu saja, karena dia tuan ku."


Burung tadi adalah pipit alias kesayangan Tatsuya. Dia sering menggunakan pipitnya untuk memberi pesan pada Jail, perinya. Setelah itu, Jail dengan senang hati menerima surat itu.


..."Jika kau bertemu gadis berkaki satu, maksudku Raphtalia. Dia benar-benar seorang dewi, tolong layani dia dengan baik dan selamatkan dia dari penderitaan Hiro."...


Mengetahui Raphtalia seorang dewi, membuat Katagaki dan Jail tidak percaya.


"Ini gak mimpi kan?" Ucap Jail sedikit membulat.


Dengan wajah serius, Katagaki menjawabnya,


"Tidak Jail, karena kau adalah saksi membacanya."


"Masa sihhh? Coba cubit pipi ku." Jail masih tidak percaya itu meminta Katagaki untuk mencubitnya agar dia benar-benar sadar.


Katagi santai melakukannya dengan mencubit sekencangnya hingga,


"Aaah, sakit!" ringis Jail sejenak.


"Lo kagak mimpi brooo." Jawab Katagaki.


Kali ini Jail percaya, dia tidak bermimpi.


Katagaki dengan senang hati menjawab,


"Asal berhubungan dengan pahlawan magus akan ku bantu."


Jail sungguh lega dan sangat berterima kasih pada Katagaki,


"Sukurlah, aku benar-benar berterima kasih padamu Katagaki-sama." Sambil Jail membungkukkan badannya dihadapan pahlawan kipas.


"Kebaikanmu akan ku kenang selalu dan ku balas tiba saatnya." Tambahnya.


Meski tindakan itu berlebihan sopan membuat Katagaki tidak nyaman sejenak.


"Iya-iya, terima kasih sudah cukup kokk."


"Baik."


•••


Dan hari berikutnya di tepi danau Twon terhias dengan rumput hijau segar dan diselimut embun dingin,


"Hoooaaaaammmm, pagi yang cerah yaaa." Ucap Shirayuki baru saja bangun dari tidurnya.


Sambil mengucek-ucek matanya, kemudian tidak melihat sosok Tatsuya di sampingnya.


"Hm, Tatsuya-kun?"


"Ooh, kau sudah bangun Shirayuki." Sahut Tatsuya yang akhirnya muncul.


"Ya, ku pikir kau menghilang. Darimana saja?"


"Ooh, aku baru saja menerima ini." Sambil menunjukkan sebuah surat di tangan Tatsuya.


Mata Shirayuki berbinar lega, karena tau surat itu adalah balasan dari Jail.


"Syukurlah, apa jawabannya?"


"Dia akan menyelamatkannya, tapi sebelum itu ada sesuatu yang perlu dipastikan."


"Hm?" Shirayuki mengangkat alisnya bertanya,


"Senjata legendaris, onikirimaru." Jawab Tatsuya.


"Begitu ya, apa sebaiknya kita ke tempat itu untuk menyusulnya sesuai rencanamu itu?"


"Yupp, tentu sajaa. Ini dimakan dulu." Tatsuya memberikan onigiri pada Raphtalia.


Onigiri adalah salah satu makanan khas Kyouka, memiliki khasiat yang menyehatkan dengan bahan simpel seperti nasi, rumput laut atau bisa ditambahkan bumbu atau kari sebagai pelezatnya.


"Baik, terima kasihh." Balas Shirayuki yang kemudian memakannya.


"Selamat makan."


Begitu keduanya meninggalkan danau itu, tak sangka itu kebetulan sekali bahwa mereka bertemu dengan Hizen dan Hina tepatnya di hutan.


"Putri Hina?" Tatsuya sedikit kaget melihat putri Kyouka bersama Hizen. Sementara Shirayuki hanya menatap bingung pada Tatsuya, "hm?"


"Ooh, Tatsuyaa? Selamat pagi...." Sapa Hina terlalu santai.


"Lama tidak bertemu, Tatsuya dan Shirayuki."


"Huh? Kau sudah mengenal gadis ini?" Tanya Hina pada Hizen.


"Tentu, kami pernah bertemu."


Tatsuya mengepalkan kedua tangannya karena tak tahan lagi, kemudian memukul wajah Hizen. Hanya sekali pukulan, Hizen jatuh dan Tatsuya menarik wajah pria itu dengan kasar.


"Tadahiro-sama?!" Hina terkejut itu mencoba menolong Hizen, namun Shirayuki menarik tangan Hina mencegahnya.


"Maaf, tolong jangan ikut campur urusan mereka." Ucap Shirayuki.


Hina tidak mengerti dengan suasana ini, dia terpaksa memilih nurut.


"Oi? Apa maksudmu dengan pukulan ini?" Tanya Hizen.


"Ini hukuman." Jawab Tatsuya menatap tajam nan kesal.


Tapi, Hizen hanya santai nan datar. Kemudian, bibirnya tersenyum tipis, "apa karena Hina-chan bersama ku?"


Mendengar pertanyaan itu, lantas Hizen mendapat pukulan lagi dari Tatsuya. "Bukan itu yang ku maksudkan."


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau membiarkan Raphtalia bekorban demi dirimu?" Tanya Tatsuya.


Hizen mengerutkan kedua keningnya mendengar nama itu, "Raphtalia? Siapa?"


"Hah?" Shirayuki dan Tatsuya kaget tidak percaya dengan jawab Hizen yang ternyata tidak mengingat Raphtalia.


"Kenapa? Kenapa kau melupakan Raphtalia?!"


"Raphtalia adalah dewi berhargamu dan kau ingat itu kan?!"


Tatsuya berusaha mengingatkan tentang Raphtalia pada Hizen. Sayangnya, itu tidak bekerja sama sekali. Hina penasaran dengan nama yang di sebut oleh Tatsuya.


"Raphtalia?" Gumamnya.


•••


Di penjara bawah tanah, Raphtalia terlihat tumbang tak berdaya. Hanya kedua matanya masih terbuka, bibir dan wajahnya terasa pucat serta tubuhnya menggigil.


"Aku...tidak kuat lagiii, tolong...akuu...."


Tak lama kemudian, seseorang muncul dihadapan Raphtalia dengan mantra teleportnya.


"S-si...apa...???" Tanya Raphtalia melihat pria tak asing baginya.


"Nama ku, Jail. Sebelum itu, biarkan aku mengobatimu." Jawab peri perisai alias Jail.


Raphtalia tak sanggup menanggapinya melainkan membiarkan pria itu mengobatinya.


"Tenang saja, aku kemari atas perintah Tatsuya-sama untuk menyelamatkanmu." ujar Jail mempersiapkan kekuatannya untuk menyembuhkan luka-luka Raphtalia.


"Healing power."


Akhirnya tubuh Raphtalia terasa membaik, meski lengan kiri yang hilang tak bisa kembali.


"Tatsuya? J-jadi kau...." Raphtalia menebak Jail adalah peri pahlawan perisai alias Tatsuya.


"Benar, tapi sebelumnya maaf aku tidak bisa mengembalikan tangan kirimu." Balas Jail.


"Tidak apa-apa, terima kasihh."


"Lebih baik simpan dulu terima kasihnya karena aku menginginkan sesuatu darimu." Sambil menggendong Raphtalia.


"Baik." Gadis itu nurut karena dia yakin pria itu adalah pria yang baik, manalagi perinya Tatsuya.


Keduanya menghilang dari tempat itu, kemudian tiba di suatu ruang sepi yang hanya tersisa bola besar dihadapan mereka.


"Dimana ini?" Tanya Raphtalia.


"Ruang ini adalah inti dari kerajaan Kyouka."


"Inti?"


"Benar, " Sambil menurunkan Raphtalia, kemudian Jail memberikan buku padanya. "Apa kau bisa membacanya?"


"T-tentu, ini tulisan romawi kerajaan ku."


Jail meminta Raphtalia membacanya, buku tebal itu memang benar berhubungan dengan sekumpulan dewi.


"Kyouka adalah 8 pahlawan bersatu yang mampu membangunkan kedamaian, masing-masing dari mereka memiliki kekurangan dan kelebihan senjata maka percaya satu sama lain, tidak mengkhianati atau mencela hanya karena di salah satu dari mereka itu lemah.


Empat pahlawan suci yaitu, pedang, panah, tombak, dan perisai. Sementara 4 pahlawan legendaris yaitu, magus, kipas, seruling dan cambuk. Mereka makhluk biasa dari 8 dimensi, Kyouka membutuhkan kekuatan mereka untuk menghancurkan kegelapan, Raja Iblis Ashia Douman.


*Tidak hanya membutuhkan kekuatan mereka, tapi para peri dan dewi. Peri adalah tangan kiri pahlawan, dewi adalah tangan kanan pahlawan. Tetapi, tidak sembarang dewi yang bisa menjadi tangan kanannya.


Dari delapan dewi hanya satu orang yang memiliki senjata legendaris yaitu Onikirimaru. Dewi yang lemah tapi punya tekad keberanian, bahkan disalah satu dari 8 pahlawan tidak sembarang memakainnya, hanya Onikimaru yang bisa memilih orang yang tepat untuknya.


Onikirimaru bagian inti Kyouka, keluarga Kyouka dan rakyat Kyouka*."


Setelah membaca satu halaman penuh, Raphtalia berhenti sejenak mengingat sesuatu. Kedua matanya membulat,


"Buku ini...aku pernah membacanya dan...."


"Kenapa?" Tanya Jail, Raphtalia menatapnya. "Aku hanya teringat sesuatu tapi...itu masih samar-samar."


"Jadi kau adalah inti kerajaan ini yang akan menyatukan pahlawan, peri dan dewi?" tebak Jail.


"Ku rasa begitu, tapi aku tidak terlalu ingat diriku yang sebenarnya."


"Kalau begitu nyalakan bolanya, maka kau akan melihat dirimu yang sebenarnya."


"Apa aku bisa melakukannya?" tanya Raphtalia meragukan kekuatannya.


"Tentu, karena kau salah satu dari dewi." jawab Jail dengan senyum yang ramah.


Saat Raphtalia mencoba sentuh benda itu dengan telapak tangannya, seseorang menangkap mereka dari kejauhan.


"Ara-ara...sepertinya aku menemukan tikus-tikus di sini." Ucap Putri Kyouka, Asuka.


Jail menyadari suara itu, "gawat!"


"Ku rasa ini bukanlah waktu yang tepat, ayo pergi." Sambil menggendong Raphtalia.


"Huh?"


Begitu Jail berniat meninggalkan tempat itu, sayangnya dia menerima serangan kilat dari Asuka.


"Jail?!"


Asuka tidak seberapa melihat Jail dan Raphtalia karena dia hanya merasakan seseorang di tempat itu. Untungnya Jail berhasil menghilang, meski lengan kirinya sempat terluka.


"Hmmm? Menghilang?" Gumam Asuka, tapi bibirnya tersenyum bahagia melihat buku tebal yang masih terbuka.


"Begitu ya...."


•••


Hizen yang masih berhadapan dengan Tatsuya itu merasa dadanya sesak, kemudian kalung di lehernya ikut menyala. Semuanya heran, apa yang terjadi pada Hizen?


"Tadahiro-sama?!" Seru Hina menyambut Hizen jatuh lemah.


"Apa yang terjadi, tadahiro-sama?!"


Tatsuya dan Shirayuki sempat memperhatikan kalung di leher Hizen.


"Tatsuya-kun, bukankah itu..."


"Benar, ku rasa sebelum mengorbankan diri dia menitipkan benda itu pada tuannya."


Hizen tampak meringis pada kepalanya hingga tak lama kemudian, sebuah ingatan memudar yang akhirnya kembali.


"Raphtalia?!"


*BERSAMBUNG . . . *


maaf jika updatenya hanya seminggu sekali, maklumlah harus membagikan waktu buat nulis, belajar, ngurus rumah dn masih banyak lagi yg harus dikerjakan.


daan maaf jugh jarang di feedback bagi yg merasa lgi promo d klom komentar, dimengerti aja ya alasannya.


gak terasa udah mau lebaran, jika ada kesalahan kata dari penulisan saya, mohon maaf lahir batin ya thor dan para pembaca jugh.


jgn bosan-bosan mampir yahh, arigatou gozaimasu.😄😄😄