
_chapter 19_
The Legendary Of Hero
.
.
.
"Spera Onikirimaru..."
Tubuh Raphtalia berubah sebuah tombak besar sangat tajam, tidak hanya itu saja tombaknya sangat berat, tak sembarang orang yang membawanya kecuali orang yang ditentukan oleh Raphtalia.
Memegang tombak itu, rasanya kekuatan Hizen bertambah kuat berlipat ganda.
"Aku sudah siap."
Hina sulit berkata-kata setelah menyaksikan tombak besar yang ada di tangan Hizen.
"T-tombak i-itu...?"
"Curer maguz!" Hizen masih menyempatkan diri menyembuhkan luka Vanus dan Khalty.
"Kalian sudah berusaha keras melindunginya dan...aku tidak akan melupakan kebaikan ini."
"Entah kenapa, aku merasa kemarahan ku tidak bisa ku kendalikan dengan benar."
Sepertinya ini adalah pertarungan antara hidup dan mati.
"Sanctity pertama,..."
Swashhh! Dia mengayunkan tombaknya ke arah pria iblis itu.
Aaaggrhhhh!
Kemudian, Hizen muncul di belakangnya.
"Sanctity kedua,..."
Swasshhh, dia menebas ke tubuhnya berkali-kala. Dia tidak peduli, kemana pria itu kabur, dia tetap mengejarnya sampai dia benar-benar mendebu di tangan Hizen.
"Sanctity ketiga, hancurkan!"
Ini adalah tebasan terakhir, kemudian menjentikkan jarinya. Sekali jentikan, tubuh pria itu mendapat pukulan ilusi bertubi-tubi sampai tubuhnya hancur bercabik-cabik.
"Jika sekali lagi, kau menginginkan darahnya maka tidak akan ku maafkan sedikitpun!"
Swaasshhh!!
Pria itu tak sempat bicara itu karena kemarahan Hizen sedang tidak baik. Bahkan Hina juga menyaksikannya tak tau meresponnya apalagi, ini pertama kalinya melihat Hizen semarah besar hanya karena Raphtalia.
"Kenapa...?"
"Kenapa kau bisa semarah itu karena Raphtalia?"
AAAAAGGGHHHHHH!! Pada akhirnya, Mythicall one-eyed berhasil dilenyapkan.
Hizen lega telah berhasil melenyapkannya, meski raut wajahnya hanyalah kesedihan.
•••
Malam masih berlanjut, Vanus dan Khalty akhirnya sadar setelah pingsan. Mereka heran lukanya menghilang, rasanya seperti bangun dari mimpi buruk.
Tampaknya mereka berada di Goa kecil, untuk semalaman mereka bersama Hizen, Hina dan Raphtalia akan menginap di tempat itu.
"Dimana ini?" Gumam Vanus memperhatikan di sekelilingnya.
Lalu menangkap sesosok putri di sampingnya.
"Hina-sama?"
"Vanus? Khalty? Syukurlah, kalian sudah sadar..."
Hina begitu lega, mereka sadar kembali.
"Hina-sama...? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Khalty sempat mengkhawatirkan kejadian tadi.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua baik-baik saja kok."
Vanus mengingat kembali kejadian tadi hingga dia mengerti.
"Begitu, syukurlah..."
"Tapi, dimana mereka?" Tanya Vanus.
Wajah Hina tampak kaku menjawabnya,
"Sepertinya mereka diluar."
Tapi, mereka sadar raut wajah itu.
"Tapi, kau baik-baik saja bukan?" Tanya Khalty.
"Huh? A-apa?"
Dia mencoba menghindar pertanyaan mereka, Vanus bersikeras tak perlu sembunyikan lagi, karena itu mudah di tebak.
"Tidak usah sungkam begitu..."
Hina tidak punya pilihan selain menyerah dan jujur,
"Aku...hanya merasa terganggu."
"Raph-kun kah?" Tebak Vanus.
Hina membenarkannya dengan menganggukkan kepalanya. "Mm."
"Dia tidak bermaksud mengganggumu kok."
"Aku tau itu, tapi..."
"Zen-kun mencoba atur keadilannya."
"huh? Apa maksudmu?"
"Kau akan tau jawabannya."
Hina cemberut mendengar jawaban Vanus sedikit membuatnya kesal.
"Apaan sih, padahal aku penasaran loo."
Khalty terkekeh kecil mendengarnya,
"Jangan cemberut begitu, atau kau akan menyesalinya, Hina-sama."
"Baiklah..."
Meski wajahya tersenyum damai, salah satu tangannya mengepal erat.
"Bagaimana pun itu aku masih punya hak melarangnya, bukan?"
Diam-diam Vanus menyadarinya, dia khawatir Hina tak kuat menahan emosi yang selama ini dipendamkan.
"Entah kenapa, ini seperti cinta segitiga."
•••
Hizen dan Raphtalia tampak duduk berdua di luar.
"Huffhh...ini benar-benar melelahkan ya, merepotkan." Keluh Hizen.
"Tapi, kau baik-baik saja-kan?"
Raphtalia masih khawatir pada Hizen melepaskan kemarahannya tadi.
"Hmm?"
"Kau sangat marah tadii."
"Entahlah, ini pertama kalinya aku semarah itu karena dirimu." Jawab Hizen bernada murung.
"Apa kemarahanmu benar-benar sudah mereda? Aku khawatir kau tidak bisa mengendalikannya."
Dia mencoba yakinkan, apa Hizen benar baik-baik saja? Kali ini wajahnya serius.
"Tenang saja, selama orang yang melukaimu sudah lenyap maka itu sudah membuatku tenang." Hizen dengan tenang menjawabnya.
Raut wajah Raphtalia terlihat kusut,
"Aku jadi tidak enak hati dengan Hina-chan."
"Aku yakin dia akan marah."
Dan Hizen juga yakin, Hina akan marah padanya atau Raphtalia. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
"Dia akan marah padaku, bukan?" Gumam Raphtalia merasa cemas akan kemarahan Hina.
"Hm?"
Menyadari Hizen bertanya apa yang digumamkan oleh Raphtalia, dia sigap menggelengkan kepalanya,
"tidak ada apa-apa."
Hizen menarik tubuhnya bersandar di samping bahunya.
Raphtalia terkejut hingga pipinya memerah.
"Hizen?"
"Hangat sekali." Batinnya.
"Sepertinya kakimu sudah bisa berjalan dengan normal."
Melihat kedua kaki Raphtalia kembali seperti semula, rasanya benar-benar membuat Hizen lega bahwa tiada lagi yang menganggap Raphtalia si dewi berkaki satu.
"Benar, ini semua berkat Vanus dan Khalty." Balas Raphtalia.
"Kau harus berterima kasih padanya."
"Aku tau itu."
Perlahan-lahan Hizen menggenggam erat salah satu tangan Raphtalia.
"A-anu...Hizen..?"
Tentunya dia makin tidak nyaman pada Hizen. Tetapi Hizen malah nekat memeluk erat dan tidak ingin melepasnya tanpa menanggapi sedikit pun.
"Aku harap pelukan ini tidak berakhir, aku ingin lebih lama memeluknya."
Raphtalia jadi bingung sendiri, dia berharap Hizen baik-baik saja.
"*Kalau dipikir-pikir lagi, pelukan ini membuat ku berdebar-debar...
Ini tidak mungkin kan..,
...kalau aku..
...sedang jatuh cinta dengannya,
...tapi..,
...bagaimana Hina-chan*?"
•••
Mentari kembali menghangatkan udara, kota Muy king tampak berantakkan, hanya tersisa penduduk dan sebagian anak-anak yang selamat.
Vanus, Khalty, Hina, Hizen dan Raphtalia juga kembali ke tempat itu dengan wajah sedih.
"Ini pertama kalinya kota teraman Muy King di serang."
"Benar-benar cobaan berat."
"Tapi, bukankah kita harus membantu mereka yang membutuhkan?" Sahut Khalty semangat.
"Huh?" Heran Hina dan Raphtalia
Vanus dan Hizen ikut setuju.
"Aku setuju pendapat Khalty."
"Aku juga."
"Tuuhh, kan bener..."
"..kita hanya perlu membantu mereka dengan tugas masing-masing, oke?"
Khalty begitu senang memberi tugas masing-masing. Hizen dan Vanus akan memperbaiki rumah, Hina dan Raphtalia merawat orang-orang yang terluka.
"Dan kau?" Tanya Hina.
"Aku akan membantu Vanus-sama, karena aku tidak mahir dalam berobat maupun merawat." Jawab Khalty santai.
Hina sedikit protes, "bisa-bisanya kau mencari alasan seperti itu, bilang saja kau malas melakukannya."
"Aku beneran serius, Hina-sama." Balas Khalty cemberut.
Hizen dan Vanus terkekeh kecil melihatnya.
"Terserah dahh, ayo!"
Hina pasrah tak ingin panjangkan masalah.
Mereka memulai tugas masing-masing sesuai perintah Khalty. Sebelumnya Hina protes akibat Khalty sok atur, tapi berkat Vanus dan Hizen setuju akan membiarkan Khalty yang mengaturnya.
Selama percakapan itu, Raphtalia tidak pernah buka bicara atau ikut membahasnya. Karena dia mulai merasa kalau suasana itu dirinya malah di asingkan.
Dia tetap tersenyum apapun keadaannya dan tak ingin seseorang mengkhawatirkannya.
Tapi, Hizen sadar akan hal itu.
•••
"Wring recupe..."
Raphtalia tampak mengepalkan kedua tangannya tepat di dadanya membuat permohonan untuk menyembuhkan luka kecil yang dialami sebagian penduduk.
Sementara Hina merawat anak-anak yang sudah diberikan obat dari Raphtalia.
"Aku tidak menyangka obat cair ini sangat mempan menyembuhkan luka hanya sekali minum."
Hina sedikit terkejut kemampuan Raphtalia dalam menghasilkan obat.
"Darimana kau menghasilkan obat seperti itu?"
"Sebenarnya aku tidak begitu mahir dalam membuat obat, melainkan hanya bisa menyembuhkan dengan magus ku."
"Tatsuya sempat memberikan obat ini pada ku karena akan berguna ketika dibutuhkan."
"Tatsuya? Sejak kapan kau serapat itu dengannya?"
"Entahlah, tapi...dia pria sebaik Hizen." Jawab Raphtalia melebarkan senyumnya.
Wajah Hina sedikit menunduk kesal, dia berusaha menahannya.
"kalau begitu, ayo cari beberapa kayu." Ajaknya.
"Huh? Uhm..ba-baiklah." Reaksi Raphtalia ragu menatap Hina melebarkan senyum kebohongannya.
"Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Namun, Raphtalia berusaha pikir positif.
Keduanya memutuskan mencari kayu di hutan bersama. Khalty sempat menangkap mereka,
"Sepertinya mereka mulai akrab ya." Gumamnya.
Di hutan, mereka begitu semangat mengumpulkan kayunya.
"Wahhh, bukankah ini pohon maple?"
Selagi mengumpulkannya, Raphtalia menemukan pohon sangat indah yaitu pohon maple.
"Ini pertama kalinya, aku melihat daunnya berguguran."
Salah satu daun maple jatuh ke telapak tangannya, bibirnya tersenyum lebar.
"Benar-benar indah.., Hina-chan, kemarilah lihat..!"
Dia begitu semangat ajak Hina melihat pohon maplenya. Tetapi, hati dan pikiran Hina sedang tidak baik.
"Kenapa?"
"Huh?" Raphtalia jadi bingung.
"Hina-chan, kau baik-baik saja, kan?"
Dia mencoba menepuk pundak Hina, akan tetapi Hina menepis tangannya kemudian mendorong Raphtalia dengan kasar.
"Hina-chan?"
Hina tidak tau harus berwajah apa menatap Raphtalia begitu menjijikan.
"Kenapa? Kenapa Tadahiro-sama sangat mempedulikan mu?!"
"kau hanyalah senjatanya, bukan siapa-siapanya!"
Teriak Hina melampiaskan kemarahan pada Raphtalia.
"Huh?" Dia heran dan sedikit terluka mendengarnya.
Hina mendekat, kemudian menjambak rambut merah Raphtalia.
"Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang spesial darimu hingga Tadahiro-sama mengasingkan ku."
"Ngghh..,t-tidak, kau salah paham... Hizen tidak mengasingkanmu, dia hanya..."
"Diamlahh...!" Sambil melempar Raphtalia ke pohon maple.
Aaagghhh,
Kedua matanya terbuka lebar dan gemetar menatap ujung mulut pedang muncul tepat dihadapan diwajahnya.
"Maaf...maafkan aku, aku tau..., kau kekasihnya dan aku bukan siapa-siapanya, tapi...memiliki senjata seperti ku harus menyatukan perasaan dengan penggunanya."
"Tapi, kenapa kau memilihnya?" Tanya Hina.
"Itu tugas ku."
Hina benar-benar marah, "aku muak!!"
"Sampai kapan aku harus menahannya, aku muak, benar-benar muak!"
Raphtalia menangis ketakutan dan terus meminta maaf pada Hina.
Hikss...hikss...
Walaupun Hina menangis, tetap saja kemarahannya tak bisa henti. Raphtalia tidak nyaman karena sudah melukainya.
"Sebaiknya tinggalkan Tadahiro-sama bersama ku!"
"Huh?"
"Tapi...!" Raphtalia mencoba menolak, namun Hina menunduk memohon padanya.
"Aku mohon...aku mohon, begitu perang ini berakhir aku akan menikah dengannya."
"M-menikah?"
"Dia tunangan ku, tolong jangan rebut dia dari ku." Bujuk Hina.
Raphtalia sulit meresponnya, dia hanya bangkit kemudian mengatakan sesuatu pada Hina.
"Jika kau merebutnya dari ku, itu artinya Hizen akan mati."
"Ap...!"
"Grhh, memang benar dari awal penderitaan Tadahiro-sama itu semua salahmu!"
"Bukan, jangan salahkan aku.."
"Kalau begitu, jika Hizen akan mati karena aku merebutnya maka aku..." Sambil menarik pedang kristal dari sarungnya.
"...Harus membunuhmu."
"Shurem plurm!"
Raphtalia berusaha melarikan diri dari serangan Hina.
"huh? T-tidak..."
Namun. . .
"TTIDAAAAKKKKKKKKKK!!"
Takdir berkata lain.
•••
Hizen bersama Vanus dan Khalty tampak istirahat sejenak.
"Benar-benar menyenangkan ya..."
"Sepertinya kau menikmatinya ya, Khalty."
"Tentu, sudah lama sekali tidak seperti ini, Vanus-sama."
"Ooya, aku belum melihat Lia-chan dan Hina-sama kembali."
"Apa mereka sudah selesai?" Tanya Hizen.
"Hmm...sepertinya sudah selesai, itu karena aku melihat mereka ke hutan."
"Ke hutan?"
"Yahh, menurut ku mereka mulai tampak akrab ya."
Wajah Hizen sedikit terbuka mengingat ucapan Raphtalia semalam.
"Aku jadi tidak enak hati dengan Hina-chan."
"Kenapa?" Tanya Vanus.
Dia sempat memperhatikan wajah Hizen yang mencemaskan sesuatu. Namun, Hizen menghindari dengan alasannya.
"Aku pergi sebentar."
"Ooh, baiklah dan jangan lupa kembali."
Vanus tak bisa menolak melainkan membiarkannya, apapun hal itu bukanlah urusannya, ia hanya siap hadir ketika Hizen membutuhkannya.
Bagaimana pun itu Vanus tetap khawatir pada Hizen.
"Dia baik-baik saja, bukan?" Gumamnya.
"Ada apa, Vanus-sama?" Tanya Khalty menantapnya.
Vanus menggelengkan kepalanya, "Mm..tidak ada apa-apa."
Hizen sendirian pergi ke hutan dan penasaran apa yang dilakukan oleh Hina dan Raphtalia. Namun, ketika langkahnya sudah terinjak, dia mulai merasa akar kekuatannya hilang sebagian hingga membuatnya lelah sejenak.
"A-apa yang terjadi?"
Ia mempercepatkan langkahnya, kemudian menemukan beberpapa jejak pohon jatuh tumbang. Tentunya, dia mengenal serangan itu,
"Hina-chan?"
Dia tidak menemukan sosok Hina maupun Raphtalia, hingga matahari mulai terbenam. Dia menemukan sosok Raphtalia terbaring dibawah pohon maple.
"Raph-...huh?!"
Kedua matanya terbuka syok menatap kondisi Raphtalia tak berdaya. Dan terdapat beberapa senjata dipelukannya, tapi ada dua senjata yang hilang dari tangannya yaitu panah dan tombak hanya pedang dan perisai tersisa.
Kehilangan dua senjata itu membuat semua yang dipikirkan oleh Raphtalia hilang dan terasa kosong, bahkan dia sulit menggerakkan tubuhnya.
Semua terasa mati.
"Raphtalia?!"
"Huh?" Matanya sedikit terbuka mendengar suara Hizen memanggilnya.
Namun, mulutnya tak bisa angkat bicara. Hizen berlari kemudian memeluknya.
"Aku terlambat, aku benar-benar terlambat dan aku mengulangi kesalahan ku....
...maafkan aku, Raphtalia."
Raphtalia hanya bisa bercucuran airmata dipelukan Hizen. Ia merasa ketakutan. Hizen berusaha menenangkannya.
Melihat kondisi Raphtalia seperti boneka tak bernyawa itu membuat Hizen tidak tau apa yang harus dilakukannya.
Apa harus mati bersamanya?
Tidak,...
Kenapa harus tejadi lagi?
Kenapa dia terlambat lagi?
Apa karena Hina?
"Tidak bisa ku maafkan!"
TIDAK BISA KU MAAFKANN!!!
tentu saja, Hizen sangat marah akan hal itu dan tidak akan pernah memaafkan seseorang telah membuat Raphtalia rusak seperti ini.
•••
*BERSAMBUNG . . .*
i'm comeback, hufffhhh setelah sekian lama, akhirnya bisa up. alhamdulillah...
ooya, sperti biasa tinggalkan jejakmu dbawah, serta rate dan vote sebanyak-banyaknya.
katanya biar makin semangat nulisnya, oke?
makasihh bangettt😍😍😍😍