The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Kebaikan



_**chapter 15_


The legendary of hero**


.


.


.



{Cover by Veno williams, Pahlawan pedang Groza Nifileam}


Tapi saat itu. . . .


"Shield Hero!!" Seru seseorang melindungi Veno dengan perisai besinya hingga anak panah itu hancur.


"A-ap...!" Merlia kaget dan penasaran siapa yang berhasil menangkisnya.


"Dasar bodoh!" Seru suara familiar itu dihadapan Veno.


Kedua mata Veno melebar getar menatap kedatangan dua orang itu, salah satu dari mereka itu adalah pahlawan perisai.


"T-tatsuya?"


"Ternyata kau dan lainnya lebih tak berguna dibandingkan aku dan Hiro." Jawab Tatsuya dingin.


Veno sulit berkutip menanggapinya karena itu benar apa yang diucapkan oleh Tatsuya bahwa Veno bersama lainnya lebih tidak berguna dibanding Hizen dan Tatsuya.


"Cih! Pahlawan perisai, kah?" Gumam Merlia menggertakkan giginya kesal.


"Hohhh...Merlia kah? Lama tidak bertemu, iblis merah." Sahut Tatsuya menyapa Merlia dengan wajah ingin mencemohnya.


"Eh? Merlia ne-sama?" Tiba-tiba nada Shirayuki terdengar membingungkan hingga suasana itu terganggu sejenak olehnya.


"Ada apa, Shirayuki?" Tanya Tatsuya.


Shirayuki bukannya menjawabnya, melainkan menghampiri langsung pada Merlia.


"Merlia-nesama? Ini aku loo..."


"Huh?"


Merlia bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan gadis itu tiba-tiba menyapanya dengan wajah berseri-seri tanpa tahu Merlia adalah musuhnya.


"ne-sama?"


Lebih membingungkan lagi mendengar Shirayuki sempat memanggilnya "ne-sama" Yang artinya kakak bangsawan.


"Ini aku Shirayuki, ne-sama. Ku pikir saat itu kau benar-benar lenyap di era perang." Ujar Shirayuki.


Merlia sama sekali tidak tertarik apa yang dikatakan oleh Shirayuki sekarang. Karena, saat ini adalah pertempuran antara iblis dan pahlawan.


"Kau ini bicara apa?!" Tanpa ampun, Merlia menyerangnya sekali genggaman tepat mengenai perut Shirayuki.


"Doragone piller"


Hingga Shirayuki terpapar jauh, GRACKK!


"Shield hero!" Tatsuya cepat melindungi Shirayuki dengan perisai besinya agar tidak melukai tubuhnya.


"K-ke...napa?" Tanya Shirayuki pada Merlia.


"Kenapa kau tidak mengingat ku, bahkan tidak mengenal ku?" Tambahnya sambil bangkit kembali dengan mengeluarkan sebilah pedang miliknya.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan saat ini dihadapan ku." Jawab Merlia.


"Tapi, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang seperti mu." Tambahnya.


"Bohonggg!!!!" Teriak Shirayuki mengumbar kemarahannya, tanpa sadarinya pedangnya berubah saiz dan memancarkan api yang membara.


"G-gawat p-pedangnya?!" Dan Tatsuya sadar akan hal itu, bisa gawat jika Shirayuki emosi berlebihan maka pedangnya berpengaruh darinya. Tidak hanya itu juga akan membunuh Tatsuya.


Sebelum terlambat, Tatsuya segera menghampirinya dan mencegah emosi kemarahan Shirayuki.


"Shirayuki?!"


"Tenangkan dirimu." Tambahnya menepuk erat salah satu lengan Shirayuki.


"Tapi Tatsuya..." Shirayuki benar-benar tidak menyadari dirinya sedang emosian, tapi untungnya emosinya membaik ketika Tatsuya menenangkannya dengan lembut.


"Aku mengerti, orang-orang yang sudah mati akan dikirim ke Abys dan saat itulah mereka dibangkitkan dengan dua pilihan antara kegelapan dan cahaya." Sahut Tatsuya.


"Huh? Tidak mungkin!" Shirayuki tidak percaya bagi orang yang sudah mati akan dibawa ke Abys, kemudian dibangkitkan dengan dua pilihan.


"Shirayuki, tebas dia." Perintah Tatsuya.


Tentu saja Shirayuki kaget dan keyakinannya mendadak turun.


"Huh? A-aku tidak bisa..."


Tatsuya tidak punya pilihan lain lagi selain menarik bahu gadis itu mendekat kehadapannya hingga wajah Shirayuki memerah berat. Huh?


"Bayangkan saja kau ingin mengalahkan kakakmu." Balasnya.


Shirayuki makin heran, bagaimana Tatsuya mengetahui masa lalu hidupnya bersama kakaknya.


"Huh? D-darimana kau tau..."


Dengan cepat, Tatsuya menjawabnya,


"Aku mengandalkanmu."


Meski terdengar singkat, namun Shirayuki menginginkan jawaban yang lebih jelas. Tapi itu tidak sempat keinginannya terkabul karena Tatsuya hanya memerintahnya untuk melawan Merlia. Shirayuki tidak terima, dan Tatsuya tetap tegas. Kemudian meninggalkanya.


"Heh? T-tatsuya?!" Teriak Shirayuki pada Tatsuya.


"Jangan cengeng putri ku." Balas Tatsuya membuat kedua mata Shirayuki membulat sampai ke pipinya memerah.


"P-put...ri-ku?"


•••


Hizen bersama Hina dan Raphtalia sedang berkeliling di tengah keramaian kota Myu alias Myu King salah satu dimensi bima sakti.


"Tempatnya sangat ramah ya." Ucap Hina tampaknya tenggelam oleh keceriaannya.


"Sepertinya kau sangat menikmatinya." Balas Hizen merasa lega, meski sebelumnya Hina terus menempel lengannya tanpa henti hingga membuat Hizen kesulitan jalan.


Sementara itu Raphtalia merasakan perasaan buruk sedang melanda dirinya.


"Perasaan ini...gelombang kedua masih belum berakhir dan..."


Langkah Raphtalia terhenti bersama tongkatnya, kemudian kedua matanya melihat ingatan Tatsuya, huh?


"Tatsuya, Shirayuki dan...tiga pahlawan lainnya, tidak mungkin!"


Dia benar-benar merasakan apa yang terjadi pada empat pahlawan dan Shirayuki saat ini. Hizen sempat memperhatikan Raphtalia tampak berdiam diri dengan tatapan kosong seolah gadis itu benar-benar tenggelam lamunannya.


"Hina-chan, ayo cari toko dulu." Ucap Hizen mencoba ajak Hina.


"Kau dan dewimu duluan saja, aku ingin membeli ini..."


Jawab Hina ceria sambil menunjukkan anting-anting yang disukainya.


"Heh? Aksesoris?" Hizen juga heran pada Hina begitu sibuk memilih aksesoris, padahal gadis itu sudah memiliki aksesoris yang banyak.


"Benar, aku harus melengkapi diriku karena sebagai wanita dan kekasihmu harus tampil cantik loo." Balas Hina melebarkan senyum cerianya.


Hizen menyerah, "Errhh..y-yahhh sudahlah, jangan lupa nyusul." Pamitnya.


"Oke."


Hizen menghampiri Raphtalia masih terdiam mematung, pria itu menepuk lembut pada bahu Raphtalia.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Hizen.


Raphtalia sadar, "Huh?"


"A-aku h-hanya...ehh?" Raphtalia kaget melihat Hizen tiba-tiba menggendongnya.


"Ayo." Tanpa buang waktu, Hizen langsung saja membawa gadis itu ikut dengannya.


"M-mau kemana?" Tanya Raphtalia dengan wajah memerah.


"Rahasia." Bisiknya.


"Ehhh? H-hizen?"


Hizen menghentikan langkahnya, kemudian bertanya satu hal pada Raphtalia.


"Apa sedang terjadi sesuatu?"


"Eh? A-anu...itu, sebenarnya gelombang kedua belum berakhir." Jawab Raphtalia.


"Apa...?!" Hizen kaget mendengarnya hingga Raphtalia ketakutan menatap wajah Hizen begitu menakutkan.


Hizen menyadarinya, "maaf..."


"T-tidak apa-apa, lagi pula mereka sudah menyelesaikannya."


"Mereka?"


"Ooh, aku merasakan perasaan Tatsuya bersama tiga pahlawan pedang, panah dan tombak."


"Tapi..."


"Hm?" Tanya Hizen sambil menatap Raphtalia menunggu jawaban darinya.


"Ada kekuatan kegelapan sangat kuat sedang menyerang mereka." Jawab Raphtalia.


Hizen tidak menanggapinya, tapi wajahnya sedikit khawatir pada perisai Tatsuya yang juga memiliki kekuatan kegelapan asal dari kebenciannya.


"Aku juga mengkhawatirkannya." Sahut Raphtalia.


"Berharaplah mereka bisa menghadapinya." Balas Hizen melanjutkan langkahnya.


Mendengarnya saja Raphtalia merasa senang sambil menatap Hizen penuh cinta.


"Kenapa?" Tanya Hizen.


"Kau pria yang baik." Jawab Raphtalia melebarkan senyum bahagianya.


Hizen juga tersenyum menatap ke hadapan.


"Kau juga." Balasnya.


Akhirnya mereka tiba di tempat itu. "Kita sudah sampai."


•••


Cringgggghhhh...


Kedua gadis itu tengah bertarung hebat, yang satunya alias Merlia memiliki panah kegelapan mampu berubah berbagai senjata dan satunya lagi alias Shirayuki hanya memiliki pedang kecil, tapi melihat tatapannya begitu serius itu membuat pedangnya membesar yang berarti sedang menunjukkan kemarahahnnya.


"Wind power!" Seru Shirayuki mencoba tebas sekali kehadapan Merlia.


"Doragone piller!" Merlia ikut mencoba menyerangnya dengan pukulan tombaknya.


Hasil kekuatan mereka seri, masing-masing dari mereka tampak terengah-engah kelelahan.


"Hasilnya seimbang? Aku tidak menyangka gadis ini juga memiliki kekuatan setara dengan ku." Batin Merlia.


"Dia lumayan kuat, tapi...ini belum seberapa dengan kekuatan ku."


Mereka saling tatap dan berpikir bagaimana cara mengalahkannya.


Sementara itu Tatsuya menstabilkan jantung Veno dengan sebotol penawar yang ia sempat hasilkan.


"Minumlah, itu akan meredakan rasa sakitmu." Sahut Tatsuya memberikan sebotol obat pada Veno.


Veno jadi tidak nyaman menerimanya, akibat pertikaian masalalu membuatnya frustasi terhadap Tatsuya.


"Lupakan itu dan pentingkan dirimu." Sahut Tatsuya.


"Aku tau, tapi...kenapa?" Tanya Veno.


"Kata dewi itu sebagai pahlawan itu tak seharusnya dengki mempentingkan diri sendiri tapi pahlawan juga harus peduli satu sama lain." Jawab Tatsuya.


"Dewi? Maksudmu..." Yang dimaksud dewi oleh Veno adalah Raphtalia.


"Benar, ayo diminum." Balas Tatsuya.


Veno meminum obatnya dan itu bekerja pada jantungnya hingga membuatnya kagum.


"Obat ini benar-benar bekerja ya."


"Yah...begitulah, tapi setelah ini bisakah kau membantu ku membebaskan mereka dengan pedangmu..."


"Dan aku menyembuhkannya." Tambah Tatsuya.


"Baiklah, akan ku lakukan."


Veno sempat melihat Shirayuki sedang bertarung dengan Merlia.


"Apa gadis itu temanmu?" Tanya Veno.


"Aku tau itu."


Shirayuki dan Merlia masih bertarung dengan senjata masing-masing. Meski sebelumnya hasil pertarungannya seimbang, mereka tak mau menyerah kalah begitu saja.


"Cih! Sampai kapan kau akan menyerah?" Tanya Merlia merasa bosan menghadapi Shirayuki.


"Sampai kau benar-benar mengakuinya." Jawab Shirayuki tajam sambil menusuk ujung pedangnya ke tanah.


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku sama sekali tidak mengenalmu."


Mendengar jawaban itu lagi membuat Shirayuki muak, "sepertinya kau harus diberi pelajaran lebih berat dari ini."


Dengan menutup kedua matanya, lalu memohon sesuatu yang akan membangkitkan kekuatan dari pedangnya yaitu...


"Demon gravity"


Begitu pedang itu tertusuk ke tanah, Merlia panik melihat tanah di sekelilingnya gemetar. Kemudian, retak dan menarik tubuhnya ke bawah.


"Ap...?!"


Tubuhnya terikat oleh gravitasi hingga tubuhnya sulit bergerak. Shirayuki mendekatinya,


"Aku tidak menyangka bertemu dengan seorang kakak yang jauh lebih tak berguna dari sebelumnya."


"Aku bukan kakakmu!" Seru Merlia tegaskan bahwa dia bukanlah kakak Shirayuki.


Namun, Shirayuki begitu dingin memperkuatkan gravitasinya, "Demon gravity."


Hingga Merlia teriak kesakitan, "Aaaaggghhhh, hentikan!"


"Meski pun dia tidak bisa mengingat hal itu, tapi melihat wajahnya rasanya jauh menjijikkan dari sebelumnya." Batin Shirayuki.


Perlahan-lahan sekujur tubuh Merlia terlihat mulai rapuh beterbangan.


"T-tidak mungkin?! Tubuh ku akan hancur oleh kekuatan ini...kenapa?"


"P-pa...dahal a-aku i-ni k-kakakmu." Tambahnya.


Kedua mata Shirayuki membulat gemetar, "huh?"


Tapi, meski Merlia mengakuinya. Itu mustahil Shirayuki mempercayainya karena orang yang sudah mati kemudian dibangkitkan lagi, tidak akan membawa ingatan masa lalu melainkan ingatan baru.


"Maaf..." Shirayuki berniat menghancurkan tubuh Merlia dengan mantra penghancur gravitasi, dan...


"T-tunggu!" Teriak Merlia mencoba hentikan Shirayuki sejenak.


"Jangan membuang waktu."


"Sebelum itu, tolong beri waktu padaku untuk mengatakan sesuatu." Bujuk Merlia.


Shirayuki membiarkan gadis itu berbicara padanya,


"Tolong sampaikan pada para pahlawan bahwa mereka harus melindungi inti Kyouka yaitu seorang dewi terakhir karena sebentar lagi gelombang akhir akan segera datang menuju Kyouka."


"Pastikan mereka itu bersatu dengan inti Kyouka."


"Jika inti Kyouka dihancurkan maka delapan dimensi tidak akan terselamatkan, meskipun berkali-kala mereka berusaha menyelamatkannya tapi itu hanyalah sia-sia." Ucap Merlia.


"Aku mengerti." Balas Shirayuki singkat dan mengerti.


"Dan satu lagi... T-terima kasih." Sahut Merlia lagi.


"Huh?" Shirayuki terdiam gemetar sejenak, kemudian menatap prihatin pada Merlia.


Raut penyesalan mulai terukir diwajah Merlia, "Kau tau...orang yang dibangkitkan dari Abys akan di beri pilihan yaitu kegelapan dan cahaya, tapi orang yang dibangkitkan tak semestinya memilih salah satunya melainkan keduanya."


"Aku mengingatnya sedikit, kau adalah adikku yang ku anggap boneka yang tak berguna. Sekarang kau bisa menuntaskan kemarahanmu padaku dan...maafkan aku Shirayuki." Tambahnya.


Merlia benar-benar bercucuran airmata, "Aku benar-benar minta maaf."


Diam-diam kulit Merlia yang rapuh itu beterbangan debu, "aku merasa senang bisa bertemu denganmu."


Hingga tubuhnya pun tersapu bersih, sekujur tubuh Shirayuki terasa lemah dan gemetar kemudian jatuh ke tanah, saat ini hati dan pikirannya dipenuhi rasa kesal bercampur sedih.


Lalu, suara tangis tersedu-sedu merintihnya. Hiks...hikss...


"Bodoh! Kau benar-benar bodoh Merlia-nesama."


"Kenapa harus mengatakannya sekarang? Hiks...hikss..."


Melihat tubuh Merlia berakhir dengan debu penyesalan, Shirayuki tidak tau apa yang ada dipikirannya setelah melenyapkannya hingga dia tak sadar, cahaya kecil berasal tubuh Merlia yang mendebu itu datang ke arah pedang Shirayuki. Tentu saja cahaya itu masuk ke pedangnya.


•••


"Kita sudah sampai." Sahut Hizen menunjukkan sebuah toko besar nan mewah dipenuhi perlengkapan alat sihir, zirah besi dan masih banyak lagi.


Pria itu mengajak gadis itu masuk, kemudian Raphtalia bertanya.


"Huh? T-tempat apa ini?"


"Toko workshop." Jawab Hizen menurunkan Raphtalia dari pangkuannya.


"Huh?"


Raphtalia tidak begitu mengetahui tentang peralatan sihir atau senjata sebagainya. Lalu, kedua orang itu disambuti pelayan cantik berpakaian rapi dengan dua telinga kelinci yang imut, apalagi tubuh kecil nan pendek tapi otaknya berlilian.


"Ari-ari, ternyata tuan zen-kun ya, selamat datang." Sahutnya.


"Eh? Z-zen-kun?" Gumam Raphtalia heran mendengar gadis itu memanggil Hizen sebagai "zen-kun"


Hizen tersenyum tipis itu menepuk lembut kepala pelayan gadis itu,


"kau sudah besar ya, Kalty." Ucap Hizen.


Gadis kecil itu bernama Kalty, asalnya dari ras kelinci. Orangnya sangat ramah dan melakukan apa saja demi tuannya.


"Kau juga, tuan zen-kun." Balasnya melebarkan senyumannya pada Hizen.


Tentu saja keduanya sudah saling mengenal satu sama lain.


"Apa yang dia lakukan sekarang?" Tanya Hizen tentang tuannya Kalty.


"Ari-ari, apa kau mencarinya? Dia sedang memperbaiki sesuatu."


Hizen sudah menduga tuannya Kalty begitu sibuk dengan pekerjaannya.


"Begitu ya."


Kemudian, Kalty menangkap sosok asing di samping Hizen yaitu Raphtalia. Dengan cepat, Kalty mencoba menebaknya.


"Ooh, gadis ini? Selingkuhanmu?"


Namun, pertanyaan Kalty terdengar tidak sopan. Dan kedua orang itu terkejut hingga wajah mereka ikut memerah bercampur kesal.


"Ehhhhhh? B-bukan!" Serentak keduanya kesal.


"Ahh, maaf." Ujar Kalty tidak sengaja mengatakannya, karena setahunya Hizen memiliki kekasih bernama Hina. Kalty mengira Hizen mencari wanita lain di belakang kekasihnya.


Hizen menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuangnya dengan pasrah,


"kau ini ya, biar ku perkenalkan dia Raphtalia, dewi terakhir Kyouka."


Wajah Kalty langsung ceria berbinar mendengarnya,


"Wahhh, akhirnya aku bisa bertemu dengan seorang dewi seimut ini."


"I-mut?" Heran Raphtalia.


"Ooya, perkenalkan nama ku Kalty, aku seorang maid dari tuan ku." Ucap Kalty memperkenalkan dirinya sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Maid?" Tanya Raphtalia.


"Pelayan." Jawab Hizen.


Diam-diam Kalty memperhatikan penampilan Raphtalia dari atas hingga hujung kakinya.


"Ngomong-ngomong kemana salah satu kakimu?" Tanya Kalty.


Raphtalia jadi gugup dan tampak khawatir menjawabnya, karena salah satu kakinya tidak bisa dikembalikan dengan cara apapun akibat pengorbanan seorang dewi demi menuntaskan tugasnya. Kalty mencoba tebak,


"Ooh, aku mengerti. Itu pasti karena pengorbananmu seorang dewi, bukan? Aku sangat mengagumi dewi sepertimu, dilihat saja lemah tapi...kau punya mata keberanian."


"Aku menyukainya." Tambahnya.


Kalty terpana oleh dewi Raphtalia yang memiliki mata indah dipenuhi oleh keberanian. Hingga Kalty ingin sekali berteman dengannya.


"B-benarkah?" Raphtalia ikut senang bisa akrab dengan Kalty.


"Sepertinya kalian mudah akrab ya." Sahut Hizen tersenyum kecil pada Raphtalia.


Raphtalia menganggukkan kepalanya dengan damai. "Ku rasa begitu."


"Kalau begitu, aku akan memanggilnya. Jadi silahkan duduk." Ujar Kalty mempersilahkan mereka duduk.


"Iya, terima kasih." Balas Hizen.


Keduanya duduk di sofa lembut tersedia tempat itu, diam-diam Raphtalia memberanikan diri untuk bicara dengan Hizen.


"Uhmm...Hizen?"


"Ada apa?" Tanya Hizen.


Mengingat Hizen lumaya memiliki kenalan, membuat Raphtalia senang.


"Sepertinya kau punya banyak kenalan ya."


"Yahh, tidak juga. Hanya kenalan biasa."


"Apa Hina-chan juga mengetahui penderitaanmu?" Tanya Raphtalia.


Hizen membenarkannya.


"Aahh, aku baru ingat kalau dia kekasihmu. Pasti lebih tau tentangmu, kan?" Raphtalia jadi tidak nyaman membahasnya.


"Tidak juga, Hina-chan orangnya baik dan selalu melakukan cara apapun untukku, aku tidak tau harus membalas apa kebaikannya."


Dengan tenang Raphtalia memegang salah satu tangan Hizen.


"Kau bisa membalasnya dengan ketulusanmu."


"Ketulusan? Seperti apa?"


"Seperti kau lakukan pada kekasihmu." Balas Raphtalia lembut melebarkan senyumannya.


Hizen tersenyum ikut menggenggam tangan Raphtalia. "Kau tau, aku begitu lega ketika kau mendengarku."


"Hm?" Raphtalia memiringkan kepalanya bertanya,


"Hina-chan hanya mendengar penderitaanku tapi bukan dari suara ku." Tambah Hizen.


Kedua pipi Raphtalia memerah, "itu berarti aku...pertama."


"I-iya s-seperti i-itulah." Jawab Hizen juga tersipu malu.


Raphtalia tertawa kecil, "hahahahah"


"Kenapa?" Tanya Hizen.


"Kau sangat lucu Hizen."


"Apanya yang lucu?"


"Aku selalu berpikir dan bertanya pada diriku, kenapa kau begitu peduli padaku seolah kau jauh mengenalku daripada Hina-chan?"


Mendengar pertanyaan itu, Hizen terkagum sejenak kemudian menjawabnya.


"Karena kau orang yang pertama mengukir kebaikan untukku."


"Huh?"


Wajah Raphtalia memerah lagi, saking tak tahan malu dia melepas genggamannya.


"M-maaf." Ucap Raphtalia.


Suasana agak canggung hingga seorang pria asing datang mengejutkan dibelakang mereka.


"Wari-wari, sepertinya kalian lagi mesra ya." Sahutnya


Heeeeeeh? Hizen kaget bercampur kesal mengenal suara itu.


"S-sejak kapan kau disini?!" Tegurnya.


"Dari awal loo, zen-kun." 🤗🤗🤗


•••


*BERSAMBUNG*


maaf sebesar-besarnya jika terlalu lama up nya. insya allah diusahakan up tepat waktu.


jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya 😄😄😄😄


terima kasih 😌🙏🙇