The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Di Hancurkan



_chapter 20_


The Legendary Of Hero


.


.


.


Sebelum kejadian sebenarnya,


sekujur tubuh Raphtalia terasa kaku bergerak menatap Hina benar-benar terlihat marah padanya.


"Aku muak! Aku muak! Aku muak! Aku muak!"


"Aku muak diasingkan, aku muak diperlakukan seperti biasa, aku muak melihat Tadahiro-sama mementingkanmu dibanding aku kekasihnya.


" Aku muak! Aku muak!...hikss...hikss, aku..m-muak...!"


Hina melepaskan kemarahannya, ia tidak bisa menahan beban yang ia tutupi. Tapi, melepaskan kemarahan membuat hati dan pikirannya tak terkendali.


"Hina-chan, tenang kan dirimu!"


Raphtalia mencoba menenangkannya dengan memberi pelukan karena hanya pelukan yang bisa menenangkan seseorang. Tetapi, itu tidak berhasil. Hina menepis kasar sambil mendorongnya.


"Menjauhlah! Semua ini salahmu, semua ini salahmu! Dari awal kau adalah dalang penderitaan Tadahiro-sama!"


"T-tidak kau salah, semua itu-..."


"Diamlah..!" Sambil mengarahkan ujung mulut pedangnya tepat kehadapan mata Raphtalia.


"Huh?" Matanya terbuka ketakutan menyadari perasaan Hina saat ini bukanlah perasaan kesedihan melainkan “kebencian”


"Aku tidak punya pilihan lain untuk membunuhmu."


Mendengar ucapan itu membuat Raphtalia makin ketakutan.


"Huh, Hina-chan, tolong jangan lakukan itu!"


Dia berusaha menghentikannya. Namun, Hina berniat menebas Raphtalia dengan kekuatan pedanganya.


"Shurem plurm!"


Tetapi, seseorang muncul sangat cepat itu melempar serangan Hina ke arah lain hingga dua pohon terpotong dab jatuh tumbang.


"Tolong hentikan pertengkaran ini!" (Heila)


"I-ibu?!"


Tidak hanya Hina terkejut, tetapi Raphtalia juga terkejut.


"K-kau a-adalah...".


"Kau mengingatnya, itu bagus untukmu, Raphtalia Shin."


Raphtalia sempat bertemu dengan Heila, dan dialah menjadikan Raphtalia seorang dewi terakhir.


"Sejak kapan kalian saling kenal?" Tanya Hina.


"Akan ku jawab pertanyaanmu nanti, saat ini aku benar-benar tidak punya waktu."


"Huh, apa maksudmu, ibu?"


"I-ibu? J-jadi d-dia ibunya?" Gumam Raphtalia terkejut setelah tahu bahwa Heila adalah ibunya Hina.


Heila sempat memperhatikan kedua kaki Raphtalia kembali.


"Kenapa kau menyempurnakan kakimu kembali?"


"Huh?"


Wajah Heila mulai tampak kecewa terhadap Raphtalia.


"Aku pernah bilang, kan, menjadi seorang dewi itu harus ada yang namanya mengorbankan salah satu dari tubuhmu....


...Tapi, kau sudah melanggar perjanjian."


Raphtalia merasa ini bukanlah pelanggaran, dia mencoba yakinkan perkataannya.


"Huh? Tapi, aku sudah menuntaskan tugas ku."


"Itu sepenuhnya belum tuntas, mengerti?"


Dia makin tak percaya mendengar tanggapan Heila dingin padanya.


"Huh? T-tidak mungkin...!"


Heila benar-benar memasang wajah kecewa dan jenuh pada Raphtalia.


"Aku benar-benar kecewa telah memilihmu, tidak hanya aku tapi juga ibumu."


Kedua mata Raphtali terbuka lebar mendengarnya, "Huh?"


Heila mulai memusatkan kekuatannya di tangan kanannya.


"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain mengambil semua yang ada pada tubuhmu."


"Kenapa?" tanya Raphtalia.


"Karena kau telah membuat kesalahan besar."


Raphtalia menolak berat jika semua yang dimiliki telah diambil kembali.


"Aku m-menolak."


Namun, meskipun ia berusaha. Tapi, ucapan itu tidak dipedulikan oleh Heila maupun Hina.


>Removal< yang mengartikan pengisapan energi mulai dari mengosongkan pikiran, ingatan, emosi, dan energi tubuh. yang hanya tersisa adalah jantung.


Setelah memusatkan kekuatannya di tangannya, Heila mengerahkan kekuatannya tepat ke tubuh Raphtalia agar semua senjata yang ada ditubuhnya keluar.


AAAAGGGHHHH


Akan tetapi, menerimanya saja membuat Raphtalia kesakitan. Rasanya tubuhnya dijepit, jantungnya ditekan dan otaknya terasa dipenggal erat.


AAAGGGHHH H-HENTIKAN, T-T-TI-DAK AAGGGHH


Airmatanya mengalir, "*kenapa?...kenapa?...Rasanya seperti dibohongi dan dikhianati, sakit...ini sakit sekali...rasanya tubuhku maupun organ ku ingin putus, apa aku akan berakhir?...Hizen...


Maafkan aku, mulai saat ini aku bukanlah perisaimu melainkan beban untukmu*."


Cihk..!


Heila nyaris kesulitan mengambil senjata legendaris yang ada didalam tubuh Raphtalia.


"TIDAKKKKKK" takdir mulai bertindak lain pada Raphtalia.


Tapi, pada akhirnya Heila berhasil.


Tombak dan panah legendaris itu sudah ada di tangannya. Bahkan Hina sempat dibuat kaget.


"Tombak ini?"


Tentu saja, dia pernah melihat tombak yang digunakan oleh Hizen. Tubuh Raphtalia benar-benar tampak terkuras lelah hingga jatuh pingsan.


"Kenapa ibu melakukan ini?" Tanya Hina.


"Ini demi kebaikannya."


"Ashia Douman mengincarnya, akan lebih baik senjata kedamaian ini dikembalikan ke inti Kyouka."


"Hanya benda ini yang bisa menghentikan gelombang akhir."


"Tapi, kenapa dua senjata saja? Bukankah ada empat?"


"Aku kurang tau, hanya dua saja yang keluar dari tubuhnya."


"Ayo pergi dari sini."


"Bagaimana dengan Tadahiro-sama?"


menyadari ekspersi Hina khawatir Hizen akan marah padanya, bibir Heila tersenyum sinis dan santai.


"Sepertinya kau mengkhawatirkannya, tenang saja akan ku jelaskan kalau dia ingin mengancammu."


Mereka meninggalkan Raphtalia pingsan di sana, namun mereka tak sadar bahwa sebenarnya empat senjata legendaris itu berhasil keluar. Untungnya, Raphtalia tanpa sadar itu memeluk dua senjatanya dan pingsan.


Tak lama kemudian, Hizen menemukannya dengan wajah yang syok berat melihat kondisi Raphtalia telah kehilangan semuanya.


"TIDAK BISA KU MAAFKANNNN!!!"


•••


"Raphtalia?!!"


Teriak keras dari Tatsuya, tampaknya terkejut setelah bangun dari mimpinya.


Wajahnya dibasahi oleh keringatnya, ketakutan, merasa dadanya sesak seolah akar kekuatannya mengurang dan panik.


Mendengar teriakkan Tatsuya membuat Shirayuki datang ke kamarnya.


"Kau baik-baik saja, Tatsuya?" Sambil menyentuh dahi Tatsuya.


Suhu badannya memanglah tidak baik akibat memikirkan kabar Raphtalia dan Hizen tak kunjung datang.


Tatsuya terengah-engah mengatur nafasnya dengan baik. Shirayuki khawatir itu memeluk erat menenangkannya.


"Tenangkan dirimu, Tatsuya, semuanya akan baik-baik saja."


Dia mulai paham melihat kondisi Tatsuya tampaknya bermimpi buruk dan terkejut.


Hingga terdengar suara tangisan olehnya membuat Shirayuki juga khawatir.


"Hiks...hikss...Raphtalia, a-aku benar-benar merasakannya akar kekuatan ku mengurang dan rasa kesakitan itu berasal dari Raphtalia dan Hiro..hikss..."


Kedua mata Shirayuki terbuka lebar, kemudian menangis mendengarnya.


"Huh?"


"*Perasaan apa ini? K-kenapa?...kenapa rasanya sakit dan sedih memikirkan Raphtalia dan Hiro? Apa terjadi sesuatu....


...kalian baik-baik, saja-kan*?"


Tidak hanya Tatsuya mengalaminya, 6 pahlawan tertidur nyenyak juga terbangun kaget dari mimpi buruknya.


"Raphtalia?!"


Benar, bahwa 8 pahlawan saat ini juga merasakan keberadaan Raphtalia menghilang. Meskipun merasakannya, akar kekuatan senjata maupun tekad kejiwaan dari lubuk hati mereka juga mengurang. Itu karena, mereka terhubung dengan darah sang dewi kecil, Raphtalia.


Sebagai bukti, sang dewi terakhir adalah kunci kedamaian dari segala perang.


Jail, si peri perisai berada di ruang bawah tanah dan melihat bola raksasa sebagai inti Kyouka, warna benda itu makin menghitam. Dia curiga, benda itu berhubungan disalah satu dewi menghilang.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Sedang apa kau kemari, Jail?"


Suara familiar yaitu Raja Suwon menampakkan dirinya itu menemukan sosok Jail berada di ruang itu.


"Suwon-sama?"


Mata Jail sedikit terbuka dan sempat panik mengatur nadanya. Dia cepat-cepat menundukkan kepalanya, sebagai tanda maaf pada sang raja.


"Tolong maafkan aku, Suwon-sama, aku kemari karena aku merasakan sesuatu dan membuat ku tidak tenang."


Suwon tidak menanggapinya, bahkan tidak protes akan hal itu. Matanya hanya teralihkan oleh benda raksasa itu.


"Merebutnya?"


"Aku tidak yakin, apa jawabannya benar atau tidak? Jujur saja, ini kabar baik untukku mendengarnya...


...tapi, mendengarnya saja membuat ku tidak bersemangat." (Suwon)


"Apa Suwon-sama bermaksud melenyapkan dewi terakhir?" Tanya Jail.


"Tepat sekali, tapi...kenapa ya?...kenapa coba perasaan ini terasa sakit?"


Suwon menatap sedih pada bola kedamaian dihadapannya, menyadari akan hal itu, Jail menanggapinya.


"Itu sebagai bukti seorang dewi adalah makhluk penting Kyouka....


...Ini sudah kedelapan kalinya, yang mulia merasakan perasaan itu bukan?" (Jail)


Suwon jadi tidak nyaman, jika seseorang mengikut campur dalam urusan perasaannya.


"Kau tidak berhak mengetahui apa yang aku rasakan saat ini.


"Tidak yang mulia, karena semua yang ada di kastil Kyouka ini maupun 8 pahlawan juga merasakan hal yang sama." (Jail)


Mata Suwon sedikit terbuka sadar, kemudian bibirnya tersenyum kecil.


"Kali ini aku akan menyerah."


Jail berharap raja Suwon mengakui keberadaan dewi. Selama ini, dia sama sekali tidak pernah mengakuinya bahkan memerintahkan orang-orangnya membunuh dewi.


Meski itu menyenangkan baginya, namun dia menerima rasa sakit luar biasa kehilangan dewi satu persatu sampai ketujuh kalinya.


Dan kedelapan, keberadaan dewi terakhir dihapuskan membuat hatinya terasa gelap gulita.


Pada akhirnya Suwon menyerah karena merasakannya saja membuat era malapetaka tak kunjung berakhir.


•••


Vanus dan Khalty menunggu kepulangan Hizen yang ternyata tak kunjung kembali. Meski mereka sudah menunggunya di tenda, tak ada jejak kedatangannya.


"Bahkan aku tidak melihat Hina-sama dan Raphtalia kembali." Keluh Khalty.


Setelah menunggu sekian lama, sosok Hizen yang ditunggu itu telah kembali.


"Zen-kun?"


Mendengar suara Khalty memanggilnya, Vanus ikut keluar dari tenda menyambut kedatangan Hizen. Namun, raut wajah keduanya terkejut melihat kondisi Raphtalia tak berdaya itu digendong oleh Hizen.


"A-apa yang terjadi?" Tanya Vanus.


Dia sedikit ragu menanyakannya, dia sadar bahwa perasaan Hizen saat ini sangat tidak baik, terutama wajahnya yang sama sekali kosong.


"Dia mengambil semuanya."


Jawab Hizen singkat, kemudian masuk ke tenda tanpa banyak bicara lagi. Dia bingung apa yang harus diucapkannya.


"Huh, t-tidak m-mungkin...!" Kedua mata Vanus terbuka gemetar setelah mendengarnya.


Bahkan tidak percaya, apa yang dibicarakan oleh Hizen tadi.


"Lia-chan? I-ini mimpi buruk, kan?"


Khalty mencoba memastikannya lagi pada Hizen, kalau semua itu tidak benar. Namun, Vanus mencegahnya tidak mengganggu Hizen.


"Ini kenyataan."


"Huh..? Tidak mungkin...tidak mungkin, hiks...tidak mungkin, tidak mungkin!"


Teriak Khalty dan menangis, dia tidak sanggup menerima kenyataannya. Vanus memeluknya, kemudian menenangkannya.


"Aku juga tidak mempercayainya, tapi...faktanya itu sudah terjadi."


Dia tidak tau harus berwajah apa lagi setelah mendengarnya.


"Jika semuanya diambil apa yang dimiliki Raph-kun, apa itu berarti tidak ada peluang kedamaian dunia ini?" Gumamnya.


"Aaahh...aku tidak tau harus apa lagi melihat dunia ini terus bertumpah darah."


Hizen membaringkan Raphtalia dikarpet sederhana, dia sempat ingin menyimpan pedang dan perisai yang masih dipelukan Raphtalia ke tempat yang aman. Tetapi, Raphtalia tidak ingin melepaskannya.


"Kenapa? Padahal aku akan menyimpannya ke tempat aman."


Raphtalia makin memeluk erat senjatanya, Hizen menyerah.


"Baiklah, tapi biarkan benda ini disampingmu, oke?"


Dan kali ini Raphtalia nurut dan membiarkan Hizen menyimpan pedang dan perisai disamping tempat tidurnya.


"Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu."


Salah satu tangan Raphtalia menggenggam erat tangan Hizen. Dia merasa takut dan bersalah, untungnya Hizen merasakan apa yang dirasakan oleh Raphtalia.


"Tenang saja, aku disini yang akan selalu bersamamu, dan jangan salahkan dirimu."


"Semua akan baik-baik saja, Raphtalia."


Mata Raphtalia tampak menumpahkan airmatanya, Hizen menatap sedih sambil mengusap airmatanya. Kemudian, mengusap lembut rambut merah Raphtalia.


"Maafkan aku...Raphtalia."


Heila dan Hina tampaknya kembali ke kastil Muy King, Hina sempat marah setelah lihat apa yang dilakukan oleh ibunya pada Raphtalia.


"Apa maksud semua ini, ibu?"


Dia belum puas dengan kejadian tadi, Heila bersikap jenuh melihat reaksi Hina seperti anak kecil saja.


"Kau sudah melihatnya tadi, kan?"


"lagi pula, untuk apa kau bertengkar dengannya hanya karena Tada-san lebih mementingkannya daripada kau."


Wajah Hina cemberut, "sebaiknya ibu jawab dulu pertanyaan ku." Protesnya.


Heila menyerah dengan membuang nafasnya,


"Huhffh, kau itu ya..."


"Sebelum aku mengirimnya, ibunya membuat kontrak dengan ku."


"Kontrak?"


Heila menganggukkan kepalanya, kemudian membenarkannya.


"Mmm..kontrak dewi, sebagai tanda penyesalan terhadap anaknya, dia mengerahkan semua kekuatannya untuk anaknya yang akan digelari dewi terakhir, alias harapan manusia terakhir."


"Melakukan kontrak itu harus ada yang namanya mengorbankan salah satu tubuhnya. Dan Raphtalia mengorbankan salah satu kakinya."


Perlahan-lahan Hina mulai mengerti apa yang diceritakan oleh ibunya.


"Lalu, apa yang akan ibu lakukan pada tombak dan panah itu?"


"Tentu saja mengembalikan ke tempat asalnya, Kyouka."


"E-eh? Berarti ibu dan aku pulang ke Kyouka."


"Benar, dan perbaiki semua kesalahan yang ayahmu kacaukan...sebelum gelombang akhir datang."


Memegang tombak besar itu membuat Heila sedikit mengeluh.


"Aku tidak menyangka tombak ini memiliki kekuatan besar dan berat."


"Apa karena tekad keberaniannya?" Gumamnya.


Hina sedikit menampilkan wajah sedihnya, dia menatap langit malam dihiasi bulan purnama dan bintang-bintang kecil.


Menyaksikannya saja, membuat dirinya sangat bersalah dan menyesal.


"Maafkan aku, Tadahiro-sama...kau pasti membenci ku, bukan?"


••


Ketika hari berikutnya telah datang, Hizen memutuskan akan pergi dan mencari segala cara mengembalikan semuanya pada Raphtalia.


"Kau serius?" Tanya Khalty.


Hizen membenarkannya dengan wajah yang serius.


"Pasti pahlawan lainnya juga merasakan hal yang sama sepertimu, zen-kun." (Vanus)


"Aku tau itu."


"Jika kau ingin mengembalikannya, maka kau perlu merebut apa yang sudah diambil dari tubuhnya."


"Apa tidak ada cara lain?" Tanya Hizen.


"Tidak, itu artinya kau akan ke Kyouka kembali karena inti ini ada di tempat itu." Sahut Khalty.


Hizen tidak percaya bahwa dia akan kembali ke tempat penderitaannya. Mereka mengerti, apa yang dirasakan Hizen saat ini.


"Aku mengerti, kau sulit melakukannya, tapi ini demi Raph-kun." (Vanus)


Mereka membungkukkan badannya dan memohon besar pada Hizen.


"Kami mohon, agar kau tidak kehilangan kesempatan ini karena ini sudah ketujuh kalinya dewi dilenyapkan."(Vanus)


"Jangan sampai Raph-kun ikut jadi korban kedelapan." (Khalty)


Hizen terkagum melihat mereka yang ternyata sangat peduli padanya maupun Raphtalia.


"Kalian..."


Dia tersenyum senang, "Terima kasih, aku akan melakukan cara apapun untuk Raphtalia."


Mereka juga senang dapat melihat Hizen tersenyum lagi. Hizen menghampiri Raphtalia yang duduk di kursi roda sambil memeluk pedangnya, Onikirimaru.


Dia membiarkan Hizen mengambil perisainya, hanya pedang yang ada di genggamannya.


"Kita berangkat ya, Raphtalia." Sambil mengusap rambut merahnya dengan lembut.


Setelah itu dia pamit pada Vanus dan Khalty, mereka berharap besar Hizen akan berhasil.


"Sebelum itu, Raphtalia sempat bilang sesuatu padaku kalau dia sangat berterima kasih telah mengembalikan kakinya dan bisa berjalan normal seperti orang disekitarnya.


"Yap, sama-sama." (Vanus)


"A-anu, Zen-kun, ini untukmu."


Khalty memberikan pedang yang dibuat oleh Vanus pada Hizen.


"Pedang, kenapa?" Tanya Hizen.


"Itu sebagai perlindungan dari kami." (Vanus)


Hizen membungkukkan badannya, "sekali lagi, aku sangat berterima kasih pada kalian sangat peduli dengan ku dan Raphtalia.."


"Hati-hati." Serentak keduanya pada Hizen.


"Baik, aku pergi dulu."


Hizen pamit sambil mendorong Raphtalia dengan kursi roda.


"Semoga berhasil, pahlawan Maguz." (Vanus)


•••


*BERSAMBUNG . . .*