The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Setengah Manusia



The Legendary Of Hero


.


.


.



"Sstt..seseorang sedang melacak lokasi kita." Ujar Hizen meminta gadis mungil disampingnya turut ucapannya.


Hizen menyadari sesuatu bahwa seseorang sedang mencarinya, dia curiga jika orang itu adalah musuh. Maka dari itu, dia bersama Raphtalia bersembunyi disalah satu pohon. Tapi siapa yang mencarinya?


"Hm? Kemana dia pergi? Padahal baunya masih ada disekitar sini." Sahut nada familiar itu tampaknya akrab dengan Hizen.


"Suara itu...Alysa?" Mendengar suara tadi lantas membuat Hizen kenal dengannya.


Gadis muda berukuran tubuh kecil dengan dua sayap putih menempel di belakangnya, dia salah satu peri mungil dari kerajaan tetap Kyouka. Sebut saja, Alysa. si bom kecil itu adalah julukannya.


"Apa dia benar-benar sembunyi?" gumamnya berpikir.


Diam-diam bibirnya tersenyum karena menyadari tempat persembunyian seseorang.


"Hmmm...sepertinya aku menemukannya."


"Light of silver!!" Teriaknya menyebut mantra dari tongkatnya ke arah salah satu pohon hingga meledak.


Tentu saja, sosok Hizen bersama Raphtalia berhasil menghindar serangan itu. Mau tidak mau, dia harus berhadapan dengan peri kenalannya.


"Lama tidak bertemu, Hizen-sama." Sapa peri kecil masih memancarkan aura jahatnya.


"Kau mengenalnya?" Tanya Raphtalia pada Hizen disampingnya.


"Tentu, dia Alysa, salah peri kerajaan dan juga peri kecil yang sudah mengkhianati ku." Jawab Hizen.


"Huh? Kau dikhianati?" Gumam Raphtalia, diam-diam dia mulai mengerti alasan mengapa Hizen sangat waspada terhadap orang sekitarnya maupun dirinya. Ternyata si kilat merah itu pernah dikhianati oleh salah satu dari mereka membuat namanya tidak bisa diperbaiki.


"Raphtalia, bisakah kau meminjamkan kekuatanmu padaku?" Pinta Hizen. Dengan cepat, gadis itu menjawab..


"Ooh, tentu saja karena kau adalah tuanku. Apapun yang inginkan dari ku, aku siap mengabulkannya asalkan kau tidak meninggalkan ku." Jawab Raphtalia sedikit khawatir jika tuannya akan meninggalkannya.


"Jangan khawatir hal itu." Wajah Hizen terukir damai agar Raphtalia tidak berpikiran hal yang tidak-tidak karena pria itu tidak akan pernah meninggalkannya.


"Baiklah, Wahai alam semesta, biarkan kekuatan ini bangkit untuk melindungi.."


"Onikirimaru!"


Dengan memohon suara nan lembut hingga dirinya berubah sebuah pedang berkilau dan tajam tak berujung tumpul.


Alysa menyaksikannya daritadi merasa beruntung mendapatkan informasi baru dari kekuatan Hizen yang sebenarnya.


"Jadi begitu..kau benar-benar pria berjulukan si kilat merah ya."


"Untuk apa kau kemari?" Tanya Hizen mengarahkan pedangnya tepat dihadapan alysa.


"Aku menerima perintah dari rajaku, kalau aku harus.." Sambil menghilangkan diri bagaikan ilusi hingga..


Ia muncul di samping Hizen."...Melenyapkanmu!"


"Light of silver!!" Seru Alysa mengeluarkan mantra peledak dari tongkatnya dan menyerang Hizen.


Hizen begitu mudah menghancurkan mantra peledak dengan sekali mengayunkan pedangnya. Dia benar-benar terkejut pada kekuatan pedangnya.


"Benar-benar hebat!"


Alysa mengerutkan kedua keningnya menyadari lekuatan pedang itu bukanlah mainan untuknya.


"Hmph! Jadi gadis tadi adalah senjata spesialmu, aku benar-benar khawatir deh.."


Tiba-tiba dia berhenti menyerang Hizen, dia berpikir bagaimana cara menjatuhkan senjata spesial Hizen di genggamannya. Hingga dia menemukan jawabannya.


"Aku khawatir, gadis itu hanyalah alat untukmu karena dengan memanfaatkannya kau akan menjadi kuat kan?"


"Otakmu benar-benar otak buaya ya." Balas Hizen juga memperlihatkan senyumnya penuh aura amarahnya.


"Bisikan iblismu tidak akan mampu menjatuhkannya karena kau hanyalah pengganggu!".


"Strike of phildon!!"


"Wahai cahaya yang damai, biarkan sinar expolision menyatumu."


Dengan menyerukan permohonan itu, kekuatan magus miliknya menyatu dengan pedangnya Onikirimaru hingga Raphtalia yang masih dalam pedangnya menyaksikan penderitaan Hizen, mulai dari datangnya ke dimensi Kyouka hingga berakhir hidupnya di tahanan membuat Raphtalia tak bisa berkutip.


"Hizen?"


Alysa juga menyebutkan mantra light of silver tapi kali ini, mantra itu tampaknya kuat berganda lebih dari sebelumnya.


"Para leluhur ku, izinkan kekuatan murni bangkit memusnahkan kebencian!"


Setelah mempersiapkan mantra peledak 100%, keduanya menyerang kekuatan satu sama lain. GARGGGGGHHHHH


"Wahai alam semesta, jika kebencian membangkit, jika kegelapan ikut membangkit, jika permusuhan ikut mempertaruhkan, maka biarkan sinar onikirimaru sang dewi melindungi cahaya."


"Light Expolicion!" Sahut Raphtalia tampaknya menepatkan kedua tangannya tepat ditengah dadanya dengan mata tertutup memohon agar kekuatan onikirmaru bersama dirinya dapat melindungi Hizen dari segala serangan kebencian, kegelapan maupun permusuhan diantaranya.


Dengan menyerukannya nan lembut, cahaya onikirimaru kian membangkit hingga mantra Alysa retak tak kunjung stabil.


"Tidak mungkin!"


Akhirnya, serangan Hizen mengenai salah satu lengan Alysa. Dan tongkat miliknya patah membuat gadis itu teriak menyesalinya.


"Tongkatku? Tidak..t-tidak..TIDAKKKK!!" teriaknya.


Hizen tanpa ampun itu menyerap kekuatan Alysa agar tak mampu menggunakannya akibat dia telah mengkhianati Hizen.


"Sart to Absorption."


"Aku masih belum bisa memaafkan dirimu yang sudah mengkhianatiku!"


ARRGGGGHHHHH.. alysa hanya berteriak kesakitan, setelah menyerap kekuatannya hingga berbentuk bola kristal hitam kemudian tangan Hizen menghancurkan benda itu.


"..Done."


Alysa tak kuat lagi itu memilih menghilangkan diri dengan teleportnya sebelum Hizen benar-benar melenyapkannya.


Raphtalia kembali seperti semula, tetapi Hizen begitu terkejut menyadari gadis kecil itu tiba-tiba memeluknya.


"Kenapa?" Tanyanya.


Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa."


Hizen mengusap ujung kepala Raphtalia dengan lembut. "Jika kau kepikiran tentangku, tenanglah.. Aku tidak akan menjadikanmu sebagai alat maupun memanfaatkanmu, aku benar-benar menyesali sikap kasarku padamu maka dari itu aku ingin menembusnya dengan cara yang lembut."


"Sebesar apapun kesalahanmu padaku, hati dan perasaan ku tetap tulus memaafkanmu, bahkan tidak perlu mengucapkannya." Balas Raphtalia. Diam-diam wajahnya masih memikirkan penderitaan Hizen yang sempat ia saksikan.


"Terima kasih Raphtalia."


"Apa sebesar itu kegelapan hatinya?" Sahut batin Raphtalia masih berada dipelukan Hizen. Dan pria itu tidak peduli mau sampai kapan Raphtalia menempelnya karena baginya gadis itu sangat spesial dan penting untuknya.


"Sepertinya dia benar-benar memikirkannya."


••


Kediaman istana Kyouka, sang raja terkejut melihat Alysa kembali dengan kondisi tak berguna lagi, membuat pria itu jijik padanya.


"Maafkan aku, yang mulia." Ujar Alysa membungkukkan badannya agar yang mulia mau memberinya kesempatan atau memaafkan akibat tugasnya gagal.


"Angkat kepalamu." Titah yang mulia.


"Apa yang membuatmu seperti ini?"


"Pahlawan tak berguna itu benar-benar memiliki kekuatan tak tertandingi, tidak hanya itu dia juga memiliki seorang gadis muda yang mampu menjadi pedangnya, onikirimaru."


Kedua tangan yang mulai mengepal erat nan kesal, merasa mendidih setelah mendengar kabar tentang pedang bernama onikirimaru.


"Jadi leluhur dewi sudah mengirim seseorang untuknya?!"


"Jangan bercanda!!!" Teriaknya dipenuh amarah sedang membara hingga beberapa jendela maupun pintu itu rusak.


Hal itu membuat Alysa khawatir bercampur penasaran. "Apa yang mulia baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, sekarang kumpulkan para peri di ruang rapat!."


"Segera dilaksanakan."


Dibalik pembicaraan mereka, salah satu pahlawan mendengarnya kemudian mengabarkan pada pahlawan lainnya.


"Apa kalian sudah mendengar kabar Hizen?" Tanya pahlawan pedang alias Veno pada 6 pahlawan.


"Kemarin kami bertemu dengannya." Jawab Archia.


"Heh? Benarkah?" Tanya pahlawan kipas, Katagaki dengan histeris.


"Bagaimana kabarnya?" Tambahnya.


"Ku akui saja, kekuatannya jauh lebih kuat dari sebelumnya." Ujar Zyn.


"Ku dengar gadis kecil bersamanya adalah pedangnya, onikirimaru."


Mendengar ucapan Veno lantas membuat tau hal itu.


"Onikirimaru?" Suara kaget dari dua pria pahlawan cambuk dan seruling alias Lucien dan Haku.


"Benar, onikirimaru salah satu pedang legendaris yang diciptakan oleh leluhur dewi suci." Jawab Veno berwajah santai.


"Aku baru tau benda itu adalah seorang gadis dan tak disangka begitu cepat Hizen menemukannya." Sahut Katagaki si pahlawab kipas.


6 pria berjulukan pangeran adalah pahlawan dari kerajaan dimensi masing-masing, bisa dibilang mereka adalah orang terkaya nan baik. Tidak hanya itu, mereka juga sangat waspada terhadap kerajaan Kyouka karena begitu kaget mereka diundang kemari hanya ingin melindungi 8 dimensi atau disebut galaksi bima sakti. Mereka khawatir, hal itu hanyalah rekayasa.


Sementara dua pahlawan lagi alias pahlawan perisai bersama pahlawan magus telah diskualifikasi akibat kejadian 8 tahun yang mendesakkan. Lalu, bagaimana kabar mereka saat ini?


••


Disisi lain yaitu sebuah tempat atau area yang terdiri dari binatang setengah manusia. Sebut saja dimensi kedua, half-human. Sayangnya kondisi tempat itu hanyalah debu, rumah-rumah yang berjatuhan, tanah yang tak subur dan tempatnya saja terasa sepi nan kasihan. Tak ada siapapun disana, tetapi...


Ada seseorang!


Tubuhnya menggigil dingin diselimuti oleh ketakutan dibawah tepian runtuh.


"Hikss...hikss." Isak tangis oleh gadis muda berpirang kuning.


"Kenapa?..kenapa tempat ini hancur mendebu? Tidak ada yang menolong kami, hiks..hikss.." Sahutnya.


Dia menangis tersedu-sedu menyaksikan disekitarnya sudah tak kembali seolah tempatnya sudah mati tak berdaya. Dia putus asa karena tak ada satupun orang mau menolong dunianya akibat diserang oleh gelombang iblis pertama.


"Oi kau?!" Tiba-tiba terdengar suara pria dihadapan gadis itu, lantas membuatnya terkejut.


"Huh? Siapa?"


Dengan menatapnya, kedua mata gadis itu membulat lebar. Rasanya begitu lega ada orang yang telah mendengar pertolongannya.


"Sebaiknya kau terlebih dahulu memperkenalkan diri." Ucap pria berambut coklat dan memiliki tubuh lebar nan tingginya lumayan 190cm.


"Baik! Namaku, Shirayuki." Teriak gadis berkuping kucing tampak semangat memperkenalkan dirinya.


"Hmm, jadi hanya kau tersisa ya. Panggil aku Tatsuya." Balas pria mengenakan perisai ditangan kanannya.


Melihat benda itu, Shirayuki menduga bahwa orang yang berhadapannya adalah sosok pahlawan perisai.


"Pahlawan perisai?"


Tatsuya membenarkannya, meski wajahnya saat ini sedang terukir emosi kesedihan yang melandanya.


"Mulai sekarang ikutlah dengan ku dan.." Sambil mengulurkan telapak tangannya pada Shirayuki yang masih duduk ketakutan.


"..jadilah pedangku." Tambahnya makin membuat Shirayuki tak mengerti sejenak. "Eh?"


Hal itu mungkin terlalu mendadak baginya, tapi kebetulan sekali bahwa dia punya harapan sebelumnya agar bisa bertemu pahlawan perisai hingga waktu ke waktu dia berusaha belajar berpedang sampai saat ini harapannya telah datang membuatnya bahagia.


"Ini terlalu cepat yah, tapi aku senang menemukannya." Gumamnya. Dengan santai, tangannya ikut balas mengulurnya. Tak disangka pria itu menarik tangan Shirayuki bangkit ke tepat dadanya membuat jantungnya berdegup tak berartur,


Karena saat ini, mata keduanya sedang dilanda pandangan pertama. Diam-diam bibir pria itu membisikan sesuatu ke telinga Shirayuki.


"Bisakah kau dan aku menyatu? Karena aku juga half-human sepertimu."


Terdengar nada yang begitu lembut dan menggelikan membuat mata gadis itu terbelalak kembali.


"Kenapa?" Tanya Shirayuki.


Pria itu hanya memeluk erat tubuhnya, kemudian terdengar isak tangis darinya.


"Karena..aku ingin menembus kesalahanku. Akibat kepergian ku, dunia ini sudah mati."


Mendengarnya saja membuat gadis itu menangis kembali. "ini bukan kesalahanmu, Tatsuya-kun."


••


Hizen bersama Raphtalia juga datang ke dimensi Half-human. Mereka tak bisa berkutip menyaksikan kota yang sudah lama mati.


"Sepertinya dimensi ini sudah diserang gelombang pertama." Gumam Hizen.


UUUEEEKK,


Dan Raphtalia tampak mual melihat tengkorak half-human membusuk hingga tangisnya ikut terlihat.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Hizen.


"Tempat ini..tempat ini seperti dunia ku sebelumnya." Jawab Raphtalia tidak sanggup memgingat dunianya yang telah mendebu. Hiks..hiks..


"Kapan usainya, Hizen? Sangat disayangkan jika memiliki keluarga damai lalu menghilang tak bersalah."


"Benar-benar kejam!" Seru Raphtalia.


Hizen langsung memeluk gadis kecil agar tetap tenang dan jangan panik.


"Aku mengerti, itu berat bagimu maupun bagiku."


"Tapi untuk saat ini, kau tidak bisa bertingkah lemah. Sekarang kau sudah bersamaku, itu artinya kita sama-sama kalahkan musuh." Ujarnya sambil mengusap bahu Raphtalia dengan lembut.


"Maafkan aku, Hizen.."


Mereka melanjutkan perjalannya hingga tak disangka pahlawan Magus itu bertemu dengan pahlawan perisai.


"Hiro?"


"T-tatsuya?!"


Akhirnyaa. . . .


.


.


.


*BERSAMBUNG. . .*


maaf jika sekali seminggu update chapternya, karena akhir-akhir ini lagi sibuk belajar dan persiapin diri buat pendaftaran kuliah. jadi harus diatur dengan baik dan benar kapan up chapternya. tapi tenang saja, aku selalu hadir kokk☺✨👍


jangan lupa tinggalkan jejak sarannya, likenya, votenya, rate dan tambahinlahh ke favoritmu agar gak ketinggalan chapter slanjutnya😀😀😀


bagi siapapun ikuti jejaknya, aku siap mampir ke karyamu💁👌👌


terima kasih dan mohon tetap saling mendukunggg🙏💕🙇😌🙏