The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Si Kilat Merah



Legendary Of Hero


.


.


.



Di tengah keramaian kota Kyouka, gadis berpirang merah mengenakan pakaian sedikit berantakan dengan tongkatnya alias Raphtalia. Tampaknya senang mendengar kabar dari salah satu penduduk bahwa pahlawan legendaris berada di kediaman istana, itu artinya dia akan bertemu dengan pahlawan.


"Syukurlah, berkat orang itu.. Aku akhirnya tiba di tempatnya dan aku tidak sabar ber..." Ucapannya tiba-tiba berhenti karena sadar sebuah daya magnet sedang menarik tubuhnya ke tempat seseorang.


Kedua matanya terkejut membulat, "Huh?"


"Yo? Gadis kecil.." Sapa pria berzirah raksasa dengan rambut pirang kuning, lantas membuat Raphtalia bingung.


"Huh? S-siapa?"


Pria itu melepaskannya, kemudian memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Aku adalah pahlawan tombak dari kerajaan Kyouka, Zyn."


"A-anu maksudmu kau adalah pahlawan legendaris?" Raphtalia ingin memastikannya.


Tentu saja, Zyn membenarkannya hingga membuat gadis itu senang. "Apa artinya harapan ku akan terwujud?"


"Hm?"


"A-anu itu...aku sedang mencari seseorang?"


"Siapa?"


"Uhmm itu, bisakah kau mempertemukan dengan pahlawan berjulukan si kilat merah."


Mendengar nama "si kilat merah" Membuat wajah Zyn jadi mengesal hingga memperhatikan gadis kecil itu dengan seksama.


"Berkaki satu? Jadi begitu . . ." Kali ini Zyn benar-benar yakin bahwa gadis kecil itu memiliki hubungan dengan pahlawan tak berguna itu.


"Sepertinya kau ada hubungan dengan pahlawan tak berguna itu!"


"Pahlawan tak berguna? Apa maksudmu?" Dengan wajah yang begitu polos maupun tak mengerti oleh Raphtalia, hal itu sungguh membuatnya bertanya-tanya, apa yang sedang dibicarakan oleh Zyn.


Malahan, Zyn mengumumkan pada orang-orang di tempat itu dan mengatakan, "Perhatian semuanya, gadis ini punya hubungan dekat dengan pahlawan tak berguna itu!!"


Tentu yang mendengarnya kurang percaya,


"Apa? B-benarkah?"


Tapi perlahan-lahan. . .


"Kalau begitu tangkap saja dia!!" Seru mereka.


Raphtalia benar-benar tidak mengerti, namun tubuhnya sedikit gemetar mendengar suara-suara itu menghantuinya.


"Huh? Apa yang terjadi sebenarnya?"


Saking takutnya, dia memilih kabur sekuat tenaga menggunakan tongkatnya.


"Aku benar-benar menyesal masuk di tempat ini, tapi..sebenarnya apa yang terjadi?"


"Oi, jangan lari!" Seru Zyn mengejar Raphtalia.


Lagi-lagi gadis itu menimpa masalah dan meminta pertolongan, dia sempat berpikir bahwa andai saja dia tidak meninggalkan Hizen dan pergi sendirian ke tempat ini. Tetapi, itu sudah keputusan bulat agar tidak melibatkan pria yang sudah menyelamatkannya.


"Tapi.."


"Tapi.. dengan kondisi ku seperti ini, aku sangat takut.."


"Seseorang tolong aku."


Wajahnya saja terlihat tidak tenang hingga airmatanya sedikit bercucuran karena berusaha melindungi diri. Dia masih berlari, meski sudah jatuh lalu bangkit lagi orang-orang itu bersama Zyn masih mengejarnya. Hingga gadis itu terjebak oleh dinding tanpa pintu.


"Tidak mungkin.."


Dia mendengar suara keramaian mulai berdatangan. "Apa yang harus aku lakukan?"


Makin dekat dan mendekat hingga suara itu terdengar jelas membuat Raphtalian menyerah,


"Aku..aku gagal lagi?"


Begitu mereka datang ke tempat dinding tanpa pintu itu, terlihat tak ada seorang pun disana lantas membuat mereka hilang jejak. Tetapi Zyn tidak menyerah memerintahkan para penduduk mengawasi tempat mereka, lalu meminta para prajuritnya mencari gadis tadi di sekitar tempat itu.


"Gadis itu pasti bersembunyi di sekitar ini, cari dia!"


"Baik."


Alhasilnuya, mereka gagal menemukannya. Zyn bersama lainnya bubar dan mencari di tempat lain.


Sementara Raphtalia sedang bersembunyi bersama seseorang dibalik dinding tadi. Keduanya menampakkan diri, dan wajah Raphtalia tampak bercucuran airmata lalu jatuh bertekuk lutut menangis sambil menutup mulutnya.


"Hiks...hiks...hikss..."


Sebelumnya, saat Raphtalia mencoba membiarkan dirinya ketahuan oleh orang-orang mengejarnya. Seseorang menariknya kemudian bersembunyi dibalik dinding dengan kekuatan magusnya.


"Kau tidak sopan sekali meninggalkan ku tanpa izin."


Mendengar suara familiar itu membuat Raphtalia terkejut plus lega. "Hizen?"


"Sssttt..." Hizen meminta gadis itu tidak berisik karena orang-orang itu datang mencarinya. Raphtalia menurutinya, namun tubuhnya masih gemetar.


Setelah mereka pergi, Raphtalia jatuh ambruk dan menangis terus menangis. "Hiks..hiks.."


"M-maafkan aku, maafkan aku..aku..benar-benar takut semua ini, aku..benar-benar membutuhkan seorang pahlawan.."


"Aku hanya ingin menuntaskan tugasku karena..karena.."


Hizen juga tidak tega membiarkan gadis itu terus menangis dan membicarakan yang tidak jelas. Kemudian pria itu memeluknya membuat Raphtalia terdiam sejenak.


"Jika kau membutuhkan seorang pahlawan, maka kau tidak sepatutnya seperti ini."


Mendengar ucapan itu membuat Raphtalia makin menangis lalu mengatakan bahwa dirinya, "aku takut..aku takut."


Hizen hanya diam sambil mengusap rambut merah gadis itu dengan lembut, diam-diam dia menyembunyikan wajahnya bahwa saat ini dia juga mengalami hal yang sama.


••


Setelah kejadian tadi, Hizen dan Raphtalia berhasil keluar dari tempat itu dengan kekuatan teleportasi milik Hizen. Keduanya berada di hutan, dan Raphtalia masih memikirkan kesalahannya hingga..


"Maafkan aku Hizen."


Pria itu menghela nafas berat, "daritadi kau terus meminta maaf, aku capek dengernya."


Gadis itu menundukkan wajahnya dan bertutup mulut karena takut Hizen memarahinya.


"Lagian, ngapain kau masuk tempat neraka itu?"


"Anu..itu.."


"Pahlawan legendaris bukan? Itu hal sulit bagimu." tebak Hizen.


"Jadi berhentilah mencarinya." sarannya.


"Tapi.."


"Tapi.. Ini sudah 8 tahun aku mencarinya."


"Aku..berkelana demi tugasku." jawab Raphtalia.


"Apa dengan menuntaskan tugasmu kau akan bebas?" tanya Hizen.


"Tidak, aku melakukannya karena aku ingin mengembalikan dunia ku yang musnah "


"Bahkan kedamaian ikut menghilang."


"Tapi.. Hanya aku,.."


Hizen menyadari sesuatu yang mengganggunya hingga Raphtalia salah satu targetnya.


"Awas, Raphtalia!" Teriak pria itu melindungi Raphtalia hingga punggung belakangnya malah ikut terkena panah. AGGH!


"H-hizen?"


Pria itu memilih memeluknya, "jangan khawatir, aku baik-baik saja."


"Huh?"


Pria itu bangkit kemudian mencabut panah yang menusuk punggungnya. "Panah ini mengganggu saja."


Lalu, dia juga sudah menyadari dua orang sedang mengawasinya.


"Oi, keluarlah.. Aku tidak punya waktu main ngumpet bareng kalian."


Dua orang itu menampakkan diri hingga membuat Raphtalia gemetar sambil bersembunyi dibalik punggung Hizen.


"Hizen?.." Tampaknya dia mengenal salah satu dari mereka.


Yaitu pahlawan tombak dan panah alias Zyn, Archia.


"Lama tidak bertemu, tadahiro.."


"..si kilat merah yang tak berguna." Sapa Zyn menampilkan senyum jahatnya bahwa fakta pria itu tidak menyukai Hizen.


"Huh? si kilat merah berarti.." Reaksi Raphtalia terkejut dan sadar bahwa pahlawan yang dicari-carinya sudah ada di sampingnya yaitu Hizen Tadahiro.


Meski wajah itu diam-diam lega menemukannya, tetapi Hizen hanya menggertakkan giginya menatap dua pahlawan sedang berhadapan dengannya.


"Cih! Merepotkan!"


*Bersambung. . .*