The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Jawaban



_Chapter 27_


The Legendary Of Hero


.


.


.


Hina dan Alysa diculik oleh si pria misterius berjubah hitam, bahkan keduanya sempat kehilangan sadar hingga di suatu tempat...


Mereka akhirnya sadar,


"H-huh? D-dimana i-ini?" (Hina)


Hina memperhatikan di sekelilingnya, melihat di sekitarnya hanya rumah kosong sudah rusak dan dipenuhi rumput hijau yang mulai tumbuh, tempat itu benar-benar kotor.


"H-huh? T-tubuh ku....di ikat?"


Dia terkejut dan baru sadar, ternyata kondisinya saat ini sedang diikat oleh tali magus.


"H-huh? A-apa yang terjadi?" (Alysa)


Tampaknya Alysa juga baru sadar, Hina terkejut lagi.


"A-alysa?"


"Huh? H-hina-sama?"


Keduanya terkejut dan bingung, apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka diikat seperti itu?


"O-oh? K-kejadian itu ya...." (Hina)


Akhirnya Hina ingat kejadian di kastil bahwa pria misterius itulah yang membawanya bersama Alysa ke tempat itu.


Tapi, mereka sama sekali tidak mengenal keberadaan mereka itu ada dimana.


"H-hhh...."


Mendengar desahan seseorang membuat Hina dan Alysa takut.


"Huh? S-siapa?" (Hina)


"S-siapa disana?!"


"Tempatnya benar-benar gelap, apa ini sudah malam ya? Aku tidak bisa melihat siapa di sana." (Alysa)


Sosok itu datang menghampiri mereka, namun hal itu ditakuti oleh Hina dan Alysa.


"Apa yang harus kita lakukan, Hina-sama?"


"Aku tidak tau, apa tidak bisa menggunakan kekuatan peledakmu ya?"


"O-oh? Aku baru ingat."



Alysa meneriaki mantra peledaknya, berkat kekuatannya tempat itu bersinar kembali dan tentu saja sosok yang menghampiri mereka juga terlihat.


Sosok gadis berkulit putih dengan pirang rambut merah dan berbaju hitam, sebagian tubuhnya dibaluti perban putih seperti kedua kakinya, perutnya, lengan kiri dan kepalanya, dan kondisinya sangat lemah. Bahkan hanya bisa duduk di kursi roda memandangi Hina dan Alysa ketakutan.


"H-hhh...."


Kedua mata Hina terbuka lebar, "ti-tidak mungkin..."


"Ada apa Hina-sama? Kau mengenalnya?"


"Aku tidak yakin, tapi...kalau dari suaranya, ku rasa benar-benar dia..."


Hina mencoba pastikan gadis itu adalah orang yang ia kenal.


"I-itu kau, bukan..?


...Raphtalia?"


Alysa terkejut mendengar Hina memanggil nama gadis itu.


"Raphtalia? B-bukankah dia dewi terakhir itu?"


Hina menganggukkan kepalanya dengan benar.


"T-tapi, kenapa dia jadi sekarat ini?"


Mendengar Alysa bertanya, Hina tak kuat menjawabnya karen merasa semua itu salahnya bahkan menyebabkan Raphtalia sekarat tak bernyawa. Hina menundukkan wajah sedihnya.


"B-belakangan ini ada banyak hal yang sudah terjadi...."


"H-hhh..."


Sosok itu adalah Raphtalia, kondisinya sudah tak bisa pulih. Melihat Hina dihadapannya, Raphtalia berusaha membuka bicara. Sayangnya, dia tak bisa.


Hina juga tidak tega melihatnya, kondisi Raphtalia benar-benar sekarat. Dia menundukkan wajahnya lalu menangis dan meminta maaf atas kesalahannya terhadap Raphtalia.


"M-maafkan aku, maafkan aku, Raphtalia...."


"Harusnya aku tidak egois dan menyalahkanmu begitu saja, tolong maafkan aku...hikss...hiksss"


Seseorang berjubah hitam sudah terlihat di samping Raphtalia.


"Kenapa kau melakukannya?"


Lagi-lagi suara familiar membuat Hina terkejut dan sangat mengenalnya.


Ia mengangkat kepalanya, lalu memastikan orang itu.


"H-huh? T-tadahiro-sama?"


Dan benar, orang itu adalah Hizen Tadahiro. Namun, saat ini dia bukanlah pahlawan magus melainkan iblis berhati dingin.


"Tada-sama?"


Bahkan Alysa juga mengenal suara tersebut. Hizen melepas jubah yang menutup dikepalanya, kemudian memperlihatkan wajahnya dihadapan mereka.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku, Hina?"


"Huh?"


Ini tidak seperti biasanya Hizen memanggil "Hina" Tanpa menambahkan "chan"


Hina takut dan sangat takut mengatakan sebenarnya, dan saat itu...


"Ara-ara....jangan memasang wajah seperti itu."


Suara familiar dari jiwa iblis kecil Raphtalia muncul disamping tubuh aslinya.


"Si-siapa?" (Alysa)


"Tidak perlu tau siapa aku, karena asal ku dari tubuh ini."


Sambil menyapu lembut pipi Raphtalia.


"Apa urusan mu sudah selesai?" Tanya Hizen.


"Iya, aku akan kembali besok."


Raphtalia kecil memperhatikan dua wanita tampak bingung dan ketakutan melihatnya. Dia bahkan mengenal mereka,


"Jadi...perimu ini pernah mengkhianati mu ya? Dan...satunya lagi, gadis cantik yang sempat membuat Raphtalia ku trauma, ya?"


"Apa yang sebenarnya kalian lakukan?! Mengambil senjata legendaris lalu menghancurkan inti Kyouka! Apa maksud kalian?!" Teriak Alysa.


"Berisik!"


"Harusnya kalian sadar, siapa pemilik senjata legendaris sebenarnya! Black queen itulah yang sudah berani mengambil semuanya bahkan sampai titiknya hingga dia sekarat seperti ini!!"


"Kenapa tidak ada yang tau, hah?!"


Melihat Hizen benar-benar marah membuat Hina dan Alysa tak berkutip.


"Hh..." Bahkan Raphtalia juga merasakan perasaan Hizen saat ini.


Raphtalia kecil sempat memperhatikannya, kemudian segera menenangkan Hizen.


"Kau tidak boleh marah begitu, kau tidak lihat Raphtalia ku mengkhawatirkan mu."


Hizen menurutinya, Hina mulai menjawab pertanyaannya tadi.


"Sebelumnya...tolong ma-"


Namun Hizen tidak butuh jawaban Hina,


"Tidak perlu." Dinginnya.


Hina terkejut, "Huh?"


"Alasan ku menculik kalian adalah aku butuh bantuan." (Hizen)


Keduanya terkejut.


"Benar, jadi...jangan ketakutan begitu." Sambung Raphtalia kecil.


"Tolong jaga mereka, aku akan menjaga Raphtalia." (Hizen)


"Baik, serahkan saja pada ku."


Hizen membawa Raphtalia ke tempat lain, setelah itu Raphtalia kecil melebarkan senyumnya menatap Hina dan Alysa masih ketakutan.


"Oiya, aku ingin menyampai pesan penting dari Raphtalia ku."


"Heh? Pe-pesan?"


••••


Pertemuan yang diadakan di kastil raja itu dibubarkan sementara. Setelah kejadian tadi, tampaknya Suwon dan Asuka benar-benar butuh jawaban dari Heila. Meskipun masa lalu Heila masih samar-samar diketahui mereka, tapi kali ini mereka benar-benar ingin tau semuanya.


Asuka membaringkan ibunya ke tempat tidur, akibat Heila menerima tamparan hebat dari pria misterius tadi, dia jadi lemah. Bahkan jiwa iblis Raphtalia sudah meregut kekuatan jahatnya bisa dibilang menyucikan tubuhnya.


"Kau sudah baikkan?" Tanya Suwon duduk di samping tempat tidur Heila.


"Sedikit lelah."


Suwon sedikit berharap Heila memberinya waktu untuk bicara.


"Tapi, aku butuh penjelasan semuanya."


Tentu, Heila mengerti apa yang dipikirkan Suwon saat ini.


"Aku tau, aku juga ingin menceritakan semuanya."


Tapi, dia juga merasa bersalah tak bisa menjalani tugasnya sebagai ratu dewi. Selama ini dia malah berulah seperti iblis bahkan melanggar janji Shina Yuen.


"Maafkan aku...aku tidak bisa menjalani gelar ku sebagai ratu dewi."


Asuka menggenggam salah satu tangan ibunya dengan tersenyum.


"Ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, yang terpenting kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum besok dan setelah itu kita selamatkan Hina dan Alysa."


Heila juga tau hal itu karena jiwa iblis kecil Raphtalia dapat membuat orang tewas, bahkan juga mampu menghantui orang. Perlahan-lahan ia mulai menceritakannya.


"Shina Yuen adalah ibunya, dia memberikan semua gelarnya pada ku. Dia melakukannya demi mengabulkan permintaan anaknya karena Raphtalia tau dan sadar bahwa aku menderita kehilangan semua bangsa ku."


"Jadi itu benar, asal ibu dari bangsa iblis gagak hitam ya?" (Asuka)


Heila membenarkannya.


"Raphtalia dan Hizen Tadahiro juga berasal dari dunia itu, mereka hanyalah pasangan majikan dan pelayan tapi bagi ku mereka pasangan cocok."


"Pantas saja dia sangat menyayanginya bahkan pedang legendaris itu." (Suwon)


"Aku tidak tau sebesar apa yang dia pikirkan tentang ku, benar-benar tidak menyangka dia melakukannya untukku demi menembus kesalahan ayahnya."


"Ibu kenal ayahnya?" Tanya Asuka.


"Shin Xi Ying, raja ning yang sempat menjatuhkan raja iblis bahkan mengubur dalam-dalam kastil raja dan penduduknya." (Suwon)


"Bisa dibilang raja terkejam tak ada hati nuraninya." Sambung Heila.


"Itulah mengapa Shin Raphtalia dianggap tidak ada di dunia itu karena dia memiliki kutukan dari ayahnya yaitu..."


"Jiwa iblis kecil yang dapat membunuh siapapun, kan?" Sambung Asuka.


Heila tersenyum membenarkannya.


"Iya, maka dari itu aku memberi gelar padanya sebagai dewi terakhir. Tapi butuh imbalan yaitu salah satu kakinya karena dengan melakukan itu dapat menidurkan jiwa iblisnya. Tetapi, dia melanggarnya hingga membuatku khawatir."


....jadi aku mengambil semua yang ada pada dirinya, baik itu emosi dan perasaan, kekuatan, juga 4 senjata legendaris... Bisa disebut dia cacat otak."


Asuka terkejut bercampur sedih mendengarnya,


"Tapi, bukankah ibu sedikit kejam?"


"Bisa dibilang begitu, demi mengamankan jiwa iblisnya. Namun, aku gagal karena tak sepenuhnya senjata legendaris di tangan ku karena Raphtalia tidak rela melepaskannya." Jawab Heila.


"Pada akhirnya, jiwa iblisnya bangkit lalu menghantuimu." (Suwon)


"Benar."


"Lalu, apa maksudnya ibu memerintahkan para peri melenyapkan 7 dewi?" Tanya Asuka.


"Karena 7 dewi adalah ciptaan ku yang sudah gagal."


Perlahan-lahan keduanya mengerti setelah mendengar jawaban Heila sebenarnya.


••••


Di sisi lain, Tatsuya dan Shirayuki sedang duduk di luar depan kastil. Mereka masih memikirkan apa yang disampaikan Raphtalia kecil tadi.


"Hizen dan Raphtalia sudah ada di Kyouka ini."


"Ku rasa dia mengatakannya dengan benar." (Tatsuya)


" tadi itu...benar-benar Hiro, bukan?" (Shirayuki)


"Hmmmmm...." Tatsuya mengingat kembali sambil memikirkannya.


Shirayuki malah berwajah aneh menyadari tak ada tanggapan oleh Tatsuya.


"Aku masih bingung."


Bahkan jawaban Tatsuya membuat Shirayuki tumbang. GAGHH!


"Kau pensiun ya?"


Tatsuya kaget, "Heh? Memangnya aku kakek-kakek...!"


"Hanya saja aku masih bingung." Sambungnya.


"Benarkah? Lalu apa yang membuatmu bingung?" Tanya Shirayuki menatapnya.


"Aku bingung dengan tujuan sebenarnya menciptakan 8 dimensi bersama Kyouka ini? Meskipun sudah tercipta, kenapa tempat itu di serang seperti gelombang malapetaka....


...ini bukan game, kan?"


Shirayuki tersenyum lembut, kemudian salah satu tangannya menyentuh tangan Tatsuya.


"Raphtalia pernah mengatakan pada ku, dunia ini mungkin semirip dengan permainan. Semua penduduk yang ada di dunia ini adalah orang-orang yang sudah mati di masa lalu dan sebagian adalah modifikasi hasil emosi."


Tatsuya tidak menyangka Shirayuki juga mengetahui banyak hal, dia tersenyum.


"Kau mengetahui banyak hal." (Tatsuya)


"Tentu, Raphtalia menceritakan semuanya dan tujuan dunia buatan ini adalah agar mencapai kebangkitan." (Shirayuki)


"Kebangkitan?" Tanya Tatsuya memiringkan kepalanya.


"Kau pernah dengar kerajaan ning? Dengan mencapai tujuan dunia ini maka Kerajaan ning bangkit dan saat itulah King juga ditentukan siapa yang menangani Ning..


...Kau tau siapa king di kerajaan ning...yaitu salah satu 8 pahlawan." (Shirayuki)


Kedua mata Tatsuya terbuka, "jika salah satunya terpilih, apa yang terjadi?"


"Aku tidak tau, raphtalia bilang itu masih rahasia."


"Lalu, apa maksudnya para pahlawan harus kerjasama?" Tanya Tatsuya lagi.


"Di saat Raphtalia tak bisa berbuat apa-apa dan saat itulah hati pahlawan mulai bersatu akan mengakhiri perang begitu dunia buatan ini." Jawab Shirayuki.


Tatsuya menyentuh balas tangan Shirayuki, kemudian keduanya menggenggam tangan penuh hangat.


"Maaf, permisi.."


Sosok Jail terlihat datang menemui keduanya. Dengan cepat mereka langsung lepas tangan dan kembali seperti biasa.


"Ada apa, Jail?" (Tatsuya)


"Suwon-sama meminta kita berkumpul kembali di ruangannya." (Jail)


"Bagaimana kondisi Heila-sama?" (Shirayuki)


"Kondisinya sedang tidak baik."


"Begitu ya, a-anu..bisakah kau membawa ku menemuinya?" Tanya Shirayuki.


Jail sedikit khawatir kondisi Heila, "Tapi, saat ini dia tidak ingin diganggu."


"Serahkan saja pada ku." Sahut Mia dari belakang mereka.


"O-oh? M-mia, terima kasih banyak."


Shirayuki sambil membungkukkan badannya.


"Aku mengandalkanmu." (Jail)


"Baik, ayo Shirayuki-sama." (Mia)


Setelah mereka pergi, tiba-tiba Jail mendekat lalu berbisik sesuatu ke telinga Tatsuya.


"Apa yang kita lakukan dengan 7 dewi dibekukan di kastil peri?"


Tatsuya tersenyum penuh ide, "ada satu cara memperbaiki boneka rusak."


Wajah Jail sedikit berubah masam melihat Tatsuya tampaknya dipenui ide-ide berlilian.


"Aku sadar kau sangat ahli dalam memperbaiki satu hal."


"Kau iri?" Tanya Tatsuya sinis.


"Sedikit."


Mendengarnya saja, Tatsuya ingin tertawa. Dia malah senang sudah lama dia tidak obrol seperti itu dengan Jail.


"Jangan begitu, berkatmu aku bisa kembali ke tempat ini."


Jail juga puas mendengar pujian dari Tatsuya. Lalu, kedua pria itu pergi ke kastil peri untuk menemui 7 dewi alias boneka rusak dibekukan.


••••


*BERSAMBUNG . . . *