
The Legendary Of Hero
"Apa aku akan berakhir di jurang kematian ini? Itu artinya aku benar-benar gagal menemukannya."
Hizen benar-benar marah pada dirinya membiarkan gadis itu akan tertelah oleh jurang kematian.
"Sial!!!" Teriaknya.
Saking marahnya, dia ikut terjun dengan kecepatan penuh agar pria itu tepat waktu menyelamatkannya.
Sedikit demi sedikit, Hizen berhasil menggapai tangan putih mulus kemudian melompat keatas dengan ketinggian yang mengejutkan. Gadis tadi terselamatkan dan nyaris tertelan jurang dipenuhi kematian atau kegelapan.
Perlahan-lahan gadis tadi membuka kedua matanya dan heran melihat dirinya mengambang diatas ketinggian. Hal itu membuatnya takut,
"Apa yang kau lakukan?!" Hizen menegur gadis itu, tampaknya dia benar-benar kesal melihat wajah yang begitu menyedihkan.
"M-maafkan a-aku." Sahut gadis tadi.
"A-anu..aku..aku.." Dia berniat mengatakan bahwa dirinya takut ketinggian. Hizen menyadarinya, namun saking bencinya dengan wanita. Dia pun meninggikan nadanya,
"Diamlah! Tutup matamu dan pegang yang erat!"
"Uhm..i-iya." Meski gadis itu dilanda ketakutan tapi wajah itu tetap saja menyedihkan, entah apa sebabnya. Tampaknya gadis itu berpikir bahwa dirinya benar-benar lemah.
Hizen memperhatikan sekelilingnya dan menyadari para monster itu kembali, tapi kali ini monster gagak. Mereka terus menyerukan darah suci terhadap gadis yang dibawa oleh Hizen.
"Cih! Bikin kesal saja, pastikan kau menutup matamu mengerti?!"
"Baik."
Para gagak mulai berdatangan kemudian mengepung Hizen bersama gadis itu, pria itu tidak begitu pintar menyerang tanpa senjata miliknya. Dia hanya terus menghindari dari serangan gagak.
"*Aku belum seberapa tau menggunakan kekuatan magus ku bahkan tanpa senjata aku benar-benar sulit melakukannya.. terlalu lemah,"
"..benar-benar pahlawan tak berguna*."
Akhirnya pria itu meleset, salah satu gagak itu menyerang kakinya membuat Hizen kesulitan mengatur gravitasi tubuhnya hingga dia akan terjatuh ke hutan kembali.
"*Sial! Kaki kananku terluka dan aku tidak tau apa yang harus dilakukan sekarang!!"
"Apa aku juga gagal menyelamatkannya atau.. aku dan dia ikut berakhir bersama? Tidak mungkin kan*!"
Dia tidak tau apa yang harus dilakukan sekarang, pertanyaannya cuman satu apa dia bersama gadis itu akan berakhir?
Gadis itu masih belum membuka kedua matanya, tapi dia merasakan pria disampingnya dilanda kebingungan.
"Kalau begitu, tolong gunakan aku."
"Apa maksudmu?"
"Kau bisa menggunakan senjata yang ada dalam diriku."
"Senjata dalam dirimu?"
"Benar."
Perlahan-lahan gadis itu memohon dengan lembut,
"*Wahai alam semesta, biarkan kekuatan ini bangkit untuk melindungi.."
"Onikirimaru*!."
Tubuhnya bercahaya hingga berubah menjadi sebuah pedang yang begitu tajam. Lantas membuat Hizen terkejut memegang benda itu.
"Pedang ini adalah. . .
"..Onikirimaru."
Memegang benda itu saja merasa kekuatan tubuhnya kembali. Dia bangkit dan menyerang para gagak yang sudah mengganggunya.
Hanya dengan sekali serangan kilat membelah, semuanya menghilang.
Hizen menatap pedang itu dan memujinya. "pedang ini benar-benar hebat ya."
Pedang tadi berubah menjadi gadis kecil kembali, Hizen menggendongnya kembali kemudian membawanya ke tempat yang aman. Karena melihatnya kembali saja, gadis itu tidak sadarkan diri.
β’β’
Malam masih berlanjut, Hizen menyalakan api unggun di tengah hutan. Pria itu sudah mengamankan tempat itu dengan mantra pelindungnya. gadis mungil tadi akhirnya sadar melihat tubuhnya diselimuti dengan kain hangat.
"Ini..m-masih malam ya."
Hizen membenarkannya. "Kau tidak sadarkan diri selama sejam. Ku rasa itu terlalu cepat kau bangun.."
"Begitu ya." Kedua mata gadis itu menatap langit malam dihiasi oleh sinar bulan yang indah. Bibirnya diam-diam tersenyum tetapi dibanjiri oleh airmatanya.
"Aduh!" Hizen sedikit meringis pada kakinya. Yang sebelumnya dia meleset hingga salah satu monster gagak menyerangnya dan tepat melukai kakinya.
"Anu..kau baik-baik saja?" Gadis itu mencoba bangun dan berniat menolong pria berpirang setengah merah. Akan tetapi, Hizen malah menolak dengan kasar.
"Diamlah!!" Teriak Hizen lantas membuat gadis itu ketakutan.
"Huh?! M-maaf."
"Oi! Kau juga terluka parah lebih dariku dan setidak kau pentingkan dirimu!"
"M-maaf, tapi aku baik-baik saja."
"Sial!!! Kenapa aku harus menyelamatkanmu?!" Hizen marah pada dirinya. Akibat mimpinya bertemu dengan gadis dihadapannya justru membuatnya muak.
Gadis itu menundukkan wajahnya dan perlahan-lahan mendekati Hizen. Meski pria itu mencoba menghindarinya, tetapi tatapannya berhenti sejenak.
"Nama ku Raphtalia, seorang dewi terakhir dan..aku sedang mencari seseorang." Sahut gadis berpirang merah kecoklatan itu mengulurkan salah satu tangannya pada kaki Hizen yang terluka.
Kemudian luka itu sembuh hanya sekali sentuhan oleh gadis dewi. Tampaknya Hizen mematung sejenak.
"Dengan menjadi seorang dewi, orang-orang itu meminta imbalan dari tubuhku. Salah satunya adalah kaki kiri ku, karena tugasku adalah mencari pahlawan dan . . ."
"Itu bukan urusan ku." Ujar Hizen tak mau mendengar ucapan tak jelas dari gadis bernama Raphtalia. Namun, gadis itu tak berhenti berucap.
"Begitu aku menemukannya, itu artinya aku adalah perisainya."
"Huh?" Hizen semakin terdiam, mendengar yang diucapkan oleh dewi kecil itu mengingatkannya dalam mimpi.
"*Izinkan aku jadi perisaimu, tuan. . . "
"Itu tak semudah kau jadi perisai ku, tapi... aku akan melindungimu."
"T-terima.. k-kasih*."
Sepertinya pria itu diam-diam mengerti bahwa Raphtalia mencari seseorang yaitu pahlawan legendaris. Sayangnya dia memilih menyembunyikan dirinya adalah si kilat merah alias pahlawan yang tak berguna.
"Namamu?" Tanya Raphtalia.
"Tadahiro Hizen."
"Nama yang tidak asing." Gumam Raphtalia.
Hizen menyerah membahas panjang dengan Raphtalia. "Lebih baik kau tidur kembali daripada kau mengganggu ku."
"Baik, aku akan tidur.. tapi sebelum itu terima kasih Hizen." Ucap Raphtalia melebarkan senyum tipisnya jadi lembut.
Meski senyuman itu membuat Hizen tak berkutip karena ini pertama kalinya seseorang memanggil nama depannya "Hizen" Setelah itu dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya agar tidak ketahuan.
"Tidurlah." Dinginnya.
β’β’
Malam pun berakhir tertutup hingga cahaya bangkit menerangi hutan itu. Tampaknya Hizen benar-benar tertidur nyenyak semalaman. Akibat suasana begitu terang membuat pria itu terbangun kaget.
"Raphtalia?!" Serunya.
Wajah yang terukir keringat peluh, suara nafasnya juga terengah-engah. Begitu sadar lalu melihat sekelilingnya, sosok dewi bernama Raphtalia sudah pergi dari tempat itu.
"Dia sudah pergi?"
"Kenapa? Kenapa aku terus memimpikan tentangnya?!"
Saking marahnya, dia menghantam salah satu pohon dengan sekali pukulan hingga tumbang.
"*Akan ku cari kembali."
"..Raphtalia*."
*BERSAMBUNG. . .*
apa kabar kalian semua? sehat-sehat semua kan para thorku? jaga kesehatan ya tetap stay at home.
jangan lupa beri pendapat episode hari ini dan terima kasih sudah mampir membaca, semoga kekals sehat selalu.πππππ