The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Sayap Yang Hilang



_***chapter 11 _


The Legendary Of Hero***


.


.


.


"Tadahiro-sama?!" Seru Hina panik melihat Hizen yang tiba-tiba tampak meringis kepalanya.


"Ngrrrhhhh!!"


"Apa yang harus kita lakukan, tatsuya-kun?" Tanya Shirayuki pada Tatsuya. Keduanya juga sempat panik dan bingung melihatnya.


"Biarkan saja." Santai Tatsuya.


"Heh? Jahat lu!" Protes Shirayuki dengan wajah cemberut.


"Hei Shirayuki, dia seperti ini karena kalung itu. Kau tau kan, dia tidak mengingat Raphtalia, ku rasa kau mengerti jawaban ku bukan?" Jawab Tatsuya.


"Ohh, apa begitu ya?" Pikir Shirayuki.


Mereka membiarkan Hizen meringis kesakitan, sementara Hina berusaha menenangkannya.


"Tadahiro-sama?! Tadahiro-sama, kau tidak apa-apa kan?!" Sambil menyentuh kedua pipi Hizen dengan menatapnya.


Kedua mata Hizen sedikit membulat karena saat ini matanya melihat kejadian saat dirinya tidak sadarkan diri.


"Ini...adalah,"


Perlahan-lahan penglihatannya mulai terbaca ingatan Raphtalia hingga ingatannya kembali. Tetapi, melihat sosok Raphtalia mengorbankan dirinya demi Hizen hingga kehilangan tangan kiri Raphtalia. Hal itu membuat airmata pria itu berlinang sadis diwajahnya.


"*Raphtalia? Aku...aku benar-benar melupakanmu, maafkan aku."


"Maafkan aku...Raphtalia, maaf*...."


Melihat Hizen tak meringis lagi, Hina menarik kepala pria itu menyandar di dadanya.


"Semua akan baik-baik saja, Tadahiro-sama."


"Hina-chan?" Panggil Hizen.


"Aku baru sadar, kalau ternyata... benar orang yang ku lupakan adalah Raphtalia." Tambahnya membuat Hina tercengang.


"Huh? Raphtalia?"


Tatsuya dan Shirayuki tampaknya lega, mereka menatap satu sama lain mengerti apa yang harus dilakukan setelahnya.


"Ini sesuai rencana, bukan?" Tebak Shirayuki.


Dan Tatsuya membenarkannya. "Setelah ini, ayo kita berangkat." Ajaknya pada Shirayuki.


"Ohh, baik."


"Berangkat kemana?" Tanya Hina pada mereka.


"Oh, menyelamatkannya maksudku yaaa...Raphtalia." jawab Tatsuya santai itu punya niat ajak Hizen ikut, dan....


"Aku ikut." Jawab Hizen.


Bibir tatsuya tersenyum itu sudah menduganya, "aku sudah lama menunggu jawaban ini."


Mereka memutuskan berangkat bersama untuk menyelamatkan Raphtalia, namun wajah Hina meraut kesal mendengar Hizen memanggil "Raphtalia"


"Kenapa?!...."


•••


Saat ini prajurit Kyouka sedang heboh ke sana-sini mencari seseorang yang telah menghilang dari tahanan bawah tanah. Salah satu dari mereka mengabarkan pada raja Suwon bahwa dewi berkaki satu berhasil melarikan diri, tentu saja hal itu membuat Suwon marah.


"Apa-apaan ini!!" Serunya.


"Maaf, yang mulia. Gadis itu benar-benar menghilang tanpa jejak." Jawab prajuritnya.


"Itu benar ayah." Sahut Asuka muncul menghampiri ayahnya.


"Berarti seseorang membawanya kabur, bukan?" Tebak Suwon mengangkat salah satu alisnya.


Asuka membenarkannya, "bukankah itu mustahil jika dia melakukannya sendiri?"


"Tapi, siapa yang melakukannya?" Tanya Suwon.


Asuka duduk di samping ayahandanya, bibir Asuka tersenyum penuh jawaban,


"Apa ayah tidak bisa menebak kalau hanya para peri yang bisa masuk tempat itu dengan mudah?"


"Apa kau ingin menyalahkan peri Kyouka, hm?" Tanya Suwon menatap tajam pada putri pertamanya, tatapan itu terasa curiga, Asuka mengerti dengan wajah yang tenang.


"Tidak juga, aku mencurigainya karena sempat khawatir kalau ada diantara mereka sedang berkhianat dibelakang ayah." Sahut Asuka.


Suwon merasa Asuka lebih tekun mengawasi peri Kyouka maupun kerajaan Kyouka, walaupun Asuka bukanlah calon penerus Kyouka tapi putri pertama Kyouka pantas disebut seorang putri ksatria Kyouka. Jika yang dikatakan putrinya benar maka Suwon tak punya pilihan lagi melainkan,


"Jika begitu, ku serahkan padamu. Aku yakin kau sudah mengetahui siapa orang itu."


Asuka dengan senang hati menurutinya dengan hormat yang sopan pada ayahandanya. "Baiklah."


Begitu dia beranjak pergi, pertanyaan Suwon kembali menjeda langkahnya.


"Tunggu, Asuka. Dimana adikmu Hina?"


Dengan tenang, Asuka menjawab.


"Hmmm...beberapa hari ini dia tidak pernah muncul, tapi ku rasa dia sedang merawat ibu di kediamannya."


"Bukankah ini sudah melebihi seminggu tidak pernah kembali ke istana?" Suwon khawatir pada putri keduanya alias Hina sebagai penerus Kyouka.


Tapi, wajah Asuka terukir kedamaian itu menenangkan ayahandanya,


"Ibu hanya ingin ditemani oleh Hina, jadi ayah tidak perlu khawatir." Balasnya.


Kemudian, menghilang dari tempat itu dengan mantra teleport.


•••


Di sisi lain, Jail berhasil membawa Raphtalia kabur dari tahanan. Keduanya berpindah teleport di samping gerbang Kyouka, serta juga sadar bahwa mereka sudah ketahuan oleh prajurit Kyouka. Saat ini, mereka sedang sembunyi.


"Apa ini tempat yang aman?" Tanya Raphtalia, wajahnya masih terukir ketakutan.


Jail mengerti itu mengusap kepala Raphtalia dengan lembut agar gadis di sampingnya tetap tenang.


"Ku rasa begitu."


"Syukurlah," Raphtalia lega, tapi mendengar suara Jail sedikit meringis membuatnya panik. "Argh!"


"Jail? L-lukamu?!"


"Tidak apa-apa, aku baik-ba...argh!"


"Baik-baik saja katamu! Kau benar-benar terluka parah, aku akan coba menyembuhkan mu."


"Eh? Sejak kapan kau punya kekuatan penyembuh?" Kaget Jail sempat membuat Raphtalia bingung.


"Huh? I-itu karena aku seorang dewi penyembuh."


Jail hampir tidak percaya, Raphtalia juga memiliki kekuatan penyembuh. Tanpa tanggapan lagi, Raphtalia mengobati lengan Jail terluka dengan kekuatan penyembuhnya.


"Sebenarnya darimana asalmu, Raphtalia? Tidak mungkin kan seorang dewi berasal dari 8 dimensi." Tanya Jail.


Sambil menyembuhkan luka Jail, Raphtalia menjawabnya.


"Aku dari bumi, memiliki kerajaan Ning. Tidak hanya itu, aku memiliki banyak teman tapi...semua itu lenyap dari ingatan ku."


"Kau melupakannya?"


"Aku tidak tau, sebelum ke tempat ini aku digelarkan sebagai dewi terakhir dari permohonan ibu ku. Menerima permohonannya aku harus merelakan kaki kiri ku, dengan sebagai dewi aku ingin mengembalikan dunia ku yang hancur."


"Maka dari itu, aku mencari pahlawan legendaris yaitu Hizen agar dia bisa menggunakan kekuatan onikirimaru sampai tugasku benar-benar tuntas." Tambah Raphtalia.


"Begitu ya...."


Kemudian, lengan kiri Jail tampak membaik dan stabil. "Terima kasih." Singkatnya menatap wajah Raphtalia.


Hingga pipinya tersipu malu menyadari Jail menatapnya. "Ahhh, harusnya aku yang berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkan ku." Ucap Raphtalia gugup.


"Baiklah, ooya bukunya!"


Jail baru sadar bahwa ia telah meninggalkan buku itu di ruangan sebelumnya dan tentu saja buku itu sudah di tangan Asuka. "Sial!"


"Maafkan aku, sebelumnya aku...merobeknya." Ujar Raphtalia yang tiba-tiba membungkukkan badannya sambil mengeluarkan selembar kertas.


"Heh?! Kau merobeknya!" Kaget Jail membuat Raphtalia terkejut. "Kyaaaa!"


"Aku benar-benar minta maaf!"


Jail menerima lembaran itu, kemudian melihatnya dan perlahan-lahan bibirnya tersenyum senang.


"Kau mengambil bagian kuncinya ya." Ucapnya.


Raphtalia tidak mengerti, "Heh?"


"Syukurlah, kalau begitu aku pergi dulu."


Melihat Jail bersiap-siap pergi, Raphtalia tampak khawatir sesuatu akan menimpanya nanti,


"Huh? Tapi...."


Jail bersikeras menenangkan gadis itu.


"Tenang saja, mereka akan datang kemari."


"Mereka?"


"Benar, jika mereka tau kalau aku adalah orang yang membawamu pergi, bukankah hal itu jauh lebih bermasalah?"


Tidak ada tanggapan lagi dari Raphtalia, Jail memutuskan pergi meninggalkannya sendirian sembunyi di tempat itu.


"Semoga mereka cepat menemukanmu." Gumam Jail mengharapkannya.


Wajah Raphtalia terlihat khawatir karena menyadari sesuatu akan datang mengincarinya. Tak lama kemudian,


"Aku menemukanmu...." Ucap nada familiar menemukan Raphtalia.


"Huh?" Raphtalia ketakutan melihat mata itu memancarkan aura iblis.


"Tolong aku... Hizen!"


•••


Langkah Hizen terhenti sejenak membuat ketiga orang itu bertanya menyadari Hizen yang tiba-tiba diam memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Tatsuya.


"Apa sesuatu mengganggumu?" Tanya Hina.


Hizen tidak meresponnya dari pertanyaan mereka melainkan merasakan sesuatu membuat dirinya tidak tenang.


"Perasaan ini...Raphtalia."


"Aku tidak punya pilihan lain." Gumamnya.


"Tadahiro-sama?" Panggil Hina.


"Aku pergi dulu." Dengan dinginnya, Hizen langsung menghilang dari tempat itu.


Ketiganya terdiam kosong, "apa yang terjadi?" Tanya Shirayuki.


"Aku tidak tau, tapi...." Tatsuya berpikir bahwa Hizen sepertinya punya urusan lain, intinya ada hubungannya dengan Raphtalia.


Hina merasa dirinya telah ditinggalkan, bahkan hatinya terasa kecewa berat melihat Hizen berubah hanya karena seorang dewi bernama Raphtalia.


"Tadahiro-sama, kau benar-benar melupakan ku."


Shirayuki menyadari wajah Hina diselimuti sedih dan kecewa.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia hanya tuanmu bukan?" Ujar Shirayuki.


Hina menjawabnya, "Tidak, dia kekasih ku."


"Hmmm...begitu ya, apa kau tidak berpikir Hiro akan melupakanmu karena Raphtalia? Jika itu terjadi, apa yang akan kau lakukan?"


Mendengar ucapan itu sempat memanas telinga Hina,


"Berisik!" Serunya menarik pedangnya ke arah Shirayuki.


Shirayuki begitu cepat nan mudah menangkis dengan pedangnya, kemudian bibirnya tersenyum menang.


"Kau belum jawab pertanyaan ku, putri Hina."


"Jika itu terjadi, aku akan menyingkirnya siapapun itu!" Akhirnya Hina menjawabnya meski itu terpaksa.


"Kejam sekali tindakanmu putri." Balas Shirayuki mencoba memanasi Hina lagi, tapi dihentikan oleh teguran kecil Tatsuya.


"Hentikan Shirayuki."


Shirayuki nurut kemudian tidak membuka mulut lagi, Tatsuya menghela nafas panjang agar dia mampu menjelaskan alasan mengapa Hizen begitu peduli terhadap Raphtalia.


"Hina-sama, tolong jangan berpikir Raphtalia merebut kekasihmu. Sebelumnya Hiro sempat bilang padaku Raphtalia adalah putri kerajaannya dan dia salah satu prajuritnya. Meski ingatan itu sulit kembali dimata Raphtalia."


"Tapi...Hiro akan membuat ingatannya kembali."


Hina terdiam sejenak, tapi kedua tangannya mengepal erat dan kesal. Tapi dia tidak yakin apa harus mempercayai ucapan Tatsuya?


"Apapun itu...dia sudah jadi rival ku!"


•••


Sementara Raphtalia malah ditemukan oleh putri Asuka.


"Berani sekali kabur dari tahanan." Sambil mencekik leher Raphtalia.


"L-lepask-kan a-aku...ngrh!


Raphtalia berusaha melepas tangan iblis itu meregut lehernya, light expolision


Dengan menyerukan mantra peledaknya hingga tepat mengenai lengan Asuka. Argh!


Akhirnya, Raphtalia terbebas darinya. "Uhok! Uhok! Aku harus pergi dari sini, aku harus...."


"Oi-oi, mau kemana? Kau pikir mantra kecilmu mampu mengalahkan ku." Ucap Asuka terdengar mengerikan membuat Raphtalia ketakutan.


"Tolong...jangan sakiti aku." Bujuk Raphtalia.


"Ekspresi apaan tuh! Menjijikan!"


Asuka menjambak rambut merah Raphtalia, "ini akibatnya karena sudah berani kabur dari tahanan."


"Dan kau tidak sendirian kan?" Tebaknya.


"Cepat katakan siapa membawamu kemari."


"Aku tidak tau." Jawab Raphtalia.


"Bohong!" Asuka mengikat mantra besi ke tubuh Raphtalia membuat gadis itu kesakitan.


"Arghhhh, hentikan!"


"Jawab pertanyaan ku!" Seru Asuka memaksa gadis itu menjawab pertanyaannya.


Raphtalia semakin ketakutan, tidak tau harus berbuat apa melihat mata putri itu memancarkan aura iblis mengerikan.


"Apa yang harus aku lakukan? Diriku bagaikan seekor burung kehilangan sayap yang tak bisa terbang kemana-mana."


"Hidupku terasa sama dengan derita tiada hujungnya, Hizen kau mendengarku, apa kau akan datang menyelamatkan ku?"


"Tidak mungkin itu terjadi, akibat memar dikepalamu ku rasa dia melupakan dan bahkan tidak ingat kejadian itu."


Raphtalia putus asa tidak bisa mengharapkan dirinya akan selamat dari gadis iblis itu alias Asuka.


"Strike phildon!" Seru nada familiar menebaskan mantra pengikat Asuka dengan magusnya.


Rantai itu terlepas dari belenggu tubuh Raphtalia, namun kesadarannya menipis nyaris jatuh ke tanah. Untungnya seseorang menangkap bahunya.


Mata Raphtalia sedikit terbuka melihat wajah Hizen terukir sedih bercampur kemarahan.


"Maaf...maafkan aku Raphtalia, aku terlambat." Ucap Hizen dengan wajah tak kuat menahan tangis menatap Raphtalia


"H-hizen itu...kau ya, syu...kur-lah."


Raphtalia tak kuat membangkitkan kekuatannya hingga dia jatuh pingsan dipangkuan Hizen.


"Huh? Raphtalia?"


Kali ini Hizen benar-benar marah. Dan Asuka sedikit terkejut bertemu Hizen setelah 8 tahun tak pernah muncul.


"Ara-ara...akhirnya kita bertemu Tada-kun."


"Dan pastinya kehadiranmu tercium aura membunuh, benar bukan?" Tebak Asuka tersenyum tipis nan licik menatap kedua mata Hizen juga memancarkan api yang membara tiada hentinya.


"Kau!...tiada hentinya memperlakukan Raphtalia dengan kasar!!" Seru Hizen sambil menggendong Raphtalia tak sadarkan diri.


"Bukankah dia berada dipihakmu? Tentu saja dia juga merasakan apa yang kau rasakan saat itu."


Hizen terkejut mendengar Raphtalia diperlakukan kasar seperti dirinya 8 tahun lalu, itu artinya Raphtalia juga merasakan penderitaan masa lalu Hizen.


"Dasar!!" Dia tak kuat lagi, emosi kemarahannya sudah meningkat dewa ingin melenyapkan Asuka iblis itu. Namun, kedatangan seseorang menghentikan tindakan Hizen.


"Tenangkan dirimu, Hiro-sama!" Ucap Shirayuki muncul dihadapan Hizen.


"Serahkan serangan ini padaku!" Tambahnya sambil membawa jempol bahwa dia bisa mengatasi serangan Asuka.


"Shirayuki?"


"Kau harus segera mengamankan Raphtalia." Balas Shirayuki dan dengan cepat Hizen menurutinya.


"Baiklah, kalau begitu aku mengandalkan mu."


Begitu Hizen meninggalkan tempat itu, bibir Shirayuki terukir senang nan tidak sabar menghadapi putri Asuka.


"Apa kau adalah putri Asuka yang digelar ksatria Kyouka?"


"Kau itu ya...!"


Wajah Asuka mengerut kesal menatap Shirayuki. Akibat kehadiran Shirayuki, Asuka tidak bisa berhadapan langsung pada Hizen.


"Kenapa? Apa kau ingin mengejarnya?" Tanya Shirayuki.


"Sayang sekali, kau sudah jadi target musuh ku." Tambahnya sambil mengayunkan pedangnya untuk mempersiapkan serangan sihirnya.


"Cih!"


"Jangan meremehkan ku, Asuka-sama." Ujar Shirayuki.


*BERSAMBUNG. . .*


maaf sebesar-besarnya jika waktu up nya tidak teratur lagi, 🙇🏻🙇🏻🙇🏻 insya allah stay hadir kok.


jangan lupa tinggalkan jejak d kolom komentar.


terima kasihh sudah mampir membaca🙌🙏🙌🙏🙌🙏