The Legendary Of Hero

The Legendary Of Hero
Undangan



_Chapter 26_


The Legendary Of Hero


.


.


.


Shirayuki telah kembali dari pasar, namun raut wajahnya menjadi bermood kesal akibat bahan belanjaannya jatuh.


"Sayurnya sudah tidak segar, ya..."


Dia menghela nafas panjang setelah melewati kejadian di pasar tadi.


"Apa aku salah orang ya?" Gumamnya.


Ketika ia masuk dan di sambuti sosok Tatsuya yang kebetulan sedang menunggunya. Tetapi, Shirayuki terkejut sama sekali tidak menyadari kehadiran Tatsuya di sampingnya.


"Yo?"


"Heh?! Sejak kapan kau di samping ku?!"


Tatsuya protes dengan tatapan Shirayuki tampak sayu.


"Apa-apaan wajah itu?"


Shirayuki cepat menyembunyikannya dengan tatapan pahitnya.


"Huh? A-ah..tidak ada apa-apa."


"Tidak apa-apa katamu? Aku curiga bahan belanjaanmu jadi berantakan, apa sesuatu terjadi tadi?"


Bahkan Shirayuki tidak punya pilihan lain menceritakannya.


"Ya ampun, aku bahkan tidak bisa menyembunyikan hal apapun darinya, yahhh terserahlah...lagipula Tatsuya sudah resmi pasangan hidup ku."


"Maafkan aku, tapi..aku akan menceritakannya."


Keduanya duduk di bangku sofa, lalu Shirayuki menuangkan dua gelas teh hangat di meja.


"Aku tidak yakin, apa aku salah orang atau benar? Intinya, aku tidak sengaja menabrak seseorang."


"Apa hal itu membuat belanjaanmu jatuh?"


Shirayuki membenarkannya.


"Kau tau, orang itu...dia adalah pria yang mirip dengan Hiro."


"Hiro? Dia sudah kembali?"


"Aku tidak tau, bahkan aku sempat melihat dia menggenggam Onikirimaru. Bagaimana bisa aku tidak percaya kalau dia adalah Hiro...


...tapi, dia bilang bahwa dia sama sekali tidak mengenal pria bernama Hizen tadahiro."


"Kau yakin tidak salah orang?"


"Tidak kok, tapi yang lebih mencurigakan dia menggendong seseorang, sayang sekali wajahnya tertutup jadi aku tidak bisa melihat siapa yang bersama Hiro...


...aku sempat berpikir kalau orang itu adalah Raphtalia."


Tatsuya juga sulit percaya, orang yang dibicarakan Shirayuki itu benar-benar Hizen dan Raphtalia.


"Tapi akhir-akhir ini aku tidak merasakan apa-apa, baik itu keberadaannya dan perasaannya.. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Diam-diam salah satu tangan Shirayuki menggenggam tangan Tatsuya.


"Ada apa?" Tanya Tatsuya.


"Sebentar lagi pertemuan para pahlawan, aku sedikit khawatir."


"Aah, benar... Tapi kau tidak usah khawatir, lagipula kau ikut bersama ku, bukan?"


"Aku tau itu."


Tatsuya menggenggam erat jari-jemari Shirayuki.


"Mari kita hadapi bersama."


Sambil tersenyum lembut menatapnya.


"..iya...."


•••


Berikutnya, kerajaan Kyouka mengundang para pahlawan dan peri sebagai tangan kiri mereka ikut hadir. Sebenarnya hari itu adalah kabar bahagia bagi penduduk Kyouka, mendengar kabar berkumpulnya para pahlawan itu berarti ada peluang besar mengakhiri perang dimensi.


Tetapi, kabar pahlawan magus juga membuat sebagian penduduk sedih tak dapat hadir di pertemuan itu. Padahal mereka berharap pahlawan magus kembali dengan nama baiknya.


Tatsuya bersama Shirayuki sudah tiba di aula, melihat kehadiran mereka lantas membuat orang-orang di tempat itu terkejut. Bahkan sosok raja tak percaya pahlawan perisai itu benar-benar menampakkan diri dihadapannya.


"Jangan memasang wajah kalian seperti itu!" Tegur Tatsuya pada orang-orang yang menatap jenuh ke arahnya.


"Aku terkejut loo." Sahut Suwon tersenyum sinis.


"Aku kembali bukan bermaksud mengakui kesalahan ku, tapi aku kembali demi kerjasama dengan para pahlawan." (Tatsuya)


"Lalu, apa wanita disampingmu adalah anggota party barumu?" (Suwon)


Dengan cepat, Shirayuki bertekad berani memperkenalkan diri.


"Tidak, aku Shirayuki sebagai pedang Tatsuya-sama."


Suwon tampak biasa sambil menyandarkan dagunya ke dua tangannya yang mengepal bersama.


"Heeeh, ras half-human ya?"


Keduanya tampak berwaspada terhadap Suwon, dan kali ini Suwon sepertinya bersikap biasa-biasa tanpa ngada-ngada lagi.


"Ini pertama kalinya, salah satu pahlawan suci telah membawa half-human. Apa ini berarti partnermu tidak dibutuhkan?" (Suwon)


Tatsuya sedikit bingung menjawabnya, ia khawatir niat Suwon hanyalah ingin menjatuhkannya.


"Dia menunggumu, lo." Sambung Suwon.


Ini membuat Tatsuya terkejut besar pada tingkah Suwon yang sama sekali ada perubahan besar darinya.


Sepertinya Suwon berubah, tapi apa yang membuatnya seperti ini?


Tak lama itu, 6 pahlawan menampakkan diri dan berdiri dengan wajah yang hangat di samping Tatsuya.


"Lama tidak bertemu, Tatsuya, Shirayuki." Sapa Veno.


Diam-diam Tatsuya mendekat Veno lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Apa kau yang memintanya?"


Veno tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak, 6 pahlawan yang memintanya."


"Bagaimana dengan Hiro?" Tanya Tatsuya pada Lucien.


Lucien sedikit murung mendengarnya, lalu menjawabnya.


"Keberadaanya sudah menghilang."


Tatsuya juga ikut sedih dan benar-benar tidak mengerti apa yang dilakukan sebenarnya oleh Hizen dan Raphtalia.


"Benar-benar tidak masuk akal ya... Raphtalia, Hiro, sebenarnya apa yang kalian rencanakan hingga menghilang seperti ini?"


Kemudian, para peri juga menampakkan diri. Mereka senang dapat bertemu dengan pahlawan perisai.


"Lama tidak bertemu, pahlawan perisai." Sapa Jail.


Bibir Tatsuya tersenyum dengan menyapanya kembali.


"Yahh...itu sudah lama ya, Alysa, Melty, Sarah, Mia, Taku, Suzuki, Megumin dan...


....Jail, maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama."


"Yang penting Tatsuya-sama sudah kembali." Balas Jail.


Jail sambil menunduk badannya dengan hormat pada Tatsuya. Tak lama itu, dia memperhatikan wanita di samping Tatsuya.


"O-oya, wanita ini...?" Tanya Jail.


"Istrinya." Jawab 6 pahlawan serentak lantas membuat para peri terkejut.


"E-eh?!"


Shirayuki tertawa kecil melihat reaksi lucu mereka.


"Nama ku Shirayuki, pedang Tatsuya-sama dan...istrinya sahnya."


Melihatnya saja, para cewe peri sangat menyukai kecantikan Shirayuki, terutama kuping imut di atas kepalanya.


"Wahhh, cantik sekali... Kapan pahlawan perisai menikah? Harusnya kau mengadakan acara besar pernikahanmu." (Suzuki)


Tatsuya jadi malu menjawabnya, dia berharap Shirayuki benar-benar teliti menjawabnya.


"Hmmm...baru tiga hari yang lalu dan lagi pula aku tidak menyukai pernikahan ku dibesar-besarkan." Jawab Shirayuki.


Satu-persatu dari mereka mengucapkan selamat pada Shirayuki.


"Wahhh, kalau begitu...selamat ya, Tatsuya-sama dan Shirayuki-sama.."


Shirayuki hanya membenarkannya dengan senyum pahitnya, ia bahkan malu harus berkata jujur tentanv hidupnya dengan Tatsuya.


"Ahahaha..i-iya."


Sosok ratu Heila Lizeray bersama dua putrinya yaitu Asuka Lizeray dan Hina Lizeray juga sudah tiba ke Aula istana. Mereka duduk di samping raja Suwon.


"Pahlawan perisai?" Heila juga terkejut kehadiran Tatsuya.


Tatsuya hanya membalas senyum tipisnya pada Heila, kemudian melihat sosok Hina. Dia menyapanya,


"Yo, bagaimana kabarmu Hina-sama setelah itu?"


Pertanyaan Tatsuya membuat Heila dan Suwon curiga sambil menatap Hina.


"Setelah itu?"


Hina bingung dan terkejut, "E-eh, ahahahah...kabarku baik sih, aku tidak mengerti maksudmu apa setelah itu.."


Tatsuya heran tingkah Hina benar-benar terlihat aneh.


"Kenapa kau bingung? bukankah terakhir kita bertemu itu...kau bersama pahlawan magus bukan? Bagaimana kabarnya? Aku sudah lama tidak dapat kabar darinya."


Hina jadi takut dan mau tidak mau, dia akan menjawabnya dengan jujur. Tetapi,


"Tidak, selama dia pergi. Dia berada di kediaman ku, dan itu benar putri ku secara kebetulan bertemu dengan pahlawan magus dan...


...itu hanya sebentar." Sahut Heila.


"I-ibu?" Hina benar-benar kagum pada ibunya yang ternyata peduli dengan masalah anaknya.


Semuanya terdiam, tetapi Shirayuki dan Tatsuya sama sekali tidak mempercayainya.


"Baiklah, bisakah pembicaraan ini berakhir? Ku dengar yang mulia Suwon mengundang kemari, ada apa sebenarnya?" Sahut pahlawan kipas, Katagaki.


"Aku hanya ingin menyampaikan bahwa lokasi gelombang akhir masih samar-samar, ku rasa gelombang akhir itu akan segera datang." Jawab Suwon.


"Apa maksudmu? Kau sama sekali tidak mengetahui tempat gelombang akhir itu.. Kau itu raja, kan?" (Haku)


"Raja iblis yang menentukan gelombang akhir ini, yang perlu dilakukan hanyalah mempersiapkan diri!" Sahut Asuka.


"Aku tau itu." Gumam Tatsuya.


Tiba-tiba beberapa prajurit berlari terengah-engah masuk ke tengah aula.


"Yang mulia?! Yang mulia, ini benar-benar gawat...!"


"Tenangkan dirimu lalu jelaskan dengan benar." (Suwon)


"Maaf yang mulia, inti Kyouka terpecah belah dan tiga senjata legendaris juga di curi."


Tentunya, ini kabar buruk. Inti Kyouka dihancurkan dan tiga senjata legendaris yaitu tombak, panah, dan perisai. Sebelumnya, perisai legendaris tiba-tiba muncul di tangan Heila, kemudian ia menyimpannya ke inti Kyouka.


"A-apa?!" Semuanya terkejut akan hal itu.


"Apa yang terjadi sebenarnya?!" Tanya Heila.


"Kami tidak tau, tiba-tiba saja seseorang muncul menghancurkannya."


Tak lama kemudian, seseorang berjubah hitam menerobos masuk lewat jendela aula istana. Para prajurit terkejut melihat orang itu.


"D-dia orangnya!"


Sambil menunjuk orang tadi adalah pelakunya.


Mata Shirayuki terbuka kaget, "j-jubah itu?"



Orang itu menjentikkan jarinya, sekali dengar maka semua orang tak bisa bergerak sedikit pun kecuali bibir mereka.


"A-apa yang terjadi?" (Zyn)


"T-tubuh ku sulit b-bergerak..!" (Veno)


Shirayuki berusaha mengatakan yang sebenarnya pada Tatsuya.


"T-tatsuya, orang itu...o-orang itulah yang ku maksud."


Tatsuya tidak menyangka orang yang dibicarakan oleh Shirayuki adalah pria berjubah hitam alias mirip dengan Hizen Tadahiro.


"A-apa...!?"


Bahkan Suwon, Heila dan kedua putrinya juga tak bisa bergerak.


"A-apa alasanmu menghancurkan inti kyouka?" Tanya Suwon.


Pria itu tidak menjawabnya melainkan menusukkan pedangnya ke salah satu tubuh prajurit Kyouka. Yang lainnya terkejut melihat pedang legendaris ada digenggamannya.


"O-oi, pedang i-itu?" (Alysa)


Lalu, pria itu menangkap Hina dan Alysa sambil mengikat rantai besi ke tangan mereka dengan magusnya.


"Lepaskan!" (Hina)


"Apa yang kau lakukan? Ayo, lepaskan tangan ku!" (Alysa)


"Diamlah!" Tegur pria itu hingga Hina dan Alysa tutup mulut.


"Mau apakan putri ku?!" Seru Heila.


Pria itu mendekatkan langkahnya hingga berdiri dihadapan Heila, bibirnya tersenyum jahat melihat wajah Heila dipenuhi rasa marah meskipun tak bisa berbuat apa-apa dengan tubuhnya yang tak bisa bergerak.


Lalu, dia menampar keras ke wajah Heila hingga terlempar jauh. Sepertinya dia benar-benar dendam pada Heila.


Saat dia ingin menamparnya lagi, sosok gadis kecil rambut berpirang merah pekat sangat familiar bagi Heila itu menahan tangan pria disampingnya.


"Jangan."


"Aku mengerti."


Pria itu mengusap lembut kepalanya, "aku pergi dulu...."


"Ya, serahkan saja pada ku."


Hina dan Alysa dibawa pergi oleh pria itu, dan gadis kecil itu adalah Raphtalia. Tentu saja Heila sangat mengenalnya, bahkan sempat dihantui dalam mimpinya.


"Kenapa?" Tanya Heila.


Bibir Raphtalia kecil tersenyum sinis mengabaikan pertanyaan Heila, lalu berdiri dihadapan semua orang.


"Biar ku perkenalkan, aku adalah jiwa iblis kecil dari Shin Raphtalia, kalian mengenalnya, kan?"


Mereka tidak percaya apa yang dikatakan gadis itu.


"Aku tidak peduli, kalian percaya atau tidak itu bukan masalah bagi ku. Aku hanya kemari ingin menyampaikan satu hal ke dunia ini....


...Kalau Kyouka tak pantas hidup."



Suwon akhirnya terbebas dan dapat bergerak lagi berkat kekuatannya. Raphtalia malah senang melihat Suwon bangkit dari bangkunya.


"Raja suwon, bukan?"


"Apa maksudmu dengan Kyouka tak pantas hidup?"


"Itu karena raja sepertimu tidak adil, hanya memilih pilihan sendiri tidak dengan sesama adil, jahat yaa....


...padahal Kyouka ini adalah dunia yang dibangunkan ratu dewi, bukan Heila Lizeray bangsa gagak iblis."


Suwon terkejut, "darimana kau-"


Raphtalia kecil langsung menjawabnya,


"Tidak penting bagimu mengetahuinya, kau sebagai raja tidak pantas mengatur 8 dimensi."


Sempat dibuat kesal oleh Raphtalia, Suwon benar-benar tak tahan.


"Jaga mulutmu!"


Namun, bibir Raphtalia tetap saja tidak berhenti melawan,


"Aku jaga kok, tapi penderitaan kembar ku masih berlanjut aku tidak terima itu."


"Kembarmu? Apa itu dewi terakhir?" Tanya Suwon.


Raphtalia tidak mau menjawabnya dengan panjang tak masuk akal,


"Pikirkan sendiri." Singkatnya.


Kemudian, dia menangkap sosok Tatsuya dan Shirayuki di sana, lalu menghampiri mereka.


"Aku tidak menyangka sisi lemah ku juga mempunyai teman seperti kalian."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tatsuya.


"Ara..kau belum tau ya, wanita itu sudah melumpuhkan otaknya, mencuri harta berharganya dan bahkan merebut apa yang dimilikinya."


...dasar tidak tau berterima kasih, padahal ibu ku sudah memberikan gelar dewi padanya."


"Wanita itu?" (Shirayuki)


Keduanya heran, apa yang sebenarnya Raphtalia bicarakan. Namun Raphtalia hanya menundukkan wajahnya dan berkata,


"Tidak ada gunanya membangunkan inti Kyouka, karena sama saja Kyouka dan dimensi lainnya tak bisa damai. Bahkan para pahlawan dan peri tak bisa kerjasama hanya memikirkan diri sendiri!"


Ia mengangkat wajahnya ke hadapan Suwon.


"Oi, Suwon? Ku beri waktumu sampai besok...kalau para bawahanmu tak bisa bersatu baik itu pahlawan, peri dan dewi maka aku akan menghantuimu sama dengan Heila, istrimu!"


"Kau sangat tidak cocok memerintahku." Dingin Suwon.


Dan Raphtalia membenarkannya dengan senyum jahatnya.


"Memang benar, tapi sadarlah sedikit siapa yang membangunkan dunia ini, bukan Suwon, kan?"


Suwon terdiam, ia juga tahu bahwa yang membangunkan Kyouka dan dimensi lainnya adalah Shina Yuen, bukan Suwon. Ia bahkan dibuat tak bisa berkata-kata.


"Untuk sementara, kunci penyelamat gelombang akhir aku mengambilnya... Jadi kapanpun gelombang datang, berusahalah menyelamatkan orang-orang disekitarmu, mengerti?" (Raphtalia)


"Jangan seenaknya mengambil bukan milikmu!" Teriak Asuka.


Namun Raphtalia tidak mempedulikan suara Asuka teriak tak terima. Ia hanya menatap Heila terbaring lemah di sana hingga bibirnya tersenyum puas menyaksikan wajah Heila masih tak bisa berbuat apa-apa.


"Dan Heila Lizeray, tolong berubahlah sedikit, jangan suka jadi iblis, nanti aku marah loo." Tegur Raphtalia.


Sebentar lagi dia menghilang dari aula itu, sebelum itu ia menyampaikan beberapa pesan kepada para pahlawan.


"Ada banyak hal yang sudah terjadi belakangan ini, dan tiada siapapun yang mengetahuinya karena itu rahasia."


"Katakan yang sebenarnya dengan jelas!" Seru Katagaki.


"Bekerjasamalah dan bangunkan kedamaian, itu saja pesan ku...


...aku pergi dulu."


Raphtalia melebarkan senyumnya menatap Tatsuya dan Shirayuki, kemudian membisikkan sesuatu ke pikiran mereka.


Tentu saja keduanya terkejut, setelah itu Raphtalia sebagai jiwa iblis kecil itu menghilang dari aula itu.


•••


*BERSAMBUNG . . .*


AKU KEMBALI, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKMU🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️