The Last Game In Love

The Last Game In Love
Istana Singa



Musim hujan sedang berada di Kota X. Guyuran hujan membuat suasana semakin sendu sosok gadis lembut yang rambutnya terurai sedang melamun menatap indah ketika rintikan hujan membasahi daun daun yang bergoyang.


"Sayang, besok kamu akan menikah berbahagialah demi Ayah dan Papa Arya"


Suara besar menggema menyadarkan lamunan Sara, belaian sang Ayah membuatnya hangat dan sadar untuk membuat orang bahagia harus ada yang dikorbankan, meskipun harus mengorbankan kebahagiaanya


"Sara hanya merasa pernikahan kali ini tidak jauh bahagia dibandingkan pernikahan sebelumnya Ayah" Sara menyenderkan kepala tepat di perut bagian atas, tangannya memeluk sebagian tubuh besar Ayahnya


"Kamu tau, Banyak kisah diluaran sana yang menceritakan bahwa pernikahan kedua mereka justru lebih bahagia, mengingat mereka sama sama merasakan pernah kehilangan orang yang mereka cintai. Papa yakin kalianpun juga akan seperti itu. Kamu yang akan menjaga suamimu dan Juna akan melindungi mu sebagai istrinya"


"Kenapa dia menduda ayah?" tanya Sara sambil menengadahkan kepalanya melihat serius ke arah mata ayahnya, masih terbayang 3 tahun yang lalu ada laki-laki yang memakinya hanya karena kue dan sekarang akan menjadi suami.


"Menurut Arya dia diselingkuhi istrinya baru satu tahun menikah, sungguh sangat singkat"


Sara menunduk melihat kembali ke arah hujan, mengingat pernikahannya jauh lebih singkat


"Tidurlah, besok pagi keluarga Sanjaya akan


menjemputmu, jadilah Ratu dan berbahagialah dihari pernikahan mu sayang" Ikhsan mencium rambut putrinya yang selalu dianggapnya anak kecil.


***


Hari demi hari terlalui, hari ini hari pernikahan, semua sudah siap banyak tamu undangan yang datang merasa berbahagia dan memberi selamat tapi tidak dengan kedua mempelai, dibalik senyumnya kepada tamu undangan terukir dalam hati mereka rasa keberatan atas pernikahan ini, namun rasa keberatan dan ketidaktulusan mereka terbungkus oleh sebuah misi masing-masing.


"Oh tuhan Menantuku cukup cantik tapi aku tidak cukup untuk menyukainya" desis Monalisa pada sahabat nya yang sedang berdiri tepat disampingnya sambil minum.


epilog


"Maaf tuan Ikhsan kami diperintahkan untuk menjemput Nona Sara"


Tak lama Sara turun dari kamarnya dan pamit izin pada sang Ayah dengan wajah sendunya


"Ayah, susul aku jangan terlalu lama"


"Baik sayang nanti ayah akan datang tepat waktu bersama keluarga Tante Wulan"


Setelah berpamitan, Sara yang telah masuk kedalam mobil mewah itu melambaikan tangannya dengan raut wajah masih sama seperti saat dia keluar kamar.


***


Pesta pernikahan yang mewah menjadikan suasana yang begitu sempurna, ya hari ini Sara dan Juna menikah. Tepat tengah malam acara belum juga selesai tamu laki-laki yang masih lajang mendominasi malam itu.


"Sam, bawa wanita ini kerumahnya papah. Aku akan pulang sendiri" titah Juna yang masih menikmati pesta malam pernikahan


"Baik Tuan" Sama hanya mengangguk dan membawa Sara pergi


Suasana hening tercipta dalam mobil yang membawa Sara pergi menuju kediaman mertua barunya rasa gugup tersirat jelas diraut wajahnya


"Nona tidak usah khawatir Tuan besar sangat baik, meski Nyonya besar agak sedikit menyebalkan" celetuk Sam yang mengendarai mobil memecah keheningan


"Apa aku terlihat gugup tuan?" Sara bertanya terheran kenapa Sam bisa menebak isi hatinya


"Jangan panggil saya Tuan Nona, panggil saya Sam. Anda sekarang menjadi istri bos saya dan kita akan selalu bertemu setiap hari" Sam terkekeh dengan suaranya tawanya terdengar


"Baiklah Sam, aku rasa kamu punya selera humor setidaknya aku tidak akan kaku tinggal di Istana Singa" Sara duduk sambil menahan pipinya dengan tangan


"Istana Singa? maksud anda Nona?"


"Ya, Tuan muda mu itu aku anggap Singa sejinaknya dia tetap akan memangsa"


Sam hanya melihat wajah Sara dari kaca spion, tidak menyalahkan apa yang barusan Sara katakan. Karena memang benar Sifat dan sikap Juna yang Kasar dan suka seenaknya.


Tepat pukul 00.30, mobil terparkir di garasi yang luas deretan mobil mewah berjejer seperti di showroom


Sara membulatkan matanya melihat jejeran mobil mewah yang menghiasi rumah megah itu, betapa luas rumah mertuanya yang dianggap Istana Singa.


Masuk kedalam rumab ditemani pelayan dan sampainya di ruang utama Sara di sambut Sanjaya dan Monalisa yang sudah menjadi mertuanya.


"Selamat malam Ma, Pa" Sara tersenyum kaku didepan mertua barunya


"Kenapa kamu pulang Ra, Juna mana?" tanya Jaya yang heran melihat menantunya datang sendirian


"Pah Juna masih muda mungkin dia akan bersenang-senang dulu"


belum saja Sara memberi penjelasan Monalisa menyambar menjawab semua pertanyaan suaminya


"Baiklah kamu masuk ke kamar Juna, dan Bibi Meri yang akan mengantarmu"


Setelah Sara pamit Bibi Meri menuntun Sara seperti anaknya sendiri dia tidak segan mengajak ngobrol Sara tanpa arah kadang tawa Bibi Meri membuat Sara tergelitik membuat lengkungan bibir pertanda senyuman di wajahnya


"Nah ini dia kamar Tuan Muda Juna" Bibi Meri menunjukkan setiap ruangan dan lemari didalamnya menjelaskan fungsi dan cara menggunakannya


"Kalau Tuan muda pulang sore dia minta dilayani seperti persiapan mandi setelah mandi siapkan Latte setelah minum Latte baru dia makan malam" jelasnya sambil menepuk punggung tangan Sara yang dingin


"Tapi kalau pulang Malam tuan muda biasanya cukup dilayani makan malam saja selebihnya dia yang melakukannya sendiri" tambahnya dengan penuh semangat


"Aku kira Singa yang ini tidak selalu menjadi Raja" gumam Sara namun Bibi mendengarnya


"Betul Nona, Singa yang ini sebetulnya jinak tapi karena yang menjinakkannya pergi dan memberi luka maka jadilah Ia Singa yang buas hahaha" tawa Bibi Meri membuat Sara menertawakan ucapannya


"Tapi sekarang penjinak baru datang, semoga Nona bisa menjinakkan kembali tuan muda yang buas. Mungkin selama seminggu nona akan tinggal disini, selanjutnya nona akan pindah ke rumah Tuan Muda" dengan penuh keyakinan Bibi Meri memberi semangat pada Sara


"Bibi sangat baik, terimakasih sudah membantu"


"Tidak usah sungkan Nona, maaf Sikap Bibi yang eskaesde kata mang Koko mah so kenal so dekat" tawa Bibi Meri pecah kembali


Melihat kelakuan Bibi Meri yang lucu Sara melupakan kepenatan malam ini yang penuh dengan sandiwara.


Setelah Bibi Meri keluar meninggalkan Sara seorang diri, Sara membersihkan tubuhnya dan mengganti bajunya yang sudah tersedia didalam lemari. Duduk di sofa memikirkan nasibnya kedepan.


"Haruskah aku tidur satu ranjang? ah tidak mungkin aku tidur dengan Singa. Aku akan tidur disini saja" Sara menidurkan tubuhnya yang lelah diatas sofa yang didudukinya, menarik selimut kecil yang diambil dari lemari.


Sayang kamu melihatku? dulu aku tidak sesengsara ini


Sayang maafkan aku


Sayang aku tidak pernah melupakanmu


Suara suara kecil yang keluar dari mulut sara berbarengan dengan buliran air mata yang lama kelamaan meresap di kain yang menempel di pelipis kirinya.


Kini Sara pun tertidur nyenyak tanpa tahu apa yang akan terjadi esok hari menghadapi Singa yang sangat dingin dan buas.


***


Yeayy udah beberapa episode up nih, gimana pendapat kalian????


Jangan lupa dukung Author yah


Like, Komen yang positif atau membangun, dan vote