The Last Game In Love

The Last Game In Love
Barbeque



Suara langkah kaki yang menjadi Suaminya mendekati Istri dan sahabat Papanya membuat Sara melirik dan memberi senyuman, raut wajah Juna terlihat penuh tanya setelah mendengar percakapan mereka.


"Om.. " Juna menyapa Pak Arya


"Papah..?" Ucapan kata itu seolah pertanyaan buat Sara sambil menunjuk ke arah Arya, kenapa Sara memanggilnya Papa? mungkin itu yang ada dibenak Juna.


Pikirannya penuh dengan tanya, spekulasi terus menghantuinya bergelantungan terbayang kejadian di masa lalu.


Dulu sahabatnya pernah mencintai seorang perempuan yaitu kakak kelasnya, namun sayang perempuan itu pacar Juna.


Setelah melihat keakraban Arya dan Sara, Juna menyimpulkan bahwa Sara adalah istri dari sahabatnya Wildan.


Semoga aku salah Ya Tuhan..


tapi kenapa Om Arya datang kesini?


Jangan-jangan benar....


gumam Juna dengan wajah penuh tanya


Berkumpul di ruang keluarga mendebatkan berbagai hal dengan jamuan seadanya, Sanjaya menceritakan Juna kecil dengan tawanya yang menggelegar, ditambah dengan Arya yang menyamakan kelakuan anaknya persis dengan kelakuan Sanjaya saat remaja. Ikhsan hanya ikut tertawa mendengar dua sahabat yang saling memuji dan mengejek satu sama lain.


"Ah Mama bosen Pah, bagaimana kalo kita Barbeque an?" Merasa terkucilkan Mona memecah kegaduhan tawa ketiga laki-laki paruh baya dihadapannya.


Mendengar ide yang di utarakan Mama Mona Sara menyetujuinya, dengan semangat Sara mengajak Suaminya untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan. Seperti mendapat angin segar bisa keluar dari kerumunan orang tua meskipun hanya sebentar.


Didalam Mobil Juna mengendarai dengan fokus, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka, hanya suara gemuruh AC dan mesin kendaraan, sesampainya di tempat perbelanjaan yang tidak jauh dari perumahan elit itu, Sara membuka sabuk pengaman.


"Keluarlah, aku tunggu kau disini" Ucap Juna memutar kemudi memarkirkan mobilnya sesuai arahan


"Baik Tuan, Apa Tuan menginginkan sesuatu?" Tanya Sara


"Tidak, jangan terlalu lama aku tidak suka menunggu, dan gunakan ini" Juna memberikan kartu kredit kepada Sara


"Tidak usah Tuan, saya masih mampu untuk belanja" tolak Sara tanpa mengambil kartu kredit yang diberikan suami nya


"Aku Suamimu, jangan membantah cepat ambilah, dan aku tidak suka memakai uang orang lain" Paksa Juna meninggikan suaranya


"Baiklah kalau Anda memaksa dengan senang hati saya menerimanya"


Sara berjalan memasuki toko tersebut dan mengambil bahan yang di perlukan seperti daging sapi, sosis, dan sayuran segar.


Melihat minuman favorit nya, Sara mengambil beberapa botol dan minuman segar lainnya dimasukkan kedalam keranjang belanja.


Setelah semuanya selesai Sara kembali ke mobil meletakkan barang belanjaan kedalam bagasi dan kembali duduk disamping kursi kemudi.


"Pakai sabuknya, cepat"


Tanpa berpikir panjang Sara memakai sabuk yang ada di sampingnya, Mobil berputar dan berjalan menyusuri jalanan, kecepatan Mobil berjalan dalam kira-kira 60km/jam


"Tuan bisakah kurangi kecepatan nya?" Pinta Sara dengan nada gemetar


"Tuan tolong hentikan saya takut!"


Sara mengulangi permintaannya namun seolah tidak mendengar suara ketakutan istrinya, Juna menambah kecepatan mobil yang melaju di jalanan yang cukup sepi, ketakutan Sara semakin menjadi mengingat mendiang suaminya meninggal akibat kecelakaan mobil, Sara menjerit ketakutan dan berurai air mata. Tanpa menyadari apa yang terjadi pada Sara tiba-tiba Juna mendadak mengerem mobilnya di tepi jalan.


Suara tangis ketakutan mengagetkan Juna yang dari tadi fokus mengemudi. Tubuh yang masih membungkuk tangannya yang menutup semua bagian wajah membuat Juna merasa terkejut padahal kecepatan hanya 60km/jam kenapa Sara ketakutan seperti ini?


Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak Juna.


"Kau kenapa? " tangannya meraih bahu kanan Sara yang gemetar


"Sudah kubilang berhenti Tuan, anda tidak mau mendengar" entah dari mana keberanian Sara muncul untuk memarahi Suaminya itu


"Tadi hanya kecepatan standar kenapa kau jadi marah seperti ini?"


"Aku takut Tuan, Karena.. Karena suamiku meninggal karena kecelakaan mobil, Aku sedikit trauma" Suaranya yang tinggi menjadi melunak


Deg... Perasaan Juna tersentak mendengar alasan Sara ketakutan seperti ini, setelah mendengar Sara menyebut Papa pada Arya ditambah penyebab suaminya dulu meninggal akibat kecelakaan.


Benarkah dia Istrimu Wil?


Hanya kalimat itu yang terlintas di kepalanya saat ini.


Dia benar-benar gusar memang benar bahwa perempuan yang menjadi istrinya saat ini adalah istri sahabatnya sebelum meninggal.


"Maafkan aku, tunggu disini aku akan keluar sebentar"


Juna masuk ke dalam salah satu gedung, Sara bingung memandang itu gedung apa karena selama ini dia tidak pernah masuk ataupun tau fungsi gedung itu untuk apa.


Keluar gedung dengan tentengan di tangannya dua botol wine membuat mata Sara membulat


"Tuan akan mabuk?" Tanya Sara dengan begitu polos


" Tidak, hanya minum tidak sampai mabuk"


Jawab Juna dengan santai


Sara hanya melirik Wine yang dibawa suaminya dan di letakkan di kursi belakang.


Tiba di rumah dengan dua kantong belanjaan yang di jinjing Juna. Semua yang menunggu sudah menyiapkan pemanggangan.


Mama Mona sudah menyiapkan bahan yang akan dipanggang dibantu Sara dengan suka cita membantu Mama mertuanya melupakan apa yang terjadi dalam perjalanan.


"Biar ku bantu Mah" Ucap Sara mengambil bungkus sosis dan menusukkan satu-satu tusukan sate.


Mama Mona hanya berdiri mengerucutkan bibirnya yang mungil, melihat menantunya sangat cekatan membantunya memanggang.


Beberapa daging sudah siap dihidangkan secara bergantian dari mereka memasukan potongan daging yang matang kedalam mulutnya.


"Pas" Ucap Sanjaya, telunjuk dan jempolnya menyatu melingkar membentuk huruf o


Kebahagiaan tercipta dari hal sederhana, mereka sedang merasakan kehangatan keluarga, makan bersama diselingi tawa canda dan gurauan. Meskipun Ikhsan sudah pamit terlebih dahulu meminta maaf pada anaknya bahwa Ayahnya tidak bisa menginap karena adiknya Wulan meminta Ikhsan untuk segera pulang karena ada urusan pekerjaan.


"Anda mau Tuan?" Tawaran Sara membuyarkan lamunan Juna yang dari tadi hanya diam dan memperhatikan orang tuanya.


Daging yang tertusuk garpu sudah ada di hadapannya, Juna melirik orang disekitarnya semua bola mata sedang memperhatikan tingkah mereka.


Tanpa pikir panjang Juna melahap tusukan daging yang ditawarkan istrinya itu.


"Mona, Kau tahu saat kita liburan di Bali dulu? kau memperlakukan Jaya sama persis seperti yang dilakukan Sara terhadap anakmu Juna kau ingat itu?" Arya menggoda Mona mengingat memori saat mereka muda


"Benarkah, Kau begitu romantis" Puji Jaya pada istri nya


Kerutan di kening Mona seakan tidak terbawa suasana oleh godaan dua pria paruh baya dihadapannya, pandangan tidak suka di lemparkan pada menantunya yang sedang menyuapi putranya. Begitupun dengan Juna tidak merasa keberatan dengan sikap Sara padanya.


Malam semakin larut, Sara dan Juna sudah berada di posisi mereka untuk tidur. Menyelimuti tubuh mereka dengan selimut.


"Kau sudah tidur?" tanya Juna dari atas kasurnya


"Belum Tuan" Jawab Sara membuka kembali matanya yang sudah menutup


"Siapa nama Suamimu yang meninggal?"


Hening.....


"Wildan Purnama Tuan"


***


Selamat Malam reader...


Author usahakan tiap ba'da Isya update nya


Untuk sekarang masih bisa 2 episode tiap hari dengan episode panjang, tapi kalau tanpa dukungan kalian sepertinya Author kehilangan semangat dan imajinasi deh


Coba di like, Komen dan kalau ada poin bisa kasih Vote ya...


Seperti tanaman yang membutuhkan air, udara dan cahaya


love You All ❤️❤️❤️