
Melihat Kotak coklat yang dibawakan suaminya, Sara membuka dan mengambil satu batang coklat itu lalu memasukkan pada mulutnya. Beberapa detik coklat itu meleleh, matanya terpejam menahan rasa manis yang menyelimuti mulutnya saat ini
"Kau suka?" tanya nya pria yang duduk disebelahnya
"Suka coklatnya tapi tidak dengan rasanya" Ucapnya tetap memejamkan mata
"Kenapa?" Heran " Ini terlalu manis dan aku tidak suka makanan manis"
Lelaki itu hanya terus memandang istrinya, entah sejak kapan dia peduli dan senang melihatnya tersenyum.
Mungkin karena Dia mulai menyukainya?
Tidak begitu lama Juna mengunjungi Cafe Kopi, sekalian Sara meminta izin pulang lebih dari jam 5 sore Ia berniat akan mengunjungi makam suaminya yang sudah dua Minggu tidak sempat Ia kunjungi
Sore hari Sara keluar dari Cafe menggunakan mobilnya melaju cepat supaya tidak terlalu larut sampai di pemakaman, seperti biasa perempuan itu membawakan buket dan taburan bunga di atas pusara.
"Sayang, ternyata dia Sahabatmu. kenapa kamu tidak pernah bercerita mempunyai sahabat seperti Dia?"
"awalnya aku canggung, dia tidak seperti mu aku tidak pernah menyukainya, tapi akhir-akhir ini dia mulai menghangat, mungkin karena dia sudah tahu aku adalah istrimu sahabatnya, Apa kau melakukan sesuatu padanya?"
Kini tanpa air mata, Sara sudah benar-benar mengikhlaskan suaminya. Pergi menjauh dari makam dan keluar dari komplek pemakaman.
Dilihatnya jam yang melingkar ditangannya menunjukkan pukul 6 sore.
"Ini hampir malam" gumamnya
"Nona Kau disini?"
Suara yang tak asing mengejutkan nya lagi setelah dua minggu yang lalu juga bertemu disini
"Minggu kemarin Nona tidak berkunjung ke makam" tambahnya antusias
Tanpa menjawab pertanyaannya Sara membalikkan tubuh
"Sam kau rupanya, apakah suamiku sudah pulang?"
"Kalau masih di kantor mana mungkin Saya bisa keluar Nona"
"Betul juga, Kau memang setia Sam"
"Saya membawa minuman, Nona Mau?"
Tangannya menjulur mendekatkan Cup minuman yang dibawanya
"Ah tidak Sam, terimakasih"
"Sayang sekali, padahal saya hanya ingin berbagi" keluh Sam, tangannya kembali menggantung membawa cairan berwarna coklat
Mendengar Sam mengeluh, Sara jadi tidak enak hati telah menolak dan mengabaikan pemberian sekretaris suaminya itu.
Akhirnya dengan terpaksa gadis itu mengambil dan meneguk minuman rasa Coklat hangat. Sebenarnya ia ingin sekali hanya meneguk sekali karena rasa manis yang beradu pada mulutnya membuat perutnya terasa begah, namun karena tidak tega Sara meminum habis cairan coklat manis itu.
"Kau suka Nona?"
"Tidak cukup buruk Sam" Sara menahan rasa yang tidak enak dalam perutnya
"Aku sangat senang Nona, terimakasih" Ucapnya tanpa berhenti memandangi istri Tuan Mudanya.
"Aku harus pulang Sam. Terimakasih atas minuman nya"
Perempuan itu pergi meninggalkan Sam, masuk kedalam mobilnya dan melaju cukup cepat.
Sam hanya tersenyum bahagia melihat punggung mobil yang perlahan mulai tidak terlihat oleh mata.
Sampai di rumah Sara sedikit berlari masuk ke dalam kamar, tidak terlihat suaminya yang dari ia cari. Masih terasa sesuatu yang tidak enak dalam perutnya kemudian tubuhnya memaksa untuk masuk kedalam kamar mandi, mencoba mengeluarkan apa yang sudah ia minum tadi dan semuanya menghasilkan, mengucurkan air di wastafel berkumur dan mengelap permukaan wajahnya yang basah.
"Lega sekali" gumamnya dibalik handuk yang menutupi mulutnya
"Sampai muntah kau berkencan dengan pria huh? istri macam apa kau ini"
***
"Sam, Jam setengah lima nanti aku ada urusan, batalkan meeting sore nanti"
Titah Juna dibalik kursi kebesaran nya
"Baik Tuan, Apakah boleh saya pulang juga?"
"Pulanglah"
Senyum bahagia menyambut detik-detik ia akan menjemput istrinya pertama kali. Pipinya tidak bisa berhenti menutup aura positif dalam hatinya, sampai pegawai nya pun begitu kaget melihat bosnya yang dari tadi tersenyum melewati lobi kantor pusat.
Jarang sekali melihat pemandangan seperti ini jangankan tersenyum, hanya menjawab sapaan juga tidak pernah setelah perceraian itu.
Sesekali mempercepat laju mobil yang dikendarai nya namun sayang tidak sesuai perkiraan, jalanan menuju Cafe Kopi cukup ramai dan dipadati kendaraan.
" Untung saja aku sedang bahagia, jika tidak akan aku beli jalan ini" Gerutunya dibalik kemudi
Akhirnya Juna sampai di Cafe, namun sayang mobil Istrinya sudah tidak ada di parkiran sana, tanpa berpikir panjang Juna berniat menyusul Sara ke pemakaman untung saja dulu Ia mengetahui pemakamannya dimana, jadi tidak sulit untuk nya mencari tahu lewat mulut orang lain.
Pukul 6 kurang 15 menit, Mobil Juna terparkir jauh dari mobil Sara alih-alih memberi kejutan namun sepertinya Juna lah yang mendapat kejutan.
Dilihatnya di parkiran sana Sara menerima minuman dari seorang pria yang di percayai nya penuh dengan senyuman.
Pria itu meremas setir kemudi tidak suka dengan apa yang dilihatnya, membanting setir dan memutar kemudi dengan kasar meninggalkan mereka sebelum berjumpa.
Sungguh saat ini Arjuna sedang emosi, pria itu merasa kesal dengan dua orang yang berada dekat dengannya sedang berduaan bahkan Ia tidak habis pikir kenapa sekretaris nya bisa bersama dengan Sara istrinya, hingga pikiran nya jauh menerawang negatif
"Sejauh apa hubungan kalian"
Mobil terparkir sembarang arah, Bibi Meri yang melihat gerak Juna menjadi teringat saat dulu Arjuna memergoki Angela selingkuh.
Pintu kamar tertutup kasar, para pelayan yang melihat merasa takut Tuannya kini sedang tidak baik-baik saja.
Mengguyur diri dengan shower pilihan yang tepat, kenapa dirinya seperti ini status nya sebagai suami tapi kenapa sulit sekali untuk mengungkapkan kemarahan jika Istrinya berdekatan dengan laki-laki lain khususnya Samuel sekretaris nya sendiri.
Lamunannya terpecah oleh suara air wastafel, meraih handuk dan melingkarkan di pinggang
"Sampai muntah kau berkencan dengan pria huh? istri macam apa kau ini"
Perempuan dengan wajah pucat setelah memuntahkan isi perutnya terperanjat merasa terkejut oleh tubuh yang tiba-tiba muncul dan suara tiba-tiba menggema, karena tergesa-gesa ke kamar mandi Ia tidak fokus mendengarkan suara air shower yang keluar.
"Tuan, Maksud Tuan apa?"
Pria itu mendekatkan wajahnya hingga menyisakan beberapa senti diantara mereka, Sara mundur, tubuhnya ke belakang berhasil keluar kamar mandi, tidak gentar Juna terus mendekatkan diri sampai akhirnya Sara terbentur tembok disudut dekat dengan tempat tidur
"Kau mencoba membuat hubungan dengannya?"
"Kau ini siapa huh? beraninya melakukan itu dibelakangku"
Ketakutan Sara tidak membuatnya bisa menjawab semua pertanyaan Juna, Dia terlalu rumit mengartikan apa maksud dari semua pertanyaan itu, hubungan apa? dengan siapa? apa yang sebenarnya telah terjadi? pertanyaan itu melintas seperti burung mengelilingi kepala Tom saat Jerry memukulnya pakai tongkat bisbol.
Kini tubuhnya berada pada kungkungan tubuh kekar Juna, aroma sabun min menambah debaran di dadanya, memompa jauh lebih cepat dari biasanya.
Pria itu berbisik membuat Sara semakin geli dan merinding
"Jangan harap kau akan pergi dengan mudah Sara" bisik nya
***
Sertakan dukungan kalian
Like 👍 Komen dan Vote
Love You All ❤️❤️❤️