
Setelah kejadian malam itu, perilaku Juna tidak terlalu dingin. Sara yang menduga bahwa Suaminya sudah mulai menyukainya merasa senang karena misi nya sudah tercapai, tinggal Mama Mona yang belum Sara ambil hatinya.
"Malam ini Papa sama Mama akan menginap" Ucap Juna memberitahu Sara yang tengah menyisir rambutnya
"Kok sama ya, Ayah juga malam ini akan datang kesini tapi tidak menginap Tuan"
Panggilan Tuan masih Sara berikan pada Suaminya, karena harus pakai sebutan apa lagi selain kata Tuan, mana mungkin sebutan sayang atau suami apalagi nama mereka, jelas-jelas hubungan pernikahan ini tidak di dasari oleh cinta.
"Mungkin mereka merindukan kita Tuan"
Sahut Sara sambil mengibaskan rambut ke sebelah kiri, terlihat jelas punggung leher jenjang putih bersih. Bajunya yang terbilang seksi membuat Juna menelan saliva berulang kali.
Pasti ada yang mereka rencana
Pikir Juna terlintas
Astaga, aku tergoda lagi, kenapa begitu menggiurkan.
atau mungkin aku menduda terlalu lama. aarrggghh aku terlihat bucin oleh diri sendiri
Pergi menghindar adalah cara tepat untuk saat ini, Juna turun menyusuri anak tangga sesekali merapikan kerah dan memasukan kancing tangan kemeja yang Ia kenakan, disusul Sara selisih 3 menit menuju meja makan, omelette dan air susu tertata rapi dan siap disantap oleh pemilik nya.
Suara Piring dan sendok mendominasi setelah para pelayan pergi meninggalkan mereka yang sudah menghidangkan makanan. Sesekali Juna melirik oleh sudut matanya ke arah istri yang menyantal makanan dengan lahap.
"Berapa lama pernikahan dengan suamimu?" Pertanyaan itu muncul membuat Sara menghentikan makannya, Sara menatap tuan pemilik pertanyaan itu dengan lekat dan kembali menundukkan pandangan.
"Aku yakin Tuan tau semuanya sebelum memilih menikahiku" Jawab Sara mencoba santai melanjutkan memasukkan sisa makanan yang ada di piringnya. Sebenarnya Dia merasa terusik dengan pertanyaan tentang pernikahan nya dulu.
"Jangan memberiku jawaban tidak pasti" Sorot pandangan mata menatap tidak suka dengan jawaban yang diberikan Sara.
Suara hembusan nafas kasar yang diatur terdengar dengan jelas, Sara menghela nafas meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang dan menjawab pertanyaan Suaminya.
"Kurang dari 10 hari!" ucapnya
"Kenapa kau begitu mencintainya?" tangannya masih sibuk mengatur potongan omelette
"Karena Dia cinta pertama dan terakhirku" kemudian Sara meneguk minuman putih yang berada tidak jauh dari letak piring.
Entah apa yang membuat Juna menghentikan makannya, Dia berdiri dan pamit meninggalkan Sara untuk pergi ke Kantor.
"Laki-laki aneh" gumam Sara, takut suaranya terdengar oleh pelayan.
Dalam perjalanan Juna terlihat muram, sepanjang perjalanan pula Juna hanya menatap pohon dan pemandangan yang terlewati oleh mobil yang dikemudikan oleh Sam. Kemurungannya di sadari oleh Sam yang melihat dari kaca spion mobil.
"Apa Tuan sedang sakit?" Tanya Sam masih fokus mengemudikan mobil
"Tidak" Lamunan Juna setengah buyar setelah mendengar teguran Sam.
"Anda terlihat murung Tuan, apa tejadi sesuatu pada istri anda?"
Deg... hati Juna kembali merasakan sesuatu yang aneh saat berbicara tentang istri nya. Tadi Istrinya membicarakan mantan suaminya dan sekarang laki-laki lain mempertanyakan keadaan istrinya. Sungguh tidak rela rasanya namun apa boleh buat Juna tidak peka atas apa yang dia rasakan akhir-akhir ini.
"Dia Istriku Sam. Jangan coba-coba mengkhawatirkan nya" Tubuh yang tadinya menyandar ke kursi sekatang duduk tegak dan meraih benda pipih yang berada tidak jauh dari tangannya
Apa tuan sudah mulai mencintai Nona?
haruskah aku menghapus harapanku jika tuan benar-benar mencintai Nona?
Sam bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri.
***
Sore hari sinar mentari masih bersinar namun panasnya mulai reda, jalanan mulai padat dipenuhi anak sekolah yang pulang berjalan kaki atau naik angkutan umum. Waktu itu Sara sudah sampai di rumah, seperti biasa Cafenya sudah ada yang handle.
Mempersiapkan isi rumah dibantu oleh para pelayan yang sigap, rumahnya terlihat rapi tapi Sara ingin lebih rapi lagi dengan mengelap lemari yang terlihat debu, memposisikan kembali keramik yang tergeser, dan foto pernikahan mereka yang terpampang jelas dan besar berada di tengah tembok ruang keluarga.
"Ada acara apa Nona? Setiap hari rumah ini di rapikan dan di bersihkan!" tanya seorang pelayan yang membantu merapikan meja makan
"Malam ini Mama, Papa dan Ayah akan menginap disini" Jawab Sara dengan rasa yang bahagia.
Bagaimana tidak bahagia, Selama ini Sara tidak bisa bertemu dengan Ayahnya, selain dirinya sibuk di Cafe, Ayahnya juga pergi keluar kota. Meskipun berkunjung ke rumah percuma saja disana hanya ada pembantu yang menjaga rumah.
Acara seperti ini dimanfaatkan Sara untuk membuang rindu.
Suara Mobil terdengar bergemuruh memasuki dinding ruang keluarga, Sara keluar untuk menyambut suaminya pulang.
Pupus sudah harapanku
Gumam Sam setelah melihat raut wajah Bosnya yang menutup kebahagiaan.
"Apa yang membuatmu senang?" Tanya Juna sambil melepas dasi yang terikat di lehernya
"Ah Tuan melihat nya, Bagaimana tidak senang Ayahku akan datang kesini" Wajah berseri dan penuh senyuman membuat Juna merasa hangat, terbawa suasana dan berhayal andaikan saja Juna pergi beberapa hari mungkinkah Sara merindukan dan senang seperti ini disaat Juna pulang?
Juna memejamkan mata dan menggelengkan kepala menghapus lamunannya yang terlihat bucin.
"Bisakah kita bekerja sama?" Tubuhnya yang sudah tidak memakai baju mulai mendekati Sara yang sedang merapikan pakaian Juna yang kotor.
"Maksud anda Tuan?" tanyanya penasaran tangannya memeluk baju yang barusan Juna pakai
"Bersikaplah seolah kau benar istriku, hanya malam ini. Aku tidak mau Papa dan mertuaku berpikir yang aneh" Bisik Juna ditelinga Sara meskipun suaranya terdengar jelas
"Ah tenang saja Tuan, akting seperti di Cafe waktu itu kan?" Senyumnya mengisyaratkan berjuta persetujuan
"Terserah, atur saja seperti istri sungguhan"
"Bukankah kita memang sungguhan Tuan?" Sara menyeringai seolah menggoda suaminya yang berdiri membelakangi Sara.
Sebenarnya Juna tergoda oleh ucapan Sara, Kalau tidak ada Janji di awal pernikahan mungkin saja setelah Sara mengatakan kalimat itu Juna langsung memeluk, mencium dan berakhir melepas hasrat yang dia tahan selama ini.
Pergi, hanya pergi meninggalkan istrinya itulah salah satu cara untuk menghindar dari godaan dan menahan sesuatu supaya tidak terbawa oleh nafsu hasratnya.
Matahari mulai terbenam, suara Monalisa yang berteriak memanggil anaknya mengagetkan Juna yang sedang berbaring di atas sofa kolam berenang belakang rumah sambil melihat pada layar iPad. Ya, Juna menunggu kedua orang tua nya disana.
"Arjuna Anakku, Mama datang" dengan riang jenaka seperti anak gadis yang akan bertemu kekasihnya, Mona memeluk dan menciumi putra mahkota nya.
Melihat Mamanya membawa koper, Juna mengerutkan kening
"Mama mau menginap atau pindah?"
"Mama mau menginap seminggu" bisik Mama Mona tangannya menutup sebagian mulut penuh tawa, kemudian memeluk Juna.
Pelukan Mama Mona terlepas setelah kedatangan Ayah Sara. Ikhsan datang memberi sapaan kepada keluarga Sanjaya. Ini adalah sebuah penghormatan bagi dirinya yang di undang langsung oleh keluarga konglomerat yang menjadi besannya.
Mereka duduk di sofa pinggiran kolam. menunggu tamu yang belum datang.
"Pembicaraan kita santai saja ya Pak Ikhsan, jangan ada urusan pekerjaan disini" sahut Sanjaya yang meminum cairan hitam
"Baik Tuan, Saya merasa terhormat bisa datang kesini" ucap Ikhsan
"Stop Pak Ikhsan jangan panggil Saya Tuan, panggil nama saja kita kan besan. Masalah diluar jangan bawa ke rumah anak-anak kita disini"
Gelegar tawa memenuhi dinding rumah, Mona hanya tersenyum melihat suaminya bisa tertawa seperti itu.
"Baiklah Pak Jaya"
"Mana istrimu Jun? Papa sudah kangen dengan menantu Papa itu" Pinta Jaya sedikit bingung karena dari tadi tidak ada Sara menantunya.
"Aku juga rindu anak gadisku Pak Jaya, sudah lama kami tidak bertemu" Adu Ikhsan sedikit curhat
"Biar ku panggilkan dulu Pah, mungkin dia baru beres mandi" Jawab Juna berdiri dan meninggalkan orang tua dan mertuanya.
Baru beberapa langkah menuju tangga, Juna dikagetkan dengan dua sosok manusia yang sangat akrab saling sapa.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Juna mengerutkan keningnya mengucapkan kata penuh tanya
"Om..? Papah?"
***
Apa yang akan dilakukan Juna setelah mengetahui bahwa Sara adalah manta Istri Sahabat nya?
Simak kelanjutannya manteman..
Jangan lupa Kasih dukungan Author biar Semangat
Like, Komentar yang positif dan kasih Vote kalau punya Poin
Love You All ❤️❤️❤️