
Tiga tahun berlalu Juna sudah resmi berpisah dengan Angela. Perasaanya cukup lega tapi menyisakan trauma, sepertinya Juna tidak lagi percaya dengan wanita
***
4 bulan pasca perceraian
"Sam pastikan dia mengandung anakku atau tidak, jika dia hamil pastikan juga siapa ayah dari anak itu. Aku tidak mau dia kembali hanya karena ada anak diantara kami"
"Ini hasil nya Tuan, sepertinya dia tidak hamil karena setelah 2 bulan perceraian pernikahan sudah ada pemeriksaan bahwa dia tidak hamil, kertas ini sebagai bukti nya"
Samuel memberikan lembaran kertas yang dibungkus amplop putih
"Kerja bagus Sam"
***
Juna yang masih saja berkutat dengan pekerjaannya meskipun waktu telah menunjukkan pukul 8 malam.
" Tuan Besar menyuruh saya supaya Anda pulang malam ini ke rumah, Tuan"
Sam memecah keheningan ruang kerja Wakil Pimpinan Jaya Group.
" Ada hal penting apa sampai dia menyuruhku pulang?" Juna bertanya dengan mata dan tangan masih terfokus pada laptop.
Setelah menikah dengan Angel, Sanjaya membelikan rumah di perumahan elit untuk mereka berdua. Karena pernikahannya baru satu tahun maka tidak ada harta gono-gini antara keduanya. Rumah mewah itu masih atas nama Sanjaya yang rencananya akan diberikan kepada cucu pertama, namun sayang pernikahannya kandas sebelum adanya keturunan.
Juna masih tinggal di rumah itu, meskipun kecewa terhadap mantan istrinya tapi masih ada bekas kenangan indah. Selama tiga tahun ini Juna tidak mencari pengganti istrinya, bukan karena masih cinta melainkan Ia enggan kembali merasakan kecewa.
Malam menunjukkan pukul 10, mobil sedan mewah berwarna hitam memasuki garasi megah, Juna disambut oleh beberapa pelayan bagaikan anak sultan.
"Sampaikan saya ada di rumah" titah Juna
Pelayan yang menerima perintah membungkukkan badan dan pergi meninggalkan Juna.
"Selamat Malam Tuan, apa anda ingin makan sesuatu?" tanya Bibi Meri
Bibi Meri adalah ketua pelayan perempuan yang ada di Rumah Papah Jaya, nama aslinya Maryati cuman ketika menjadi pelayan di rumah Sanjaya, permintaan mengubah nama panggilan menjadi Meri supaya terlihat lebih keren dan untuk melupakan masa kecil yang kelam karena perilaku orang tuanya.
Bibi Meri memiliki selera humor, di usianya yang menginjak 50 tahun dia sudah menikah dan suaminya meninggal, Sanjaya dan anaknya sudah terbiasa dengan kelakuan pembantunya itu, seperti membawa warna dikediaman megah yang di isi tiga orang pemilik rumah.
"Semenjak Tuan Muda pindah, Bibi merasa mata bibi semakin hari semakin buram deh" celetuknya
"Apa hubungannya?" Sam menyambar pernyataan Bibi Meri
"Yaa ga bisa lihat wajah wajah tampan lagi den" jawab Bibi Meri dengan genitnya
"Buahahahahhaha ups" Sam terbahak mendengar yang barusan diucapkan Bibi Meri dan menghentikan tawa kerasnya mengingat didepan ada Juna
"Bawakan Latte" titah Juna
"Baik Tuan, emm Tuan Sam juga mau?"
" Boleh Bi, Tapi tanpa gula"
" Gulanya cukup lihat Bibi ya tuan" ucap Bibi Meri sambil tersenyum malu-malu
Melihat tingkah Bibi Meri perasaan Sam jadi tidak enak dan tersenyum ciut.
"Sepertinya Bibi Meri menyukaimu Sam" Juna meledek Sam sambil menggelengkan kepala.
"Maaf tuan Muda" Sam setengah malu dan takut karena tawanya yang tidak bisa ditahan. Juna mendelik tajam melihat sekretaris nya yang mengeluarkan sifat aslinya.
"Juna, Papah senang selamat datang nak" Sambut lelaki kisaran usia 55 tahun menghangatkan suasana malam dengan suaranya yang keras menyambut anak semata wayangnya
"sudah lama Jun 3 tahun yang lalu kamu sempat sangat terpuruk dan ..."
"Jangan ingatkan itu lagi Pah, Mama kapan pulang dari Paris?"
" Kemungkinan beberapa hari lagi, sepertinya mama mu menghindar dari teman-teman arisannya, dia masih trauma dengan kejadian itu tapi pertanyaan teman sosialita Mama mu sudah membuatnya jengkel kembali "
" Ada apa Papa memanggil ku kesini?"
to the point pertanyaan Juna sambil meminum Latte yang telah di buatkan oleh Bibi Meri
"Cuman mau mengatakan ini Pa? lewat Sam juga bisa" Juna mendengus kesal sambil menyenderkan kepalanya di sofa
"Yang kedua, bolehkah Papa mencarikanmu calon istri? Papa harap sebelum Mama datang dari Paris kamu sudah memperkenalkan seorang wanita pada Mamamu"
Sejenak Juna memikirkan apa yang telah dikatakan Papanya
"Papa carikan saja, Juna tidak akan menolak" Juna menjawab dengan enteng
"Kamu serius Jun?"
"Ya,, nanti profil wanita itu kirimkan ke Sam"
" Apa kriteria nya mau seperti mantan istrimu Jun?"
"Terserahlah, yang penting jangan terlalu cantik"
"Alasannya?"
"Setidaknya kalaupun kami bercerai kembali aku tidak akan menyesalinya"
(aku akan menjadikannya permainan Pah, aku muak dengan wanita semuanya sama saja tidak lebih kecuali Mama) gumam Juna dalam hatinya
" Haha Baiklah Jun, Papah cukup senang mendengar kamu mau menikah lagi terlebih Papa yang mencarikan jodoh untukmu"
Tuan, aku saja belum menikah kenapa anda akan menikah kedua kalinya
Sam menggerutu dalam hatinya, memang sekretaris nya itu cukup pendiam, humoris, telaten dalam bekerja dan bertanggung jawab maka tak salah jika Juna menjadikannya sekretaris permanen, hanya saja belum ada perempuan yang bikin Sam merasa nyaman.
Malam semakin larut, Juna memilih tidur di rumah orang tua nya.
Cafe Kopi
Arya memilih Cafe Kopi menjadi tempat bertemunya dengan Juna. Cafe itu milik Sara, setelah Wildan meninggal, Sara menjual toko kue, dia melepas semua kenangan bersama mendiang suaminya karena Toko kue itu dibangun bersama sejak pacaran dulu.
Dia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan meskipun sifap ceria dan supelnya hilang, meskipun sudah hampir melupakan tapi Sara masih ragu untuk mencari pendamping dan menikah kembali.
Sore hari selepas pulang dari kantornya Juna menemui Arya untuk membahas kerjasama mereka.
Sam melihat layar handphone dan fokus membawa mobilnya ke sebuah Cafe yang alamatnya telah di kirim oleh Arya.
Cafe yang memiliki design interior gelap dengan lampu yang yang kemilau menambah kesan romantis, tak sedikit para pengunjung muda mudi datang ke Cafe itu hanya sekedar minum kopi dan nongkrong.
"Juna akhirnya kamu datang juga"
" Pasti Om, Papa memintaku datang kesini"
"Om tau itu Jun, jadi dari mana kita akan mulai?"
"Kita santai saja Om, berkas proposalnya kirim ke Sam saja kerjasama kita sudah sepakat kan? nanti tempatnya aku observasi minggu depan"
"Baiklah nak, kamu sungguh terburu-buru"
Tawa Arya menggelegar memenuhi Cafe itu, Sara datang membawa Kopi yang dipesan mantan mertuanya itu.
Saat Kopi itu di letakkan si atas meja mata Sara tertuju pada pria yang duduk sambil menumpangkan kaki kiri di atas kaki kanannya dan tangan yang sedang merapikan jam tangan.
"Laki-laki itu, sangat tidak sopan didepan Papa Arya" gumam Sara dalam hari
Di kursi lain juga ada sepasang bola mata yang melihat ke arah Sara
Nona toko kue? Dia jadi pelayan Cafe?
Sam berspekulasi sendiri, Gadis yang bernama Sara adalah pelayan Cafe ini dan mereka bertemu untuk yang kedua kalinya
***
Nah gitu manteman
Berikan dukungan pada novel ini yah
Tinggalkan komentar yang mendukung juga supaya Author lebih bersemangat menulis 😊