
Setelah mendengar alasan Juna malam itu bersama Mama Mona, Sara meneguhkan niatnya menjadi Sara yang dulu gadis yang periang dan memiliki selera fashion yang cukup bagus, ya ia hanya ingin meninggalkan sesuatu yang tidak akan dilupakan oleh Juna dan Mama Mona setelah mereka mengusirnya dari Istana Singa ini.
Lebih tepatnya Misi Sara saat ini ialah membuat Suaminya jatuh cinta padanya tapi tidak dengan Sara. Memang cukup aneh dan berat namun dengan cara itu ia mempertahankan harga diri. Setidaknya jika Juna jatuh cinta pada Sara dalam waktu 6 bulan, perpisahan itu akan menyakitkan buat Juna karena ditinggalkan orang yang di cintai.
Padahal Misi Sara akan membuatnya terperangkap oleh rencananya ya khaann
Pagi yang cukup cerah membuat Sara bersemangat pergi ke Cafe, ia memilih baju yang akan ia kenakan setelah menyiapkan baju untuk Juna.
"Selamat pagi Tuan" Senyum ceria tersirat dari bibirnya setelah mendapati Suaminya menggerakkan badan dan membuka matanya
Juna bengong tidak karuan, dia berpikir keras kenapa wanita yang berada jauh di hadapannya dengan begitu berani memberi senyuman yang menurutnya menakutkan.
"Apa dia gila? kenapa aku jadi takut" gumamnya dalam hati
"Apa tuan mau Latte? biar saya ambilkan" tawar Sara dengan penuh perhatian
"Jangan berperilaku seperti itu di hadapanku, aku muak dan jijik aku tidak akan pernah terpesona padamu jadi jangan buang tenagamu untuk merayuku. Kau Paham gadis dekil?" dengan raut wajah penuh benci Juna memaki perilaku Sara yang terlihat menyebalkan baginya
"Saya paham Tuan Muda, kalau begitu saya akan pergi ke salon siang ini, semua kebutuhan Tuan sudah saya siapkan. Saya menunggu Tuan di meja makan"
Sara menahan amarah dan ketakutannya menyembunyikan kegugupan tangannya yang bergetar
Bertahanlah ini hanya 6 bulan Sara
"Ke salon? Kau mau habiskan uangku dan hasilnya tidak akan membuat dirimu lebih cantik" imbuhnya dengan nada mengejek
"Saya punya penghasilan sendiri Tuan, Anda tidak perlu repot-repot memberi saya kartu kredit" Mencoba memberi senyuman terindah supaya Singa di depannya tidak terung mengaung
"Maaf Tuan permisi saya menunggu anda di bawah" Sara pamit karena masih ada rasa takut untuk berdebat panjang dengan Juna
Juna masih berdiri mematung melihat cermin dihadapannya sesekali merapikan pakaian
"Perempuan aneh, sikapnya jadi berubah. Menakutkan"
Seusai perdebatan kecil, Sara turun menuruni anak tangga, terlihat Bibi Meri yang sedang menyiapkan makanan di atas meja makan
Disana sudah duduk Monalisa dan Sanjaya sedang menunggu anak dan menantunya
"Selamat pagi Mama Papa" Sapa Sara sedikit Malu dan canggung
"Selamat pagi Ra, duduklah mana suamimu?"
"Dia masih berkemas Pa, Sara di suruh turun terlebih dahulu" Sara berbohong karena tidak mungkin membicarakan perdebatan dan ia memilih menghindar
"Mana ada macam istri seperti mu huh, dasar gadis.. aduh papa kenapa kamu pilihkan dia... aduh mama sudah kehabisan kata-kata Pa"
Mona merasa aneh jijik kesel dan marah melihat menantunya itu
"Ma.. sudahlah nanti Papa akan menyuruh orang untuk Sara supaya memperbaiki diri"
Lihatlah tunggu saya memperbaiki diri Nyonya Mona, kau akan menyesal telah mengatakan semua tentangku tanpa filter sedikitpun
"Nanti siang Sara akan ke salon Ma, minimal Sara tidak kucel" senyumnya melebar menutup rasa sakit dihatinya
"Kamu mau ke salon Ra? lebih baik disini nanti Papa akan panggil seseorang untuk datang" Ucap Papa Jaya penuh dengan kehangatan
"Memang bisa Pah?"
"Haha.. jangankan salon, Mentri juga Papa bisa memanggilnya datang kesini Ra"
Menteri? sungguh keterlaluan
Suasana menjadi hening, terlihat Juna sudah menyapa Bibi Meri, senyum Mona melebar melihat kedatangan putranya yang terlihat tampan seperti melihat Sanjaya saat muda.
"Duduk Jun"
Juna duduk dan siap menyantap sarapan, suasana hening kembali terjadi hanya suara garpu dan pisau yang terbentur di permukaan piring.
"Besok Juna dan Sara akan pindah ke Rumah Juna Pa, Ma" Sambil mengelap bibir dan meneguk air putih dihadapannya, Juna memulai pembicaraan
"Kenapa cepat sekali, ini baru 3 hari tinggallah disini Jun" Suara besar Sanjaya berusaha mencegah putranya pindah
"Kita mau mandiri Pa, iyakan Ra?" Juna meminta pendapat Sara yang sedang meneguk air, Sara terkejut dan mengiyakan dengan mengangguk tanda setuju
Mendadak perilaku Juna yang lembut, namun ia sadar itu hanya di depan Papa Jaya supaya tidak berpikir bahwa pernikahan ini dianggap main-main oleh anaknya. Sungguh akting yang luar biasa.
"Aku akan pergi" Berdiri dan berpamitan melangkahkan kaki panjangnya
"Baiklah, semoga pekerjaan mu lancar Jun" Mama Mona mengusap pundak putranya
Disusul Sara dari belakang mengantarkan Suaminya pergi bekerja sambil menenteng tas miliknya.
"Tas nya Tuan" Senyum ceria
"Aku bilang jangan lakukan hal seperti itu" bentak Juna karena terkejut melihat tingkah Sara yang menakutkan
"Aku hanya tersenyum Tuan" Tangannya memberikan tas milik Juna
***
Siang itu, sesuai perintah Sanjaya akan membawa pegawai salon ke rumah untuk memperbaiki menantunya, Sara memutuskan tidak jadi untuk pergi ke Cafenya, Dia menugaskan aalah satu pegawai kepercayaannya untuk memenuhi kebutuhan selama tidak ada Sara disana.
"Berikan pelayanan VVIP untuk menantuku, berikan semuanya kalau perlu supaya penampilannya jauh lebih baik"
"Baik Tuan" Pegawai Salon yang biasa merias para artis dan perempuan sosialita hanya menganggukkan kepalanya
"Pah apa ini tidak berlebihan?"
"Lakukan saja Ra, Jika kamu ingin membuat Papa bahagia" Sanjaya tersenyum bahagia, ada rasa senang memperlakukan menantunya seperti ini
Gadis itu hanya menuruti semua perintah mertuanya, mulai pukul 10 sampai pukul 1 siang perawatan ekstra eksklusif diberikan pada Sara. Tertidur pulas menikmati sentuhan di setiap tubuhnya, dan terbangun di saat salah satu pegawai menyuruhnya untuk mandi
"Astaga mandi pun banyak aturannya" Sara melihat air putih untuk berendam dan air biasa untuk membersihkan tubuhnya. Sabun dengan beberapa kali Ia kenakan membuat pikirannya pusing
mandi ya mandi saja kenapa harus lama sekali,
2 jam kemudian
"Nona sudah selesai"
"Terima kasih, sungguh sangat luar biasa" Puji Sara menerima hasil diluar ekspektasi nya
Pegawai salon itu pamit pulang dan pergi dari kamar Sara
"Astaga sungguh sangat menakjubkan, kenapa aku bisa seharum ini? Kau tahu Wildan aku tidak seperti ini pun kamu jatuh cinta apalagi seperti ini, dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Tuan Arjuna Hutomo"
Sara berbicara sendiri melihat hasil perawatan yang tepat untuk dirinya, mulai dari ujung kaki sampai kepala, kulit, kuku, riasan di wajah dan rambutnya sungguh sangat luar biasa lembut dan wangi.
"Maafkan aku Wildan, aku hanya memberi sedikit pelajaran untuk mereka yang berani berbuat kurang ajar padaku" Tangannya memohon ampun kepada seseorang yang telah tiada