
Setelah dua Minggu pindah dari rumah besar Sanjaya, Mereka tinggal di rumah Juna yang sama besar hanya saja rumahnya terlihat lebih elegan dan halamannya tidak terlalu luas. Hari-hari Sara sering disibukan mengurus Cafe, memenuhi kebutuhan Juna secara fisik dan pergi ke Salon demi tercapai misinya.
Semenjak Sara berkata akan memperbaiki penampilan nya Sanjaya dengan senang hati memberikan ekstrak pelayanan salon yang datang langsung khusus ke rumah.
"Nona setiap hari Kau terlihat sangat cantik dan anggun"
"Terimakasih Wiwit, kau yang membuatku seperti ini, kenapa aku bisa secantik ini ya?" Sara memuji dirinya sendiri karena hasil perawatan yang diberikan Wiwit selama dua Minggu ini, ya Wiwit adalah salah satu penata rias profesional model terkenal, Sanjaya menyewanya hanya untuk membuat menantunya lebih cantik.
Ada banyak perubahan yang terjadi pada Sara, bentuk tubuhnya semakin berisi bukan gendut tapi seksi karena rutin melakukan olahraga untuk membentuk tubuh yang sempurna, tidak sulit karena body yang dimiliki Sara cukup bagus ditambah cara berpakaiannya di ubah oleh Wiwit supaya lebih elegan stylist dan anggun. Polesan makeup yang natural terlihat lebih segar.
"Bolehkan saya meminta foto anda Nona Sara?"
Kamera handphone nya sudah menyala, tangan Wiwit memelas pada Sara yang sedang berdiri melihat keanggunannya
"Bagaimana kalau kita Selfi?" Pinta Sara menyetujui
Mereka pun melakukan foto Selfi ada beberapa foto yang Wiwit abadikan di handphone nya dan membagikannya di akun sosial media.
Tidak lama setelah Wiwit membagikan fotonya bersama Sara, Asisten Sanjaya memperlihatkan foto tersebut sebagai tanda bahwa titahnya tidak sia-sia, Menantunya menjadi terlihat jauh lebih cantik.
Pulanglah lebih awal
pesan singkat Sanjaya dibaca Juna yang sedang kalut dengan masalah proyek.
"Kenapa harus pulang cepat dengan kondisi masalah seperti ini pah" gerutunya dalam diam meletakkan kembali benda pipih yang tadi dipegang Juna.
Kembali fokus pada pekerjaan menghadapkan diri di depan tumpukkan dokumen dan laptop daripada titah sang Papah untuknya segera pulang, jangankan pulang sepertinya makan siang pun Juna lewatkan begitu saja.
Sejak pukul 5 Sara menyiapkan makanan dan kudapan malam, karena suaminya suka begadang akhir-akhir ini Sara pun berinisiatif membuat camilan malam. Ditambah lagi Sara meminta pelayan supaya tidak memberitahu mertuanya kalau dia masak, Sanjaya tidak suka pekerjaan pelayan dilakukan oleh menantu tersayangnya.
Tepat pukul 9 Suaminya belum juga pulang
"Kemana dia, aku sangat gerah pakai dres hitam, tadinya aku akan memperlihatkan hasil riasan hari ini tapi sepertinya percuma, lebih baik aku mandi saja" curhatan istri pada dinding tak bertuan.
Sara mengguyurkan air shower hangat membasahi tiap inci tubuhnya, kesegaran tiada tara setelah memasak dan segala aktivitas nya. Kebiasaannya kalau mandi malam hanya 10 menit sudah selesai, dilipatnya handuk di atas rambutnya yang basah, handuk yang melingkar menutupi daerah dada sampai paha.
ceklek pintu kamar mandi dibukanya dengan santai seolah suasana seperti sebelum ia masuk kamar mandi, sesekali mengeringkan rambut dengan handuk yang menggulung tanpa sadar ada sepasang mata yang dari tadi menatap lekat tanpa berkedip
"Astaga, kenapa dia melakukan ini" gumam Juna yang masih menatap indah tubuh istrinya dari belakang Sara yang sedang melangkah dan berdiri didepan lemari
Hasratnya sudah terkurung selama 3 tahun ini setelah perceraian dengan Angela, dan ia rasakan kembali. Ternyata perawatan dan usaha Sara tidak sia-sia.
Dia hanya wanita pelayan Jun, tahan masih ada perempuan lain yang jauh lebih menggoda
Dengan memalingkan pandangan ke sembarang arah, Juna sedang menahan matanya untuk tidak melihat sosok perempuan di hadapannya.
Sara dengan santai memilih baju tidur di atas lemari sambil berjinjit, tidak mengetahui ada seseorang berdiri dibelakang. Tangan kanan meraih baju dan tangan kiri menahan handuk yang jika dilepas cengkraman itu handuknya akan melorot.
Pemandangan itu membuat jantung Juna berdetak kencang, body Istrinya tidak seburuk yang dia pikirkan, Juna menelan ludah berkali-kali, ia mendekati Sara yang dari tadi kesusahan mengambil baju yang terselip dibawah baju lainnya.
Di ambilah baju itu lebih leluasa dibandingkan Sara yang dari tadi kesusahan, melihat itu Sara terkejut bukan main, dia berlari membawa baju tidurnya dan berteriak seolah Juna akan memperkosanya
"Kapan Tuan pulang, kenapa tidak kelihatan dari tadi" teriak Sara dibalik pintu kamar mandi
"Kenapa berteriak, Aku tidak tergoda oleh tubuh dekil itu" ya Juna berbohong padahal sejak dia mendekati tubuh Sara, Dia mencium wangi sabun yang memabukkan tapi ia tersadar oleh Misi dan gengsinya.
"Baiklah saya akan memakai pakaian ini dulu"
Juna menaikkan bibirnya tanda senyum sedikit, melihat tingkah aneh Istrinya yang ketakutan setengah mati
"Cukup Cantik dan menggoda" gumamnya sambil menjatuhkan diri di atas sofa.
Setelah Sara keluar tak lama Juna mandi dan pergi ke meja makan untuk makan malamnya
Oh Sara kau jadi terlalu lancar memberikan perhatian padanya... kurang lebih 5 bulan lagi sabaaarr Sara
Juna tidak banyak bicara, akhir-akhir ini dia memang mendapat perhatian lebih dari istrinya meskipun ia menganggapnya hanya seperti serpihan debu tapi lama kelamaan Juna menikmati perhatian itu semua.
Dengan lihai Sara membereskan piring dan sisa makanan yang berantakan di atas meja. Tanpa sadar Juna memandangi semua yang terjadi dihadapannya
Perempuan yang kucel dekil berubah menjadi mempesona, cantik, anggun dan menggoda
mungkin Papah menyuruhnya pulang cepat karena ini.
"Cantik" kata itu tiba-tiba keluar dari mulut Juna meskipun tidak keras tapi terdengar oleh Sara
"Tuan berbicara apa?"
"Tidak, lanjutkan"
Juna gugup dan meninggalkan Sara yang masih berada di lantai bawah
"Kau mulai terperangkap Tuan, ini baru awal
aku tidak akan membiarkan seseorang membuangku seperti barang bekas"
"Tolong bawa piring ini ya, dan bawakan saya coklat hangat" Titah Sara pada salah satu pelayan, dengan cepat pelayan itu memberikan segelas coklat hangat.
Membawa coklat hangat ke kamar bermaksud akan diberikan kepada suaminya.
Pintu kamar terbuka Sara masuk dan mencari dimana sosok suaminya berada
"Kemana Dia? aku letakkan di balkon saja sepertinya laptop nya masih menyala disana"
Berjalan dengan santai, membungkukkan badannya sembilan puluh derajat di atas meja balkon depan kamar tangannya meletakkan gelas berisikan coklat hangat. Tubuhnya kembali berdiri, saat membalikan badan tiba-tiba ada sosok tubuh yang tertabrak
BRUUGG
Tubuh Sara hampir memeluk suaminya menjaga keseimbangan supaya tidak terjatuh tangannya memegang pinggang Juna yang berdiri tegap tepat dihadapannya
Dalam sekejap tatapan mereka bersatu menatap satu sama lain. Tidak lama Sara melepas tangannya dari pinggang suaminya.
"Maaf Tuan, Saya tidak melihat anda. Selamat malam"
Sara memberi senyuman kepada suaminya yang masih mematung tanpa sepatah katapun.
Kenapa terlihat Cantik...
Gumam Juna mengembangkan bibirnya penuh dengan senyuman sambil mendudukkan tubuh dan mengambil gelas berisi coklat hangat.
"Sungguh manis"
Before
After
***
Jangan lupa bagi para reader tinggalkan jejak kalian yah, Like Komen positif dan Vote...
Love You All ❤️❤️❤️